Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 18 Bapak Meninggal?


__ADS_3

"Ibu jangan terlalu memikirkan itu. Kebetulan bos ku orang baik, dia yang memberi pinjaman untuk operasi bapak dengan memotong gaji ku," jawab Elisha pada akhirnya.


"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih ya Nak, maaf sudah merepotkan mu,"


Bu Sariyati tak dapat menahan rasa harunya, ia menangis terisak.


"Itu sudah kewajiban ku, Bu. Nanti aku kabari lagi setelah masuk ya," Setelah itu, Elisha langsung menuju teller karena nomor antriannya sudah di panggil.


Tak berselang lama, ia segera mengabari ibunya lagi saat uang sudah berhasil di kirim. Karena sangat mengantuk, ia memutuskan tidak memasak hari ini. Ia membeli 2 kotak makanan untuknya dan Mita saat di jalan pulang.


☆☆☆


"Jadi kamu sudah mengirim uangnya? Bagaimanana keadaan ayah mu?" tanya Mita.


"Iya sudah. Tadi ibu bilang keadaan bapak makin parah, untung saja aku dapat uangnya tepat waktu. Aku tidak akan memaafkan diri ku sendiri jika sampai bapak tidak bisa bertahan," jawab Elisha.


"Kamu anak dan ibu yang baik untuk mereka, jadi pasti Tuhan akan memberi kemudahan,"


"Amin... semoga saja aku bisa begitu,"


Keduanya sarapan bersama. Setelah membersihkan badan, Mita dan Elisha kembali tidur karena masih mengantuk.


☆☆☆


Malam harinya.


Tidak seperti malam sebelumnya yang masih merasa kaku. Hari ini Elisha sudah mulai bisa beradaptasi. Ia mulai belajar make up sendiri kepada Mita. Bahkan ia sudah mulai menerima pakaian seksi yang harus ia kenakan demi kepentingan pekerjaannya.


Ini adalah pilihannya, maka ia berjanji akan melakukannya dengan baik tanpa terlalu jauh melanggar norma agama. Ia tidak peduli jika ada yang menghakiminya sebagai orang munafik. Bekerja di klub malam tapi masih sok suci. Biarlah itu menjadi urusannya dengan Tuhan. Mungkin ini sudah menjadi takdirnya. Setidaknya itulah yang ia pikirkan sekarang.


"Biarlah ini menjadi dosa ku. Aku berjanji akan berhenti pada saatnya nanti," ucapnya pada dirinya sendiri.


Ia mulai mengenakan dress merah marun tanpa lengan sebatas lutut. Memperlihatkan leher jenjang serta punggung atasnya yang mulus. Tubuhnya yang padat berisi sangat terbentuk dengan dress press body seperti itu. Siluetnya benar-benar akan membuat para pria berdecak kagum dan tak berhenti menatapnya.


"Wah, seksi sekali," puji Dona.


"Terima kasih, aku harus membiasakan diri seperti ini. Hanya saja aku masih bingung jika ada tamu yang menginginkan aku minum," ucap Elisha.


Minuman beralkohol adalah yang paling ia takutkan saat ini. Karena selama ini menyentuhnya saja belum pernah, apalagi harus menenggaknya. Ia takut jika sampai mabuk hingga ia tak bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Selama kita satu ruangan, aku akan selalu berusaha membantu mu. Semoga saja kita bisa selalu bersama ya," ucap Mita.


Sejauh ini memang mereka selalu di booking orang yang sama, sehingga Elisha masih aman. Namun ia juga harus bersiap jika tidak satu ruangan bersama Mita, ia harus bisa menjaga diri. Apalagi ada beberapa temannya yang tidak menyukai kehadirannya, mereka pasti senang jika dirinya terjerumus semakin dalam.


"Terima kasih Mita, kamu seperti malaikat untuk ku. Semoga kita bisa segera keluar dari dunia malam ini,"


Mita tersenyum mendengar doa temannya. Tapi sepertinya dirinya tidak akan pernah lepas dari pekerjaan ini. Ia sudah merasa nyaman, karena tidak ada dunia lain di luar sana yang bisa menerimanya selain dunianya sekarang ini.

__ADS_1


"Amin,"


Mita tetap mengamini doa Elisha. Ia berharap masih ada secercah harapan untuknya di dunia luar sana. Suatu saat nanti.


☆☆☆


Dini hari.


"Aku tidak mau pulang, aku mau joget... ayo kita berdansa, hahaha..."


