Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
Bab 41 Di Culik


__ADS_3

"Hei, kenapa semua orang di ruangan ini tidak sadarkan diri?" tanya mami Naya.


Pelayan terkejut melihat semua yang di ruangan tampak tidur dengan nyenyak.


"Sepertinya ada yang sengaja mencampur obat tidur ke dalam makanan dan minuman mereka, Mi," Kiki memeriksa Mita, Mirna dan beberapa wanita yang lain.


"Tapi siapa dan apa tujuannya?"


Mami Naya dan semua masih menduga-duga apa motifnya.


"Kita harus menyadarkan mereka semua dulu, mungkin dari keterangan mereka nanti kita bisa tahu semuanya,"


Mami Naya segera menghubungi dokter langganan klub tersebut. Tak berapa lama berselang, seorang pria setengah baya datang bersama asistennya.


"Ini tidak berbahaya, mereka hanya di beri obat tidur. Sebentar lagi mereka juga akan bangun," ucap dokter Sandy.


"Terima kasih, Dok,"


Mami Naya mengantarkan dokter hingga ke depan klub. Mereka sedikit berbincang tentang kejadian ini.


"Mi, Dona tidak ada di antara mereka," lapor Kiki.


"Apa? Coba cari yang benar!"


Mereka mulai mencari ke seluruh klub malam tersebut. Setiap ruangan tidak lupa mereka geledah. Hasilnya nihil, Elisha tidak terlihat di mana pun.


Menurut kesaksian security, tadi ada dua orang pria yang membawa Elisha keluar. Ia tidak menaruh curiga karena Elisha terlihat sedikit mabuk dan keduanya beralasan akan membawanya pulang.


"Siapa mereka? Mengapa menculik Dona?"


Semua orang mulai berargumen. Mereka belum bisa memastikan walau orang-orang yang tadi yang tertidur kini mulai sadar. Tidak ada satu pun dari mereka yang curiga akan terjadi kejadian seperti ini.


"Apa jangan-jangan Santo yang menculiknya?" Mirna menatap Mita.


"Kenapa kamu bisa berpikiran begitu, Mir?" tanya Mita.


"Mungkin dia ingin Dona menjadi pengganti Kinan. Dona pasti menolak jika ia meminta secara baik-baij, jadi dia menculiknya," jelas Mirna.


"Ya itu memang masuk akal, tapi kita tidak bisa menuduh tanpa bukti," ucap Mita.


"Aku turut prihatin atas menghilangnya Dona. Aku pasti membantu kalian untuk menemukannya," sahut Daniel.


Suasana yang tadinya penuh suka cita kini berubah mencekam. Pencarian di lakukan untuk menemukan jejak Elisha.

__ADS_1


☆☆☆


Byurrr...


"Bangun kamu, j@lang!"


Seember air di guyur ke tubuh Elisha yang setengah sadar. Pakaiannya yang minim makin memperlihatkan kemolekannya saat air menyentuh tubuhnya. Pria-pria yang telah menangkapnya hanya bisa menelan saliva melihat pemandangan indah di depan mereka.


"Sayang sekali kita tidak bisa menikmati barang bagus seperti ini," ucap salah seorang dari mereka.


"Jangan mimpi, wanita ini milik bos," ucap yang lain.


"Mungkin kalau hanya mencicipi sedikit saja tidak akan jadi masalah," sahut yang lain.


Pria itu mulai mendekati Elisha. Persis saat ia akan mencoba memegang dada Elisha, temannya menepis tangannya.


"Mau cari mati kamu," hardik temannya.


"Siapa kalian? Tolong lepaskan aku, hiks..."


Elisha mengiba. Rasa takut menjalari tubuhnya yang sedang kedinginan. Ia mengingat ibu dan juga kedua anaknya. Hatinya semakin perih. Entah mengapa hidupnya kini sering berurusan dengan preman. Padahal ia selalu berusaha bersikap baik kepada siapa pun.


"Enak saja minta di lepaskan. Kita sudah susah payah membawa mu ke sini,"


"Siapa yang menyuruh kalian? Aku akan memberi kalian uang, asal lepaskan aku,"


Elisha berusaha membujuk mereka. Mereka berpandangan sebelum akhirnya tertawa lebar.


"Hahaha... memangnya berapa kamu bisa membayar kami. Wanita Malam itu tidak pernah punya banyak uang," ledeknya.


"Kalian mau berapa, 10 juta, 20 juta, 50 juta pun akan aku berikan," tantang Elisha.


