Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 38 Akhir Kisah Kinan


__ADS_3

"Dugaan Tuan benar, Non Kinan di bawa tiga orang pria ke dalam mobil," lapornya.


"Bagus, terus ikuti dan pastikan keselamatan Kinan. Jangan lupa kirimkan koordinatnya!" titah Santo.


"Baik, Tuan,"


Panggilan di akhiri.


Santo menatap ke luar jendela. Ia sudah mengira hal ini akan terjadi sebelumnya. Seseorang pasti memanfaatkan kala Kinan sedang tidak dalam penjagaan.


Ia sangat yakin menghilangnya Kinan waktu itu adalah kesengajaan. Kinan tidak mungkin pergi begitu saja tanpa sebab. Seseorang pasti ada di balik ini semua. Padahal setahunya Kinan adalah wanita yang baik dan tidak mempunyai musuh. Entah mengapa masih ada orang yang ingin menyingkirkannya.


"Sebenarnya kamu ada di mana, Kinan?" pria itu menitikkan air mata.


☆☆☆


"Halo, Om Daniel," sapa Mita.


"Maaf ya, tempo hari ponsel ku di service. Aku baru sempat menghubungi kamu. Apa ada yang penting?" tanya Daniel.


Mita pun segera menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Daniel merasa bersalah karena tidak bisa membantu saat Elisha membutuhkan.


"Aku turut berduka cita atas meninggalnya ayah Dona. Bisakah aku berbicara padanya?"


Mita bingung untuk sesaat, namun akhirnya ia mendapat ide.


"Dia sedang pulang kampung, Om. Mungkin baru beberapa hari akan kembali," jawab Mita.


"Oh baiklah. Sekarang aku masih di luar kota, beberapa hari lagi aku pasti datang ke tempat kalian," ucap Daniel.


Setelah mengobrol sebentar panggilan pun di akhiri.


"Elisha kok tidak memberi kabar lagi ya. ini sudah 5 hari sejak kepergiannya, berarti tinggal 2 hari lagi," gumam Mita.


Mita merasa kuatir. Nomor Elisha tidak dapat di hubungi. Ia juga lupa tidak meminta nomor Santo. Alamat rumahnya ia juga tidak tahu. Mita merutuki kebodohannya. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Elisha. Polisi tidak mungkin menanggapi laporannya jika ia tidak punya bukti apa-apa.


"Semoga kamu baik-baik saja dan segera kembali," harap Mita.


☆☆☆


"Aku mau pergi dulu, mungkin nanti malam baru kembali," pamit Kiya.


Tentu saja Santo senang, karena memang ini yang di harapkannya. Ia harus segera menyelamatkan Kinan dan menangkap dalang di balik ini semua. Dengan perginya Kiya, ia tak harus berdebat dengannya saat ia juga harus pergi.


"Ya, hati-hati di jalan," balas Santo.


Kiya mencium kening suaminya sebelum pergi. Sementara Santo tidak membalas namun juga tidak menolaknya. Tampaknya hati istrinya sedang bahagia, karena sejak tadi ia selalu melihatnya tersenyum.

__ADS_1


"Tuan, mereka membawa Non Kinan ke sebuah gedung tua di dekat hutan di perbatasan kota. Saya sudah mengirimkan lokasinya," lapor anak buah Santo.


"Terus awasi, aku akan segera meluncur," ucap Santo.


Ia segera menghubungi beberapa temannya yang berada di kepolisian untuk turut membantunya. Bagaimana pun ini adalah tindakan kriminalitas, jadi pihak berwajib harus di libatkan. Ia telah mengirim lokasi Kinan kepada mereka.


"Bapak pulang saja, aku akan bawa mobil sendiri," titah Santo.


Ia segera tancap gas menuju ke tempat tujuan. Lokasinya cukup jauh sehingga perlu waktu cukup lama untuk sampai. Santo mengurangi kecepatan mobilnya saat melihat mobil istrinya berada tidak jauh di depannya.


"Kiya mau kemana ya?" Santo penuh tanda tanya.


Tadinya ia menyangka istrinya akan pergi ke rumah temannya. Namun ia sangat terkejut saat mereka menuju arah yang sama. Kecurigaan Santo semakin kuat ketika mobil istrinya mulai memasuki hutan di perbatasan kota.


"Bukankah ini tempat Kinan di sekap?"


Santo menghentikan mobilnya dan segera menghubungi anak buahnya.


"Ya Tuan, anda ada di mana?"


