
"Elisha, kamu kabur lewat pintu belakang saja. Biar aku yang akan mengalihkan perhatian mereka," titah Mirna.
Elisha menggeleng cepat, ia tidak setuju dengan ide temannya itu.
"Tidak, aku tidak mau pergi sendiri sedang diri mu berusaha melindungi ku," tolak Elisha.
"Kita tidak punya banyak waktu, aku yakin kita akan bertemu lagi di kota D. Aku bukan target mereka, jadi kamu tenang saja," Mirna berusaha meyakinkan sahabatnya agar cepat pergi.
"Aku tidak bisa, aku tidak mau meninggalkan mu sendiri,"
Mata Elisha mulai berkaca-kaca. Ia tidak sanggup menerima pengorbanan sebesar ini. Mereka bisa saja menyiksa Mirna jika sampai tertangkap.
"Lihat aku, Elisha. Kamu harus pergi, orang tua dan anak-anak mu sangat membutuhkan diri mu. Aku janji akan menemui lagi, nanti," tegas Mirna.
Elisha tidak dapat menahan air matanya lagi.
"Benar ya, aku akan menunggu mu di kota D. Jangan sampai tidak datang," balas Elisha.
Mereka berpelukan sejenak, setelah itu mereka berpisah. Elisha mengendap-endap perlahan lewat pintu belakang. Sedangkan Mirna berusaha menarik perhatian bu Kiya dengan sengaja memperlihatkan diri di dekatnya.
"Hei itu Mirna, cepat kejar dia," titah bu Kiya.
Mirna berlari sekencang-kencangnya melewati kerumunan orang yang sedang berlalu lalang. Ia semakin tak terkejar saat dirinya menyatu dengan orang-orang yang sedang hilir mudik di terminal itu.
"Bagaimana, apa kamu melihatnya?" tanyanya kepada anak buahnya.
"Dia tiba-tiba menghilang Bos. Tapi dia sendirian, Elisha tidak bersamanya," jawab pria itu.
"Kurang ajar, kita terkecoh. Dia keluar dari bus jurusan kota D, berarti mereka akan menuju ke kota itu,"
"Bos benar, sepertinya target akan ke kota D,"
Wanita itu terlihat berpikir sebentar, sebelum memutuskan pulang.
"Ya sudah biarkan saja, nanti kita cari lagi," ucap Bu Kiya.
"Tapi bukannya itu sangat bahaya, hampir seluruh keluarga Bos ada di sana," balas preman itu.
"Iya kamu benar, kita harus segera menemukannya. Besok kita ke kota D, kamu siapkan semuanya," titahnya.
Mereka kembali ke mobil dan tidak melanjutkan pencarian.
☆☆☆
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Elisha baru saja tiba di kota D. Dengan perlahan ia turun dari bus, sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah. Setelah di rasa aman ia melangkah duduk di ruang tunggu terminal.
"Astaga, di mana ponsel ku?" Ia merogoh sakunya, namun kosong. Tasnya tidak luput ia geledah juga, namun hanya baju dan beberapa surat penting di sana.
"Apa jangan-jangan ada yang mencopet saat di bus tadi ya?"
Elisha berusaha mengingat. Memang tadi bus cukup penuh, ada seorang wanita dan pria yang selalu di dekatnya tadi. Namun ia tidak merasa curiga sama sekali. Sudut bibirnya membentuk senyum, namun detik kemudian berubah menjadi sedu sedan yang menyayat hati.
"Kenapa nasib ku begini, Tuhan? Apa salah ku?" tanyanya dalam tangis.
Uangnya sudah menipis, ponselnya juga hilang. Ia tidak mengenal siapapun di kota ini, entah bagaimana ia harus memulai. Ia juga tidak tahu bagaimana keadaan sahabat yang menolongnya sekarang. Pikirannya kacau balau, ingin rasanya ia mati saja jika tidak ingat orang-orang yang ia cintai.
Ia melangkah gontai menuju musholla terminal. Ia ingin beristirahat sejenak di sana sekalian menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Ia bermunajat dengan air mata berurai. Cukup lama ia terpekur dan meminta pada Tuhannya.
"Maaf Mbak, apa Mbak sedang ada masalah?"
Seorang wanita memberanikan diri bertegur sapa dengannya. Wanita itu tidak sengaja mendengar keluh kesah Elisha ketika tadi berdoa. Ia menatap wanita itu, ia takut salah mengenal orang lagi seperti mantan bosnya. Ia memilih tidak bercerita.
"Tidak, aku baik-baik saja," ia menyeka air matanya.