Elisha mulai meracau saat Mita akan membawanya pulang. Elisha mabuk karena salah seorang tamu tadi mencekokinya dengan minuman keras. Untung Mita segera memergokinya. Walaupun hanya minum sedikit, temannya langsung teler karena sama sekali belum pernah minum.


"Iya, nanti kita lanjut di kos," sahut Mita sekenanya.


"Tidak mau, Mita... aku mau go- yang di si-ni saja, hehe..."


Mita sedikit kesulitan membawa Elisha yang sedang dalam pengaruh alkohol. Ia terpaksa minta tolong salah satu bartender di sana untuk membawa Elisha ke dalam mobil jemputan.


"Kok bisa mabuk sih, Mit?" tanya bartender itu.


"Biasa, ada tamu yang iseng. Dia belum pernah minum, jadinya begini deh," jawab Mita.


"Oh, pantas saja,"


Setelah berhasil membawa Elisha ke dalam mobil, pria itu kembali masuk ke dalam klub. Pak sopir segera mengantarkan mereka pulang.


☆☆☆


Dengan susah payah Mita berhasil membawa Elisha masuk ke dalam kos. Ia segera mengambil stok susu murni yang selalu ada di dalam kulkasnya dan meminumkannya kepada Elisha. Selama ini dia selalu stok susu itu karena sangat bermanfaat, apalagi untuk menetralkan alkohol ketika dirinya mabuk.


"Huek... huek..."


Setelah beberapa saat akhirnya Elisha mulai sadar. Perutnya mual dan kepalanya pusing. Ia merasa tubuhnya sangat tidak nyaman. Namun sudah cukup membaik di banding sebelumnya.


"Bagaimana, apa masih pusing?" tanya Mita.


"Kok kamu tahu? Aku tadi kenapa ya?"


Elisha masih terlihat bingung.


"Kamu tadi mabuk, pria yang bersama mu tadi memberi mu minuman beralkohol," jawab Mita.


"Oh astaga, kenapa aku sampai lupa. Tadi aku sudah menolaknya, tapi dia terus memaksa memasukkannya ke dalam mulut ku,"


"Iya, aku tahu. Untung saja aku sempat melihatnya. Sekarang kamu lebih baik istirahat saja ya,"


Elisha mengangguk.

__ADS_1


"Iya, aku akan tidur. Besok jam 10 pagi bapak akan di operasi, aku harus bangun agar tahu perkembangannya," ucap Elisha.


"Kita sama-sama berdoa agar operasinya besok berjalan lancar," sahut Mita.


"Amin..."


Setelah mencuci muka, keduanya tidur.


☆☆☆


Elisha terbangun lebih dulu, ia melihat teman sekamarnya masih terlelap di balik selimutnya. Matanya melirik jam di dinding. Sudah jam 11.00.


"Oh astaga, aku kesiangan," ucapnya.


Ia segera mengambil ponselnya yang di letakkan di atas nakas.


"Aku harus segera menghubungi ibu," gumamnya.


Ia mulai menghubungi nomor ibunya. Sekali, dua kali, hingga ketiga kali tetap saja tidak di angkat.


"Kenapa ibu tidak mengangkat ya?" Elisha sangat penasaran dan cemas.


"Apa mereka masih sibuk dengan operasi bapak ya?"


Segala prasangka hadir dalam benaknya. Mulai yang positif hingga negatif.


"Aku coba telepon lagi saja,"


Ia kembali menghubungi nomor ibunya.


Tut... tut...


Elisha senang panggilannya di angkat. Namun rasa gembiranya menghilang mendengar suara orang menangis meraung-raung saling bersahutan dari seberang sana.


"Bu, ada apa? Siapa itu yang menangis? Tolong beri tahu aku, Bu,"


Dengan suara bergetar menahan tangis Elisha mulai mendesak.


"Bapak mu Lisha... bapak mu, huaaa..."


Belum selesai menjawab ibunya menangis lagi. Perasaannya mulai tidak tenang.


"Bapak mu sudah tidak ada... huaaa..."


Elisha masih belum mau paham.


"Tidak ada bagaimana, Bu? Jangan membuat aku bingung. Bukannya bapak harusnya sedang di ruang operasi?" tanyanya.

__ADS_1


"Bapak mu meninggal saat operasi, Nak,"


Tubuh Elisha lunglai, bagai tulang lepas menyisakan kulit dan dagingnya. Ia ambruk ke lantai yang dingin, jatuh tak sadarkan diri.


__ADS_2