
Seminggu kemudian.
Elisha senang, seminggu ini tidak ada tamunya yang kurang ajar. Mereka bisa menghargai prinsipnya walau pun ia hanya seorang pekerja malam. Ternyata orang-orang di dunia malam tidak seburuk yang ia pikir. Tadinya dirinya menyangka hanya Mita dan mami Naya yang baik. Namun nyatanya di luar saja juga banyak yang seperti mereka.
"Mita, aku ingin membeli baju agar tidak sering pinjam punya mu," ucap Elisha.
"Boleh banget, aku juga mau beli," balas Mita.
"Bukannya baju mu sudah banyak ya?" tanyanya heran.
"Itu kan sudah lama Dona, aku butuh baju baru juga dong," jawab Mita sembari mengerling ke arah Elisha.
"Ya sudah, kita sarapan dulu sebelum berangkat,"
Elisha menyiapkan masakan yang ia buat tadi. Tumis kangkung, peyek udang, tempe dan tahu goreng serta ayam goreng tepung.
"Masakan mu memang tidak pernah zonk, mantap jiwa..." puji Mita sembari mengacungkan kedua jempolnya.
"Ya sudah, makan yang banyak kalau kamu suka,"
Elisha mengambilkan nasi dan segala rupa untuk sahabatnya lagi.
"Sudah, sudah Dona. Sudah cukup, nanti badan ku gendut. Begini saja aku sudah kalah saing dengan mu apalagi kalau aku semakin gendut," kelakar Mita.
"Hahaha... Ada-ada saja kamu, Mita. Kamu saja termasuk top five kok merendah begitu," Elisha mentowel lengan sahabatnya itu.
Bekerja di hiburan malam pun harus punya attitude. Mereka berdua termasuk yang punya attitude yang baik, jadi tak salah jika para tamu menyukainya.
☆☆☆
Sudah beberapa hari ini Doni mengurung diri di kamar. Ia sangat kecewa karena rencana pernikahannya yang harus tertunda. Hasratnya sudah di ubun-ubun, tapi kini justru terhalang restu keluarga calon mempelainya.
Bagaimana caranya ia mendapatkan surat cerai, sementara dirinya saja tidak berani bertemu Elisha apalagi dengan keluarganya. Ia merasa sangat putus asa. Semua komunikasi dengan Indah telah di blokir keluarga gadis itu, sampai dirinya menunjukkan surat cerainya.
Tiba-tiba terlintas ide gila di dalam benaknya. Sepertinya ia mulai kehilangan akal sehingga urat malunya telah putus dengan memikirkan ide tersebut. Ia tidak pernah belajar dari kesalahan.
"Aku harus menemui Indah," ucapnya.
Ia mengendap-endap keluar dari kamar. Setelah di rasa aman, ia keluar rumah perlahan. Tak lupa Doni mengenakan jaket dan memakai topi untuk menyamarkan dirinya. Ia sudah tak ubahnya seperti anak ABG yang sedang di mabuk cinta.
"Rumahnya sepertinya sepi, orang tuanya pasti sedang bekerja," ucap Doni.
__ADS_1
Dia tahu betul hari ini biasanya gadis itu libur bekerja. Ini adalah kesempatan untuknya agar bisa bertemu. Ia mengendap-endap masuk ke dalam rumah Indah.
"Mas Doni... Kenapa kamu di sini?"
Indah sangat terkejut melihat penampakan kekasihnya berada di kamarnya. Ini sangat tidak pantas. Orang-orang akan semakin salah paham jika melihat mereka seperti ini. Apalagi jika sampai ketahuan orang tuanya, mereka pasti akan sangat marah.
"Aku rindu pada mu, apa kamu tidak merindukan aku?" Ia duduk di dekat Indah.
"Aku juga sama. Tapi tidak seperti ini caranya, orang tua ku bisa marah kalau sampai tahu," Indah merasa ketakutan.
"Sayang, bujuklah keluarga mu untuk segera menikahkan kita. Aku sudah tidak sabar untuk memiliki mu," rayu Doni.
Tanpa aba-aba ia mem@gut bibir Indah seperti singa sedang kelaparan. Awalnya gadis itu menolak. Namun karena memang mencintai pria itu, ia pun pasrah dan mulai menikmati. Ciuman pun berubah menjadi lum@tan yang memabukkan. Keduanya hanyut dalam nafsu dan cinta. Hingga tak sadar jika ada yang datang.
