
Seminggu kemudian.
"Kenapa kau tidak adil kepada ku, Tuhan? Apa salah ku?"
Elisha terbangun di tengah malam. Ia baru saja bermimpi buruk tentang orang tua dan juga anaknya. Firasatnya tidak nyaman. Sudah beberapa minggu tidak mengetahui kabar mereka membuatnya semakin stres. Di tambah lagi ia belum juga mendapatkan pekerjaan. Ia menangis, duduk meringkuk di dekat kasur.
"Astaga Dona, kamu kenapa?"
Mita yang baru saja pulang bekerja segera merangkulnya. Ia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, namun temannya masih terjaga dalam keadaan menangis seperti ini. Hatinya merasa tersentuh, ia juga ikut bersedih.
"Aku lelah hidup seperti ini, Mita," jawab Elisha di sela isak tangisnya.
"Iya aku mengerti, yang sabar ya," di elusnya punggung Elisha untuk menguatkannya.
"Kurang sabar apa aku selama ini? ketika saudara ku sendiri menghina, aku hanya bisa diam karena memang kenyataannya begitu. Aku merantau demi mensejahterakan keluarga ku, tapi mengapa Tuhan tiada henti menguji ku? Kenapa?"
Elisha sedikit berteriak, menumpahkan segala unek-unek di dalam hatinya. Ia tidak tahan lagi menahannya sendiri. Bahkan tadi sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya karena merasa tidak berharga.
"Aku tahu perasaan mu. Aku pernah berada di posisi mu walau dengan kisah yang berbeda. Aku juga sangat marah waktu itu, aku bahkan mencoba bunuh diri karena sudah tidak sanggup," kenang Mita, mulai berurai air mata.
"Tapi aku sadar aku tidak bisa menyerah dengan keadaan. Aku berjuang mati-matian untuk memperbaiki keadaan namun hasilnya nihil. Aku tetap bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa,"
Mita tertunduk lesu di samping temannya. Luka yang sekian tahun berusaha ia tutupi akhirnya menganga kembali. Mengingat masa lalu adalah hal paling menyedihkan untuknya.
"Maafkan aku Mita, aku tidak tahu jika kisah mu tidak jauh berbeda dengan ku," ucapnya tulus.
"Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena terlalu terbawa perasaan,"
Mita menyeka air matanya lalu menyeka air mata temannya itu.
"Mulai sekarang berhentilah menangis. Kamu harus kuat dan selalu tersenyum. Lakukan apa yang menurut mu benar, tanpa memandang itu salah atau benar di mata orang lain. Yang penting jangan sampai menyakiti orang lain,"
Mita memandang lekat ke arah Elisha.
"Masalah dengan Tuhan, itu adalah urusan kita sendiri. Aku tidak mau menjerumuskan mu, tapi aku juga tidak tahan melihat mu menderita terus-menerus. Kalau kamu ingin pulang, pulanglah dengan besar hati. Tapi jika ingin tinggal, tetaplah berjuang sampai titik darah penghabisan," imbuh Mita.
☆☆☆
Keesokan harinya.
Elisha bangun dengan semangat baru. Sudah terbayang pertemuan yang mengharu biru dalam imajinasinya. Sudah beberapa bulan merantau membuatnya ingin secepatnya bertemu keluarga yang sangat di sayangnya.
"Jadi kamu sungguh ingin pulang, Dona?" tanya Mita terlihat sedih.
__ADS_1
"Iya Mita. Seandainya aku mendapat pekerjaan, aku pasti bertahan di sini,"
Elisha mulai mengemas barangnya. Ia terkejut melihat ada lipatan kertas di sela-sela bajunya.
"Astaga, ini yang aku cari-cari," ucap Elisha.
"Memangnya itu apa?" tanya Mita penasaran.
"Ini nomor ponsel tetangga ku di desa, dulu aku pernah tinggal sebentar di tempatnya saat di kota B," jawab Elisha.
"Oh..."
"Aku telepon sebentar ya,"
Elisha sedikit menjauh dari temannya agar lebih leluasa menelepon.
"Assalamualaikum, Bu Siti," sapa Elisha.
"Waalaikum salam, Lisha? Ini Lisha kan?"
Ternyata bu Siti masih mengenali suaranya.
"Iya Bu, ini aku. Ponsel ku hilang ketika perjalanan pindah ke kota D, makanya tidak bisa menghubungi siapa pun. Untung saja ini aku menemukan kertas yang berisi nomor ponsel Ibu," jelas Elisha.
"Syukurlah kamu menelepon, ibu mu hampir setiap hari menanyakan diri mu. Bapak mu sedang sakit, sebaiknya kamu segera menghubungi mereka," ucap bu Siti.
