
Aiza Salamah, seorang gadis berkulit kuning langsat dengan hidung mancung menurun dari sang mama yang berdarah Turki,dia sudah yatim piatu sejak masuk sekolah menengah pertama karena kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan mobil yang merenggut nyawanya ditempat kejadian.
Awalnya Aiza hidup bersama sang nenek dari pihak papanya yang berdarah Indonesia,tapi sayang sang nenek tidak lama mengusul papa Aiza pada akhirnya Aiza harus dalam asuhan paman yang sebenarnya saudara sepupu dari papanya sebab papa Aiza terlahir sebagai anak tunggal.
Papa Aiza tidak banyak meninggalkan kekayaannya untuk Aiza,dia hanya memiliki satu rumah yang terbilang cukup besar untuk ditempati dan usaha skala menengah yang menjual barang-barang impor dari Turki seperti karpet, permadani,keramik dan beberapa kerajinan khas Turki.
Aiza belum cukup mengerti untuk mengurusi hal itu dikarenakan usianya yang masih terlalu mudah untuk menanggung tanggungjawab besar itu, berdasarkan hal itu keluarga besar dari pihak kakek Aiza dari pihak papa menyerahkan tanggungjawab itu pada sepupu dari pihak papanya.
Paman Aiza orang yang baik dan bertanggungjawab tapi berbeda dengan istrinya yang memanfaatkan kesempatan ini yang tidak datang dua kali, dengan hidup mewah menikmati kekayaan yang bukan haknya.
Berbeda dengan Aiza yang menjadi pembantu di rumahnya sendiri,yang dia tahu hanya rumah peninggalan papa dan mamanya satu-satunya kekayaan yang di tinggalkan oleh orang tuanya.
Karena itu Aiza enggan meninggalkan rumah miliknya walaupun dengan penderita yang dia dapatkan karena hanya ini satu-satunya harta miliknya sebagai kenang-kenangan yang dia punya,banyak momen yang dapat dia ingat bersama papa,mama juga neneknya di rumah ini yang tidak bisa dia lupakan.
"Mam..mana Aiza,kok baju aku belum di setrika..bukankah aku sudah memintanya sebelum tidur " rengek Gea pada mamanya dengan memegang baju yang masih kusut.
"Dasar anak malas,Aiza..Aiza !! sini kamu !" suara ini sudah jadi pemandangan biasa di pagi hari di rumah milik Aiza.
"Ya..Tante Nella " dengan langka terburu-buru Aiza menghampiri Nella dan Gea anak perempuan pertamanya dari Nella dan Hendri.
"Apa kamu tidak dengar apa permintaan Gea sebelum kamu tidur !" Aiza sudah biasa dengan ucapan pedas Nella.
"Maaf Tante semalam saya membantu Tita mengerjakan tugas sekolahnya " Aiza berusaha menjelaskan dengan baik-baik.
"Bilang aja kalau kamu sudah ga betah di rumah ini, tinggal keluar bereskan " ucap Gea seenak jidatnya tanpa berpikir.
'Keluar rumah ini.. tidak salah,memang ini rumah punya moyang mu ' umpat Aiza pada Gea dalam hati.
"Nih.. cepat kerjakan sebentar lagi aku di jemput Bastian" dengan tanpa bersalah Gea melemparkan baju kusutnya mengenai muka Aiza yang hanya bisa menahan napas.
'Kuat..kuat Aiza,demi rumah milik mu ' Aiza menyemangati diri sendiri ingin rasanya dia menangis tapi air matanya sudah lama hilang,entah kapan terakhir dia menangis.
Tidak lama Aiza mengetuk pintu kamar Gea untuk memberikan baju yang sudah dia setrika dengan rapi.
"Ingat kamu jangan buka pintu bila mendengar suara bel " Gea memerintah kepada Aiza dengan muka ketus.
__ADS_1
Aiza hanya diam,bila di rumah Aiza sangat jarang mengeluarkan suara dari mulutnya bahkan bisa dihitung dengan jari,dia akan menjawab bila mereka perintahkan selebihnya hanya mereka yang bebas bicara semaunya.
Baru saja Aiza melangkah untuk menuju kamarnya sudah ada suara yang memanggilnya.
"Mau kemana hem..buatkan aku jus jeruk " dengan seenak udelnya adik Gea yang bernama Lidya memerintah pada Aiza.
"Ingat gulanya sedikit saja..aku sedang diet dan jangan pakai lama,aku tunggu dikamar " ucapnya dengan menekan jidat Aiza dengan jari telunjuknya.
'Kuat..Aiza kuat disini tempat mu, satu-satunya kenang-kenangan milik keluarga mu ' seperti biasanya Aiza selalu menyemangati dirinya, dengan harapan dirinya bertahan.
Aiza dengan cekatan menyiapkan jus sesuai keinginan Lidya,ada dua pasang mata yang memandang Aiza dengan iba, ya...dia adalah mba Ima dan mba Nia yang menjadi art rumah ini sesuai keinginan pamannya, walaupun kenyataannya semua pekerjaan di rumah ini Aiza yang mengerjakannya atas perintah keempat wanita yang tidak lain adalah istri dan anak-anak pamannya.
Kedua art tidak berpihak pada empat perempuan yang hobinya memerintah Aiza sesuka hatinya tanpa kenal waktu dan kondisi.
"Non..biar mba Nia yang selesaikan " bujuk Nia dengan rasa iba.
