Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 27 Ternyata Salah Sasaran


__ADS_3

"Lepaskan aku..." pinta Mirna.


Ia terus saja memegang pangkal rambutnya yang sangat sakit karena di jambak. Tenaga wanita itu sangat kuat, mungkin rambutnya akan tercabut dari akarnya jika dirinya tidak memeganginya. Orang-orang yang tadinya hanya menonton mulai memisahkan mereka. Setelah beberapa saat, akhirnya pegangan wanita tersebut dapat terlepas.


Mirna merintih kesakitan, ia berlindung di balik orang-orang yang menolongnya. Wanita itu masih terus mengoceh dan berusaha mendekatinya lagi. Namun karena banyak yang melindunginya, wanita tersebut tidak dapat menggapai tubuhnya.


Entah apa yang wanita itu katakan, Mirna sama sekali tidak paham. Ia merasa sama sekali tidak merebut atau pun menggoda suami wanita itu. Namun dari tadi wanita itu terus saja menuduhnya yang macam-macam.


"Ibu itu berpendidikan bukan, jadi tenanglah. Jangan mengganggu ketenangan warga di sini. Ini bisa di bicarakan baik-baik," ucap seorang bapak yang ikut melerai.


"Tidak perlu bicara baik-baik jika berurusan dengan perampas suami orang, seperti dia," tunjuk wanita tersebut ke arah Mirna.


"Semua tidak akan selesai jika ibu terus saja marah seperti ini. Kami justru akan memanggil perangkat desa jika tetap begini," imbuh bapak itu.


"Oh bagus itu, bawa saja polisi sekalian agar wanita ini di jebloskan ke dalam penjara," tantangnya.


Semua yang menyaksikan hanya bisa geleng-geleng kepala menatap wanita tersebut. Bukannya mereka ingin membela Mirna, hanya saja semua yang di katakan wanita itu belum tentu benar adanya.


"Begini saja, coba tunjukkan bukti jika Mbak ini sudah merebut suami Ibu. Kami tidak akan mengizinkan ibu menuduh tanpa bukti yang jelas," ucap bapak itu bijak.


"Suami Ibu itu siapa?" tanya Mirna sembari menahan takut.


"Tidak perlu berpura-pura tidak tahu siapa suami ku, dasar wanita gatal. Akan aku buktikan kepada kalian siapa wanita ini sebenarnya,"


Wanita tersebut langsung mengambil ponselnya setelah berkata demikian. Terlihat ia sedang menghubungi seseorang di telepon. Setelah terhubung ia segera menghadapkan ponselnya ke arah Mirna.


"Ana, katakan jika wanita itu yang sudah kamu lihat bersama papa mu? Kamu tidak perlu takut Sayang, mama akan membuat dia menderita," ia sedang melakukan video call dengan putrinya.


Gadis itu memperhatikan Mirna dengan seksama. Mirna memang cantik dan muda seperti wanita yang ia lihat bersama papanya, namun itu bukan dia. Wanita itu tampak lebih tua dengan dandanan yang sedikit menor, berbeda dengan Mirna.


"Bukan Ma, Mama salah orang. Wanita yang aku lihat bukan mbak itu," jawab putrinya.

__ADS_1


Mirna yang tadinya tertunduk, mendongakkan kepalanya. Ia merasa menang. Namun ia merasa sakit hati, sudah di fitnah dan di lukai secara fisik pula. Orang-orang menjadi geram terhadap wanita tersebut dan mulai menyalahkannya.


"Coba kamu lihat yang benar Ana, pasti kamu salah. Siapa nama wanita itu, kamu mungkin mendengarnya?" Ia coba memaksakan prasangkanya.


"Aku yakin itu bukan dia, Ma. Hmm... kalau tidak salah papa memanggil namanya Sisil," jawab Ana.


"Apa kamu benar-benar yakin itu bukan dia?" Ia masih menolak percaya.


Putrinya sangat yakin jika wanita itu bukan selingkuhan papanya.


"Tuh lihat kan, makanya jangan asal menuduh. Mbak ini sudah di fitnah, di pukul dan di jambak lagi. Laporkan saja dia ke polisi," ucap salah seorang yang ikut menonton.


