
Silaturahmi salah satu kesempatan yang langka bagi lelaki bertubuh tegap ini,maka dikesempatan baik ini dia manfaat dengan sebaik-baiknya salah satunya dengan berkumpul dengan teman sejawat satu angkatan sekolah menengah atasnya.
"Ini nih.. pangeran yang kita tunggu-tunggu kedatangannya"
Ujar pemilik salah satu Cafe yang terbilang sukses di kotanya, menyambut kedatangan lelaki yang bertubuh tegap terlihat menunjukkan senyumnya tanda menyapa kawan-kawannya yang sudah datang berkumpul disalah satu Cafe.
"Gimana nih.. kabarnya,maaf gue terlambat"
Lelaki tegap itu menyalami satu persatu kawannya yang sepertinya sama-sama memendam rindu lama tak bersua.
"Kami baik..kabarnya,tidak ada kata terlambat yang penting loe bisa hadir kami semua sudah merindukan loe "
Salah satu dari kawannya membalas ucapan lelaki tegap yang memiliki nama Arhan Prawira,dia seorang aparat negara tepatnya seorang anggota TNI angkatan darat.
"Apa lupa pulang bro ?"
Sindir salah satu kawannya yang berprofesi sebagai guru yang bernama Arman, mempersilakan Arhan duduk.
"Mana ada burung lupa sangkarnya bro "
Balas Arhan dengan tersenyum,dan memperlihatkan sekitar Cafe yang ramai dengan pengunjung didominasi kaula muda.
"Dalam rangka apa nih..bisa pulang kandang?" tanya kawan yang lain bernama Adhi tidak kalah ingin mendengarkan cerita Arhan.
"Dalam rangka rindu keluarga dan kalian tentunya"
Tawa pun pecah, memang mereka akan berkumpul bersama bila ada waktu dan kesempatan, untuk sekedar berbincang santai lebih tepatnya mengulang cerita masa sekolah dulu.
"Kapan kita loe undang bro,apa ga ingin seperti kita-kita yang sudah memiliki duplikat hidup yang lucu dan selalu dirindukan"
Goda Prastyo pemilik Cafe yang merasa iba dengan kehidupan Arhan yang masih mempertahankan masa lajangnya hingga saat ini.
"Entahlah..gue masih takut tidak bisa membagi waktu bila ada pasangan hidup,ya..kalian tahu bagaimana dengan jam kerja gue yang tidak mengenal waktu dan kondisi,gue hanya bercermin dari kedua Abang gue..ya kalian cukup tahu lah"
Penjelasan Arhan cukup mereka mengerti tapi mereka juga kasihan salah satu kawan dekatnya masih melajang sedangkan mereka sudah berbahagia dengan keluarga kecil mereka.
"Kalau memang dia jodoh loe maka akan memahami dunia loe bro" Arman yang berprofesi guru dengan bijak memberikan masukan pada Arhan.
"Memang loe benar,tapi saat ini gue belum bisa membagi waktu untuk mencari sosok seperti itu "
Sebenarnya Arhan malas bila membahas masalah wanita, terkhusus masalah pendamping hidup sebab baginya pendamping hidup itu dituntut untuk setia dan kesetiaan yang dia lihat dari pernikahan kedua kakaknya adalah 'bohong besar' terbukti dari perceraian kedua kakaknya yang diselingkuhi istrinya, ditambah Arhan ditinggalkan pacarnya yang memilih menikah dengan orang lain disaat dirinya menjalankan tugas.
"Apa perlu gue carikan bro ?"
__ADS_1
Dengan semangat Adhi bertanya, sepertinya dia begitu ingin Arhan cepat mendapatkan pendamping hidup.
"Bener tuh..gue yakin di perusahaan Adhi pasti ada salah satu karyawannya yang masih lajang"
Prastyo pun tidak kalah semangat ingin Arhan lekas melepaskan masa lajangnya.
"Sebelumnya terimakasih tapi untuk saat ini gue masih ingin sendiri dulu..,saat ini aja gue baru pulang dari perjalanan dinas di negara konflik"
Arhan berusaha untuk tidak membuat kecewa kawan-kawannya dengan menolak secara halus.
"Apa loe ga ingin ada seseorang yang loe rindukan dan dirindukan seseorang?"
Arman merasa kasihan dengan Arhan yang pastinya sebagai lelaki normal butuh seseorang untuk tempat berbagi.
