Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 47 Mengatakan Semuanya


__ADS_3

"Tadi Daren bicara apa, sepertinya serius sekali?" tanya Mirna.


"Tidak ada Sayang, hanya masalah perusahaan," Dion berusaha menutupi, ia tak ingin membuat Mirna tersinggung.


Walau baru mengenal belum cukup lama ini, dia sudah bisa menilai kepribadian Mirna. Ia sudah menceritakan semuanya bagaimana dirinya sampai menjalani hidup sebagai pekerja malam. Dion percaya dan tetap memantapkan hatinya untuk menjadikannya pendamping hidup.


"Semoga semuanya lancar ya, Sayang," doa Mirna.


"Iya Sayang, terima kasih ya,"


Dion menatapnya penuh cinta, membuat Mirna makin mencintai pria di sampingnya itu.


☆☆☆


Doni merasa senang karena polisi tidak jadi membawanya ke kantor polisi karena tidak ada bukti tentang perzinahan yang ia lakukan. Melihatnya bermesraan dengan wanita lain ternyata tidak termasuk tindak pidana. Kebetulan salah seorang anggota polisi itu masih kerabat keluarga Indah, makanya dirinya di tangkap.


Ia tersenyum puas saat di lepaskan dan boleh kembali pulang. Hal ini membuat keluarga Indah meradang. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Yang jelas orang tua Indah sudah tak sudi mempunyai menantu seperti Doni yang benar-benar tak tahu diri dan tak bisa bersyukur.


"Kamu jangan menangis untuk pria br3ngsek seperti Doni. Lupakan dia dan lanjutkan hidup mu. Kamu masih muda dan banyak yang ingin mempersunting mu," ucap ayahnya.


Indah yang masih merasa hatinya tersayat, belum bisa memaafkan pengkhianatan suaminya. Ia masih belum percaya pria yang baru saja membawanya ke langit ke tujuh telah menghempaskan dirinya begitu saja. Sesak rasanya di dadanya, hingga tak sanggup untuk bangkit walau pun telah berusaha.


Doni adalah cinta pertamanya. Sangat sulit baginya melupakan kenangan bersamanya walau hanya sebentar. Dirinya juga yang sudah memberikan luka paling dalam selama hidupnya. Wajar jika ia tak bisa melupakan hal ini begitu saja.


"Aku baik-baik saja, waktu pasti akan cepat berlalu dan menyembuhkan luka ini," balas Indah.


Orang tuanya tak berbicara lagi. Mereka tahu dan mengerti akan kesedihan putrinya.


☆☆☆


Elisha sedang sibuk merias dirinya di cermin. Baru hari ini ia akan keluar bersama seorang pria, setelah sekian lama. Ia sedikit gelisah, takut penampilannya mengecewakan.


"Sudah cantik kok, Om Daniel pasti terpesona," puji Mita.


"Kamu bisa saja sih, bikin besar kepala saja," ucap Elisha.


"Hmm... aku sendirian nih, nasib jadi jomblo," Mita memasang tampang cemberut.


"Memangnya kamu tidak bekerja?" tanya Elisha.


Mita menggeleng.


"Lagi malas, tidak ada kamu dan Mirna,"


"Memangnya Mirna kemana kok tidak bekerja?"


"Dia sedang bersama Dion. Dion menyuruhnya berhenti bekerja. Aku sendirian deh,"


Ada rasa iri di hati Mita. Kedua sahabatnya akan berhenti bekerja sedang dirinya sendiri yang telah lama berkecimpung di dunia itu masih belum ada tanda untuk bisa berhenti. Dirinya seperti terjebak di tempat itu. Lamunannya terhenti ketika mobil Daniel datang untuk menjemput Elisha.

__ADS_1


"Tolong jaga sahabat ku ini ya, Om. Pulang harus dalam keadaan tidak kurang satu apa pun," goda Mita.


"Hahaha... tenang saja, aku pasti menjaga dan mengantarkannya dalam keadaan lengkap," ucap Daniel.


"Kalian apaan sih," Elisha tersipu malu.


Mereka pun segera berangkat. Daniel terpukau dengan penampilan Elisha, ia tak berhenti untuk selalu melirik ke samping. Penampilan Elisha tanpa busana kerjanya membuat terpesona. Cantik dan anggun. Tak lama mereka sampai di sebuah restauran mewah dengan nuansa romantis.


"Malam ini kamu cantik sekali," puji Daniel.