Perasaan Elisha makin tidak karuan, dadanya mulai bergemuruh.
"Untuk pastinya aku juga tidak tahu, tapi kelihatannya lumayan parah karena harus di bawa ke rumah sakit. Itu nomor ibu mu, barusan sudah aku kirim kan ke nomor mu," jawab bu Siti.
Setelah mengucapkan terima kasih, ia segera mengakhiri panggilan. Ia langsung menghubungi nomor ibunya.
Tut... tut... tut...
Dengan tak sabar ia menunggu panggilannya di angkat namun beberapa kali mencoba tetap nihil.
"Kamu kenapa, Dona?" tanya Mita tatkala melihat temannya menangis.
"Kata bu Siti bapak ku sakit, tapi ibu ku telepon tidak di angkat-angkat," jawabnya sembari masih terisak.
"Tenang dulu, coba kamu telepon lagi. Mungkin tadi sedang sibuk,"
Ia menuruti saran temannya. Ia terlonjak kegirangan ketika teleponnya tiba-tiba di angkat.
__ADS_1
"Ibu..."
Ia tidak dapat membendung air matanya lagi. Segala kerinduan dan rasa sakit yang selama ini tertahan bertumpuk menjadi satu menjadi bulir-bulir air mata kesedihan yang terjun bebas di manik indahnya.
"Lisha putri ku..."
Air mata wanita paruh baya itu pun menetes membanjiri pelupuk matanya.
"Iya Bu, ini aku. Maafkan aku, Bu..."
Tangis keduanya pun pecah. Setelah tenang mereka mulai bercerita. Ibunya tidak bisa bercerita banyak karena sedang menunggu suaminya yang terbaring di rumah sakit bersama kedua cucu serta beberapa orang saudara. Ibunya hanya menceritakan intinya.
Elisha bahkan belum bercerita tentang apa yang menimpanya karena apa yang di alami ibunya lebih menyedihkan. Pak Darminto ternyata sedang di rumah sakit sudah dua hari ini. Ayahnya di diagnosa mengalami penyumbatan darah di otak, salah satu penyakit yang sangat berbahaya dan bisa merenggut nyawa penderitanya.
Kondisi ayahnya sudah cukup parah sehingga di haruskan segera melakukan operasi. Keadaannya kini sangat memprihatinkan. Menurut ibunya kedua kakaknya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Estimasi biaya yang harus di keluarkan sebesar 20 jutaan. Nominal yang sangat fantastis untuk keluarga kurang mampu seperti mereka.
"Ibu sabar ya. Bapak akan segera di operasi, aku akan mencari uangnya," ucap Elisha.
"Uang sebesar itu kamu akan mencari di mana, Nak? Kedua kakak mu saja hanya bisa memberi bantuan dua juta. Ibu sudah pasrah..."
Tangisan ibunya bagai cambuk yang memukuli seluruh tubuhnya, bahkan lebih sakit daripada itu. Betapa tidak bergunanya dirinya yang saat ini tidak bisa membantu apa-apa untuk kesembuhan ayahnya.
"Tolong jangan berkata begitu, Bu. Aku akan segera mencarinya. Tolong jaga ayah dan anak-anak dulu, aku akan segera mencari uangnya. Aku janji!"
Setelah berkata begitu, mereka memutuskan panggilan.
"Aku turut prihatin ya, Dona,"
Mita memeluk tubuh temannya itu.
"Aku memang tidak berguna, aku bahkan tidak bisa membantu apa-apa. Kemana aku harus mencari uang 20 juta itu?"
Tangisannya makin keras, tubuhnya bergetar hebat. Mita ikut trenyuh melihatnya.
"Dona, di tabungan ku ada sekitar 5 juta rupiah. Kamu bisa menggunakannya untuk mengobati ayah mu,"
Mita mendengar semua pembicaraan temannya saat menelepon. Ia tulus ingin membantu Elisha saat ini.
"Tidak Mita, itu adalah tabungan mu. Kamu sudah susah payah mengumpulkannya," tolak Elisha.
"Tidak apa-apa, nyawa ayah mu lebih penting. Aku bisa mencarinya lagi nanti,"
Elisha merasa tersentuh, orang yang baru beberapa hari ia kenal dengan mudah memberinya uang sebesar itu. Entah itu pinjaman atau pemberian, tapi itu sangat berharga untuknya.
__ADS_1
"Mita, aku mau bekerja seperti diri mu," ucap Elisha.
Mata mereka saling bertemu. Mita masih belum bisa percaya dengan pendengarannya. Namun tatapan Elisha terlihat bersungguh-sungguh.