
Keluarga Kinan sangat bahagia dengan kedatangannya. Setelah selesai melepas rasa rindu, mereka dinner bersama. Keluarga itu begitu hangat walau dari kalangan konglomerat yang notabene selalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ini mengingatkan Elisha kepada keluarganya di desa. Keharmonisan ini telah mengobati rasa rindunya akan sebuah keluarga.
Meskipun ia sedikit terganggu dengan tatapan Kiya yang seolah tak berpaling darinya. Ia coba untuk tetap bersikap tenang. Sekarang dia adalah Kinan, bukan Elisha. Ia harus memerankan ini sebaik mungkin.
"Sayang, malam ini aku ingin tidur dengan mu ya. Aku sudah rindu sekali. Kita bisa saling bercerita nanti," pinta mamanya.
Elisha melihat Santo, pria itu memberi isyarat jika ia boleh melakukannya. Santo sudah merencanakan semua untuk Kinan, jikalau keluarganya bertanya kemana saja dirinya selama ini dan mengapa, ia sudah mempunyai jawabannya.
"Tentu saja, aku juga sangat rindu pada kalian semua," balas Elisha.
"Ma, Pa... karena ini sudah malam, aku dan Kiya pamit pulang dulu ya," ucap Santo.
"Kalian mau kemana sih kok buru-buru sekali, kita kan baru saja bertemu Kinan. Lebih baik kalian menginap di sini, adik mu pasti rindu pada mu Kiya," bujuk ibunya.
"Aku kurang enak badan, Ma. Lain kali saja aku ke sini lagi. Ayo, Sayang,"
Kiya bicara penuh penekanan sembari menatap ke arah Elisha. Mereka mengantar kepergian Kiya dan suaminya hingga depan rumah.
☆☆☆
"Kamu mau pergi kemana lagi?" tanya Kiya.
"Kamu tidurlah, aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Santo.
"Pekerjaan apa? Apa kamu ingin menemani adik ku tidur, iya?" Kiya mulai naik pitam
"Jaga bicara mu, Kiya! Berhentilah menuduh yang macam-macam!" seru Santo.
"Kamu senang kan dia kembali, karena kamu belum bisa melupakannya. Bahkan kamu sendiri yang membawanya kembali ke tengah-tengah kita," teriak Kiya.
"Aku memang senang sekali. Aku juga memang masih mencintainya. Tapi aku akan selalu menghargai hubungan pernikahan kita," ucap Santo.
"Jangan pergi!" titah Kiya.
Namun Santo terus melangkah, masuk ke dalam mobilnya kembali. Ia hanya mengantar istrinya sampai rumah, memastikan ia tak akan menyakiti Kinan.
"Si@lan, pria tidak tahu diri," maki Kiya.
Ia masuk ke dalam rumah dengan kesal. Sesampainya di kamar ia mengamuk. Barang-barang di meja rias terpelanting kesana kemari karena ia lempar. Kiya menangis, setelah sekian lama tak pernah ia lakukan.
"Kenapa kamu datang lagi dalam hidup ku? Siapa kamu sebenarnya, pel@cur sialan?" tanyanya geram.
__ADS_1
Ia tahu betul jika Kinan telah meninggal, karena dia menyaksikan sendiri detik-detik kematiannya. Bahkan ia juga tahu pasti ketika jasad adiknya di buang ke lautan lepas. Tidak mungkin orang yang sudah tiada bisa bangkit lagi. Jadi bisa di pastikan jika wanita yang berada di rumah orang tuanya sekarang hanyalah Kinan palsu.
"Aku harus membongkar kedok wanita itu. Aku yakin ia hanya menginginkan harta," ucap Kiya.
Kiya tersenyum licik. Ia sudah memiliki rencana untuk menyingkirkan Kinan palsu. Baginya harta tidak terlalu berharga, yang penting suaminya tidak berpaling lagi kepada adiknya. Tepatnya adik palsunya itu.
☆☆☆
Elisha menatap wanita paruh baya yang tengah tidur pulas di sampingnya. Parasnya begitu ayu walau usianya sudah lebih dari setengah abad. Tutur katanya lembut dan membuat tenang. Persis dengan ibu kandungnya. Hanya bedanya, ibu Kinan lebih terawat dan awet muda karena finansialnya memang di atas rata-rata.