"Mba biar saya saja,mba lupa nanti saya yang kena marah,mba diam dan lihat saja ok mba.."perkataan Aiza membuat Nia berkaca-kaca karena dia sangat tahu bagaimana perlakuan mereka pada Aiza.
'Jus ini sudah jadi apa lagi yang akan mereka perintahkan kepada ku ' Aiza seperti biasanya lebih suka bicara dengan mengunakan hatinya dari pada mulutnya.
"Mba Lidya..mba " panggil Aiza dengan mengetuk pintu kamar Lidya.
Aiza mengangguk,dia mengerjakan sesuai permintaan terlihat Lidya puas dengan hasil pekerjaan Aiza.
"Kamu boleh pergi" dengan tangan Lidya mengusir Aiza untuk meninggalkannya.
Aiza pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya tapi baru berjalan langkah terdengar suara bel rumah, menadahkan di luar ada tamu,tapi tidak menyurutkan niat Aiza untuk masuk kedalam kamarnya sebab dia ingat permintaan Gea.
Tapi apa yang Aiza lakukan membuat Lidya marah yang menganggapnya Aiza tidak perduli.
"Kamu sudah tuli ya.. didepan ada tamu,kamu lihat siapa yang datang !" hardik Lidya dengan muka masam.
Aiza yang tidak ingin menjadi bahan kemarahan kedua kalinya memilih masuk kamar, pura-pura tidak dengar karena dia masih ingat benar perintah Gea.
Dengan malas Lidya melangkah menuju pintu utama rumah, tidak memikirkan dengan pakaian yang dia kenakan hanya dress tipis, memperlihatkan lekuk tubuh dan cukup terbuka di bagian tertentu yang pantas dipakai saat didalam kamar.
__ADS_1
"Apa Gea ada di rumah?" tanya lelaki dewasa dengan sopan tapi sorot matanya berkelana menemukan sesuatu yang menurutnya menarik, begitu pintu utama di buka oleh seorang wanita tapi bukan Gea, wanita lain yang tidak dikenalnya.
"Kamu siapa?" tanpa rasa risih Lidya bertanya kepada lelaki yang mencari Gea.
'Wow.. sempurna, tampannya..apa dia malaikat ' Lidya mengagumi sosok yang ada didepannya, lelaki blasteran yang tersenyum pada dirinya.
"Kenalkan, Bastian..boleh saya berkenalan dengan mu,baby.." Bastian mengedipkan satu matanya genit.
Belum sempat keduanya saling berkenalan dengan berjabat tangan,Gea lebih dulu menghampiri keduanya.
"Sayang..maaf,aku bersiap terlebih dahulu.. untuk menyambut mu, bagaimana apa ada yang tidak sesuai dengan mau mu, sayang" Gea bergelayut manja disalah satu tangan Bastian.
"Perfek...kamu selalu tampil sempurna sayang" puji Bastian dengan mulut manisnya.
"Apa kita langsung pergi atau ingin bertemu mama terlebih dahulu sambil minum kopi atau jus " dengan manja Gea bertanya pada Bastian.
"Ehm.. enaknya gimana,up to you?" sebenarnya Bastian masih ingin berkenalan dengan Lidya yang masih berdiri diantara mereka.
"Ok.. sayang aku pesankan kopi dulu,dan memanggil mama untuk bertemu dengan mu sayang, sebaiknya kamu duduk dulu.. sebentar kok ga pakai lama..mama,mama ada Bastian" dengan berteriak Gea memanggil Nella dan meminta art membuatkan minuman untuk Bastian, walaupun Gea terlihat kesal karena ada Lidya diantara keduanya dengan pakaian yang sangat menggoda iman laki-laki tentunya.
"Masuk..ingat dia milik gue " bisik Gea pada Lidya dengan tegas.
Lidya pun tahu Gea tidak mau di usik,dia memilih masuk tapi Bastian dengan liciknya memberi kode dengan melayangkan ciuman udara pada Lidya tanpa sepengetahuan Gea yang membuat Lidya sedikit mabuk kepayang dengan apa yang Bastian lakukan dibelakang Gea.
Walaupun tak berbalas tapi Bastian senang, baginya tidak ada seorang cewek pun yang dapat menolak pesonanya.
Bastian cowok blasteran Indonesia-Eropa tempatnya Perancis,bisa di bayangkan bagaimana rupanya bentuk tubuh ideal proposal dengan tinggi diatas rata-rata orang Eropa ditambah hidung mancung juga warna rambut sedikit pirang didukung dengan semuanya barang branded melekat di tubuhnya semakin terlihat menyempurnakan penampilannya.
Gea menghampiri Bastian dengan mengandeng tangan mamanya untuk di perkenalkan kepadanya.
"Ma..kenalkan ini Bastian" ucap Gea pada Nella mamanya.
Begitu juga pada Bastian Gea memperkenalkan mamanya "Bastian ini mama ku " dengan suara manja Gea memperkenalkan keduanya.
"Bastian Tante " ucap Bastian dengan tersenyum sopan.
__ADS_1
"Nella,kok Tante sih.. panggil saja mama seperti Gea " pinta Nella yang terlihat senang dengan Bastian karena melihat penampilan Bastian yang sesuai dengan harapannya.
Nella sangat paham dengan nominal pada pakaian yang Bastian pakai saat ini,wajar bila Nella langsung terlihat senang menerima Bastian yang dekat dengan putrinya bisa diartikan Bastian dari kalangan atas bisa jadi konglomerat, maklum saja dimata Nella hanya melihat uang dan uang saja.