
Keesokan hari.
Matahari mulai menampakkan keagungannya. Terang namun tidak terik. Cahayanya cukup lembut dan tidak membuat panas.
Hari ini Doni berniat akan menjual motor ayahnya untuk memenuhi permintaan keluarga Indah. Ia juga akan meminta ibunya menjual barang apa pun yang berharga. Di hatinya tidak ada sama sekali rasa bersalah. Tidak juga mengasihani orang tuanya yang mulai keriput di makan usia.
"Bu... Ibu kan masih ada perhiasan sini aku jual. Aku juga akan menjual motor bapak," dengan gampangnya ia berkata.
Kedua orang tuanya menatap dengan tak percaya. Doni anaknya sudah jauh sekali berubah. Mereka ingat betul ketika bersama Elisha ia tak bersikap seperti itu.
"Jangan keterlaluan kamu, Don. Itu motor kendaraan satu-satunya yang kita miliki. Aku dan ayah mu sangat membutuhkannya," ucap ibunya.
"Jadi ibu lebih mementingkan motor dari pada aku? Ibu lebih suka aku di penjara, iya?"
"Tentu saja tidak, tapi itu bukan solusi yang bagus. Kita akan mencari jalan keluarnya,"
Ibunya mulai melunak. Bagaimana pun Doni adalah putranya.
"Kamu itu tidak tahu malu. Sudah berbuat salah sekarang justru merongrong orang tua. Kamu itu pria, harusnya bisa bertanggung jawab dengan perbuatan mu sendiri," sahut ayahnya.
"Jika kalian tidak mau berusaha, lebih baik aku melarikan diri saja," ancam Doni.
"Jangan Nak, kita akan mencari pinjaman," cegah ibunya.
"Ibu itu selalu saja memanjakannya," keluh suaminya.
Doni meninggalkan mereka yang masih saja berdebat dengan senyuman mengembang.
Ibunya berpikir keluarganya akan lebih malu jika Doni sampai melarikan diri. Yang lebih parah, putranya akan menjadi buronan. Mau tak mau akhirnya mereka berusaha mencari pinjaman.
☆☆☆
Pagi ini Elisha bangun lebih awal. Bahan makanan di kulkas habis, ia harus belanja dulu di pasar. Kali ini Mita menemaninya berbelanja.
"Wah ternyata seru juga belanja di pasar ya," ucap Mita.
"Memang benar, apalagi harganya murah dan kualitasnya juga tidak kalah dengan di supermarket. Yang penting kita pandai memilih," balas Elisha.
"Eh kata mami, di klub akan ada anak baru lagi. Harusnya semalam sih sudah masuk, tapi katanya dia lagi sakit,"
Mereka mengobrol sambil berbelanja.
"Oh ya, ada saingan baru dong," balas Elisha.
"Ya begitulah. Tapi rejeki kan sudah ada yang ngatur, tidak mungkin tertukar," ucap Mita, bijak.
__ADS_1
"Jadi berapa anak mami Naya sekarang?"
"Dia bukan bawaan mami Naya, tapi mami Maria yang cerewet itu," Mita memperagakan gaya mami Maria.
"Hahaha... aku jarang bertemu dia, jadi tidak begitu paham," Elisha tertawa melihat kelakuan Mita.
Setelah selesai belanja, mereka kembali ke kos untuk mulai memasak. Kali ini Mita juga membantunya dalam setiap prosesnya. Mereka memasak capcay goreng, telur padang dan cumi hitam.
"Hmmm... mamamia lezatoz," puji Mita sembari menirukan iklan di tv.
Elisha bersyukur temannya tidak pernah protes dengan masakannya. Mita selalu menyukai dan makan dengan lahap apa pun yang ia masak. Karena ingat dengan Mirna, mereka berniat berkunjung ke tempat tinggalnya dengan membawa masakannya.
☆☆☆
"Astaga, kalian repot-repot sekali sih. Kalian ke sini saja aku sudah senang sekali," ucap Mirna.
Ia mempersilahkan tamunya masuk. Wajahnya terlihat senang sekali mendapat kunjungan dari mereka. Ia terharu, karena selama ini dia tidak punya teman dan kesepian.
"Kebetulan kita masak dan ingat pada mu, jadi mampir deh," balas Elisha.
