
Di belahan kota D yang lain.
Seorang pria tengah memandangi potret seorang wanita berparas ayu. Sesekali di usapnya potret tersebut dengan lembut. Dari sorot matanya, terlihat jelas kerinduannya yang mendalam. Pertemuannya beberapa hari lalu dengan Elisha membuat hidupnya tak tenang.
Sudah setahun belakangan ia mencoba melupakannya, namun pertemuannya kemarin dengan wanita yang mirip dengan seseorang di potret tersebut telah membuatnya kembali mengingat masa lalu. Masa lalu yang menyakitkan. Masa lalu yang indah tapi menorehkan luka yang teramat dalam.
Wanita itu adalah kekasih yang sangat di cintainya. Namanya Kinan, cantik, baik dan nyaris sempurna bagi Santo. Kisah cinta mereka awalnya sangat indah, mereka adalah pasangan yang serasi sebelum sebuah peristiwa merubah semuanya.
Kinan tiba-tiba menghilang dari dalam hidupnya. Ia sudah mencarinya kemana-mana namun tidak pernah menemukannya. Ia tidak bisa menerima kenyataan jika kekasihnya pergi. Bahkan ia tidak percaya dengan surat yang gadis itu tinggalkan untuknya dan keluarganya.
Tanpa mau menyerah ia terus saja mencari sampai akhirnya merasa putus asa. Santo merasa terluka, begitu teganya kekasih yang selama ini sangat di sayanginya meninggalkan dirinya begitu saja. Ia stres, ia kehilangan semangat untuk hidup. Walau pun semua orang berusaha menghiburnya, tak membuat dirinya bisa bangkit.
Ia tidak pernah tahu jika kekasihnya, Kinan telah meregang nyawa. Gadis baik itu tidak pernah pergi kemana pun. Kematiannya memang telah di rencanakan dengan matang. Pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah kakaknya sendiri yang bernama Kiya.
Kiya adalah anak sulung orang tua mereka. Ia memiliki sifat keras kepala dan cenderung ambisius. Berbanding terbalik dengan Kinan yang berperilaku lembut dan lebih suka mengalah. Itulah yang membuat kedua orang tua serta semua orang sangat menyayangi Kinan. Hal inilah yang membuat Kita merasa iri dan merasa di anak tirikan.
Rasa iri Kiya sebenarnya telah tertanam sejak kecil. Namun sikap adiknya yang selalu mengalah membuatnya tidak tega untuk berbuat jahat kala itu. Namun seiring bergulirnya waktu, kejahatan mulai terbentuk sempurna di dalam dirinya. Puncaknya saat Kinan mulai memiliki kekasih. Diam-diam ia menyukai kekasih adiknya itu. Hal itu membuatnya nekad merencanakan pelenyapan saudara kandungnya sendiri.
Saat itu, Kinan baru saja pulang dari kencan bersama Santo. Ia telah membayar beberapa orang untuk menculik adiknya tersebut dan memanipulasinya seolah Kinan pergi atas kemauannya sendiri. Ia memaksa Kinan menulis surat untuk kekasih dan orang tua mereka. Tadinya ia menolak, namun karena ia mengancam akan menyakiti orang-orang yang Kinan sayang, akhirnya ia setuju.
Seminggu Kinan bertahan dalam ruangan gelap dan sempit. Berharap seseorang bisa mengeluarkannya dari tempat itu. Ia hanya bisa menangis mengingat orang-orang yang ia cintai. Sebelum akhirnya ia menyerah dan pasrah dengan keadaan. Dan akhirnya pergi untuk selamanya. Tanpa keluarga dan kekasihnya tahu.
Setelah kepergian Kinan, kiya berusaha mendekati Santo. Ia berpura-pura simpati dengan pria itu karena telah di tinggalkan saudarinya. Awalnya Santo hanya menganggapnya biasa, tidak ada yang spesial. Namun lambat laun perhatian Kiya telah membuatnya nyaman.
Wanita itu mampu mengisi hari-harinya yang sepi pasca perginya Kinan. Namun rasa itu ternyata hanya sampai di titik itu, dirinya tidak mencintai Kiya seperti ia mencintai Kinan. Namun desakan keluarga akhirnya membuat dirinya terpaksa menikahi wanita tersebut. Kiya menjebaknya dengan segala macam cara agar dapat memiliki pria tersebut.
Sayang sekali hingga detik itu ia hanya mampu memiliki raganya, namun tidak hatinya. Karena hatinya hanya tertambat untuk Kinan. Kehadiran Elisha yang sangat mirip dengan Kinan, membuat Kiya ketar ketir. Ia takut ada yang menyangka ia adalah Kinan. Karena orang-orang tidak pernah tahu jika adiknya telah tiada. Maka dari itu ia berusaha untuk menghabisi Elisha juga.
