
"Permisi Bu, tas ku ketinggalan," ucap Elisha.
Setelah beberapa saat membeku, Elisha mampu mengontrol dirinya kembali. Ia berusaha bersikap setenang mungkin agar bosnya itu tidak tahu bahwa ia telah mendengar percakapannya bersama seseorang di telepon tadi.
"Elisha?"
Ia terkejut, menatap Elisha penuh selidik. Namun karena melihat karyawannya itu terlihat biasa saja, kecurigaannya menguap begitu saja.
"Apa kamu sudah dari tadi di sini?" tanyanya memastikan.
"Tidak Bu, aku sudah pulang. Baru sadar saat di lobi jika barang ku ketinggalan," jawab Elisha.
"Ya sudah, ambil saja," balas bu Kiya.
Elisha mengambil tasnya lalu pamit pulang. Ia setengah berlari karena masih ketakutan dengan apa yang ia dengar. Bahkan ia mengabaikan temannya yang menyapa saat berpapasan karena terlalu panik.
☆☆☆
Di ruangan bu Kiya.
Wanita itu mengeluarkan dompetnya, menatap sebuah foto yang tersimpan di sana.
"Aku tidak akan membiarkan kamu datang lagi dalam hidup ku," ucapnya.
Foto itu adalah foto adiknya yang dua tahun lebih muda darinya. Dia telah meninggal setahun yang lalu, dan dia adalah dalang di balik kematiannya. Ia tidak rela ketika orang tuanya menurutnya terlalu memanjakan adiknya. Keberadaan Kinan selalu membuatnya tidak di anggap, di manapun. Ia terlalu iri hingga berbuat nekad.
Keluarganya tidak ada yang mengetahui tindakannya itu. Ia membuat drama seolah-olah Kinan pergi entah kemana. Sampai saat ini orang tua dan semua orang yang mengenalnya masih saja trus melakukan pencarian terhadap Kinan. Parahnya, dirinya bahkan tega merebut kekasih adiknya untuk membuatnya menjadi suaminya seperti sekarang.
☆☆☆
"Elisha kamu kenapa?" tanya Mirna saat melihat temannya datang dengan wajah pucat dan ketakutan.
"Tutup pintunya," titah Elisha.
Ia segera mengunci pintu yang sudah di tutup Mirna.
"Ada apa? Kenapa kamu ketakutan begitu?"
Mirna menghampiri Elisha. Detik kemudian ia menangis dalam pelukan Mirna. Mirna semakin bingung dengan sikapnya. Namun ia membalas pelukannya dan mencoba menenangkannya.
"Menangislah jika itu bisa membuat mu lega," ucap Mirna.
Setelah berhasil memenangkan diri, Elisha mengajak dirinya duduk.
"Aku harus segera pergi dari sini, Mir,"
Elisha menatap Mirna dengan serius.
"Kamu mau pergi kemana? Untuk apa pergi? Aku sungguh tidak mengerti dengan maksud mu," Mirna masih belum paham, hatinya di liputi tanda tanya besar.
__ADS_1
"Kamu tidak akan percaya dengan cerita ku, tapi kamu harus tahu juga," ucap Elisha.
"Cerita apa?" tanya Mirna lagi.
Dengan perlahan ia mulai menceritakan kejadian tadi. Mirna sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya. Ia merasa ada sedikit kejanggalan.
"Tapi kenapa dia ingin melenyapkan mu? Apa kamu punya masalah dengannya? Atau pernah mengenalnya sebelumnya?"
Elisha menggeleng cepat.
"Aku juga tidak tahu apa motifnya, yang jelas aku harus segera pergi. Lebih baik kamu juga pergi, dia itu wanita yang sangat berbahaya," jawab Elisha.
"Tapi aku harus kemana? Sudah hampir setahun aku bekerja di sini, aku sudah nyaman walaupun sekarang sedang sepi,"
Mirna terlihat sedih dan bingung. Ia tidak tahu harus kemana jika pergi dari sini. Sangat susah untuknya mencari kerja waktu itu, ia merasa beruntung bisa bekerja di tempatnya sekarang.
"Kita bisa memulai lagi, yang penting selamat dulu. Aku takut jika meninggalkan mu, mereka pasti akan menangkap mu jika aku pergi,"
Setelah berpikir matang-matang, mereka memutuskan pergi saat tengah malam. Semua barang penting mereka bawa, sisanya di tinggal di kosan.
