
"Permisi Mas, ini teman ku mau ikut kerja di sini," ucap Wawan.
Pria itu memandang Doni dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tampilannya saat ini memang sama sekali tidak rapi, banyak noda di pakaiannya. Maklum ia kemari tanpa berganti pakaian, karena kata Wawan harus buru-buru. Jika terlambat atasannya akan keluar ke lapangan sehingga tidak akan bertemu.
"Maaf Mas, tadi dia sedang bekerja di sawah terus langsung saya bawa ke sini karena takut Mas keburu keluar," jelas Wawan yang tahu isi kepala bosnya.
"Apa benar kamu mau bekerja di sini?" tanya bosnya kepada Doni.
Doni melirik Wawan, kemudian mengangguk.
"Iya, Pak," jawabnya.
"Panggil saja aku Mas Bagus, jangan terlalu formal," ucapnya.
"Apa kamu sudah tahu tentang pekerjaan mu?" tanya Bagus.
"Maaf Mas, aku belum jelaskan, hehe..."
Bagus hanya geleng-geleng kepala mengetahui kelakuan Wawan itu. Ia lalu meminta Wawan untuk menjelaskan pekerjaannya.
"Kamu pulanglah, ganti pakaian dan bawa surat lamarannya. Nanti letakkan di meja kerja ku. Nanti kamu bisa ikut Wawan ke lapangan," titah Bagus sebelum meninggalkan mereka.
Wawan lalu menjelaskan jika pekerjaannya bergerak di bidang jasa peminjaman uang. Biasanya orang lebih mengenalnya dengan koperasi atau bank harian. Wawan menjelaskan jika pendapatan mereka tergantung dari besar kecilnya pinjaman nasabah. Semakin banyak dan semakin besar total pinjaman yang ia bisa berikan kepada nasabah, maka pendapatan mereka juga semakin besar.
Doni menyimak penjelasan Wawan. Menurutnya tidak sulit. Banyak orang yang butuh uang, jadi dirinya pasti bisa memperoleh banyak nasabah. Wawan juga menjelaskan cara mengetahui pelanggan yang jujur dan tidak nakal. Ia juga memberi tahu caranya agar pendapatan mereka bisa bertambah secara ilegal.
☆☆☆
Elisha gelisah, ia masih belum bisa memutuskan tawaran dari Santo. Dari pagi ia terus berpikir. Bahkan pendapat dari Mita belum bisa membuatnya mengambil keputusan.
Uang 200 juta sangat banyak baginya. Ia bisa memberikan uang itu kepada ibunya untuk membangun toko sembako di depan rumahnya, agar ibunya bisa punya uang setiap harinya tanpa harus menunggu kiriman darinya. Ia juga bisa menabungnya untuk keperluan anak-anaknya.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" gumamnya.
"Kamu pasti masih saja memikirkan tawaran itu," tegur Mita yang melihat sahabatnya lebih banyak diam.
"Uang 200 juta memang sangat banyak, tapi nyawa mu lebih berharga dari apa pun," ucap Mita.
"Tapi aku butuh uang itu, Mita. Aku bisa melunasi hutang ku, bisa membuatkan ibu ku toko di depan rumah. Sisanya bisa aku tabung untuk anak-anak," balas Elisha.
Mita menghela napas dalam, ia bisa mengerti pikiran temannya itu. Mungkin dirinya juga akan berpikir seperti itu jika berada di posisi Elisha.
__ADS_1
"Kalau kamu yakin, ambil saja. Aku akan mendukung mu, toh hanya untuk seminggu. Tapi jika sampai kamu tidak ada kabar, aku akan segera menghubungi polisi,"
Mita memandang Elisha dengan serius. Elisha juga balas menatap Mita.
"Baiklah, aku akan terima tawaran itu. Aku akan segera memberi tahunya,"
Elisha segera menghubungi Santo, namun tak di angkat. Akhirnya ia memilih untuk mengirim pesan.
[Ok, aku mau.]
Hanya itu yang bisa kirim. Ia takut istrinya tidak sengaja membaca pesannya, jadi dia tidak mengatakan secara spesifik. Ia yakin Santo pasti mengerti maksudnya.
☆☆☆
Malam ini Elisha dan Mita sedang bersiap-siap berangkat kerja. Tiba-tiba Santo menghubunginya. Padahal tadinya ia mengira jika pria itu tidak serius dengan tawarannya.
