
"Mirna... tunggu," panggil Dion.
Mirna terus saja berjalan, sama sekali tidak mengindahkan Dion yang dari tadi memanggilnya. Ia terus saja menangis dan menghindar. Ia merasa kecewa dan di khianati. Walau ia hanya seorang pekerja malam, namun ia sama sekali tidak pernah berbuat macam-macam.
Ia mengenal minuman juga karena di tempat itu. Ia juga tidak pernah punya perasaan terhadap pria selain kepada Dion. Bisa di bilang pria itu adalah cinta pertamanya.
"Tunggu, Mirna..."
Dion berhasil menggapai tangannya. Ia menariknya mendekat, hingga tubuh mereka tidak ada jarak. Mirna memandang pria itu dengan masih berlinang air mata. Sementara Dion menatapnya dengan tajam.
"Mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini?" tanya Dion.
"Memangnya apa yang aku perbuat pada mu?" teriak Mirna.
"Kamu masih bertanya? Kenapa kamu tidak menemui ku dan justru memilih pria tua itu?" tanya Dion dengan kesal.
"Untuk apa aku kesana? Untuk melihat mu yang bermesraan dengan wanita lain, iya?" tatapan Mirna menantang.
"Wanita siapa? Oh... kamu salah paham. Wanita itu memang menggoda ku, tapi aku tidak tertarik sama sekali," jelas Dion.
"Yang benar, apa penglihatan ku sudah bermasalah hingga tak bisa membedakan mana yang benar,"
Mirna mengalihkan pandangannya. Ia memang belum berpengalaman tentang cinta. Namun ia bisa membedakan mana pria yang serius atau hanya main-main saja.
"Baik, kalau kamu tidak percaya,"
Dion menggeret Mirna menuju tempatnya tadi. Di sana banyak teman-temannya juga para gadis yang menemaninya. Termasuk gadis yang menggodanya tadi.
"Lepaskan aku," pinta Mirna.
"Semuanya, dengarkanlah. Wanita ini adalah kekasih ku. Aku mencintainya. Jangan pernah goda aku, karena aku hanyalah miliknya,"
Dion membuat sebuah pengumuman dan mendapat sorak sorai dari semuanya. Mirna masih terkejut dan merasa tak percaya. Pria itu baru saja mengumumkan hubungan mereka. Apakah itu artinya pria itu benar-benar serius?
Mirna melunak, ia merasa terharu. Ia menurut ketika Dion membawanya menjauh dari keramaian. Mereka memesan ruangan sendiri.
☆☆☆
Malam semakin pekat. Suasana semakin sunyi dan sepi. Elisha belum juga bisa memejamkan mata. Ia masih terus saja belajar menjadi Kinan. Sebuah pekerjaan yang membuatnya berpikir lebih keras. Ia harus melakukannya dengan sempurna.
"Kenapa susah sekali sih, menghafalkan nama dan wajah orang-orang yang ia kenal," gumam Elisha.
Ia menutup nama orang di foto, kemudian mencoba menebaknya. Hasilnya beberapa kali ia salah. Akhirnya ia memutuskan mengirim pesan kepada Santo, meminta tips untuk menghafalnya.
[Tidurlah Dona, kamu lanjutkan besok saja. Aku tidak ingin kamu sakit karena begadang. Selamat malam.]
Bukannya menjawab, Santo justru menyuruhnya tidur. Padahal bukannya ia tak ingin tidur, tapi matanya tak mau terpejam. Akhirnya ia memilih berjalan di kamarnya, mengamati semua yang ada di sana.
Ia menemukan foto seorang wanita bersama Santo. Mereka sangat mesra dan sepertinya sangat bahagia. Wajahnya mirip sekali dengannya. Itu pasti Kinan. Penampilannya sederhana tapi sangat menarik. Elisha juga menemukan sebuah kotak perhiasan berisi kalung dengan liontin berinisial huruf K.
"Ini pasti juga milik Kinan," ucap Elisha.
Elisha mencobanya. Cantik dan sangat pas ia pakai. Elisha terpesona melihatnya.
__ADS_1
"Tolong aku, Elisha... tolong aku..."
Sebuah suara tiba-tiba muncul. Bulu kuduk Elisha meremang, ia ketakutan dan mundur menuju kasur.
"Tolong aku..."
Suara itu masih menggema di ruangan itu.
"Kamu siapa? Pergilah, jangan ganggu aku,"
Elisha meringkuk di tepi tempat tidur. Ia menutupi wajahnya dengan bantal.
