Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
11


__ADS_3

Malam semakin larut,hawa ingin semakin menusuk kulit tapi tidak menyurutkan semangat pejuang pencari rezeki, salah satunya warung angkringan yang masih melayani pengunjung malam ini.


"Mas susu jahe satu " Arhan memesan pada lelaki muda yang ramah menyambut Arhan.


"Siap mas, di tunggu" ujarnya mempersilakan Arhan duduk lesehan, bersama pengunjung lainnya yang sedang menikmati menu pesanannya.


Arhan tidak langsung pulang melainkan pindah tongkrongan dia dengan sengaja ingin mengikuti seseorang tanpa sepengetahuan kawannya yang sebenarnya sudah menaruh curiga.


Arhan mengamati dari tempat yang tidak jauh dari Cafe Prasetyo, seperti ada dorongan dari dalam dirinya untuk mengetahui lebih banyak sosok yang sudah mengusik ketenangan jiwanya.


"Silakan mas " lelaki muda itu dengan sopan mempersilakan pada Arhan.


"Terimakasih mas..berapa ya ?" tanya Arhan yang langsung menyerahkan uang.


"Lima ribu saja mas " ucap lelaki muda itu.


"Kembaliannya buat tambahan beli gula " Arhan menyerahkan uang warna merah muda yang membuat lelaki muda itu kaget sekaligus berterimakasih dan menyalami Arhan.


"Terimakasih mas " ucapnya dengan tersenyum bahagia.


Setelah menunggu beberapa waktu tidak lama sosok yang di tunggu melintasi jalan yang akan dilaluinya sesuai prediksi Arhan dengan sepeda motor dengan kecepatan sedang,Arhan tersenyum dan langsung cabut dari tempat itu setelah berpamitan dengan sopan.


Arhan merasa akan kehilangan jejak dari sosok yang dia ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.


Namun ketakutan Arhan sirna begitu melihat sosok itu berada di pinggir jalan terlihat menghidupkan motornya yang berhenti, sepertinya motor miliknya mogok,dalam benak Arhan berkata.


"Kenapa ?" dengan sopan Arhan bertanya setelah menghentikan motor miliknya.


Aiza terlihat takut tapi dia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan seorang laki-laki yang berhenti tiba-tiba dan bertanya pada dirinya.


"Ga,tahu tiba-tiba mati " jawab Aiza dengan berusaha menghidupkan kembali motornya.


"Boleh saya bantu ?" ucap Arhan belum yang membuka helm miliknya.


"Memang bapak bisa ?" Aiza ragu sebab dirinya saja belum bisa menghidupkan kembali motornya yang sudah dia coba beberapa kali.


"Apa salahnya di coba dulu,tapi kita cari tempat yang lebih terang biar bisa melihat apa penyebabnya" Arhan menjelaskan.


Aiza pun sepakat dirinya juga akan lebih aman bila di tempat yang lebih terang,sebab orang yang melintas dapat melihat keduanya tidak berasumsi aneh-aneh.


Kedua berhenti didepan sebuah mini market yang sudah tutup karena jam operasionalnya tidak sampai 24 jam, di tempat itu penerangannya cukup terang dan yang menyediakan tempat parkir cukup luas.


"Duduklah biar aku periksa dulu " Arhan membuka helm miliknya membuat Aiza terkejut.


"Bapak.." rasa ketakutan itu seakan sirna seketika begitu melihat wajah Arhan yang dia kenal walaupun tidak sepenuhnya mengenalnya.


"Kenapa, kaget ?" Arhan menunjukkan senyumnya.


"Ga..hanya saja tadi saya sedikit takut sebab saya tidak mengenal bapak dan bapak pasti bisa merasakan ketakutan saya" Aiza tidak menjelaskan secara detail sebab Arhan juga pasti paham.


"Apa kamu sudah menghubungi orang rumah?, pasti mereka mengkhawatirkan mu jam segini belum ada di rumah " Arham bertanya sekaligus meningkatkan pada Aiza.


"Ehm.. mereka sudah terbiasa pak, kalau saya pulang telat pasti motornya" Aiza tidak melanjutkan ucapnya.


"Kenapa dengan motornya,ehm..?" tanya Arhan yang sudah mencari apa penyebabnya.

__ADS_1


"Engga pak" Aiza enggan orang lain tahu apa masalah yang dihadapinya.


