Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 21 Harga Diri Yang Terbayar


__ADS_3

"Kurang ajar, berani sekali dia menampar ku! Mana manajer tempat ini, aku mau komplain," teriak pria itu.


Suasana menjadi tidak kondusif. Hingar bingar musik bersahutan dengan suara riuh orang-orang yang berbicara tentang kericuhan barusan. Ada yang membela Elisha namun juga banyak yang menyudutkannya, mengganggap dirinya wanita yang munafik dan sok suci.


Mita yang mengikuti Elisha, berusaha menghiburnya. Ia tahu Elisha memang sebenarnya tidak cocok bekerja di tempat ini. Walau pun ia seorang janda, Mita tahu sahabatnya itu adalah wanita baik-baik. Berbeda dengan dirinya yang sudah sedikit terkontaminasi oleh pergaulan.


"Tenang Elisha, aku tahu kamu merasa harga diri mu di injak-injak. Aku sangat mengerti itu," hibur Mita.


"Mengapa dia berbuat seperti itu, apa salah ku? Aku hanya menemani mereka minum atau karaoke, tidak lebih. Aku bukan pel@cur, Mita. Hiks, hiks..." Ia tidak dapat menahan laju air matanya.


"Aku tahu itu, tapi di tempat ini terkadang susah untuk mempertahankan itu semua. Sebaiknya kamu mencari pekerjaan lain saja, tempat ini tidak cocok untuk mu," saran Mita.


"Kerja apa, Mita? Selama ini aku sudah mencoba kemana saja, tapi tidak satu pun yang bahkan memanggil ku," ucap Elisha putus asa.


"Lagi pula utang ku masih sangat banyak, tidak mungkin aku lari dari tanggung jawab," imbuh Elisha.


Keduanya lalu terdiam dan merenung.


☆☆☆


Sementara di lantai dansa.


Pria tadi tampak masih berteriak-teriak memanggil manajer. Akhirnya mami-mami tempat tersebut yang menghandle karena manajer tidak di tempat.


"Maaf Tuan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya mami Gita.


"Gadis itu sudah menginjak-injak harga diri ku dengan menampar ku di depan umum," adu pria itu.


Untuk menyelesaikan masalah tersebut, para mami mengumpulkan pria tersebut dan Elisha di sebuah ruangan guna mencari solusi.


"Dona, apa benar kamu sudah menampar Tuan Arman?" tanya mami Nanya selaku maminya.


"Iya Mi, itu karena dia sudah melecehkan ku," jawab Elisha.

__ADS_1


"Hahaha... Aku tidak memperkosa mu, j@lang. Dasar wanita sok suci," maki pria bernama Arman itu.


"Diam!" titah mami Naya sembari memandang tajam ke arah pria tersebut.


"Kenapa kamu justru berteriak pada ku, justru dia yang sudah kurang ajar pada ku," protes Arman.


"Maaf Tuan Arman, aku sudah mendengar perbuatan mu tadi kepadanya. Ini memang klub malam tapi bukan berarti anda bisa bertindak sesuka hati di sini. Dona hanya menemani tamu minum dan karaoke, jika anda menginginkan lebih maka carilah wanita lain yang bisa menerima keinginan anda," ucap mami Naya.


Elisha terharu mendengar kata-kata maminya yang secara terang-terangan telah membelanya. Tadinya ia berpikir akan kena marah, nyatanya justru sebaliknya.


"Wanita Malam di mana-mana ya sama, mereka menjual tubuh mereka demi uang," seru Arman.


"Terserah jika pandangan anda seperti itu. Tapi saya merasa justru anda yang sudah berbuat kurang ajar, semua yang ada di sana bisa menjadi saksi," mami Naya melihat ekspresi pria itu.


"Bahkan jika kita perkarakan sudah cukup membuat anda mendekam di jeruji besi," ancam mami Naya.


Arman tiba-tiba diam. Entah karena merasa salah atau takut akan ancaman mami Naya. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah tersebut. Mami Naya yang cerdas meminta uang sebagai kompensasi atas perbuatannya tadi. Pria itu memberinya 10 juta rupiah.


