
Perjalanan terasa sangat panjang bagi Elisha dan Mita. Terbayang rutinitas yang akan mereka jalani setelah mereka kembali. Bahkan pekerjaan biasa saja terkadang membuat orang jenuh dan malas apalagi pekerjaan seperti yang mereka lakukan.
Percayalah, tidak akan ada seorang pun di muka bumi ini yang ingin berada di jalan yang salah. Setiap orang pasti mendambakan hidup yang damai, bersih dan bahagia. Namun tidak semua orang beruntung, terkadang kita di paksa memilih jalan yang salah oleh keadaan. Bukan takdir yang salah, tapi pilihan manusia yang bisa salah. Semua tergantung sebesar apa keimanan seseorang.
Begitu pula halnya Elisha dan Mita, di paksa memilih jalan yang salah oleh keadaan. Bisa saja mereka tak berada di tempat itu jika mengambil pilihan yang lain. Namun inilah jalan yang mereka pilih. Tidak ada pembenaran karena setiap agama pun pasti melarang maksiat. Tapi kita tidak patut menyalahkan, karena bisa jadi kita pun akan memilih jalan yang sama kala berada di posisi mereka.
"Alhamdulillah kita sudah sampai. Padahal hanya duduk tapi lelah sekali rasanya badan ini," ucap Mita.
Ia meletakkan bawaannya begitu saja di lantai dan langsung berbaring di tempat tidurnya yang empuk. Sementara Elisha hanya tersenyum simpul melihat tingkah teman sekamarnya itu.
"Enak sekali rasanya," imbuh Mita sembari memejamkan matanya.
Elisha segera mandi karena badannya terasa lengket terkena asap dan debu di perjalanan. Ketika selesai ia telah melihat sahabatnya sudah mendengkur halus.
"Astaga, dia sudah tidur," Elisha menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah mengeringkan rambut, dia juga mulai berbaring di samping temannya. Hari masih sore jadi mereka masih bisa beristirahat.
☆☆☆
Malam harinya.
"Elisha, hari ini ada acara di tempat kita, jadi harus memakai gaun," ucap Mita.
"Acara apa?" tanya Elisha.
"Acara tahunan, biasanya ada lombanya juga. Karena kamu belum punya banyak baju, kamu pakai saja gaun ku," jawab Mita.
Mita segera mengambil semua gaun favoritnya dan meletakkannya di atas kasur. Ia menyuruh Elisha untuk memilih terlebih dahulu. Elisha terpukau dengan gaun biru tanpa lengan yang banyak aksen mutiaranya. Gaun itu memperlihatkan sedikit punggungnya yang putih mulus.
"Selera mu memang bagus, ayo kita coba,"
Mereka mencoba gaun pilihan masing-masing. Keduanya terlihat cantik dan memukau. Setelah selesai bersiap, mereka segera berangkat. Tak lupa mereka mengenakan jaket untuk menyamarkan lekuk tubuh mereka.
☆☆☆
Di tempat lain, nun jauh di sana.
__ADS_1
"Doni, ibu rindu sekali kepada cucu-cucu ibu. Jika kalian memang berniat berpisah, lebih baik anak-anak ikut bersama mu saja," ucap ibunya.
Walau pun ia kerap berbohong tentang segala hal kepada istrinya selama ini, namun ia sangat menyayangi kedua anaknya. Namun yang terjadi tidaklah sesederhana yang ibunya pikir. Berpisah atau tidak, kedua anaknya pasti akan selalu bersama Elisha. Apalagi jika masalah mereka sampai ke pengadilan agama, tentu saja Elisha akan memenangkan hak asuh anak mereka.
"Bukan hanya ibu yang rindu, aku juga sangat merindukan mereka. Tapi aku yakin Elisha dan keluarganya akan melakukan segala cara agar menang di pengadilan," balas Doni.
"Tapi kamu belum mencobanya, siapa tahu yang terjadi justru sebaliknya," bujuk ibunya.
"Sudahlah, Bu. Aku tidak mau memikirkannya lagi. Aku akan segera memberi menantu dan cucu baru untuk ibu,"
Doni terlihat serius mengatakannya. Ibunya yang sangat menginginkan cucu karena kesepian hanya bisa diam dan mengalah.