"Aku sudah masuk hutan, tapi aku berhenti karena melihat ada mobil yang juga menuju ke sana," jawab Santo.


"Tuan benar, mobil itu baru saja sampai. Seorang wanita memakai selendang, berkacamata dan juga memakai masker baru saja datang,"


"Tolong prioritaskan keselamatan Kinan, aku akan segera masuk bersama teman-teman ku," titah Santo.


'Semoga dugaan ku salah, semoga bukan kamu dalang di balik ini semua' batin Santo.


☆☆☆


"Bukankah aku sudah menyuruh mu pergi, siapa suruh kamu justru menantang ku," ucap Kiya.


"Kenapa Kakak tega sekali kepada ku,"


"Tutup mulut mu! Sudah ku bilang aku bukan kakak mu. Aku sudah memberikan mu kesempatan untuk pergi, sekarang tidak lagi," bentak Kiya.


"Apa yang telah kamu lakukan terhadap Kinan?" tanya Elisha mulai putus asa.


"Hahaha... akhirnya kamu mengakui juga. Aku tahu siapa kamu, kamu Elisha bukan?"


Elisha tersentak, ia tidak menyangka jika wanita itu sudah tahu segalanya. Sekarang ia tidak akan bisa selamat lagi. Cairan bening mulai membasahi mata lentiknya. Bayangan ibu dan kedua anaknya mulai menari dalam angannya. Mungkin dirinya tidak akan pernah bertemu mereka lagi.


"Tolong lepaskan aku, kasihan keluarga ku," mohon Elisha.


"Hahaha... adik ku sendiri aku tidak peduli, apalagi dengan mu," ucapnya sinis.


"Katakan, siapa yang telah menyuruh mu menyamar menjadi Kinan?" tanya Kiya.

__ADS_1


Elisha tidak ingin membahayakan Santo. Cukuplah ia yang menjadi korban wanita itu. Ia memilih bungkam.


"Kenapa diam, cepat katakan!"


Plakkk... plakkk...


Dua buah tamparan mendarat di pipi mulus Elisha. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


"Ini semua kemauan ku sendiri," ucap Elisha lirih.


"Bohong! Siapa orang yang ingin kau lindungi, hah?" Kiya menjambak rambut Elisha.


"Akh..." teriak Elisha.


"Aku akan melepaskan diri mu, jika kamu mau mengatakan siapa orang yang menyuruh mu," Kiya memberi penawaran.


Elisha sadar ucapan wanita itu tidak dapat di percaya.


"Di mana kamu sembunyikan Kinan? Apa yang sudah kamu lakukan padanya? Apa kamu juga menyiksanya seperti ini?" tanya Elisha.


"Hahaha... kamu beruntung, siksaan mu lebih ringan darinya. Tapi tenang saja, kamu akan segera menyusulnya ke surga,"


"Apa? Elisha shock.


"Apa kamu sudah membunuhnya?" tanyanya lagi.


"Tentu saja, apa harus ku perjelas? Menghilangnya Kinan itu adalah settingan ku. Jasadnya sudah lama terkubur di belakang gedung ini,"


Brukkk...


Semua menoleh ke arah sumber suara. Santo jatuh menimpa reruntuhan bangunan sehingga menimbulkan bunyi yang cukup berisik. Pria itu telah berada di sana sejak beberapa saat yang lalu. Ia telah mendengar dengan jelas apa yang istrinya katakan.


"Jangan bergerak!"


Polisi sudah mengepung mereka. Kiya dan anak buahnya tidak dapat berkutik.


"Aku sama sekali tidak menyangka jika semua adalah perbuatan mu, Kiya. Kamu tega sekali," ucap Santo di sela tangisnya.


"Maafkan aku. Aku hanya ingin bahagia seperti Kinan," mohon Kiya.


"Aku tidak akan pernah memaafkan kamu. Orang tua mu pasti akan sangat kecewa dan terluka jika tahu semuanya,"


Santo tertunduk. Ia merasa gagal melindungi Kinan hingga harus berakhir tragis di tangan saudarinya sendiri.


"Ini semua aku lakukan karena aku sangat mencintai mu, aku mohon maafkan aku. Hiks, hiks..." Kiya berlutut memohon.


"Detik ini juga aku talak tiga kamu! Aku tidak sudi memiliki istri sejahat diri mu!" tegas Santo.

__ADS_1


Air mata Kiya luruh bersama rasa kecewanya. Ia tak pernah menyangka pengorbanannya akan sia-sia seperti ini.


__ADS_2