
Malam itu Daniel membawa Elisha ke kantor polisi untuk memberi keterangan. Setelah selesai, ia mengantarnya pulang. Dalam perjalanan mereka lebih banyak diam dan larut dalam perasaannya masing-masing.
Sebenarnya banyak yang ingin Elisha tanyakan tentang bagaimana pria itu bisa menyelamatkan dirinya. Namun entah mengapa mulutnya tak mampu bersuara. Ia hanya bisa melirik pria itu sekilas, lalu kembali menatap ke depan. Ada rasa yang tak biasa di dalam dadanya. Entah apa itu, karena ia juga tak tahu jawabannya.
"Apa kamu masih merasa takut?" tanya Daniel memecah kesunyian.
Elisha menggeleng.
"Tidak Om, hanya tubuh ku terasa sangat lelah sekali," jawab Elisha.
"Setelah ini beristirahatlah," ucap Daniel terdengar begitu lembut di telinga Elisha.
Elisha mengangguk sembari tersenyum.
☆☆☆
Doni hanya mampu memandang kepergian istrinya dari kejauhan. Ia bahkan tidak punya inisiatif untuk mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya walau pun jaraknya cukup jauh. Kedua orang tuanya tak mampu menahan kepergian Indah. Ibunya hanya bisa menangis melihat menantunya pergi.
"Oalah kenapa bisa jadi begini, baru saja nikah sudah harus seperti ini," ibunya tampak sangat sedih.
"Aku sudah capek mengurusi putra mu itu, Bu. Sekarang terserah dia saja. Yang jelas aku sudah tidak mau peduli lagi. Biar dia urus masalahnya sendiri," suaminya terlihat kesal.
"Tapi bagaimana pun dia anak kita,"
"Anak tidak tahu diri, bisa-bisanya hanya membuat orang tua malu dan sedih. Biar saja mulai sekarang, dia urus hidupnya sendiri," sahut suaminya.
Doni mendengar itu semua, tapi memilih acuh. Dia yakin orang tuanya tidak akan pernah tega kepadanya. Sekarang mereka sedang marah padanya, namun besok pasti akan kembali seperti semula. Setiap orang tua biasanya seperti itu. Seburuk apa pun sikap seorang anak, orang tuanya pasti akan memaafkan. Itu menurut Doni.
Ia merasa ada yang hilang sejak kepergian istrinya. Namun itu tak berlangsung lama, karena Nela berhasil mengobatinya. Ia justru bisa bebas melakukan chating atau video call dengan selingkuhannya tersebut. Doni memang seolah tak punya hati nurani. Bisa-bisanya ia bersenang-senang di atas tangisan istrinya. Tak tampak rasa penyesalan sama sekali di raut wajahnya.
☆☆☆
"Dona..." Mita dan Mirna berhambur memeluk Elisha yang baru saja turun dari mobil.
"Aku rindu kalian," Elisha membalas pelukan keduanya.
__ADS_1
Setelah mengobrol sebentar dengan mereka, Daniel berpamitan pulang. Ada rasa tak rela pria itu pergi di hati Elisha. Namun tentu saja ia tak bisa menahannya lebih lama.
"Ayo ceritakan pada kami sebenarnya apa yang terjadi? Lalu kenapa bisa kamu bersama Om Daniel tadi? Jangan bilang dia yang sudah menculik mu ya?" mereka memberondong Elisha dengan berbagai pertanyaan.
"Sabar, sabar... aku pasti akan cerita, tapi sekarang aku sedang lapar," Elisha memegang perutnya yang mulai bernyanyi.
"Ya ampun, kasihan sekali. Duduklah di sini, aku akan membelikan mu makanan dulu di depan,"
Mita bergegas ke depan. Menit kemudian ia kembali dengan 3 bungkus nasi.
"Kok belinya banyak, Mita?" tanya Mirna.
"Kamu lupa ya, kita kan juga belum makan lagi setelah sarapan. Kita sangat kuatir sekali memikirkan orang ini," tunjuknya pada Elisha.
Elisha tertawa. Ia tak menyangka kedua temannya sangat mengkuatirkan dirinya hingga lupa makan. Itu hal yang sangat manis untuknya dan berhasil membuat terharu.
"Terima kasih ya sudah peduli dengan ku, ayo kita makan bersama," ajak Elisha.
