Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 39 Meninggalkan Keluarga Kinan


__ADS_3

"Sabar ya," hibur Elisha.


"Ternyata dia sudah pergi untuk selamanya, Dona. Kiya tega sekali kepadanya,"


Santo tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Air matanya terus saja mengalir menunjukkan kekecewaan serta kesedihannya.


"Kamu harus kuat. Sebentar lagi kamu harus menjelaskan semuanya kepada orang tua Kinan," ucap Elisha.


"Iya, kamu benar. Mereka pasti lebih terluka dan shock dari pada aku," balas Santo.


Malam itu juga, polisi menyisir tempat tersebut. Mereka menandai tempat itu dengan garis polisi. Mereka mulai menggali tempat yang di duga sebagai kuburan Kinan. Hutan yang tadinya sunyi kini menjadi ramai. Banyak orang yang datang untuk melihat proses evakuasi tersebut.


Dengan cepat berita ini menyebar. Banyak pers yang datang untuk meliput karena keluarga Kinan termasuk keluarga kaya di kota itu. Orang tua Kinan merasa tidak percaya dengan kabar yang beredar. Mereka segera menuju ke tempat kejadian perkara saat itu juga.


"Santo..." panggil mertuanya.


"Pa, Ma... maafkan aku yang tidak bisa menjaga Kinan,"


Santo bersimpuh di hadapan keduanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah dia Kinan?" ibu mertuanya memandang ke arah Elisha.


Santo membawa mereka ke dalam mobil. Ia menceritakan segalanya sembari menunggu polisi berhasil menemukan jasad Kinan.


Tagisan orang tua Kinan sangat menyayat hati setelah mengetahui kebenarannya. Bahkan ibunya nyaris pingsan karena terlalu shock. Hati ibu mana yang tidak terluka, putri kesayangannya telah di bunuh oleh saudarinya sendiri.


"Mengapa Kiya setega itu, padahal kami selalu berusaha untuk berbuat adil dan membahagiakan mereka berdua," ucap ayah mertuanya.


Kedua orang tua itu lemas, seakan sendi-sendi tubuh mereka patah. Tidak ada kekuatan yang tersisa selain air mata kesedihan. Mereka semakin terpuruk saat jasad Kinan berhasil di temukan. Ibunya berteriak histeris sebelum akhirnya pingsan dan di larikan ke rumah sakit.


☆☆☆


"Saatnya aku pergi, kembali ke kehidupan ku sebelumnya,"


Elisha menatap kamar yang telah ia tempati beberapa hari terakhir ini. Semalam ia, Santo dan orang tua Kinan telah kembali ke rumah. Elisha tidak mengambil apa pun yang bukan miliknya. Ia hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhnya serta tas miliknya sendiri.


"Om, Tante... maaf jika kehadiran ku membuat kalian sedih. Aku juga minta maaf telah membohongi kalian," ucap Elisha tulus.


"Sayang, kamu tidak bersalah. Justru berkat bantuan mu semuanya bisa terungkap," ibu Kinan memeluk Elisha erat.

__ADS_1


"Tinggallah di sini, sekarang aku tidak punya siapa-siapa. Kinan sudah tiada dan Kiya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara,"


Tatapan penuh harap dari seorang ibu membuat hati Elisha iba. Namun ini bukan kehidupannya. Ia memiliki keluarganya sendiri.


"Maaf Tante, aku masih harus bertanggung jawab atas keluarga ku. Om dan Tante jangan kuatir, aku pasti akan mampir lagi," ucap Elisha.


Mereka tidak bisa menahan langkahnya. Bagaimana pun ia memang bukan keluarga mereka. Walau pun kehadiran Elisha sangat membuat mereka bahagia. Namun mereka sadar ia juga mempunyai keluarga yang tidak ingin di tinggalkan.


Elisha memutuskan pergi, setelah pemakaman Kinan selesai. Ia merasa sedih harus meninggalkan kedua orang tua Kinan yang telah sangat baik terhadapnya. Tapi hidupnya harus terus berjalan. Ibu Kinan memberikannya beberapa barang berharga milik Kinan yang tidak dapat Elisha tolak. Ia menerimanya demi menghargai perasaan mereka berdua.


☆☆☆


"Sisa pembayarannya sudah aku transfer. Terima kasih atas semua bantuan mu selama ini," ucap Santo.


"Sama-sama. Semangat ya, cepat atau lambat kebahagian pasti menyertai orang baik seperti diri mu," balas Elisha.