"Iya, laporkan saja biar tidak asal tuduh," sahut yang lainnya.


Wanita itu akhirnya minta maaf dan memohon-mohon agar tidak membawa masalah ini ke polisi. Ia juga bersedia memberikan kompensasi kepada Mirna asalkan ia mau memaafkan perbuatannya dan tidak memperpanjang masalah ini.


Meskipun Mirna merasa di dzalimi, ia memilih untuk memaafkan wanita tersebut. Ia juga menolak di berikan kompensasi dalam bentuk apa pun. Wanita itu sangat berterima kasih atas kelapangan hati Mirna.


☆☆☆


Malam harinya.


"Duh wajah mu kok masam gitu sih, pasti dia tidak datang ya," goda Elisha.


"Kamu bisa saja. Dia memang sedang keluar kota hari ini, tapi bukan itu yang membuat ku kesal," jawab Mirna.


"Lalu apa?" tanya Mita.


"Kalian lihatlah wajah ku dengan seksama," Ia menyodorkan wajahnya kepada kedua temannya.


"Tidak ada apa-apa," ucap keduanya serempak.

__ADS_1


"Oh iya, aku lupa kalau sudah menyamarkannya dengan make up," balas Mirna.


"Apa?" tanya Elisha tidak mengerti.


Berceritalah Mirna tentang kejadian salah sasaran yang sempat ia alami. Rasa sakitnya masih membekas di tubuhnya saat ini. Bukannya prihatin, kedua temannya justru menertawakan nasibnya. Ya walau di pikir-pikir kejadian itu memang sedikit lucu dan sangat konyol.


"Maaf ya... bukan maksud kita itu tertawa melihat penderitaan mu. Tapi kok bisa pas sekali ya, bisa salahnya ke kamu yang tidak tahu apa-apa," ucap Elisha.


"Iya tuh, apes sekali nasib ku. Bahkan saat butuh kasih sayang seperti ini, yang di nanti malah ke luar kota," balas Mirna, cemberut.


"Hahaha... sini, sini biar kita yang sayang kamu saja," ucap Mita.


Elisha dan Mita memonyongkan bibirnya, mencoba mencium Mirna. Refleks Mirna menolak dan menjauh. Akhirnya mereka bertiga tertawa lebar, tidak peduli dengan tatapan orang lain yang sejak tadi memperhatikan mereka. Yang penting tidak mengganggu mereka.


☆☆☆


Beberapa hari kemudian.


Hari pernikahan Doni dan Indah telah tiba. Dekorasi sederhana mulai di pasang di rumah mempelai wanita. Makanan, minuman dan jamuan lainnya sudah di siapkan. Orang-orang mulai banyak yang berdatangan. Entah untuk sekadar membantu atau pun yang menjadi tamu undangan.


Tamunya cukup banyak hingga memadati tempat tinggal mempelai. Rombongan keluarga dari pihak laki-laki juga sudah datang. Sebentar lagi acara sakral tersebut akan segera di mulai. Walau ini hanya pernikahan di bawah tangan, namun ini adalah yang pertama untuk putri mereka. Jadi mereka ingin memberikan yang terbaik.


Kedua mempelai sudah di rias sedemikian rupa sehingga terlihat sangat serasi. Aura kebahagiaan terpancar dari keduanya. Bibir mereka seakan tak berhenti untuk tersenyum. Setelah waktu yang baik datang, penghulu segera melakukan prosesi ijab kabul.


Sepanjang prosesi kedua orang tua Doni tampak menangis. Meskipun ini bukan yang pertama bagi mereka menikahkan putranya, tetap saja sebagai orang tua akan merasa terharu. Mereka berharap ini yang terakhir bagi putra mereka.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu usai ijab kabul.


"Sah..." semua menjawab serentak.


Proses ijab telah selesai. Mereka semua yang menyaksikan turut bahagia. Walau banyak isu negatif tentang kedua mempelai di masyarakat, namun mereka tetap mendukung kelancaran acara tersebut.

__ADS_1


"Doni... Ibu harap Indah akan menjadi pelabuhan terakhir mu. Sayangi dia melebihi sayang mu kepada diri mu sendiri. Perlakukan dia dengan baik dan selalu lindungi dia," pesan ibunya dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2