☆☆☆
"Kita mau kemana dini hari begini?"
Mirna menatap sekelilingnya yang terlihat sepi. Hanya beberapa orang dan kendaraan yang terlihat berlalu lalang di sana.
"Sekarang kita menginap di hotel saja dulu, besok kita berangkat ke kota D. Kita akan memulai hidup yang baru di sana,"
☆☆☆
Keesokan harinya.
"Kemana Elisha? Apa belum datang?" tanya bu Kiya.
"Tidak ada kabar Bu, di hubungi juga tidak bisa. Mirna juga tidak terlihat hari ini, Bu," jawab karyawannya.
"Apa?"
Ia segera bergegas menuju ruangannya.
"Cepat periksa kosan Elisha, mereka berdua tidak datang bekerja hari ini!" titahnya di telepon.
Bu Kiya menghela napas dalam. Raut wajahnya terlihat sangat kesal.
"Si*lan, kemana mereka pergi? Apa jangan-jangan Elisha mendengar saat aku menelepon kemarin ya?"
Ia memukul meja kerjanya karena kesal. Ia menyesal tidak menghabisi wanita itu dari sebelumnya. Sekarang wanita itu kabur entah kemana.
Tring... tring...
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ponselnya berdering.
"Bagaimana? Apa mereka masih di sana?" tanyanya.
"Tidak ada Bos, kosnya kosong. Kata tetangga kosnya mereka tidak melihat keduanya keluar kos hari ini," lapor anak buahnya.
"Cari mereka sampai ketemu, aku tidak mau tahu!" teriaknya.
Ia segera pergi meninggalkan spa, ia juga harus mencari mereka sendiri.
☆☆☆
"Kita bangun kesiangan, ayo kita segera bersiap," ajak Elisha.
Setelah keduanya membersihkan badan, mereka segera check out dari sana.
"Kita naik bus saja ya, supaya lebih hemat," Mirna mengangguk, mereka menyusuri jalan untuk mencari angkutan umum.
"Aduh... kenapa kamu menarik ku sih?" Mirna merintih, Elisha menariknya cukup keras hingga tangannya mengenai pilar di jalan.
"Maaf, itu lihat," Elisha menunjuk ke arah jalan.
"Astaga, sepertinya dia tidak main-main. Kita harus segera pergi dari kota ini,"
Mereka melihat bu Kiya bersama seorang pria seperti preman sedang menyisir jalanan. Sepertinya keduanya sedang mencari mereka. Beruntung mereka tidak ketahuan karena terhalang tembok di tepi jalan.
"Kamu benar, ayo kita bergerak lebih cepat," Mereka berlari sekencang-kencangnya sampai di terminal. Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh.
"Huft... huft... huft..."
Suara napas mereka tersengal-sengal karena berlari tadi.
"Kita ke kota D saja, di sana ramai. Kita pasti cepat mendapat kerja," ucap Mirna.
Elisha setuju. Mereka segera mencari bus menuju kota tersebut.
"Aduh untung sekali kita sudah sampai di sini ya," Mereka duduk di dalam bus, merasa lega.
"Tapi aku masih bingung, mengapa bu Kiya mau membunuh mu? Secara kalian saja baru kenal. Sebelumnya dia juga begitu baik pada mu, aneh saja tiba-tiba jadi begini," imbuh Mirna.
Elisha terdiam. Ia juga tidak tahu apa yang membuat bosnya tidak suka dengan keberadaannya sehingga tega menyuruh orang untuk melenyapkannya.
"Aku juga sebenarnya penasaran, tapi tidak mungkin bertanya padanya. Melihatnya saja sudah membuat bulu kuduk ku merinding," balas Elisha.
"Semoga dia tidak mengejar kita sampai sini ya," harap Mirna.
"Coba cari satu persatu mereka di dalam bus yang mau berangkat!"
Baru saja merasa lega, mereka di kejutkan oleh suara seorang wanita. Mereka melongok ke luar jendela. Bosnya berkacak pinggang di dekat bus yang mereka tumpangi saat ini.
__ADS_1
"Awas, dia ada di luar," Mirna menekan kepala Elisha ke bawah.
"Astaga, bagaimana ini. Anak buahnya mau naik ke bus ini," seru Mirna.