
Elisha kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan. Tiba-tiba ia teringat dengan kejadian semalam. Bulu kuduknya kembali merinding. Ia bergegas mengambil ponselnya di atas kasur lalu secepat kilat menuruni tangga, kembali ke meja makan. Ia mengecek ponselnya, ada beberapa panggilan tak terjawab. Ia segera menelepon balik.
"Halo Mita, maaf aku baru melihat ponsel. Ada apa kamu tadi menelepon? Kamu baik-baik saja bukan?" tanya Elisha.
"Alhamdulillah kamu baik-baik saja, aku dan Mirna sedang menunggu taksi. Tadinya kami mau ke kantor polisi karena kuatir dengan mu," jawab Mita.
"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkuatirkan aku. Tadi ponsel ku ketinggalan di atas," ucap Elisha.
Mereka kemudian saling bercerita untuk beberapa lama . Namun melihat bi Jum sudah menunggunya di meja makan, Elisha menyudahi pembicaraannya. Lalu bergabung dengan bi Jum untuk sarapan. Sesuai permintaan Elisha, hari ini bi Jum tidak memasak terlalu banyak. Yang penting cukup untuk mereka dan para pekerja di rumah tersebut.
"Permisi Non, ini ada titipan dari Tuan Santo," satpam memberikan sebuah tote bag dan buket bunga yang cantik.
"Terima kasih, Pak. Tapi di mana dia sekarang?" Elisha tidak melihat pria itu di rumah tersebut.
"Tuan masih ada meeting, katanya nanti akan makan siang di sini," jawab satpam itu.
"Baiklah... Bapak bisa kembali bekerja," ucap Elisha.
"Tuan sepertinya sangat menyayangi Non Kinan ya," ucap bi Jum.
"Kok Bibi bisa berkata seperti itu?"
"Iya Non, bisa di lihat dari sikapnya. Penuh perhatian dan sangat peduli terhadap Non Kinan,"
"Ah... Bibi bisa saja. Ayo kita lihat apa ini,"
Elisha membuka tote bag tersebut. Di dalamnya berisi sebuah gaun cantik lengkap dengan aksesoris dan satu set perhiasan yang indah. Elisha terkesiap, netranya begitu mengagumi pemberian Santo itu.
"Wah... cantik sekali, Non," puji bi Jum.
Tentu saja Elisha setuju, semua barang itu memang sangat menawan. Ia mulai membaca kartu ucapan di dalamnya.
Pagi Kinan, maaf tidak bisa menemani mu sarapan. Tolong simpan ini dan pakailah besok saat aku mulai membawa mu ke tempat umum. Jangan lupa makan yang banyak ya.
*Santo*
Kinan memasukkan kembali kartu ucapan itu sembari tersenyum. Sudah lama sekali rasanya ia tidak pernah menerima hadiah semacam ini. Bahkan selama pernikahannya dengan Doni pun ia tak pernah merasakan perhatian seperti ini. Walau pun ia sadar pria itu melakukannya karena dia telah bersedia menerima tawarannya, setidaknya ia punya inisiatif sebagai seorang pria.
__ADS_1
"Wah kok senyum-senyum begitu, pasti isinya romantis ya, Non," tebak bi Jum.
"Bibi sepertinya sering terima hadiah seperti ini ya, kok nebaknya begitu," tebak Elisha juga.
"Tidak sering sih, Non. Cuma dulu waktu suami masih ada, setiap ada rejeki dia selalu membelikan bibi hadiah. Ya walau pun tidak mahal, tapi bibi merasa bahagia," jelas bi Jum.
Elisha merasa iri dengan kehidupan rumah tangga pembantunya itu. Ekonomi sulit bukan penghalang untuk memberikan sesuatu kepada pasangan, semua hanya tergantung dari niat masing-masing saja.
☆☆☆
Di tempat lain.
"Mas masih tetap mau bekerja di tempat itu?" tanya Indah ketika melihat suaminya berpakaian rapi.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Aku pikir setelah aku cerita, Mas Doni akan memutuskan untuk berhenti. Aku lebih setuju Mas kerja di sawah dari pada di sana," jawab Indah.
"Ini kan baru sehari, Sayang. Lagi pula kata Wawan tidak begitu juga. Dia menjamin akan mengajari ku mencari nasabah yang jujur," ucap Doni.
