Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 25 Doni Jadi Menikah


__ADS_3

Mata mereka membulat sempurna, sama-sama terkejut namun hanya bisa membisu. Tak ada kata terucap untuk beberapa saat, lengang untuk mereka bertiga. Dunia seakan berhenti berputar. Suasana riuh di sekitar seakan tidak mereka dengar. Mereka harus bertemu kembali dalam waktu dan dimensi yang berbeda.


"Hei, kalian kok malah bengong," ucap Kiki yang segera menyadarkan mereka.


'Tidak, tidak mungkin Mirna juga bekerja di klub malam. Aku pasti salah lihat' batin Elisha.


Ia mengucek matanya untuk memastikan ini bukan sekadar mimpi.


"Elisha..." Mita memegang pundaknya.


Mereka menghampiri Mirna dan mengajaknya duduk bersama, agak menjauh dari mereka yang tadi menghina Mirna. Tak peduli dengan tatapan tidak suka dari yang lain.


"Sudah jangan menangis, nanti cantiknya hilang," Elisha berusaha mencairkan suasana.


Mirna tersenyum. Elisha dan Mita memeluknya bersamaan. Setelah cukup lama, mereka mulai mengobrol lagi.


"Jangan pedulikan kata-kata mereka, setiap orang baru pasti mereka jadikan saingan. Itu karena mereka iri dan takut tersaingi," ucap Mita.


"Dulu aku juga begitu, aku juga menangis seperti kamu. Untung ada Mita yang membela ku," sahut Elisha.


Mita mengangguk.


"Terima kasih ya. Aku tidak tahu bagaimana nasib ku jika tidak ada kalian," ucap Mirna terharu.


"Sama-sama. Kita kan teman jadi harus saling membantu," balas Mita.


"Apa kalian tidak ingin tahu alasan ku memilih pekerjaan ini?" tanya Mirna.


Mita dan Elisha tersenyum.


"Pasti ada alasan dari setiap pilihan. Kita percaya kamu sudah memikirkan dengan matang sebelum terjun ke dunia malam. Kita sama saja," jawab Mita.


Tadinya Mirna sangat malu sekali kala bertemu mereka. Walau pun pekerjaan mereka sama, tapi bertemu di tempat ini membuatnya tidak nyaman.


Mita melihat penampilan Mirna dari bawah ke atas. Ia memang terlihat bukan hendak bekerja. Pakaian dan riasannya kurang cocok untuk tempat tersebut.


"Sebentar ya, aku ke loker dulu,"


Mita setengah berlari menuju loker. Menit kemudian ia kembali dengan membawa tote bag di tangannya.


"Ayo, ikut aku," Mita menarik Mirna untuk mengikutinya.


Mirna menurut saja, di ikuti Elisha. Ternyata Mirna membawanya ke ruang ganti. Ia meminjamkan bajunya kepada Mirna untuk di pakai.


"Kamu pakai baju ini saja, nanti aku akan bantu merias mu," titah Mita.


"Tapi..." Mirna merasa sungkan.

__ADS_1


"Kita ini teman, aku tidak akan membiarkan mereka menghina mu karena penampilan mu," ucap Mita.


"Mita benar, pakai saja. Dulu setiap hari aku selalu pinjam bajunya sebelum aku bisa beli sendiri, hehe..." sahut Elisha.


Akhirnya Mita mau. Ia segera berganti pakaian. Pakaian tersebut cocok sekali ia pakai. Setelah itu Mita mulai merias Mirna di bantu oleh Elisha. Setelah 15 menit semuanya rampung.


Dari sananya Mirna memang cantik, di tambah tangan dingin dari Mita makin kentara aura kecantikannya.


"Astaga... apa benar ini aku?" Mirna terkejut melihat pantulannya di cermin, rasanya ia tak percaya.


"Kamu itu memang sudah cantik, jadi di rias makin cantik," puji Mita.


Mereka akhirnya kembali bekerja. Semua terpana melihat penampilan Mirna yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Banyak yang memuji namun ada juga yang masih mencacinya. Namun Mirna tidak menangis lagi. Kedua temannya telah memberi kekuatan besar untuknya.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Pagi sekali, orang tua Doni sudah bersiap menuju rumah orang tua Indah. Mereka juga meminta Doni ikut serta. Mereka sudah pasrah apa pun yang terjadi. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi permintaan calon besannya.


Tok... tok... tok...


