Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 43 Lepas Dari Bahaya


__ADS_3

"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Nela, dia itu hanya teman kerja ku. Kamu jangan dengarkan gosip murahan di luar sana," bantah Doni.


"Kenapa kamu masih berbohong Mas, hiks..." Indah mulai terisak.


"Aku tidak berbohong, kita memang hanya sebatas teman kerja," ucap Doni.


"Jika aku hanya mendengarnya, mungkin aku akan percaya. Tapi aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, Mas!" seru Indah.


"Apa? Memangnya kamu melihat kami di mana?" mimik wajah Doni mulai gelisah.


"Kamu tidak perlu tahu, sekarang katakan siapa yang Mas pilih?"


Doni diam membisu, ini merupakan pilihan yang sulit untuknya. Ia tidak menyangka jika Indah akan mengetahui perselingkuhannya dengan Nela. Padahal ia sudah cukup hati-hati dengan memanfaatkan waktu bekerja untuk bertemu agar istrinya tidak menaruh curiga.


"Kenapa Mas diam? Apakah berat untuk meninggalkan wanita itu?" Indah menatap nanar ke arah suaminya.


"Maafkan aku... Aku tak bisa memilih. Aku mencintai mu tapi juga merasa nyaman dengannya," ucap Doni, tak tahu malu.


Sakit, sungguh sakit sekali perasaan Indah. Baru sebentar saja mengecap manisnya cinta bersama suaminya sekarang justru pernikahan mereka berada di ujung tanduk. Selain rasa sakit yang ia derita, ia juga merasa sangat malu jika sampai keluarga dan tetangga tahu tentang apa yang terjadi.


"Itu berarti kamu berat meninggalkannya. Aku akan mempermudah semuanya. Biar aku saja yang mengalah, Mas," ucap Indah.


☆☆☆


Dua orang wanita tengah membantu Elisha bersiap. Mereka sedikit kesulitan karena dari tadi ia tak berhenti menangis. Mereka akhirnya menyerah dan membiarkan Elisha begitu saja.


"Maaf Tuan, kita sudah membantunya dari tadi. Tapi dia tetap tidak berhenti menangis dan membuat dandanannya sedikit berantakan," lapor wanita tadi.


"Tidak apa-apa, kalian boleh pergi,"


Arman tersenyum senang. Ia bahagia telah berhasil membuat Elisha menderita. Pria itu begitu dendam padanya dan ingin menghancurkannya hingga sedemikian rupa. Melihat keadaannya sekarang, ia tersenyum puas.


"Kamu akan lebih hancur lagi saat pria yang membayar mu berhasil mengoyak harga diri mu," gumam Arman dengan senyum penuh kemenangan.


Malam ini Elisha di bawa paksa ke sebuah rumah mewah, ia tak bisa melawan karena telah di bius. Saat bangun, ia telah berada di sebuah kamar yang sangat mewah. Dekorasinya sangat indah sehingga menarik perhatiannya.


"Di mana aku?" Ia melihat sekelilingnya.


Tak ada orang di ruangan itu, hanya dirinya sendiri. Ia berharap ada orang yang telah menyelamatkan dirinya dari pria brengs3k itu. Ia berusaha mencari jalan keluar, namun semua terkunci.

__ADS_1


"Ya Allah, aku mohon selamatkan aku," doa Elisha.


☆☆☆


Mirna dan Mita merasa semakin gelisah. Mereka tak bekerja malam ini. Kekuatiran terhadap keadaan Elisha membuat mereka tak nyaman. Apalagi belum ada kabar lagi dari Daniel atau pun tempat mereka bekerja. Semuanya seolah menemui jalan buntu.


"Bagaimana jika sampai dia tidak di temukan? Apa yang harus kita katakan kepada keluarganya?" tanya Mita.


"Jangan bicara seperti itu, Mita. Kamu membuat ku semakin takut," ucap Mirna.


"Sudah hampir 24 jam sejak kejadian itu, dan sampai saat ini ia belum di temukan. Hiks, hiks..." Mita tak dapat menahan kesedihannya.


Mirna memeluk sahabatnya, berusaha menguatkan. Walau pun ia juga merasa tak yakin, namun ia tetap ingin berpikiran positif. Bukankah aura positif mampu menjadikan hal menjadi positif juga.