__ADS_1
Butiran air mata membasahi potret tersebut. Santo menangis dan terlihat cengeng. Kenangan indah bersama Kinan menari-nari di dalam ingatannya. Setelah beberapa saat, di simpannya kembali potret tersebut di tempat yang tersembunyi.
"Aku akan selalu mencintai mu Kinan, selalu," ucap Santo.
"Aku harus mencari wanita itu, dan menyelidikinya," gumam Santo.
Kata-kata Kiya tempo hari telah mengusik hatinya. Jelas-jelas ia mendengar istrinya mengatakan jika Kinan sudah meninggal. Ia pasti menyembunyikan sesuatu darinya yang berkaitan tentang Kinan.
☆☆☆
Di belahan bumi yang lain.
Dua orang insan sedang di mabuk asmara. Mereka tengah mereguk manisnya menjadi pengantin baru. Sekian lama tidak dapat menyalurkan hasrat yang sudah di ubun-ubun, membuat Doni menggempur istrinya habis-habisan. Tidak ada rasa malu sama sekali kepada orang tuanya yang pasti kerap kali mendengar suara erangan mereka.
"Sayang, aku ingin lagi," pinta Doni.
"Membantunya nanti saja, ayo..." ajaknya memaksa.
"Jangan Mas, tidak enak kepada ibu dan bapak mu," ucap Indah.
Indah merasa tidak enak dengan mertuanya, karena Doni hampir selalu begitu. Ia sering meminta tanpa melihat waktu dan kondisi. Lelah dan letih mungkin dapat ia tahan, namun rasa malu itu membuatnya akhirnya segan bahkan untuk bertemu mertuanya.
"Nanti saja Mas, setelah urusan rumah selesai," kali ini Indah mencoba bertahan.
"Dosa loh menolak permintaan suami," ucap Doni dengan wajah kesal.
'Ya Allah, aku harus bagaimana ini?' batin Indah.
__ADS_1
Karena Doni terus saja merengek sampai mertuanya mungkin mendengar, akhirnya ia menurut juga. Bukan hanya satu ronde, saat Indah akan membersihkan diri ia menahannya dan mulai mencari kepuasannya lagi.
"Mereka itu kok tidak bisa melihat waktu sih. Perasaan waktu kita masih baru menikah dulu tidak begitu-begitu amat ya, Pak," sindir ibunya Doni.
"Entahlah, Bu. Sepertinya aku harus menegur putra mu itu. Sudah beberapa hari dia tidak bekerja, harusnya ia sadar jadi suami itu tanggung jawabnya berat. Bukan hanya maunya senang-senang saja," balas suaminya.
Sebenarnya bukan mereka keberatan anak dan menantunya ikut bersama mereka, hanya saja sebagai orang tua mereka harus mengajari Doni agar bisa hidup mandiri. Ini bukan lagi soal harga diri lagi, melainkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
Indah keluar dari kamar usai membersihkan diri. Dengan rasa tak enak hati ia tetap membantu ibu mertuanya mengerjakan pekerjaan rumah. Namun sepertinya jasanya tidak lagi di butuhkan, karena ibu mertuanya sudah menyelesaikan semuanya.
"Makan saja, Nak. Tadi kita sudah makan. Ajak Doni untuk makan juga," titah ibunya.
"Maaf ya Bu, aku tidak membantu ibu. Lain kali Indah pasti akan bangun lebih pagi lagi," ucap Indah merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, tapi sebaiknya suruh suami mu itu bekerja. Dia sudah terlalu lama menghabiskan waktu di rumah," ucap ibu mertuanya.
"Sebenarnya sudah Bu, hanya saja Mas Doni saja yang enggan pergi," balas Indah.
"Memang keterlaluan anak itu, biar bapak tegur," sahut ayah mertuanya.
"Doni keluar sini, bapak mau bicara," teriak ayahnya.
"Ada apa sih, aku ini capek mau istirahat," ucap Doni.
"Kamu itu capek melakukan apa? Kamu bahkan tidak membantu apa pun di rumah ini. Harusnya kamu sadar jika sudah punya istri, harus tanggung jawab sebagai suami," tegur ayahnya.
"Iya, iya... besok aku akan bekerja. Baru numpang sebentar saja sudah banyak bicara," ia kembali masuk kamar dengan membanting pintu.
__ADS_1
"Astagfirullah, kenapa putra ku jadi begini," ucap ibunya dengan mata mulai berkaca-kaca.