Ketiganya makan dengan lahap. Setelah selesai ia mulai menceritakan penderitaan yang ia rasakan karena ulah Arman. Keduanya menyimak dengan baik ceritanya sembari sesekali memaki pria tersebut karena merasa kesal.
"Aku juga penasaran, tapi belum sempat bertanya,"
"Hah? Kok bisa sih kamu tidak bertanya, terus sepanjang jalan tadi ngobrol apa?" tanya Mirna.
"Kita cuma diam saja,"
"Aneh kalian berdua," sahut Mita.
Tentu saja Elisha tidak bercerita jika dirinya sibuk dengan perasaannya yang tiba-tiba berdebar kala berada di dekat Daniel. Ia baru menyadari justru ketika tak sengaja memeluk pria itu.
☆☆☆
Daniel sedang memandangi indahnya sinar rembulan dari atas balkonnya. Ia menatap sinarnya seolah memandang wajah orang yang ia sayangi. Penuh kasih dan cinta. Sesekali terlihat senyum menghias di wajahnya. Usianya memang tak lagi muda, namun ketampanan dan wibawanya seolah tak pernah pudar.
Puluhan tahun menduda membuatnya terlalu akrab dengan kesendirian. Pengkhianatan mantan istrinya membuatnya tak mudah jatuh cinta kembali. Namun entah mengapa melihat penderitaan Elisha membuat hatinya gundah. Ia sangat ingin melindunginya. Menjadikan wanita itu bagian dari dirinya. Mencintainya dan membuatnya bahagia selalu.
__ADS_1
"Aku akan belajar membuka hati, jika memang kamu tercipta untuk aku bahagiakan," ucap Daniel.
Ia tak tahu apakah Elisha menyukainya atau tidak. Namun yang pasti, sekarang ia telah berharap. Harapan yang telah bertahun-tahun hilang, kini akhirnya bisa ia pupuk kembali.
☆☆☆
Dengan wajah sembab, Indah turun dari ojek yang mengantarnya. Rumah orang tuanya sudah tampak sepi karena memang sudah malam. Ia tahu orang tuanya pasti akan merasa sedih dan kecewa atas apa yang terjadi. Namun ia sungguh tak bisa bertahan lebih lama. Bagaimana mungkin dirinya mampu hidup dengan pria yang di hatinya telah ada ruang untuk wanita lain.
Menjadi janda memang bukan pilihan, tapi keadaan yang membuatnya harus melaluinya. Ia sudah mantap untuk berpisah. Ia merasa beruntung tahu kelakuan suaminya lebih cepat, jika tidak ia pasti akan menyesal. Akan semakin sulit untuk seorang wanita memutuskan sebuah hubungan jika ada anak di antara mereka. Maka dari itu ia memilih mundur sekarang dari pada terlambat.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum," ucap Indah dengan suara parau karena terlalu banyak menangis.
"Waalaikum salam, Indah..." Ibunya sangat terkejut melihatnya.
"Ibu..." Indah menangis dalam pelukan ibunya.
Ibunya menyuruhnya masuk karena tidak enak jika sampai ada tetangga yang melihatnya.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu datang tidak memberi kabar? Kemana Doni kok tidak ikut?" tanya ibunya dengan lembut.
"Bolehkah aku tinggal di sini lagi, Bu? Aku tidak bisa hidup dengan mas Doni lagi, hiks..."
Indah tak dapat menahan kesedihannya lagi. Cairan bening kembali mengalir mengajak sungai. Ibunya yang masih bingung berusaha untuk menenangkannya. Setelah sedikit tenang, Indah mulai bercerita segalanya. Tidak ada yang ia kurangi atau lebihkan.
"Apa benar begitu, padahal dulu ia sangat menggebu-gebu ingin menikahi mu?" ibunya masih merasa tidak percaya.
Karena mendengar suara tangisan, ayahnya terbangun. Betapa terkejutnya ia melihat kedatangan putrinya di malam seperti ini.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu membawa tas besar dan datang tanpa suami mu?" tanya ayahnya.
"Itu Pak, katanya Doni selingkuh," sahut istrinya.
"Apa? selingkuh?" matanya membulat sempurna, menahan marah dan rasa tak percaya.
__ADS_1