"Maaf ya keadaannya berantakan. Aku belum sempat bersih-bersih dan lainnya karena kurang enak badan,"
"Apa kamu sudah ke dokter?" tanya Mita.
"Aku hanya sedikit lelah saja kok, nanti juga sembuh. Terima kasih atas perhatian kalian," mata Mirna mulai berkaca-kaca karena terharu.
"Kamu pasti belum makan, ayo makan dulu. Biar aku yang taruh di piring,"
Elisha masih seperti dulu, ia sangat perhatian. Mirna merasa senang bisa berjumpa dengannya lagi. Mirna makan dengan lahap. Wajahnya yang tadinya sedikit pucat sekarang mulai cerah dan berbinar. Rona kebahagiaan terlihat jelas dalam sorot matanya.
"Seandainya saja kos kita besar, kita pasti bisa mengajak mu tinggal," ucap Mita.
"Sering bertemu kalian saja aku sudah sangat senang. Mungkin setelah kerjaan ku tetap, aku akan coba mencari kos di sekitar kalian. Jadi bisa sering main bersama,"
Ketiganya mungkin memang baru saja bertemu. Namun kesamaan nasib membuat mereka mudah akrab. Karena hari telah sore mereka segera berpamitan untuk pulang.
☆☆☆
Sejak pagi orang tua Doni berkeliling mencari pinjaman. Semua saudara dan kenalan mereka mintai tolong. Namun karena ekonomi mereka tidak jauh berbeda, mereka hanya mendapatkan pinjaman 5 juta rupiah. Total hanya 8 juta yang mereka pegang sekarang.
"Perhiasan peninggalan orang tua ku bahkan telah aku jual, tapi uang yang terkumpul masih segini. Bagaimana ini?"
Istrinya terlihat sedih, ayah Doni merasa iba.
"Apa kita jual motor itu saja, Bu?" tanya suaminya.
__ADS_1
"Itu motor untuk kita bekerja, nanti ke pasar kita naik apa kalau di jual?"
Keduanya merasa serba salah. Tidak ada jalan lain lagi, mereka harus datang ke orang tua Indah dan mengatakan yang sebenarnya. Keduanya pasrah dengan keputusan mereka, karena mereka sudah melakukan yang terbaik untuk memenuhi mahar sesuai keinginan keluarga Indah.
☆☆☆
"Dona ayo cepat, kita sudah telat," ajak Mita.
"Iya sebentar," Elisha segera merampungkan dandanannya dan buru-buru menghampiri Mita.
"Loh, mobilnya kemana?" Ia tidak melihat mobil jemputan mereka di depan.
"Kamu itu tadi lama sekali, yang lain akhirnya minta di antar dulu," jelas Mita.
"Astaga, maaf ya. Tadi perut ku sakit, jadi lama di kamar mandi," Elisha merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, sesekali kita naik taksi. Tuh sudah datang, ayo..."
Mereka naik ke dalam taksi yang sudah Mita pesan. Karena jaraknya dekat, sebentar saja mereka sudah sampai.
"Eh kamu tahu tidak kalau ada anak baru. Kasihan sekali dia di buli oleh yang lain,"
Mereka mendengar temannya yang sedang bergosip itu saat baru tiba.
"Kasihan ya anak baru itu, pasti merasa tertekan seperti aku dulu," ucap Elisha.
"Iya, apalagi kalau sampai tidak ada yang beking. Ayo kita lihat,"
Mereka makin mempercepat langkahnya. Tampak suasana sangat ramai. Tawa bahagia terdengar di mana-mana. Namun mereka sama sekali tidak melihat anak baru.
"Katanya ada anak baru ya, mana?" tanya Mita.
"Dia sedang ke toilet. Kasihan yang lain menghinanya, pasti dia sedang menangis di sana," jawab Kiki.
"Memangnya dia kenapa?" tanya Mita lagi.
"Sebenarnya dia cantik, hanya saja dia tidak pandai berdandan. Dan pakaiannya itu loh... kampungan," jawab Kiki.
"Huhuhu... habis nangis ya," sorak yang lain.
"Itu dia datang," Kiki menunjuk ke anak baru yang baru datang.
Elisha dan Mita sontak menoleh ke belakang. Mereka sangat terkejut melihat wanita itu.
"Mirna..."
__ADS_1