Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 12 Menjadi Wanita Malam


__ADS_3

Karena melihat bu Kiya makin mendekat, Elisha menurut saja ketika wanita itu mengajaknya ke ruangan belakang. Ia masuk ke sebuah tempat yang terlihat seperti salon. Banyak perlengkapan make up di dalamnya.


"Maaf Mbak, aku mau di apain ya?" Elisha sedikit beringsut saat wanita itu akan menyentuh rambutnya.


"Duh, kampungan sekali sih kamu. Entah mami Naya memungut mu dari mana, masa tidak tahu apa-apa," jawab wanita itu.


Karena tidak ingin di cemooh lagi, Elisha tidak protes lagi. Ia mengikuti saja apa yang di lakukan wanita itu terhadap tubuhnya.


"Wah, ternyata kamu cantik sekali," puji seorang wanita.


"Nama kamu siapa?"


Elisha berpikir, ia tidak mau memberi tahu nama aslinya.


"Dona, Mbak,"


"Ok Dona, setelah ini ikutlah dengan ku. Hari ini akan banyak om-om kaya yang datang. Mereka pasti suka dapat barang baru. Panggil saja aku, Mita,"


Pikiran Elisha terfokus pada kata om-om kaya, ia bahkan tidak menerima jabatan tangan dari Mita. Ia masih belum paham maksudnya. Apa wanita ini akan menjualnya? Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding. Ini sama saja keluar dari mulut buaya lalu masuk ke mulut singa. Dua-duanya sama-sama menyakitkan.


"Maaf Mbak Mita, aku wanita baik-baik. Aku tidak mau jual diri, aku sudah punya dua anak," Elisha berteriak dan meringkuk di pojokan. Bukannya menolong, semua wanita yang ada di sana justru menertawainya.


"Jangan bodoh Dona, memang siapa yang mau menjual mu," ucap Mita sembari tersenyum sinis.


"Itu tadi, Mbak mau mengajak ku ke om-om kaya," sahut Elisha.


"Astaga, itu memang pekerjaan kita. Menemani pria yang butuh hiburan, karaoke, minum dan semacamnya. Tapi kamu bisa memberi mereka pelayanan lebih, jika kamu mau,"


Mita merasa heran kenapa anak baru itu sangat udik sekali. Ingin berkecimpung di dunia malam, tapi sama sekali tidak tahu apa pekerjaannya.


"Tidak mau! Aku tidak ingin bekerja seperti itu!"


Elisha menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Apa? Tidak mau? Lalu untuk apa kamu datang ke sini? Dasar wanita aneh, pergi sana!"


Mita ikut emosi, sudah susah payah temannya membantunya berdandan ternyata wanita itu menolak kerja.


"Aku akan pergi dari sini,"


Elisha melangkah keluar, baru saja membuka pintu, ia melihat mantan bosnya sedang berkeliling mencarinya dengan tiga orang pria. Nyalinya menciut. Dengan teratur dan sedikit menahan nafas ia masuk kembali ke ruangan tadi.


"Hei kenapa masuk lagi? Katanya tidak mau kerja begini?" hardik Mita.


"Bisakah Mbak mendandani ku menjadi orang berbeda? Aku tidak mau ada yang mengenali ku,"

__ADS_1


Elisha tertunduk, walaupun ia tak ingin namun sepertinya tidak ada pilihan lain. Untuk menghindar, sepertinya ia harus memilih ini untuk sementara.


"Apa? Jadi kamu berubah pikiran ya? Baiklah, ayo duduk lagi,"


Elisha menurut, ia di dandani oleh beberapa orang sekaligus. Rasanya ia menjadi ratu yang di manjakan saat ini, yang memiliki beberapa orang pelayan untuk mendandaninya.


"Lihatlah, kamu suka tidak?"


Mita menggeser tubuhnya ke samping agar Elisha bisa melihat hasil karyanya di depan cermin.


"Apa benar ini aku?"


Elisha terkesiap, ia tidak percaya make up berhasil membuatnya berbeda. Cantik dan terlihat berbeda dari biasanya.


"Sudah ku bilang kan, kamu itu cantik," puji Mita.


"Iya, cantik banget loh," sahut yang lain.


"Ya sudah, tunggu sebentar di sini. Kita keluar bersama,"


Mita mendandani dirinya sendiri. Ia terlihat piawai sekali menggunakan kuas dan peralatan make up lainnya. Hanya butuh 10 menit saja, ia telah selesai merias diri.


