
Tubuh bu Sariyati masih bergetar, ia masih shock menerima kiriman uang sebanyak itu. Walau pun ia percaya cerita Elisha, tetap saja sebagai orang tua ia merasa kuatir. Ia takut untuk mendapatkan uang tersebut putrinya melanggar perintah Tuhannya.
"Nenek kenapa?" tanya Damar.
"Tidak apa-apa, Sayang. Nenek hanya terlalu senang mengobrol dengan mama mu," jawabnya.
"Apa Nenek sudah bilang kepada mama jika aku mau sekolah?" tanya Damar lagi.
"Oh iya, nenek lupa. Nanti jika telepon lagi, pasti nenek beri tahu," jawab bu Sariyati.
Sesuai yang di katakan kepada Elisha, ia segera mengajak kedua cucunya ke rumah adiknya yang tak jauh dari tempatnya. Mereka berjalan beriringan, bergandengan tangan.
"Assalamualaikum, Rojali..."
Bu Sariyati langsung masuk karena pintu rumah terbuka. Ternyata adiknya sedang menonton tv.
"Waalaikum salam, Eh... ayo duduk, Mbak,"
Rojali sedikit terkejut kakaknya datang bertamu ke rumahnya.
"Iya, di sini saja tidak apa-apa," ia ikut duduk di depan tv.
Setelah sedikit berbasa-basi, ia mulai mengatakan tujuannya. Ia ingin Rojali membantunya untuk menghitung berapa biaya yang di butuhkan untuk membuat warung. Tidak perlu terlalu besar yang penting bangunannya kuat.
Awalnya Rojali terkejut karena untuk membuat bangunan membutuhkan uang yang tidak sedikit. Namun setelah tahu jika Elisha yang memberi modal, ia segera memberikan catatan anggarannya.
"Aku tidak tahu persis harga bahannya sekarang, Mbak. Tapi kemungkinan tidak jauh dari ini," ucap Rojali.
"Ya sudah, tolong antarkan aku ke atm ya. Aku mau ambil uangnya. Tolong kamu bantu atur semuanya," pinta bu Sariyati.
Ia memang sangat percaya kepada adiknya itu. Selama ini sawahnya juga ia percayakan kepada Rojali. Walau mulut adiknya itu memang terkadang pedas, tapi dia baik dan jujur.
Mereka berboncengan menuju atm terdekat. Rojali tidak ikut masuk karena ia tetap ingun menjaga privasi kakaknya. Ia menunggu di parkiran bersama kedua anak Elisha.
"Rojali, ini uangnya hanya bisa di ambil 15 juta. Kamu bawa saya dulu ya, besok kita ambil lagi," ucap Bu Sariyati.
Netra Rojali tak berkedip menatap tumpukan uang yang telah berpindah di tangannya. Sampai-sampai ia tak mendengar ucapan kakaknya tersebut.
"Rojali," panggil kakaknya.
"Eh, iya apa Mbak?" tanyanya bingung.
__ADS_1
Setelah menjelaskan sekali lagi dan Rojali mengerti, mereka segera pulang. Rojali segera mengontak teman-temannya yang ahli bangunan. Rencananya pembangunan warung tersebut akan di laksanakan sesegera mungkin.
☆☆☆
Santo berhasil meyakinkan Elisha jika semua yang terjadi hanyalah mimpi. Itu bisa terjadi karena Elisha akan memerankan menjadi Kinan. Itu sangat wajar dan bisa terjadi kepada siapa pun. Namun Elisha masih sedikit takut. Walau ia sudah berani kembali ke kamar, namun pandangannya tetap ke segala arah. Ia merapal doa-doa yang masih ia ingat untuk mengusir rasa takutnya. Sampai akhirnya rasa kantuk datang menyerang dan ia tertidur dengan pulas.
Elisha terbangun tatkala cahaya matahari mulai mengintip dari balik jendela. Ia merenggangkan tubuhnya sejenak. Terasa nyaman sekali.
Tok... tok... tok...
"Non Kinan..." panggil bi Jum.
"Iya Bi, aku sudah bangun," ucap Elisha.
Bi Jum segera masuk. Ia menyampaikan pesan dari Santo.
"Non, kata Tuan di suruh segera bersiap. Tuan akan membawa Non Kinan sarapan di luar," ucap bi Jum.