"Di sana aku juga sudah dapat sarapan dan makan siang. Bisa merokok gratis dan dapat uang," imbuh Doni.
"Ini untuk mu. Ini hanya pendapatan sampingan, nanti gajiannya mingguan,"
Indah menerimanya walau dengan raut wajah yang di paksakan untuk tersenyum. Dari awal ia memang tidak setuju suaminya bekerja di tempat tersebut. Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempatnya bekerja bunganya besar untuk setiap pinjaman. Tidak akan ada orang yang akan meminjam jika tidak benar-benar terpaksa.
Bayangkan jika orang itu sangat butuh tapi harus mengembalikan uang tersebut dengan bunga tinggi. Itu sama saja dengan memanfaatkan kelemahan seseorang agar mendapatkan uang. Itu adalah hal yang tidak baik. Berbeda dengan bekerja di sawah yang memang halal.
"Terima kasih, Mas. Tapi aku harap, Mas bisa memikirkan lagi ucapan ku kemarin," ucap Indah.
"Iya, iya... kamu tenang saja,"
Doni menyantap sarapannya lalu bergegas berangkat kerja. Hatinya di liputi perasaan senang, pasalnya hari ini dia akan mendapatkan pinjaman motor untuk bekerja dari kantornya. Itu bisa dia bawa pulang dan ia gunakan. Setiap pekerja di kantornya memang mendapatkan fasilitas motor bagi yang tidak punya. Sedangkan yang punya hanya di beri uang mingguan untuk perawatan motornya.
☆☆☆
Elisha memilih menghafalkan semuanya di ruang tengah, ia tidak berani kembali ke kamar. Sebenarnya rasa kantuk sudah mulai menggelayuti matanya, namun bayangan wanita semalam masih membuatnya takut.
__ADS_1
"Apa dia sudah meninggal ya," gumam Elisha.
"Semalam itu sangat tampak nyata. Bahkan rasanya aku bingung itu sungguhan tidak ya?"
Elisha masih terus memikirkan tentang sosok Kinan semalam.
"Sesuatu bisa saja terjadi pada ku, aku harus segera mengirimkan uang itu kepada ibu," ucap Elisha.
Ia segera membuka ponselnya dan mentransfer hampir semua uang yang ada di rekeningnya ke nomor rekening ibunya. Setelah selesai, ia segera menghubungi ibunya.
"Assalamualaikum, Bu," sapanya.
"Waalaikum salam, Elisha bagaimana kabarnya Nak?"
Setelah sedikit berbasa-basi, Elisha mengatakan tujuannya. Ibunya sangat terkejut mendengar putrinya mengirimnya uang sebanyak itu. Banyak pertanyaan yang ia ajukan tentang uang tersebut. Namun Elisha berhasil meyakinkannya jika itu adalah bayarannya untuk sebuah tugas penting yaitu membantu mengungkap hilangnya seseorang dari keluarga konglomerat. Beruntung ibunya percaya.
"Ya sudah, nanti ibu bicarakan dengan Rojali dulu. Ibu soalnya tidak tahu kalau membuat warung itu butuh apa saja dan biayanya berapa," ucap ibunya.
"Iya, Bu. Semoga bisa cepat selesai agar bisa segera berjualan. Nanti ibu pilih agen yang bisa sekalian kirim saja agar ibu tidak susah," balas Elisha.
Elisha segera mengakhiri panggilan setelah melihat Santo sudah datang dan memperhatikannya dari kejauhan.
"Bagaimana kabar mu? Aku harap kamu tidak bosan berada di sini,"
Santo ikut duduk di samping Elisha.
"Aku baik, ya walau pun agak sedikit bosan," jawab Elisha.
"Sabar, besok kamu akan segera bisa melihat dunia luar lagi. Oh ya, bagaimana dengan hafalan mu?"
"Sudah nyaris sempurna, mau mencoba?" tantang Elisha.
Santo sedang memperhatikan kalung yang ia pakai. Ia lupa melepas dan mengembalikan ke tempat semula.
"Maaf, aku hanya mencobanya tapi lupa menaruhnya kembali. Soalnya semalam aku takut..."
Elisha takut pria itu akan menganggapnya memanfaatkan keadaan, jadi ia menjelaskan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, itu milik mu Kinan. Tapi kamu takut kenapa? Apa ada yang mengganggu mu?"
"Tidak, hanya semalam aku melihat Kinan..."