Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
Bab 37 Doni Bermain Hati


__ADS_3

Dua hari kemudian.


"Don, tolong kamu berikan laporan ini ke pusat. Nanti minta antar Wawan saja jika kamu tidak tahu tempatnya," titah atasannya.


"Baik Mas, segera di laksanakan," ucap Doni.


Ia membawa file tersebut dan memasukkan ke dalam tasnya, kemudian menghampiri Wawan yang berada di depan kantor.


"Wan, tolong temani aku ke kantor pusat ya. Mas Bagus menyuruh ku memberikan laporan ini kepada admin di sana," pinta Doni.


"Siap, ayo kita meluncur,"


Mereka segera menuju motor masing-masing. Mereka memang sengaja tidak berboncengan karena setelah dari kantor pusat, mereka akan menuju area yang berbeda. Sekitar 20 menit perjalanan mereka telah sampai. Ternyata tempatnya tidak begitu luas, sama saja dengan kantor yang mereka tempati saat ini.


"Permisi, kita dari kantor cabang di minta untuk menyerahkan laporan," ucap Wawan.


"Oh Mas Wawan, silahkan masuk,"


Doni tertegun melihat gadis cantik di depannya. Rambut panjang tergerai berwarna kecoklatan, mata bulat dengan bibir sensual. Membuat Doni tidak fokus dengan tujuannya.


"Don, don..." Wawan berusaha menyadarkan temannya.


"Maaf ya Mbak... ini teman ku Doni, karyawan baru," ucap Wawan yang merasa malu dengan sikap Doni.


"Tidak apa-apa. Perkenalkan, nama ku Nela,"


Gadis itu mengulurkan tangan kearah Doni. Ia sangat senang sekali menyambutnya.


"Aku Doni, senang berkenalan dengan mu," balas Doni.


Mereka tersenyum dan saling menatap, sampai Wawan menyuruhnya untuk segera memberikan laporan tersebut.


"Aduh... kamu itu mengganggu saja. Tidak senang melihat teman bahagia," keluh Doni ketika mereka sudah di parkiran.


"Kerja yang benar, ingat kamu sudah punya istri. Satu saja belum sanggup mengurus, masih ingin bermain hati," ucap Wawan, bijak.


"Aku tidak bermain hati kok," sanggah Doni.


"Lalu apa itu tadi namanya? Aku ini juga seorang pria. Dari tatapan mu kepadanya saja sudah tahu kalau kamu tertarik padanya," imbuh Wawan.


Doni tidak dapat mengelak lagi. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah.


"Eh... tapi boleh dong aku minta nomornya, please?" Doni memohon.


"Aku tidak punya. Aku berangkat duluan, hari ini rute ku cukup panjang,"


Wawan meninggalkan Doni yang masih terdiam di sana.

__ADS_1


☆☆☆


Sudah dari kemarin, warung milik bu Sariyati mulai di garap. Banyak tetangga yang berbisik tentang dari mana wanita itu mendapat uang untuk membangunnya, mengingat dirinya hanyalah seorang janda yang hanya mengandalkan hidupnya dari hasil sawah.


Rojali geram dan akhirnya menjelaskan kepada warga jika keponakannya yang sedang merantau yang memberi kakaknya uang. Banyak yang bertanya kepadanya tentang pekerjaan Elisha, namun Rojali enggan menjawab. Menurutnya apa pun yang ia akan katakan akan tetap salah di mata orang yang tidak suka terhadap keluarga mereka.


"Sudah, biarkan saja mereka berkata apa. Toh kita tidak mengganggu hidup mereka," ucap Bu Sariyati.


"Tapi telinga ku panas mendengarnya, Mbak," balas Rojali kesal.


"Percuma juga di jelaskan. Mereka yang baik pasti tetap berprasangka yang baik kok," ucap bu Sariyati.


Mereka tidak membahas lebih lanjut. Rojali terus mengawasi tukang sedangkan kakaknya lanjut menyiapkan makan untuk mereka. Hari ini ia memasak agak banyak dan sedikit mewah, sebagai rasa syukurnya bisa membangun sebuah usaha baru. Sebagian makanan ia bagikan juga kepada para tetangga.


Selama ini hubungan keluarganya dengan tetangga selalu harmonis. Setiap ada rejeki lebih, ia pasti berbagi dengan tetangga. Namun entah kenapa karena adanya pembangunan warung, ada saja tetangga yang tidak suka. Namun ia berusaha menanggapinya biasa saja.