"Dia orang yang baik Mirna, entah mengapa masih ada yang tega berbuat jahat padanya. Sebenarnya apa salahnya hingga harus mengalami hal ini?"


Keduanya sepakat jika Elisha memang orang yang baik. Ia tak pernah berbuat jahat kepada siapa pun. Tapi hidupnya selalu saja di uji. Dari mulai susah mencari pekerjaan. Setelah dapat pekerjaan justru terpaksa harus lari karena bosnya ingin melenyapkannya. Setelahnya ia justru harus terpaksa menjadi pekerja malam dan mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan.


"Aku juga penasaran siapa dalang dari semua ini jika bukan Santo," ucap Mirna.


"Sebelumnya aku tidak pernah mempunyai teman dekat, sebelum dia datang. Ia sudah seperti saudari ku sendiri," balas Mita.


"Sama, hanya dia teman baik ku dan kamu,"


☆☆☆


"Uangnya sudah ada di dalam koper ini," ucap pria itu.


"Terima kasih, senang berbisnis dengan anda,"


Arman menjabat tangan pria tersebut, kemudian berlalu dengan membawa koper berisi uang itu, di ikuti anak buahnya.


"Selamat bersenang-senang wanita murahan," ucapnya dalam hati.


Namun belum juga keluar dari tempat itu, polisi sudah mengepungnya. Karena tidak ada persiapan mereka dapat di bekuk tanpa perlawanan.


"Kenapa kita di tangkap? Kita tidak bersalah, Pak," Arman terlihat bingung.


"Kejahatan mu itu banyak. Kamu sudah menculik orang, masih juga memperdagangkan manusia,"

__ADS_1


"Apa?" Arman terkejut karena kejahatannya telah terbongkar.


"Tapi, Pak..."


"Sudah, nanti jelaskan di kantor saja," potong pak polisi.


'Si@l, siapa yang sudah berani melaporkan ku' batin Arman.


Malam itu juga Arman beserta anak buahnya di gelandang ke kantor polisi. Uang di dalam koper mereka jadikan barang bukti.


Pria itu tersenyum melihat Arman di tangkap. Ia bergegas ke atas untuk menemui Elisha.


☆☆☆


Sudah hampir satu jam berlalu, namun tak ada seorang pun yang datang. Elisha menjadi gelisah, tak tahu harus melakukan apa. Dirinya hanya bisa meringkuk di atas kasur dengan mata mulai berair.


"Ibu... maafkan aku yang tak mendengarkan nasehat mu. Mungkin ini terjadi karena aku melakukan hal yang di larang agama. Aku ingin pulang, Bu..." Elisha menangis dengan kencang sampai tak sadar ada seseorang yang membuka pintu.


Pria itu menatap Elisha dengan iba. Ia tahu wanita itu pasti merasa ketakutan.


"Apa kamu baik-baik saja, Dona?"


Suara pria itu menyadarkannya jika dirinya tak lagi sendiri di ruangan tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang menyapanya. Seketika wajahnya berubah cerah.


"Om Daniel..."


Saking bahagianya ia berlari memeluk pria itu. Daniel sedikit terkejut melihat perlakuan Elisha yang tidak seperti biasanya. Namun ia tetap membalas pelukannya.


"Sekarang kamu sudah bebas, pria itu sudah berada di kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," ucap Daniel.


"Benarkah, Om? Jadi Om Daniel yang sudah menyelamatkan ku?" tanya Elisha.


Daniel tersenyum sembari mengangguk.


"Sebaiknya kamu cari pekerjaan lain, di sana tidak cocok untuk mu," ucap Daniel serius.


"Sepertinya aku mau pulang saja, Om. Merantau tidak cocok untuk ku," balas Elisha sedih.


Elisha sedikit menjauh, ia baru sadar telah sangat dekat dan terlalu agresif karena terlampau senang. Daniel hanya tersenyum melihat tingkahnya.

__ADS_1


"Aku dukung apa yang terbaik bagi mu," ucap Daniel.


Seandainya kamu tahu, jika aku mulai menaruh hati pada mu. Tapi sepertinya aku terlalu tua untuk mu. Kata-kata itu hanya mampu ia ucapkan dalam hati.


__ADS_2