"Hei, apa yang kalian lakukan," teriak ayah Indah.
Keduanya sangat terkejut dan ketakutan.
"Bapak, ini tidak seperti yang kalian kira..." ucap Indah.
"Apa kamu kira bapak mu ini bodoh, aku bisa melihat dengan mata kepala ku sendiri," tegas ayahnya.
"Tutup mulut mu Doni, bisa-bisanya kamu menodai harga diri putri ku. Keluar kau!"
Ayah Indah menyeret Doni keluar. Tidak sampai di sana, ia menyeret pria itu hingga sampai ke depan rumah orang tuanya. Tidak peduli tindakannya mengundang perhatian banyak orang.
☆☆☆
Elisha dan Mita berbelanja dengan riang. Mita menunjukkan toko baju dengan kualitas lumayan bagus tapi harganya sedikit miring. Mereka membeli beberapa baju dinas serta pakaian sehari-hari.
"Mita, ini uang mu. Maaf ya aku baru bisa mencicil segini,"
Elisha memberikan uang 2 juta rupiah kepada sahabatnya. Seminggu ini selain uang 3 juta dari Arman tempo hari, ia tidak terlalu menerima banyak tip. Tapi dia sudah sangat bersyukur tadi bisa mengirim ibunya sebesar 1 juta. Ia harus bisa membagi penghasilannya agar hutangnya cepat lunas. Walau pun ia merasa mulai nyaman, ia masih ingin mencari pekerjaan yang halal.
"Astaga, pakai saja jika masih butuh. Aku masih ada simpanan kok," ucap Mita.
"Tidak apa-apa, aku juga masih cukup kok," balas Elisha.
Karena Elisha memaksa, ia pun menerimanya.
"Loh, itu kok seperti Mirna ya," Elisha melihat sosok yang di kenal nya tak jauh dari tempat mereka.
__ADS_1
"Mirna..." panggil Elisha.
Benar saja, gadis itu menoleh. Keduanya bertatapan sejenak sebelum akhirnya bangkit dan saling menghampiri.
"Elisha..." Keduanya berpelukan sangat erat.
"Mirna, maafkan aku. Ponsel ku hilang saat turun dari bus waktu itu," jelasnya.
Mirna menggelengkan kepala dan menyeka air mata sahabatnya itu.
"Aku tahu pasti sesuatu terjadi pada mu. Aku percaya pada mu, Elisha,"
Pertemuan keduanya membuat haru semua mata yang memandang. Elisha kemudian mengenalkan Mirna kepada Mita. Mereka mengobrol bersama.
"Jadi kamu sudah bekerja, Mirna?" tanya Elisha.
"Iya, alhamdulillah mulai nanti malam," jawab Mirna.
"Alhamdulillah, kerja di mana?" tanya Elisha lagi.
Mirna diam sejenak.
"Di salah satu kafe di kota ini,"
Setelah beberapa lama mengobrol mereka harus segera pulang karena hari semakin sore. Mereka telah bertukar nomor telepon dan memberi tahu alamat masing-masing, sebelum berpisah.
☆☆☆
Hari ini Elisha merasa sangat bahagia. Tubuhnya terasa segar setelah berbelanja, apalagi ia bertemu orang yang sudah berjasa di dalam hidupnya. Ia juga sangat bersyukur Mirna mendapatkan pekerjaan yang lebih baik darinya.
"Dari tadi kok senyum-senyum terus sih," ucap Mita yang sejak tadi memperhatikan Elisha.
"Aku senang bisa bertemu Mirna. Aku juga senang hidupnya lebih baik dari ku. Rasa bersalah ku semakin berkurang saat ini," balas Elisha.
"Aku juga ikut senang untuk kalian berdua. Melihat kalian tersenyum bahagia, aku ikut terharu," ucap Mita tulus.
"Kamu dan Mirna adalah sahabat terbaik dalam hidup ku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa melupakan kebaikan kalian,"
Keduanya berpelukan sangat erat.
Terkadang orang lain bisa lebih baik dan tulus kepada kita. Memberi tanpa mengharapkan balasan. Orang seperti itu sangatlah berharga.
__ADS_1