☆☆☆


Hari ini keluarga Kinan sedang makan siang di restoran mewah. Mereka mengundang beberapa kerabat. Acara ini bertujuan sebagai rasa syukur karena putri kesayangan mereka telah kembali.


Bara di hati Kiya makin memanas. Ia sudah memberi kesempatan kepada Kinan palsu untuk pergi. Namun sepertinya wanita itu justru menantangnya. Kesabarannya telah sampai pada batasnya. Ia berencana untuk melenyapkan wanita itu.


"Wah kamu semakin cantik saja ya," puji pamannya.


"Terima kasih, Om juga tetap awet muda," balas Elisha.


"Mungkin karena pergaulan, Om," balas Kinan.


"Sudah ngobrolnya nanti lagi, kita makan dulu," sahut ibunya Kinan.


Mereka mulai makan sembari sesekali bercanda.


"Aku ke toilet sebentar ya," pamit Elisha.


Kiya juga ikut bangkit dan menyusul Elisha. Santo yang mengetahui itu mempunyai firasat tidak enak.


"Hei kamu!" teriak Kiya.


"Kak Kiya mau ke toilet juga ya?" tanya Elisha.


"Jangan sok polos. Kamu itu bukan adik ku. Kinan itu sudah mati jadi tidak mungkin ada di sini," ucap Kita keceplosan, ia langsung menutup mulutnya.


"Apa?" Elisha terhenyak.


Ia terkejut bukan main. Kenapa bisa Kiya mengatakan hal tersebut? Apa Kinan memang telah tiada? Sejenak Elisha merasa ragu. Namun ia harus tetap mempertahankan perannya.


"Kakak bicara apa sih, aku masih di sini Kak. Apa Kakak ingin aku meninggal?" Elisha berpura-pura memasang wajah takut.

__ADS_1


"Diam kamu!" bentaknya.


"Berapa yang kamu mau, sebutkan saja?" tanyanya angkuh.


"Maksud Kakak apa? Aku tidak butuh harta. Keluarga ku adalah segalanya bagi ku,"


"Hahaha... dasar wanita munafik. Lalu apa tujuan mu kesini jika bukan karena uang?" tatapan Kiya mencemooh.


"Kamu bisa membohongi semua orang, tapi tidak aku. Apa kamu Elisha?" tebaknya.


Deg...


Elisha terkejut. Apakah penyamarannya sudah ketahuan? Ia harus tetap tenang.


"Siapa itu, Kak? Apa teman mu?"


"Si@lan," maki Kiya.


Ia pergi begitu saja, meninggalkan Elisha yang akhirnya bisa bernapas lega. Elisha segera menyelesaikan hajatnya lalu bergegas kembali.


"Terima kasih untuk undangannya. Datanglah ke rumah ku Sayang, sudah lama kamu tidak berkunjung," ucap pamannya.


"Iya Kinan, Tante sudah rindu dengan masakan mu yang nikmat," sahut tantenya.


"Iya, nanti Kinan luangkan waktu ya,"


Mereka berpelukan sebelum berpisah.


"Ma, Pa, aku masih ada urusan. Kalian pulang saja dulu ya, nanti aku menyusul," ucap Elisha.


"Iya, tapi jangan lama-lama ya," pesan ibunya.


Elisha mengangguk. Ia juga berpamitan kepada Kiya dan Santo. Tadi Santo menyuruhnya untuk kembali ke rumahnya karena ada yang harus mereka bicarakan. Sopirnya telah menunggunya di bawah.


"Astaga, rasanya aku sudah tidak sanggup melanjutkan ini semua," gumam Elisha.


Mobilnya telah terlihat, hanya tinggal beberapa puluh meter saja. Namun seseorang tiba-tiba membekapnya dari belakang.


"Akh..."


Elisha berhasil lepas, namun baru beberapa langkah dirinya berhasil di tangkap kembali dan di seret ke dalam sebuah mobil berwarna hitam.


"Lepaskan aku!" pintanya.


"Diam, kalau tidak aku bunuh kamu sekarang!" ancam pria bertato.


"Siapa kalian dan kenapa menculik ku?" tanya Elisha.

__ADS_1


Ia sangat ketakutan. Tiga orang pria di dalam mobil sepertinya tidak asing baginya. Tapi ia lupa pernah melihat mereka di mana.


__ADS_2