"Dona, aku senang kamu menerima tawaran ku. Malam ini kamu tidak perlu bekerja, aku akan memberi tahu mu semua info tentang Kinan," ucap Santo.
"Oh begitu ya. Baiklah, aku akan menunggu mu di sini," balas Elisha.
"Jangan, itu terlalu beresiko. Sebentar lagi aku akan menyuruh orang menjemput mu dan mengantarkan mu ke tempat khusus yang akan kamu tempati, selama kamu menjadi Kinan. Kita akan bertemu di sana ,"
"Baiklah. Tapi agar aku yakin, bisakah kamu memberi ku uang muka dulu untuk pekerjaan ini?" Elisha mulai bernegosiasi.
Ia pikir Santo akan marah atau membatalkan kontrak kerja mereka karena permintaannya. Ternyata tidak, pria itu justru tertawa dan minta nomor rekeningnya.
"Baiklah, uangnya sudah aku kirim. Sisanya setelah semua selesai ya. Sampai ketemu,"
Belum sempat ia bereaksi, pria itu sudah memutuskan panggilan. Sms notifikasi masuk, betapa terkejutnya ia melihat jumlah uang yang masuk.
"Mita..." teriak Elisha.
Mita yang sedang memakai lipstik terkejut hingga lipstik yang ia pakai belepotan hingga ke pipinya. Kontan saja Elisha tertawa melihatnya.
"Astaga Dona, kamu itu membuat orang jantungan saja," ucap Mita.
"Hahaha... Maaf,"
Elisha mendekati temannya.
"Aku sudah menerima uang muka dari Santo. Sudah ku kirim sisa hutang ku ke rekening mu. Tolong berikan 8 jutanya ke mami Naya ya,"
__ADS_1
Mita sedikit terkejut, dari tadi dirinya memang tidak mendengarkan pembicaraan Elisha dan Santo. Ia pun mengecek ponselnya. Ternyata Elisha mengirimnya 15 juta.
"Kok banyak, bukankah kamu sudah mencicilnya waktu itu kepada ku?"
"Tidak apa, sisanya untuk mu. Sementara ini kemungkinan kita tidak akan bertemu. Tolong izinkan aku kepada mami ya," pinta Elisha.
"Terima kasih ya, pasti aku sampaikan nanti. Aku jadi sedih..."
Wajah Mita terlihat memelas. Ia sangat merasa sedih. Selama ini ia telah terbiasa dengan keberadaan Elisha. Ia pasti akan merasa kesepian lagi. Elisha pun memeluk dan menghiburnya.
"Jangan begitu, ini hanya untuk satu minggu. Semua barang-barang aku titipkan pada mu ya. Jaga diri baik-baik," ucap Elisha.
Belum selesai mereka melepas kesedihan, orang suruhan Santo telah datang menjemput. Mereka terpaksa berpisah.
"Nona, anda tidak perlu membawa apa pun karena telah di sediakan di sana. Nona bisa membawa ponsel saja," ucap pria itu.
"Wah, ok Si Santo itu. Pasti dia orang kaya raya," bisik Mita.
Akhirnya Elisha pergi hanya membawa tas dan ponselnya. Semua barang yang lain ia taruh kembali.
☆☆☆
"Kok sampai malam pulangnya sih, Mas?" tanya Indah.
"Sebenarnya sih pulangnya pukul 17.00, tapi tadi kita masih mengerjakan laporan harian dan mingguan sekaligus. Jadi baru selesai isyak,"
Doni membaringkan tubuhnya di kasur. Badannya terasa letih sekali. Seharian ini ia ikut keliling mencari nasabah dengan Wawan.
"Memangnya Mas itu kerja apa?" tanya Indah lagi.
"Mencari nasabah yang mau meminjam uang," jawab Doni.
"Semacam KUR begitu ya?"
"Ya semacam itu, tapi ini milik perseorangan. Mirip koperasi begitulah," jelas Doni.
"Apa? Bank harian maksudnya, Mas?" Indah merasa tak percaya.
"Mas tahu tidak kerja di sana itu harus benar-benar pintar mencari nasabah. Jika tidak gaji mu akan di potong jika ada nasabah yang tidak membayar. Saudara ku pernah bekerja seperti itu. Dua bulan tidak dapat apa-apa, akhirnya dia berhenti,"
Doni agak ragu dengan penjelasan istrinya karena tadi tidak ada penjelasan tentang itu. Namun ia merasa kuatir juga.
__ADS_1