"Apa tidak sebaiknya saudara laki-laki kamu yang mengantar jemput kamu, tidak baik kamu perempuan jalan malam-malam begini sendirian" Arhan berbicara seperti menasehati keponakannya.


"Sayangnya saya tidak punya pak saudara laki-laki pak" Aiza membalas dengan berkata jujur.


"Oh.. atau ayah biar kamu aman " Arhan kembali menyampaikan maksud baiknya.


"Ehm..ayah jauh pak" Aiza asal ucap tapi bener papanya tidak mungkin balik lagi, lagian kalau pun ada papanya Aiza yakin tidak akan bekerja seperti ini.


"Oh...ayah kamu kerjanya jauh,maaf saya tidak tahu " Arhan merasa bersalah.


"Alhamdulillah.. akhirnya,ayo kamu coba" Arhan meminta Aiza untuk kembali menghidupkan motornya.


"Alhamdulillah bisa pak" Aiza merasa senang dirinya bisa cepat pulang dengan selamat.


"Ya..lain kali usahakan minta teman untuk pulang bersama kalau bisa laki-laki, jangan sampai sendirian takutnya seperti ini,bahaya juga " Arhan meras khawatir pada Aiza.


"Iya..pak terimakasih sudah membantu,maaf mengganggu waktu bapak " Aiza dengan sopan berterimakasih.


"Tidak harus seformal itu Aiza,saya senang bisa membantu kamu " Arhan berkata jujur,dia merasa senang dekat dengan Aiza.


"Pak..tangan bapak kotor " Aiza menyerahkan tissue pada Arhan untuk membersihkan tangannya.


Arhan merasa senang dengan perhatian kecil dari Aiza, padahal wajar tangan Arhan kotor karena membantu Aiza.


"Sebenarnya kamu dari mana?" tanya Arhan basa basi padahal dia tahu.


"Ehm..pulang kerja " jawab jujur Aiza tanpa malu.


"Kerja.. bagaimana dengan kuliah mu ?" Arhan semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Aiza.


"Kamu bisa membagi waktunya..?" Arhan tahu bagaimana susahnya Aiza membagi waktunya antara kuliah dan kerja.


"Pintar-pintar saya saja mengaturnya pak " ucapan Aiza terdengar biasa saja tanpa beban, tapi buat Arhan tidak biasa.


"Ehm..kamu hebat,itu ga mudah loh" Arhan memuji Aiza.


"Ga sehebat itu juga pak..,sudah terbiasa saja jadi ya..mengalir saja tidak ada yang perlu di banggakan karena di luaran sana masih ada yang lebih dari saya,mungkin lebih hebat lagi seperti kata bapak" Aiza tidak ingin orang lain tahu bagaimana keadaan dirinya yang sebenarnya tidak berdaya disaat-saat tertentu.


"Ayo..saya hantar sampai rumah,saya khawatir nanti motor kamu mogok lagi,saya berharap sih tidak " Arhan pandai sekali mencari kesempatan.


"Tapi saya tidak ingin merepotkan bapak" Aiza merasa tidak enak hati.


"Saya merasa tidak direpotkan kamu kok" Arhan berusaha menyakinkan Aiza.


"Tapi kan.." Aiza masih berusaha menolak dengan halus sebab tidak ingin berhutang budi.


"Sudah..ayo sudah malam,saya tidak mau orang rumah khawatir dengan kamu yang telat pulang dan saya ingin memastikan kamu aman sampai rumah " Arhan berkata seperti memerintah.


"Tapikan..pak" Aiza masih ingin menolak.


"Jangan banyak tapi..kamu mau nanti ada lelaki iseng nyamperin kamu,ayo..ini sudah lewat tengah malam bahkan hampir menjelang pagi " Arhan melihat jam di tangannya.


Sebenarnya Aiza beruntung Arhan yang menolong dirinya, apalagi malam semakin larut bahkan hampir menjelang pagi.

__ADS_1


"Ayo..saya mengikuti mu dari belakang " Arhan kembali memerintah Aiza yang masih merapikan helm miliknya.


"Sabar pak.." Aiza merasa gugup karena selama ini dia selalu menjauh dari yang namanya lelaki bahkan tidak ingin karena sadar siapa dirinya.


