
Elisha masuk ke dalam sebuah rumah mewah itu seorang diri. Sopir yang tadi mengantarnya telah pergi. Ia merasa merinding mendapati dirinya seorang diri di rumah megah tersebut. Bahkan ia berteriak tatkala seorang wanita menyapanya, saking takutnya.
"Maaf Non Kinan, saya sudah mengejutkan. Saya Juminten Non, pembantu di rumah ini. Sekarang semua kebutuhan Non Kinan akan menjadi tugas saya,"
Wanita paruh baya itu mulai mengenalkan diri. Sementara Elisha merasa aneh mendengar wanita itu memanggilnya dengan nama Kinan.
"Oh... aku kira siapa," ucap Elisha.
"Halo Kinan, selamat datang di rumah,"
Santo baru saja tiba. Ia memegang tangan Elisha lalu menciumnya. Ia menarik Elisha untuk duduk di sofa. Sementara bi Jum pamit ke belakang untuk menyiapkan makan malam.
"Untung saja kamu segera datang, aku takut di tempat ini sendirian. Bibi tadi juga memanggil ku Kinan, aneh," ucap Elisha.
Santo tertawa, ia memegang bahu Elisha sejenak.
"Semua yang ada di sini tahunya kamu adalah Kinan. Ini adalah rumah Kinan jadi kamu harus terbiasa di sini,"
"Apa benar ini rumahnya?" Elisha tidak percaya.
"Dulu aku sudah menabung dengannya untuk membeli rumah impian kita. Kita berdua sangat serius dengan hubungan yang kita jalin. Tapi ternyata takdir berkata lain,"
Santo menerawang ke masa lalu. Saat ia dan Kinan telah merencanakan masa depan mereka. Walau keduanya terlahir dari keluarga kaya raya, keduanya sama-sama mandiri. Mereka bekerja keras untuk mewujudkan impian mereka. Sayang Kinan tiba-tiba menghilang entah kemana.
"Maaf ya, aku sudah membuat mu sedih," ucap Elisha merasa bersalah.
"Tidak apa, sekarang aku sudah lebih kuat,"
Apa yang pria itu ucapkan tidak sesuai dengan apa yang bisa Elisha lihat. Namun ia memilih tak memperpanjang. Ia ingin tugasnya cepat selesai.
"Lalu kita sekarang akan memulai dari mana?" tanya Elisha.
Santo lalu menjelaskan semua tentang kebiasaan Kinan. Bagaimana cara dia berjalan, berpakaian, berbicara dan lainnya. Ia juga memberitahu makanan kesukaan Kinan, hobby Kinan dan warna favoritnya. Terakhir ia mengenalkan semua orang yang mengenal dan Kinan kenal, mulai dari orang tua, saudara dan juga teman-temannya.
Elisha sedikit kesulitan untuk mempelajari dan menghafal semuanya dalam waktu cepat. Ini sudah seperti ulangan semester untuknya. Ia hanya di beri waktu sampai besok untuk mempelajari itu semua. Karena lusa adalah perdananya menjadi Kinan di tempat umum.
"Aku pulang dulu ya, jika butuh sesuatu kamu tinggal panggil bi Jum saja. Jika ada yang tidak kamu mengerti, kamu bisa menghubungi ku," ucap Santo.
"Aku tidak akan menghubungi mu, aku takut istri mu tahu," balas Elisha.
"Hahaha... tenang saja, malam ini aku tinggal di apartemen, aku tidak pulang ke rumah. Sampai ketemu besok ya,"
Pria itu meninggalkan Elisha di dalam kamar sendirian. Tak berapa lama bi Jum memanggilnya untuk makan malam. Elisha turun, ia sudah berganti pakaian yang tersedia di lemari.
"Bi... apa aku akan makan menu sebanyak ini sendirian?"
__ADS_1
Elisha memandangi makanan yang terhidang di meja makan. Tak kurang dari lima menu yang tersedia dalam porsi cukup besar. Ia tak mungkin bisa menghabiskan semua itu sendirian.
"Iya Non, ini untuk Non Kinan semua," jawab bi Jum.
"Tolong ambilkan piring ya, Bi," pinta Elisha.
Walau tak tahu untuk apa majikannya itu meminta piring, Bi Jum mengambilkannya.
"Ini Non..."
"Terima kasih. Bibi juga duduk di situ, kita makan bersama," titah Elisha.
"Tapi, Non..."