Sebenarnya uang itu sangat sedikit di banding apa yang sudah ia lakukan terhadap Elisha. Namun karena tidak ingin berdebat ia menerima uang tersebut. Pria tersebut pergi begitu saja setelah semua selesai.


"Iya Mi, terima kasih sudah membela ku," ucap Elisha.


Mami Naya tersenyum dan berlalu.


"Tunggu Mi, uang ini buat nyicil utang ku saja," Elisha memberikan kembali uang itu kepada maminya.


"Kamu butuh baju baru agar tidak meminjam baju Mita terus. Aku ambil 7 juta saja, sisanya kamu pakai saja untuk kebutuhan mu," ucap Mami Naya.


Elisha melihat kepergian maminya bergantian dengan melihat tumpukan uang di tangannya. Ia senang namun menangis dalam waktu yang bersamaan. Senang karena mendapat uang yang banyak. Namun sedih karena untuk uang itu ia harus menerima pelecehan.


"Sabar ya Dona, lama-kelamaan kamu akan terbiasa dan mulai paham dengan dunia malam," hibur Dona.


Setelah merasa tenang, keduanya kembali bekerja walau dengan hati yang tidak bersemangat lagi.

__ADS_1


☆☆☆


Keesokan harinya.


Doni yang tampak tidak sabar untuk meminang pujaan hatinya segera mengutarakan maksudnya kepada orang tuanya. Ia berkata terus terang jika ingin secepatnya menjadikan Indah sebagai istrinya.


"Tapi Doni, kamu dan Elisha itu belum bercerai. Kita tidak bisa menikahkan kamu dengan orang lain," tolak ibunya.


"Itu nanti saja di urus, Bu. Aku sudah terlanjur sayang kepada Indah dan ingin menikahinya. Ibu tidak mau kan kita sampai berzina karena di dipersulit untuk menikah," bujuk Doni.


Kedua orang tuanya menghela napas dalam. Sebagai orang tua tentu saja mereka tidak ingin anak mereka melakukan hal yang di larang agama. Akan berdosa bagi orang tua yang menghalangi anaknya untuk melakukan kebaikan (menikah).


"Baiklah, tapi kita tidak bisa mendaftarkan pernikahan mu ke pengadilan agama karena status mu belum resmi bercerai. Kami hanya bisa menikahkan kalian secara agama," jawab ayahnya.


"Tidak masalah, aku juga telah mengatakan itu kepada Indah. Dia bilang, jika aku serius maka harus segera melamarnya secara resmi," ucap Doni.


Karena Doni sudah sangat kebelet, lamaran akan di lakukan esok hari secara sederhana. Orang tua di dampingi saudaranya segera datang ke rumah Indah untuk membicarakan segalanya.


Acara mereka yang terkesan mendadak menjadi pembicaraan hangat di seantero desa mereka. Banyak orang yang bergunjing, ada yang mengatakan Indah sudah hamil duluan. Ada yang mengatakan mereka selingkuh. Bahkan terdengar kabar bahwa Indah adalah pelakor Alias perebut laki orang.


Desas desus itu sangat mengganggu keluarga kedua belah pihak. Mereka berunding untuk mencairkan suasana tersebut dan mencari solusi.


"Maaf Pak, kami sangat keberatan dengan semua berita yang ada. Semua terkesan menyudutkan putri kami," ucap Ayah Indah.


"Iya Pak, kami tahu itu. Kami juga merasa terganggu dengan itu semua, tapi kita tidak tahu harus berbuat apalagi. Kita juga sudah menjelaskan semua kepada masyarakat," balas ayah Doni.


Doni dan Indah hanya bisa menyimak.


"Tuduhan di luar sana sudah sangat keterlaluan. Indah itu masih seorang gadis, ini pasti sangat berat untuknya," sahut ibunya Indah.


"Kami sangat mengerti itu, Bu. Tapi apa yang bisa kami lakukan sekarang?" tanya ayah Doni.


"Tadinya kami tidak keberatan untuk menikahkan mereka secara agama, tapi karena masalah ini kami berubah pikiran..." ayah Indah menggantung kalimatnya.

__ADS_1


"Kami ingin Nak Doni segera memproses perceraiannya agar mereka bisa menikah secara sah di pengadilan agama," imbuhnya.


__ADS_2