"Sini saya bantu" Arhan langsung mengambil alih Aiza merapikan helmnya tanpa bisa menolak karena Arhan dengan cepat mengambil alih.


"Kenapa..ehm,saya hanya membantu tanpa ada maksud lain " Arhan sendiri merasa gugup bahkan detak jantungnya berdebar kencang.


"Ga, kenapa-napa..bapak yang kenapa ?" Aiza merasakan tangan Arhan berkeringat.


"Saya baik-baik,ayo..nanti bukan kemalaman tapi kepagian " Arhan berusaha menutupi rasa gugupnya.


"Bapak ini ada-ada saja " Aiza tersenyum yang membuat Arhan tertunduk merasakan senyuman itu begitu manis dan membuat detak jantung Arhan makin berdebar.


'Gila.. melihat senyumnya saja bisa hilang kewarasan gue ' Arhan berusaha menetralkan detak jantungnya.


"Katanya ayo..malah bengong" tegur Aiza pada Arhan yang terlihat diam mematung.


"Maaf..saya menunggu kamu jalan lebih dulu" alibi Arhan yang tidak mau Aiza tahu apa yang dia pikirkan.


Aiza hanya geleng-geleng kepala yang menurutnya Arhan lelaki dewasa tapi seperti ABG labil.


Akhirnya motor keduanya berjalan menelusuri jalanan malam yang sepi hanya berpapasan dengan beberapa pengendara lain.


Tidak beberapa lama motor milik Aiza berhenti terlebih dahulu di depan pintu pagar sebuah rumah yang terlihat cukup besar menurut Arhan walaupun tidak sebesar rumah milik keluarga Arhan tentunya.


"Disini rumah mu,..?" tanya Arhan setelah membuka kaca helm.


"Bukan pak...milik bapak saya " ucap jujur Aiza yang sudah turun dari motor.


"Ya..punya bapak mu " Arhan mengalah.


"Terimakasih pak,sudah membantu dan mengantarkan saya sampai rumah dengan selamat" ucap Aiza dengan tersenyum sopan.


"Hanya terimakasih saja " ujar Arhan terlihat kecewa.


"Ya... terimakasih saja,memang harus melakukan apa ?" Aiza terlihat bingung.


'Aduh.. lucunya,kuat..kuat ' Arhan menahan napasnya karena kerja jantungnya makin ekstra.


"Ok..ehm,boleh saya meminta balasan untuk kali ini " sebenarnya Arhan tidak seharusnya melakukan ini tapi kapan lagi momentumnya.


"Oh... ternyata bapak tidak sebaik yang saya kira " terlihat wajah kecewa Aiza yang nampak jelas terlihat dimata Arhan.


"Maks..ud saya tidak seperti itu Aiza,saya hanya ingin kmu temani saya makan siang itu saja.. jangan berprasangka buruk dulu" dengan gugup dan tak enak hati takut Aiza menilai dirinya buruk.


"Ehm.. saya kira, bagaimana kalau saya tidak bisa menemani bapak siang nanti?" Aiza sebenarnya ingin membalas kebaikan Arhan sebagai ucapan terimakasih.


"Tidak masalah,bisa saya minta nomor ponsel kamu mu biar saya bisa menghubungi dimana kita bisa bertemu nanti,disaat kamu ada waktu bisa menemani saya " sebenarnya ini alasan utama Arhan meminta nomor ponsel Aiza.


"Tapi ga apa-apa kan bila besok saya ga bisa memenuhi keinginan bapak..maaf " Aiza menyerahkan ponselnya.


"Tidak apa-apa,saya cukup paham dengan maksud kamu,jangan minta maaf karena kamu tidak bersalah sama saya.. cepat masuk " Arhan menyerahkan ponsel Aiza dan Arhan menunggu hingga Aiza masuk kedalam pintu pagar yang cukup tinggi untuk di panjat.


"Sekali lagi terimakasih pak " Aiza membungkukkan badannya terlebih dahulu sebelum memasuki pagar.

__ADS_1


"Sama-sama.. langsung istirahat" Arhan masih mengingatkan Aiza seperti orang terdekatnya.


Tidak lama Aiza lenyap di balik pagar tinggi di rumah itu,Arhan pun meninggalkan rumah milik Aiza dengan kuda besinya dengan tersenyum bahagia.


__ADS_2