"Sudah, ikuti saja. Ayo duduk,"
Karena Elisha memaksa bi Jum akhirnya duduk. Bukannya ia yang melayani majikannya justru majikannya itu yang mengambilkannya makan.
"Sudah Non, cukup. Ini sudah banyak sekali. Saya makan di belakang saja ya, Non," bi Jum merasa tidak nyaman makan semeja dengan majikannya.
"Jangan Bi, di sini saja temani aku,"
Elisha pun makan dengan lahap, tidak seperti bi Jum yang kelihatan tidak enak makan di meja itu.
"Sudah Non, ini sudah sangat banyak," tolaknya.
"Setelah selesai nanti yang kerja di rumah ini suruh kesini ya Bi, biar mereka makan. Ini semuanya masih banyak sekali, sayang kalau di buang," ucap Elisha.
Bi Jum sedikit terkejut, baru kali ini punya majikan sebaik Elisha. Sudah di suruh memakan makanan yang sama, semeja pula.
☆☆☆
"Loh, kamu kok sendiri mana Dona?" tanya Mirna.
Mita segera menarik tangan Mirna, ia menceritakan tentang tawaran Santo kepada Elisha. Mirna sedikit terkejut dan merasa kuatir.
"Astaga berani sekali dia menerimanya. Kalau wanita bernama Kiya itu sampai tahu, habislah dia," ucap Mirna.
"Aku juga tadinya tidak setuju. Tapi karena sepertinya dia sangat mengharapkan uang itu akhirnya aku dukung. Jika sampai dia tidak ada kabar aku akan langsung melapor polisi," balas Mita.
Mirna diam, pikirannya tidak tenang. Ia masih ingat apa yang telah mereka lalui demi menjauh dari wanita psikopat itu. Dan sekarang Elisha justru menyerahkan diri dengan suka rela.
"Hmmm... aku harap dia baik-baik saja,"
"Aku juga berharap begitu," sahut Mita.
__ADS_1
Tanpa kehadiran Elisha, malam mereka terasa sedikit sepi. Seperti ada sesuatu yang hilang.
"Mirna... kekasih mu datang dan sedang mencari mu," panggil Kiki.
"Hah, serius?" Mirna merasa tak percaya karena pria itu tidak mengabarinya. Mungkin ingin memberinya kejutan.
"Iya, kesana saja dengan Mita. Dia membawa banyak teman yang tampan," imbuh Kiki dengan gaya centilnya.
Mirna mengajak Mita bersamanya. Namun saat ia sudah bersiap mengagetkan kekasihnya itu, ada seorang wanita yang terlebih dulu mendekatinya. Wanita itu bermanja dan berperilaku mesra kepada kekasihnya. Hati Mirna terbakar api cemburu.
Pria itu tidak membalas namun juga tidak menolak pelukan wanita tersebut. Ia tak menyadari jika Mirna sedang berada tak jauh darinya. Mereka terlihat mengobrol dengan serius.
"Sabar Mirna, mungkin saja dia wanita seperti kita," hibur Mita.
"Baru kali ini aku merasa nyaman dengan seorang pria, tapi ternyata dia... hiks..." Mita tak dapat menahan netranya untuk mengeluarkan kekecewaannya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Itu makanya aku selalu berpesan, di tempat ini jangan pernah terbawa perasaan. Rata-rata mereka tidak ada yang serius,"
Mita mengajak Mirna menjauhi tempat tersebut. Mood mereka jadi hilang. Pertama karena masalah Elisha, sekarang di tambah dengan masalah Mirna.
"Lebih baik kita cari tamu yang lain yuk, kita lupakan semua kesedihan," ajak Mita.
"Ya sudah, ayo," Mirna setuju.
Mereka berdua mulai mencari mangsa.
"Halo Sayang, sama Om yuk,"
seorang pria menggoda mereka.
"Bagaimana?" tanya Mirna dengan lirih.
"Sepertinya lumayan, ayolah," jawab Mita.
Om-Om tadi menggandeng tangan Mita dan Mirna. Ia sudah seperti raja di antara para selirnya.
"Hei lepaskan dia! Dia ini kekasih ku," tangan Mirna di tarik dengan paksa.
"Mas Dion..." Mirna terkejut melihat siapa yang menariknya.
"Aku sudah menunggu mu dari tadi, mengapa kamu justru pergi dengan dia?" tanya Dion, kesal.
"Bukankah kamu sudah punya yang lain, untuk apa masih mencari ku?"
Mirna mendorong Dion dan pergi dari sana.
__ADS_1