Ia melambaikan tangannya kepada pria itu. Mobil semakin menjauh dari rumah megah tersebut menuju tempat kos Elisha.


"Akh... aku rindu sekali," teriak Mita dan Mirna bersamaan.


Ketiganya berpelukan, menumpahkan segala kerinduan yang membuncah di dalam hati mereka.


☆☆☆


Sebenarnya ia tidak ingin protes, hanya saja ia melihat suaminya berbeda akhir-akhir ini. Doni semakin memperhatikan penampilannya. Ia bahkan membeli parfum dan baju baru untuk di pakainya kerja. Naluri kewanitaannya terusik melihat tingkah aneh suaminya itu.


"Aku masih butuh modal agar nasabah percaya kepada ku. Aku butuh memperbaiki penampilan, jadi sementara aku tidak bisa memberi mu uang," jawab Doni.


"Apa harus seperti itu? Aku lihat teman mu itu biasa saja, Mas,"


"Apa kamu mulai meragukan ku? Bukankah setiap pulang kerja aku langsung pulang, kenapa masih saja curiga?" Doni mulai emosi.


"Tapi, Mas..."


"Sudahlah, aku mau berangkat,"


Doni mengendarai motornya menuju kantor. Istrinya tidak tahu jika ia sedang mendekati seorang wanita yang bernama Nela. Ia sudah dua kali mengajak wanita tersebut makan siang. Doni tak pernah belajar dari kesalahan. Bahkan pagi ini, ia menyempatkan diri bertemu dengan Nela di jalan.


"Mas Doni, kenapa ingin bertemu dengan ku di sini?" tanya Nela.

__ADS_1


"Aku tidak sabar untuk memberikan sesuatu untuk mu,"


Doni mengeluarkan sebuah kado dari dalam tas kerjanya. Ia memberikannya kepada wanita tersebut.


"Apa ini, Mas?" tanya Nela.


"Kamu buka saja nanti. Aku akan menjemput mu saat makan siang," jawab Doni.


Setelah itu keduanya berpisah menuju ke kantor masing-masing. Wawan yang mengetahui hal itu dari kejauhan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu.


"Sudah punya satu masih saja kurang, Doni... Doni," gumam Wawan.


☆☆☆


"Alhamdulillah, semuanya sudah selesai ya Jali,"


Bu Sariyati memandang warung yang telah berdiri dengan kokoh di depan rumahnya. Netranya mengembun, ada rasa haru menyelusup di dadanya.


"Iya Mbak, aku akan mulai berbelanja dan mencari agen yang murah dan mau mengirimkan barangnya kemari," balas Rojali.


"Kalau uangnya kurang kamu katakan pada ku ya. Tolong juga di catat semua pengeluarannya nanti," pintanya.


"Iya, tenang saja. Sebaiknya hari ini kita adakan syukuran, agar semua ini berkah,"


"Sudah pasti Itu, aku sudah belanja tadi kok," balas bu Sariyati.


Rojali mulai mencatat apa saja yang akan dia beli. Sementara kakaknya mulai sibuk memasak di dapur. Kali ini ia memasak cukup banyak karena akan mengundang saudara-saudara mereka yang berbeda kecamatan untuk datang.


"Wah kok bisa ya dia membuat warung dan berjualan sembako, padahal dia kan janda,"


Beberapa orang ibu-ibu mulai berbisik ketika lewat depan rumahnya. Bu Sariyati yang tidak sengaja mendengar justru mengajak mereka mampir.


"Ibu-Ibu, nanti sehabis ashar bisa datang ya. Kebetulan saya mengadakan syukuran kecil-kecilan," undang bu Sariyati.


"Wah, baru bekerja sebentar Elisha sudah banyak uang ya Bu. Kerja apa memangnya?" tanya salah seorang dari mereka.


"Alhamdulillah, bosnya sangat baik hingga memberinya pinjaman besar dengan memotong gajinya setiap bulan," jawab bu Sariyati.


"Jaman sekarang tidak ada orang yang tulus, Ibu jangan terlalu naif. Coba tanyakan lagi, jangan-jangan kerjaan Elisha tidak benar di sana," sahut yang lainnya.

__ADS_1


Betapa tega ibu-ibu itu mengatakan hal buruk tentang putrinya. Bu Sariyati memilih masuk ke dalam rumah dan tidak menanggapi mereka.


__ADS_2