"Entahlah yang jelas gue masih merasa nyaman dengan keadaan sendiri seperti ini"
"Ya.. kita-kita paham dengan beban di pundak loe,tapi disaat loe butuh pelepasan sebagai lelaki normal apa kebutuhan itu terpenuhi,sampai kapan loe akan menahannya dan jangan jadikan persoalan kedua Abang loe menjadi trauma buat loe"
"Untuk hal yang satu itu gue masih bisa tahan dengan berpuasa dan kesibukan menguras pikiran dan tenaga gue jadi sehingga teralihkan"
"Terus sampai kapan bro, kita-kita sayang loe makanya mengingatkan loe..kita akan tua dan butuh seseorang yang memperhatikan kita "
Arhan hanya bisa tersenyum tipis dirinya paham dengan permintaan kawannya tapi dirinya juga tidak ingin kecewa bila berkaca pada kedua kakaknya dan masa lalu dirinya juga yang di lukai seorang wanita.
Arman kembali menasehati Arhan yang seharusnya tidak perlu menyamaratakan perjalanan takdir semua orang sebab Arhan lelaki yang terbilang paling cerdas diantara mereka saat di sekolah menengah atas dulu apalagi sekarang dengan jabatan yang dia emban bukan kaleng-kaleng secara otomatis lelaki itu makin dewasa dan cara berpikirnya lebih masuk logika walaupun bahasa hati juga ada didalamnya.
"Sudahlah kita bicara yang lain sajalah..gue ingin melepaskan penat dan kapan lagi jumpa dengan kalian"
Arhan memang paling pintar untuk mengalihkan pembicaraan kawannya yang dia paham dan cukup mengerti dengan keinginan serta niat baik kawannya.
"Loe memang kepala batu dari dulu "
Pungkas Prasetyo dengan menepuk bahu Arhan yang sebenarnya prihatin dengan kesendirian Arhan.
"Ar..loe ingat si Tiwi,dia sudah janda kalau loe minat gue bantu untuk dekat dengan dia lagi "
"Masih loe bahas soal yang itu-itu saja,makin pusing kepala gue "
Tawa pun tidak bisa ditahan hanya Arhan yang tidak ingin tertawa baginya tidak lucu candaan mereka.
"Parah loe Ar..dikasih yang enak-enak ga mau"
"Enak..loh, kalau punya istri ada yang ngurusin "
__ADS_1
"Lajangnya aja dia ga setia apalagi sekarang dia sudah janda, kalaupun wanita cuma dia di dunia ini gue ga ingin bersamanya "
"Sebegitu membekasnya luka di hati loe bro, sampai loe berkata seperti itu "
"Gue bertahan mati-matian bertahan untuk hidup di negara orang, namanya selalu gue ucapkan dalam setiap sujud dan hembusan nafas tapi faktanya dia bermain dengan yang lain di belakang gue.. sudahlah "
Arhan meremas gagang gelas hingga terlihat urat-uratnya, menandakan Arhan menahan kemarahan yang dalam.
"Bukankah sakit hati obatnya hati lagi"
"Makan hati ga baik juga bro,asam urat juga kolesterol" dengan santainya Arhan membalas.
"Memang susah menyakinkan buaya, sebab dia pawangnya buayanya" pungkas Arman.
"Lagian loe salah juga buaya di kadalin"
"Hey,mana ada ya..gue bukan buaya lah"
"Mereka saja naksir gue.. sedangkan gue ga naksir mereka " Arhan memang digandrungi para pengagum siswi di jamannya.
"Jangan salah bro.. bukannya loe itu orang yang setia begitu juga buaya dia binatang paling setia selama hidup hanya dengan satu pasangannya saja" Arman selalu guru menjelaskan.
"Tapi kenapa lelaki playboy di sebutkan buaya"
"Ya,itu yang salah sebenarnya harus kita luruskan " Arman kembali menjelaskan.
"Kenapa jadi ngomongin buaya sih"
Pada akhirnya mereka tertawa bersama, dengan terpingkal-pingkal.
"Masa liburan loe lama bro ?" tanya Prastyo dengan menyuguhkan makanan.
"Mana ada bro..di kasih waktunya satu bulan tapi kalau ada panggilan tugas ya..tahu sendiri lah" Arhan menjawab dengan mata memperhatikan tiga gadis muda yang baru masuk kedalam Cafe.
"Manfaatin bro.. untuk cari gebetan "
"Apa ga ada pembahasan lain selain perempuan di dunia ini" terlihat Arhan malas mendengarnya.
"Harap dimaklum saja,kita doain saja kalau sudah ketemu pawangnya awas saja kalau sampai bucin " Adhi terlihat geregetan dengan sikap Arhan.
"Bucin..?"Arhan terlihat asing dengan satu kata itu.
"Iya..budak cinta " Arman menerangkan dengan bingung memperhatikan Arhan yang tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
Harap di maklumi saja mana ada Arhan gaul dengan kata-kata yang banyak di pakai anak-anak muda kekinian.