Sudah sekitar sebulan terakhir ini, Doni memang sedang getol mendekati seorang gadis di kampungnya. Gadis tersebut merupakan teman sekolahnya dulu. Mereka bertemu kembali sekitar 2 bulan yang lalu. Awalnya hubungan mereka hanya sekadar berbalas pesan, Doni sering curhat mengenai hidupnya pada gadis itu.
Bak pepatah jawa bilang: witing trisno jalaran soko kulino, yang artinya cinta hadir karena terbiasa. Pepatah tersebut sangat pas untuk menggambarkan hubungan kedua orang tersebut. Gadis itu telah mengisi ruang gelap di hati Doni. Menghiasi hari-harinya yang tadinya sunyi menjadi lebih hidup dan berwarna. Kini hubungan mereka menjadi sangat dekat.
"Indah, aku ingin kita segera menikah. Aku sudah merasa sangat cocok dengan mu,"
Malam itu, saat matahari sudah tidak menyisakan sinarnya di langit. Doni melamar kekasihnya yang selama sebulan ini sudah bersamanya. Ia sudah tidak ingat akan istri dan anaknya. Ibarat kata dirinya sedang merasakan puber kedua, di mabuk api asmara.
"Tapi... bukannya Mas belum bercerai? Apa bisa kita menikah?" tanya Indah.
Pria itu memang pandai bersilat lidah. Manisnya kata-katanya bahkan melebihi madu. Semoga saja apa yang di ucapkannya bukan sebatas manis di awal saja.
Indah diam, tampaknya ia sedang berpikir. Di desanya memang banyak sekali yang menikah di bawah tangan atau secara agama. Namun pernikahan seperti ini cenderung banyak merugikan pihak wanita sehingga kadang banyak pertentangan terjadi dari pihak wanita.
"Aku akan membicarakannya dengan seluruh keluarga ku dulu ya, Mas. Aku harap Mas Doni juga bisa melamar ku secara resmi agar keluarga ku percaya," jawab Indah.
☆☆☆
Malam ini klub tempat Mita dan Elisha bekerja sedang ada acara. Para ladies terlihat cantik dengan berbagai gaun yang mereka kenakan. Pria-pria yang ingin di manjakan mulai berdatangan memadati lantai dansa. Para pekerja malam mulai mencari mangsa yang di anggapnya menarik dan berkocek tebal.
"Dona, ayo kita kesana. Om-om berduit lagi bagi-bagi rejeki," ajak Mita.
Elisha menurut. Pria tersebut di kelilingi banyak wanita. Ia terlihat membagi-bagikan uang dalam jumlah cukup banyak.
"Hai kamu yang pakai gaun biru, kemarilah,"
__ADS_1
Semua mata memandang Elisha yang tidak sadar jika dirinyalah yang pria itu maksud.
"Aku?" tunjuk Elisha pada dirinya sendiri.
"Iya, kemarilah Sayang," jawab pria itu.
"Ikuti saja Dona, sepertinya dia tertarik dengan mu," bisik Mita.
Walau pun dengan rasa ragu, ia tetap menghampiri pria itu sembari tersenyum.
"Kamu cantik sekali," pujinya.
"Terima kasih," ucap Elisha.
Pria itu merangkul pinggangnya hingga tubuh mereka tidak berjarak.
"Tubuh kamu juga sangat indah, Sayang,"
Pria itu mulai menggerayangi tubuh Elisha sehingga dirinya merasa tidak nyaman dan berusaha melepaskan diri. Namun dengan kasar pria itu kembali menariknya hingga wajah mereka saling berhadapan.
"Maaf Om, tolong jangan begini," pinta Elisha.
"Aku sudah membayar mahal untuk mu, kamu harus membuat ku senang," ucapnya.
"Aku bukan pelacur, aku hanya menemani minum saja," seru Elisha.
"Hahaha... Itu sama saja. Ini kan yang kamu mau,"
Pria itu meletakkan segepok uang di tangan Elisha. Belum sempat bereaksi pria itu bertindak lebih kasar. Ia mencium bibir Elisha dengan paksa sembari meremas bongkahan kenyal bagian belakang Elisha.
"Hmm..."
Elisha berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri.
Plakkk...
Sebuah tamparan melesat ke pipi om nakal tadi.
__ADS_1
"Sudah aku bilang aku bukan wanita murahan!" teriak Elisha.
Matanya merah menahan amarah dan air mata. Ia melempar uang tadi ke muka tamunya sebelum akhirnya pergi dari tempat itu.