"Baiklah, apa aku harus pakai gaun yang di berikannya kemarin?" tanya Elisha.
"Tidak Non. Pakai baju yang di lemari saja. Yang itu nanti di pakai untuk acara lainnya,"
Setelah mengucapkan terima kasih, Elisha segera membersihkan diri. Kurang dari 45 menit dirinya telah siap. Tentu saja dengan penampilan bak Kinan.
Setelah sarapan yang romantis, Santo membawanya jalan-jalan. Elisha sangat senang bisa berada di luar, menikmati segarnya udara hari itu. Ia sangat berterima kasih kepada Santo yang mengerti dengan kebosanannya.
"Sekarang kita kembali ke rumah ya. Kamu istirahat dulu, nanti sore aku akan menjemput mu. Pakailah gaun yang aku beri, kita akan bertemu keluarga mu," ucap Santo.
Entah mengapa hati Elisha terasa berdebar membayangkan akan bertemu keluarga Kinan. Tapi tentu saja ia tak menampakkan kecemasannya itu di depan Santo.
☆☆☆
"Tumben masih sore sudah pulang, Mas? motor siapa itu?" tanya Indah.
"Cuma mau mandi saja, setelah itu harus kembali ke kantor untuk membuat laporan. Itu motor dari kantor, masih bagus kan," ucap Doni sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Kok bisa dapat motor, Mas hutang ya?" tanya Indah lagi.
"Ya tidak mungkin. Itu memang fasilitas dari kantor buat karyawan yang tidak punya motor. Baik kan atasan ku," jawab Doni.
"Makanya kamu jangan negatif thinking dulu, buktinya aku menghasilkan kerja di sana. Dapat motor pula," imbuh Doni.
__ADS_1
"Semua bisa saja di lakukan untuk menarik karyawan, Mas. Tapi jika ada ruginya mana ada bos yang mau ambil resiko," balas Indah.
"Ah sudahlah, jangan bicara yang belum terjadi,"
Doni pergi begitu saja meninggalkan istrinya. Ia mandi secepat kilat dan langsung berangkat kembali ke kantornya.
☆☆☆
Elisha telah bersiap-siap sejak tadi. Ia berpenampilan seperti Kinan. Cantik, natural dan elegan. Dandanannya minimalis namun justru menampakkan auranya yang sangat menarik.
"Wow... kamu sangat luar biasa, Kinan," puji Santo ketika ia turun ke bawah.
Elisha tersipu. Namun begitu senang mendengar pujian itu. Ia hanya tersenyum menanggapinya.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Santo.
Elisha mengangguk. Mereka masuk ke dalam mobil dan menuju rumah keluarga Kinan. Ternyata rumahnya sangat mewah, lebih dari rumah yang ia tempati sekarang.
"Apa istri mu juga ada di sana?" tanya Elisha.
"Iya, apa kamu takut?"
Pertanyaan Santo justru mengingatkan ketakutannya. Bagaimana jika wanita itu sampai membongkar segalanya.
"Hei... kok malah melamun," Santo mengagetkannya.
"Tidak, aku kan adiknya jadi kenapa harus takut," balas Elisha.
"Baguslah kalau begitu, semoga kita berhasil,"
Santo membukakan pintu mobil dan mengiringi Elisha masuk. Rumah ini tidak asing bagi Elisha karena ia telah mempelajarinya. Hanya saja melihatnya secara nyata ternyata terlihat lebih megah dan mewah. Santo menyuruhnya menunggu sebentar. Ia akan keluar setelah Santo memintanya nanti.
"Hei kemana saja kamu, kita sudah menunggu mu dari tadi. Katanya kamu punya kejutan untuk kami semua," sapa ayah mertuanya.
"Iya Pa, sabar. Aku akan segera membawanya," balas Santo.
"Masuklah," titahnya.
Elisha masuk perlahan, ia tersenyum kepada semua orang sembari mengingat siapa saja yang sedang berada di sana.
"Kinan... kamu kembali, Sayang,"
__ADS_1
Wanita itu berlari memeluk putrinya yang telah lama menghilang. Tangisan penuh rasa haru segera membahana. Semua menghampiri dan memeluknya, kecuali satu orang. Kiya. Ia tak bergeming sedikit pun dari tempatnya. Tatapannya tajam menusuk hati Elisha. Seperti ada dendam dan rasa marah tersirat dalam sorot matanya.