"Terima kasih, Om," wajah Elisha merona.


"Apa rencana mu sekarang?" tanya Daniel serius.


"Rencana? Ehm... aku akan segera berpamitan untuk berhenti,"


"Apa kamu akan kembali ke rumah mu?" lanjut Daniel.


"Sepertinya begitu. Aku akan membantu ibu menjaga warung, sepertinya itu yang terbaik,"


"Apa kamu tidak sayang meninggalkan tempat ini?"


Sejujurnya Elisha berat meninggalkan kedua sahabatnya di sini. Mereka sudah seperti keluarga kedua baginya. Dan ada rasa tak rela jika tak bertemu dengan pria di depannya. Tapi tentu saja ia tak berani berkata demikian.


"Ya pasti berat sih Om, karena bagaimana pun di sini penuh kenangan," jawab Elisha.


"Ya, aku pasti kehilangan sosok sahabat seperti Mita dan Mirna,"


"Apa kamu tidak merasa kehilangan aku?" ia menatap Elisha dengan serius.


"Apa?" Elisha terkejut mendengar pertanyaan seperti itu.


"Apa kamu tidak sedih jika tidak bertemu aku lagi?" ulang Daniel.


"Aku... " dadanya terasa berdebar. Ingin berkata jujur tapi rasanya malu.


Daniel masih menatapnya, menunggu jawaban darinya.


"Sebenarnya... aku juga sedih, Om,"


"Sedih apa?" Daniel terus mengejarnya.


"Ya sedih berpisah dengan, Om," jawab Elisha malu-malu.


"Kalau begitu jangan pergi, tetaplah di sini," pinta Daniel.


"Tapi aku bingung harus bekerja apa di sini," Elisha mulai terpancing.


"Terserah yang penting pekerjaannya halal. Jangan pergi Elisha..."

__ADS_1


Daniel menggenggam tangan Elisha. Jantung keduanya berdegup kencang. Bibir mereka tak bergerak, namun mata mereka saling bicara.


☆☆☆


"Tante, Om, aku ingin berbicara," ucap Daren serius.


"Loh Daren, kok kamu ada di sini?"


Orang tua Dion terkejut melihat Daren tiba-tiba ada di rumahnya. Apalagi wajahnya terlihat sangat serius sekali.


"Ini masalah serius," jawab Daren.


"Duduklah dulu,"


Mereka duduk di ruang keluarga. Kedua orang tua Dion menatap pria di hadapannya dengan serius.


"Apa ada masalah serius dengan perusahaan?" tanya ayah Dion.


"Bukan masalah perusahaan, Om. Ini tentang mas Dion," jelas Daren.


"Dion? Kenapa dengannya? Dia baik-baik saja bukan?" ibu Dion menjadi kuatir.


"Ini tentang calon istrinya, dia itu tidak pantas untuk mas Dion. Dia bukan wanita baik-baik," jelas Daren.


"Apa maksud mu?"


"Dia itu pekerja malam, Tante. Kerjaannya menemani tamu minum-minum,"


"Apa? Jaga bicara mu, Daren. Tidak mungkin dia begitu. Dia terlihat baik," bentak ibu Dion.


"Selamat malam semuanya," sapa Dion membuat semua orang terkejut.


Wajah ketiganya tegang, apalagi Daren. Ia terlihat cemas dan ketakutan.


"Hei kenapa menatap ku seperti sedang melihat hantu, apa semuanya baik-baik saja?" Dion mulai curiga.


"Apa benar yang di katakan Daren, Dion? Apa Mirna bekerja sebagai ladies escort?" ayahnya bertanya terus terang.


Tatapan Dion tajam menusuk jantung Daren. Pria itu sangat ketakutan. Rasa sayangnya terhadap saudaranya itu membuatnya harus berkata jujur. Walau konsekuensinya dia harus menanggung kemarahan Dion.


"Itu memang pekerjaannya, Pa. Tapi dia wanita baik-baik," Dion berkata jujur.


"Apa? Kenapa kamu membohongi kita semua, Dion?" ibunya terlihat shock.


"Apa tidak ada wanita lain yang lebih layak dan pantas menjadi menantu papa, Dion?" Ayahnya sangat kesal.


"Dia pilihan ku yang menurut ku terbaik. Dia tidak seperti yang kalian pikirkan," bela Dion.


"Silahkan kamu pilih, wanita itu atau kami," ayahnya memberi pilihan yang sulit.

__ADS_1


__ADS_2