"Jangan takut, aku tidak akan mengganggu. Aku hanya ingin minta tolong,"
Sesosok wanita mirip dengannya muncul di hadapannya. Rambutnya tergerai panjang ke belakang. Ia memakai gaun berwarna putih. Ia tersenyum kepadanya.
"Apakah kamu Kinan? Apa yang bisa aku bantu?"
Tadinya ia ketakutan, karena merasa ada hantu di kamar itu. Namun karena wujudnya cantik dan sama sekali tidak menyeramkan, Elisha tidak merasa takut lagi. Ia justru mendekatinya.
"Tolong kuburkan jasad ku dengan layak," pinta Kinan.
"Apa? Jasad?"
Elisha merasa tidak salah dengar. Wanita ini tadi menyebut jasad ku. Apa itu berarti jika dirinya sudah meninggal?
Elisha ketakutan, ia mundur beberapa langkah. Namun sosok itu justru terus mendekat.
"Tidakkk, jangan mendekat! Pergilah!" usir Elisha.
Ia terus saja mundur hingga menatap kasur dan terjatuh.
"Tidak, jangan ganggu aku..." Elisha terus meronta.
"Non, bangun Non..." bi Jum mencoba membangunkan Elisha.
"Non Kinan, bangun Non," ia menepuk-nepuk pipi Elisha.
"Akh..." Elisha terbangun.
"Bibi..." Elisha memeluk bi Jum.
"Non mimpi apa sampai berteriak-teriak begitu?" tanya bi Jum.
Elisha tidak menjawab dan justru memandang sekeliling. Ternyata hari telah berganti pagi. Ia tak yakin yang ia alami tadi itu nyata atau hanya sebuah mimpi. Ia melihat lehernya. Kalung itu masih tergantung di sana.
'Oh Tuhan, apakah tadi itu nyata?' batin Elisha.
"Non mandi dulu ya, lalu sarapan. Semua makanan sudah siap di meja makan," ucap bi Jum.
"Tapi Bibi di sini saja ya, kita ke bawah sama-sama," pinta Elisha.
Karena ia tahu majikannya tadi bermimpi buruk, bi Jum mengiyakan. Ia dengan sabar menunggu Elisha selesai mandi, lalu bersama-sama menuju meja makan.
__ADS_1
☆☆☆
"Tidak ada Elisha, sepi ya," ucap Mirna.
"Iya, makanya selama dia pergi kamu tinggal di sini saja," balas Mita.
"Tidak nyaman aku, takutnya mengganggu,"
"Mengganggu kenapa, Mirna? Apa jangan-jangan kalau tidur kamu mendengkur terus keluar air liur ya? Hahaha..." Mita meledek Mirna.
"Idih... ya tidaklah," Mirna mencubit perut Mita hingga ia merasa geli.
Keduanya terus saja bercanda sampai akhirnya mereka terdiam, karena mengingat Elisha.
"Dona sedang apa ya? Kenapa ia sama sekali tidak memberi kabar ya?" tanya Mirna.
"Apa kita coba saja menghubunginya?" Mita memberi ide.
"Apa tidak mengganggu? Takutnya dia sedang sibuk atau malah sedang menyamar menjadi Kinan,"
Keduanya merasa ragu. Namun karena merasa kuatir keduanya nekad menghubungi nomor Elisha.
Tut... tut... tut...
Tersambung namun tidak di angkat. Mereka semakin kuatir.
"Kenapa tidak di angkat ya? Aku jadi berpikir yang macam-macam," ucap Mirna.
"Apa dia memberi tahu di mana ia tinggal?" tanya Mirna.
Mita menggeleng. Ia sama sekali tidak tahu. Bahkan Elisha pun tidak tahu akan di bawa kemana malam itu.
"Maafkan aku ya, harusnya aku tanya kepada sopirnya waktu itu," Mita merasa bersalah.
"Lalu kita harus bagaimana jika begini?"
Mirna merasa bingung.
"Coba telepon sekali lagi," titah Mirna.
Mita mencoba menghubungi lagi.
nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan.
Suara operator yang menyahut. Itu berarti nomor Elisha sekarang sedang tidak aktif atau tidak ada sinyal.
"Kenapa tiba-tiba tidak bisa, padahal tadi kan tersambung," ucap Mirna.
"Apa Elisha sedang dalam bahaya ya?" Mita sangat kuatir.
"Apa sebaiknya kita lapor polisi saja?" tanya Mirna.
"Iya, sebaiknya begitu. Ayo..." ajak Mita.
__ADS_1