Ia merasa tidak tega telah membohongi wanita sebaik dirinya. Entah bagaimana reaksinya jika ia harus pergi setelah tugasnya selesai. Ia pasti akan sedih dan lebih terluka lagi. Ini bagaikan membawanya terbang ke langit tinggi lalu di hempaskan ke bumi begitu saja. Pasti sakit sekali.
"Maafkan aku," ucap Elisha lirih.
Timbul keraguan di dalam hatinya untuk meneruskan semua ini. Ia tidak sanggup menyakiti hati seorang ibu yang benar-benar merindukan putrinya. Ini tak pernah terpikir sebelumnya olehnya. Tak terasa ia menitikkan air mata dan tak sengaja jatuh di tangan ibu Kinan.
"Sayang, kok kamu belum tidur? Kenapa kamu menangis?"
Ia menyeka air mata Elisha. Elisha yang tersadar segera menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa, Ma. Aku hanya terlalu bahagia bisa bertemu Mama," jawab Elisha.
Wanita itu mendekapnya, menidurkannya dalam buaiannya. Di elusnya kepala Elisha perlahan, sampai rasa kantuk menyerang perlahan. Mereka tidur dengan bermandikan cinta dan kasih.
☆☆☆
"Katakan, siapa sebenarnya kamu? Kalau tidak aku akan membunuh mu dan juga wanita itu," ancam Kiya.
"Apa maksud mu, aku Kinan adik mu. Dia itu ibu mu sendiri, mengapa ingin kau sakiti juga?" Elisha ketakutan sekali.
Kiya tetap mengarahkan pisaunya kepada mereka berdua.
"Apa yang kamu lakukan, Kiya? Dia ini adik mu dan aku orang tua mu," ucap ibunya.
"Tidak, dia itu adalah musuh ku. Mama juga tidak adil, mama lebih sayang padanya dari pada aku," seru Kiya.
"Tidak Sayang, mama menyayangi kalian berdua. Tolong letakkan pisau itu. Kita bicara baik-baik," pinta ibunya.
"Jangan coba mendekat!" hardik Kiya.
Suasana begitu mencekam. Tangan kanan Kiya memegang pisau sementara tangan kirinya bersenjata pistol.
__ADS_1
"Kalian pilih yang mana, pistol atau pisau? Hahaha..." Kiya seperti telah kehilangan akal.
"Kiya, kamu bisa melukai aku. Tapi jangan lukai Mama mu sendiri," pinta Elisha.
"Tidak perlu sok baik. Kamu itu bukan putrinya, jadi tidak perlu berkorban untuknya," ucap Kiya.
"Jangan sakiti adik mu, Kiya. Mama mohon,"
Ibunya memohon dengan tulus. Hal itu makin membuat Kiya meradang. Ia mengarahkan pistol ke arah Elisha.
Dorrr... dorrr...
"Jangan... Akh..."
Tembakan yang seharusnya mengarah kepada Elisha, bersarang di dada ibunya sendiri. Ia telah menyelamatkan Elisha.
"Tidak, Mama..." teriak Elisha.
"Sayang, Sayang ada apa?" tanya ibu Kinan.
"Mama..." panggil Elisha.
Ternyata semuanya hanya mimpi. Elisha menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.
"Apa kamu mimpi buruk, Sayang?" tanyanya.
"Tidak Ma, aku hanya takut Mama meninggalkan ku," jawab Elisha.
"Oh so sweet... Mama tidak akan pernah meninggalkan mu. Cepatlah mandi, lalu kita sarapan. Kakak mu juga sudah menunggu di bawah,"
Elisha menuruti perintahnya dan bergegas mandi. Setelah selesai ia segera turun ke bawah. Ternyata benar, Kiya dan suaminya juga ada di sana. Ia menyapa semuanya dengan ramah.
"Ini Mama sengaja memasak makanan kesukaan Kinan, semoga kamu suka ya Sayang,"
"Terima kasih, Ma," ucap Elisha tulus.
Tring...
Kiya menjatuhkan sendok yang ia pegang. Elisha yang duduk di sampingnya berusaha menolong.
"Aku tahu kamu bukan Kinan. Lebih baik kamu secepatnya pergi dari sini, atau aku akan membuat mu hilang seperti Kinan," ancam Kiya, sangat lirih namun terdengar jelas di telinga Elisha.
__ADS_1