"Dona, cepat kamu ganti baju di sana," titah Mita.


"Memangnya baju ini kenapa? Ini masih bagus kan?" tanya Elisha dengan polos.


Mita menunjuk barang bawaan Elisha.


"Ada sih baju, tapi ya sama seperti ini. Malah ini sudah yang paling bagus," jawabnya.


'Wanita ini lugu banget sih' batin Mita.


"Untung aku bawa pakaian cadangan, kamu pinjam saja ini. Cepat ganti, aku tunggu di sini,"


Mita memberikan pakaian ganti miliknya. Elisha mengambilnya dan segera masuk ke ruang ganti.


"Akh..."


Terdengar teriakan dari ruang ganti, membuat yang lain spontan menuju ke sana semua.


"Ada apa? Kenapa?"


Semua orang bertanya-tanya.


"Tidak Mbak, hanya saja bajunya terlalu terbuka. Aku tidak bisa memakainya," teriak Elisha dari dalam.

__ADS_1


"Coba keluar, biar aku lihat," titah Mita.


Elisha membuka pintu, ia berusaha menutupi bagian dada dan pahanya menggunakan tangannya.


"Ini biasa saja, coba kamu lihat pakaian kita," ucap Mita.


Memang pakaiannya lebih sopan dari mereka semua. Namun melihat dirinya sendiri menggunakannya, rasanya sungguh berbeda. Ia tidak pernah menggunakan pakaian seminim ini sebelumnya. Rasanya risih dan tidak nyaman.


"Tapi..."


"Sudahlah Dona, Kita tidak ada waktu lagi. Tamu sudah berdatangan, ayo,"


Mita menarik tangannya. Tadinya ia enggan ikut, tapi karena terdesak ia menurut juga.


Saat mereka keluar, ternyata bu Kiya serta anak buahnya masih di sana. Ia berpapasan dengan mereka. Jantungnya serasa berhenti berdegup, bahkan ia menahan nafas agar tidak terdengar. Keringat dingin mulai bercucuran. Namun detik berikutnya ia merasa lega, wanita itu hanya melihatnya sekilas dan mengabaikannya. Penyamarannya ternyata cukup sempurna.


"Sini Dona, kenalkan ini Om Daniel,"


Elisha hanya membungkukkan badannya, tanpa mau berjabat tangan. Hal itu membuat pria tadi terkekeh sendiri.


"Aku suka dengannya, biarkan dia menemani ku," titah Daniel.


"Tenang saja, dia pria baik. Tidak pernah macam-macam. Biasanya hanya minta di temani karaokean," bisik Mita di telinganya.


Awalnya ia masih ragu, namun apa yang di ucapkan Mita memang benar. Pria berusia 45 tahunan itu hanya memintanya bernyanyi, beruntung walau pun tidak begitu merdu ia bisa menyanyi sesuai nada. Hal ini membuat Daniel merasa senang.


"Wah ternyata kamu selain cantik juga pandai bernyanyi, aku senang," puji Daniel.


"Terima kasih," ucap Elisha tersipu malu.


"Kalau kamu lapar atau ingin minum pesan saja, biar di masukkan ke tagihan ku," balas Daniel.


Elisha memang sangat haus, tapi ia bingung harus membelinya di mana.


"Beli minumnya di mana memangnya, Om?" tanyanya.


Daniel menatap wanita di depannya dengan lekat. Ia tidak menyangka jika wanita itu benar-benar polos. Entah apa alasan yang membuatnya bekerja sebagai wanita malam. Yang jelas hatinya merasa sangat iba. Ia kemudian memanggil pelayan dan memesankankan Elisha makanan dan minuman.


"Eh Mas, sini sebentar. Tadi wanita yang masuk ke ruangan ini siapa ya?"


Kiya memanggil pelayan yang baru saja keluar dari ruangan tempat Elisha berada.


"Wanita yang mana ya? Di dalam ada beberapa wanita?" tanya pelayan itu.


"Namanya Elisha, apa ada di dalam? Apa ada wanita yang baru bekerja malam ini di dalam?" tanya Kiya lagi.

__ADS_1


"Orang baru?" pelayan terlihat berpikir.


"Oh iya, ada," jawabnya kemudian.


__ADS_2