"Tidak apa-apa jika Mbak tidak mau bercerita. Tuhan tidak pernah menguji hambanya di luar kemampuannya. Yakinlah, tidak ada persoalan tanpa solusi. Aku duluan ya," Wanita itu bangkit dari duduknya, meninggalkan Elisha yang masih terpana oleh ucapannya.
"Tunggu!"
Elisha bangkit menyusul wanita itu. Wanita itu tersenyum sembari menunggunya.
"Aku Elisha," Setelah berjabat tangan, keduanya berjalan beriringan. Ternyata rumah Lavana berada di belakang terminal.
"Duduk dulu ya, kamu mau minum apa?" tanya Lavana.
"Terserah saja, terima kasih ya,"
Beberapa saat kemudian Lavana muncul dengan dua gelas es teh yang menggiurkan serta makanan ringan.
"Kamu pasti haus, ayo di minum,"
"Terima kasih ya, maaf merepotkan," ucap Elisha.
"Santai saja, Elisha,"
Keduanya meminum es teh tersebut secara bersamaan. Karena melihat kebaikan hati Lavana, akhirnya Elisha menceritakan kejadian yang menimpanya secara garis besar. Namun ia tidak bercerita tentang bosnya yang ingin melenyapkannya.
"Kebetulan aku punya salon, jika kamu mau sebelum kamu mendapatkan pekerjaan yang kamu inginkan, kamu bisa membantu ku di sana," ucap Lavana.
"Serius? Kamu tidak sedang bercanda bukan?" Elisha merasa tidak percaya, di saat dirinya mulai kehilangan harapan, wanita ini datang memberi asa.
__ADS_1
"Iya, kamu juga bisa tinggal di sini bersama ku. Aku hanya dengan ART di sini,"
"Terima kasih ya. Sepertinya ucapan mu tadi memang benar, Tuhan tidak akan menguji di luar batas kemampuan kita,"
Keduanya terlihat akrab mengobrol untuk beberapa saat sebelum mereka beristirahat.
☆☆☆
Keesokan harinya.
Elisha bangun pagi-pagi sekali. Semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Selain karena merindukan orang tua dan anaknya, ia memikirkan nasib Mirna. Ia merasa sangat bersalah sudah melibatkan gadis itu ke dalam masalahnya.
"Pamali loh, pagi-pagi sudah melamun," ucapan Lavana membuyarkan lamunannya.
"Aku bingung menghubungi orang-orang terdekat ku. Aku tidak ingat nomor siapa pun," ucap Elisha jujur.
"Doakan saja mereka, pelan-pelan nanti kita cari. Pasti ada jalan, sabar ya,"
Entah mengapa gadis itu selalu bisa membuat hatinya merasa tentram.
"Terima kasih ya, aku bersyukur Tuhan mengirimkan diri mu untuk membantu ku," ucap Elisha, tulus.
Lavana mengajak Elisha ke salonnya lebih pagi agar bisa mengajari dirinya hal-hal dasar dalam persalonan.
"Wah ternyata salon mu lumayan besar ya, pasti pelanggannya ramai," puji Elisha.
"Alhamdulilah, aku bisa membiayai hidup ku sendiri tanpa harus minta kepada orang tua," balas Lavana.
Lavana sebenarnya merupakan anak konglomerat di kota tersebut. Namun karena dia ingin mandiri dan tidak mau hidup dalam bayang-bayang kesuksesan orang tuanya, ia memilih membangun bisnisnya sendiri.
Walaupun dirinya memiliki beberapa bisnis dalam berbagai bidang, hidupnya tetaplah sederhana. Bahkan rumahnya juga tidak terlalu besar. Lavana sangat dermawan kepada siapa pun dan memiliki sifat rendah hati.
"Kamu membantu bagian kasir saja ya, aku ajarkan caranya,"
Ia mulai membimbing Elisha perlahan sampai dia mengerti.
☆☆☆
Beberapa saat kemudian.
"Bu nanti pelanggan setia kita yang dari kota B akan datang, kemarin dia sudah reservasi," lapor Sari, salah seorang karyawan salon.
"Oh ya, sudah lama ia tidak datang. Biar aku yang tangani nanti," balas Lavana.
Elisha merasa takjub dengan salon Lavana yang selalu ramai pengunjung, silih berganti memasuki salon tersebut.
__ADS_1
"Hai Bu Kiya, selamat datang kembali di salon saya," sambut Lavana.
Elisha menoleh untuk memastikan jika dugaannya salah. Matanya membulat sempurna tatkala melihat wanita yang selama ini sangat ia hindari berada tak jauh darinya.