Ketiganya tampak berbicara. Tawaran itu memang menggiurkan, tapi mereka tidak ingin berkhianat. Mereka melepaskan ikatan Elisha dan membiarkannya begitu saja di ruang yang remang-remang itu.


☆☆☆


Keesokan harinya.


"Jali, perasaan ku kok tidak enak ya. Semalam aku bermimpi buruk tentang Elisha," ucap Bu Sariyati.


"Mungkin hanya bunga tidur, karena mbak rindu kepadanya," hibur Rojali.


"Apa iya? Tapi perasaan ku juga tidak nyaman. Apalagi tadi aku telepon, nomornya tidak aktif,"

__ADS_1


"Kita doakan saja agar dia selalu sehat dan di jauhkan dari mara bahaya, Mbak," ucap Rojali.


"Iya, kamu benar Jali,"


Walau pun sudah di hibur adiknya, perasaan seorang ibu tidak dapat di bohongi. Ikatan batin orang tua dan anak sangatlah kuat. Ia hanya berharap agar doa-doanya selalu di jabah Tuhan, agar putrinya selalu dalam lindungannya.


☆☆☆


Seperti hari sebelumnya, penampilan Doni saat pergi kerja selalu rapi dan wangi. Namun indah tidak protes lagi. Ia lebih memilih diam dan memilih topik pembicaraan yang lain. Doni senang ketika melihat istrinya tidak protes dan memilih menerima dirinya apa adanya. Tanpa ia tahu, diam-diam Indah sudah mengatur rencana dengan temannya.


Waktu pun cepat berlalu. Tak terasa jam istirahat siang akan segera tiba. Indah segera bersiap menuju warung. Ia memang meminta jemput Wawan di tempat itu, agar tidak menimbulkan tanda tanya mertua serta tetangga sekitar.


"Maaf, apa kamu benar-benar yakin ingin tahu kebenarannya?" tanya Wawan.


Di tanya seperti itu membuat perasaan Indah makin tidak nyaman, namun juga penasaran.


"Iya, aku harus tahu semuanya," jawab Indah mantap.


"Bagaimana jika pernikahan kalian yang jadi taruhannya?" tanya Wawan lagi.


"Sepahit apa pun, kejujuran lebih baik dari sebuah kebohongan," ucap Indah.


Karena melihat keputusan Indah memang sudah mantap, Wawan mulai menjalankan motornya. Ia berhenti di dekat sebuah warung yang terlihat sedang ramai oleh pengunjung. Banyak karyawan kantoran yang sedang makan siang di sana.


"Mas Wawan mau makan di sini ya?" tanya Indah polos.


"Tidak, katanya kamu ingin tahu suami mu. Masuklah, dia ada di dalam. Tapi pesan ku, jangan membuat keributan di sini,"


Walau pun belum mengerti dengan ucapan Wawan, Indah perlahan masuk. Ia memandang ke sekeliling sebelum akhirnya berhenti pada sosok suaminya yang sedang tersenyum bahagia dengan seorang wanita cantik. Hatinya semakin sakit tatkala melihat suaminya menyuapi wanita itu. Mereka terlihat sangat mesra bak sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.


Air mata yang tadinya hanya menetes sekarang tumpah ruah tanpa bisa ia tahan. Namun ia tak berkata sepatah kata pun. Ia ingat pesan Wawan tadi agar tidak membuat keributan. Ia pergi meninggalkan warung tersebut dengan hati tercabik-cabik.


☆☆☆


Tubuh Elisha terasa lemah. Badannya juga menggigil karena semalaman di tinggalkan dalam keadaan pakaiannya basah. Ia lapar. Seluruh badannya juga terasa sakit. Sudah tak terhitung berapa kali ia mencoba berteriak meminta tolong, namun tak ada yang mendengar. Sepertinya ia di sekap jauh dari pemukiman warga.


"Ya Allah, apakah ini hukuman karena aku mendekati larangan mu? Maafkan aku Ya Allah..."


Elisha bersimpuh tak berdaya dengan berlinang air mata. Tiba-tiba pintu terbuka, ia tersentak melihat pria yang telah ia kenal masuk ke ruangan tersebut.


"Kamu..." ucap Elisha.


"Kita bertemu kembali, hahaha..." pria itu tertawa angkuh.

__ADS_1


"Urusan kita telah selesai, lepaskan aku!" teriak Elisha.


__ADS_2