Karena pintu rumah mereka masih tertutup, mereka mengetuk pintu sembari mengucap salam.


"Assalamualaikum," ucap ketiganya serempak.


"Waalaikum salam,"


Pintu di buka. Ayah Indah sedikit terkejut dengan kedatangan Doni dan keluarganya di hari yang masih sangat pagi itu.


"Silahkan masuk,"


Ia membuka pintu dengan lebar.


"Maaf Pak, kami datang pagi sekali. Takutnya bapak keburu bekerja soalnya," ayah Doni memulai pembicaraan.


"Pasti ada hal penting yang membawa Doni dan orang tuanya datang sepagi ini," ucap Ayah Indah.


Istrinya datang membawa minuman, di ikuti Indah. Mereka ikut bergabung bersama mereka.


Orang tua Doni berterus terang tentang kesulitan mereka dalam mengumpulkan mahar. Mereka meminta maaf dengan tulus atas kegagalannya. Mereka memohon agar keluarga Indah bisa berlapang dada menerimanya.


Orang tua Indah yang melihat kesungguhan dari mereka mulai melunak. Sebagai orang tua, mereka juga bisa mengerti keadaan orang tua Doni. Mereka memutuskan untuk menerima mahar yang mereka berikan dan segera menikahkan keduanya.


"Kita juga bisa merasakan yang bapak rasakan. Kita akan menerima mahar yang bapak berikan dan sebaiknya mereka berdua segera di sah kan," ucapnya.


"Alhamdulillah..."

__ADS_1


Pasangan suami istri saling berpelukan, meluapkan rasa syukur yang tak terperi. Urusan utang tidak mereka pikirkan, yang terpenting saat ini anak mereka bisa segera menikah dan tidak di penjara.


Doni dan Indah saling bertatapan, sejurus kemudian keduanya sama-sama tersenyum. Senyum kebahagian.


Mereka mulai membicarakan tentang pernikahan. Kedua keluarga sepakat akan di lakukan segera, namun untuk tanggal pastinya akan di bicarakan dengan ahlinya terlebih dahulu. Sesuai adat mereka, mereka harus menghitung dulu tanggal lahir keduanya dan mencari hari baik untuk menikah.


☆☆☆


"Mita, Dona..." panggil Mirna.


Elisha yang sedang mencuci pakaian melongok keluar kamar mandi. Ternyata Mita masih tidur. Ia beranjak untuk membuka pintu. Ternyata Mirna yang datang.


"Eh Mirna, ayo masuk,"


Mirna segera masuk. Ia melihat penampakan tempat tinggal temannya itu yang terlihat bersih dan sangat rapi.


"Wah Mita masih tidur ya, maaf ya aku sudah mengganggu,"


Mirna tidak enak melihat Mita yang masih mengantuk, terpaksa bangun karena kehadirannya.


"Tidak apa-apa Mirna. Sebenarnya tadi aku sudah bangun, tapi karena mabuk semalam kepala ku masih pusing makanya tidur lagi," ucap Mirna.


"Kamu hebat Mita, minum sebanyak itu tapi masih sadar," puji Mirna.


"Itu karena sudah biasa. Eh kamu bawa apa itu?" tanya Mirna memperhatikan kantong yang temannya bawa.


"Oh iya, sampai lupa. Aku membelikan kalian sarapan dan camilan. Ayo kita makan,"


Mirna mengeluarkan tiga box makanan yang sangat menggugah selera, serta beberapa kue kering dan snack.


"Wah kok tahu sih hari ini kita tidak masak," Elisha melihat makanan yang Mirna bawa.


"Kebetulan nih memang sudah lapar, ayo makan," ajak Mita.


Elisha mengambilkan piring dan minuman untuk mereka bertiga. Mereka makan bersama dengan lahap.


"Seharusnya kamu tidak perlu Repot begini, kamu kan baru bekerja," ucap Elisha setelah semua makanan berpindah ke dalam perut.


"Tidak apa-apa, berkat kalian semalam aku dapat tip banyak. Pria itu menyukai ku, makanya aku sampai pulang agak telat," balas Mita.


"Oh ya?" Mita dan Elisha menatap tak percaya.


Mirna mengangguk.


"Berapa?" tanya Mita penasaran.


"Lima juta," ia menunjukkan 5 jarinya.

__ADS_1


"Hah..." Mita dan Elisha sangat terkejut.


__ADS_2