
Doni yang tidak tahu kejadian tadi pagi di rumahnya, masih tenang-tenang saja. Ia bahkan tanpa merasa bersalah masih bermesraan dengan Nela di tempat umum. Menggenggam dan mencium tangan wanita itu tanpa rasa malu, walau tatapan orang-orang banyak ke arah mereka. Seolah keduanya sedang di mabuk asmara. Serasa dunia milik berdua, yang lain hanya ngontrak.
"Jadi, Mas Doni akan segera bercerai?" tanya Indah.
"Iya... setelah itu kita akan bebas," raut wajahnya terlihat bahagia.
"Apa Mas Doni serius dengan ku?" wanita itu mulai bermanja.
"Apa aku akan sampai bercerai dengan istri ku jika aku tidak serius?" Doni mulai menggombal.
Perasaan Nela sangat bahagia. Entah apa yang ia harapkan dari hasil merebut suami orang. Meskipun wajah Doni memang lumayan tampan, namun dia jauh dari kata mapan. Padahal dirinya termasuk wanita yang matrealistis. Selama ini memang Doni yang selalu mengeluarkan uang ketika mereka makan atau sekedar berjalan-jalan. Sekali pun Nela tak pernah mau rugi. Itu mengapa belakangan Doni tidak memberi istrinya nafkah dengan layak.
"Kemarin aku melihat sebuah tas yang cantik sekali saat pergi ke mall, tapi sayang tidak bisa beli," wajah Nela di buat sedih.
"Tenang, besok kita beli ya," ucap Doni, enteng.
"Benar, Mas?" Netra Nela langsung berbinar.
"Iya, apa sih yang tidak untuk kamu," gombal Doni.
Pendapatan Doni memang tidak banyak. Namun ia telah mengetahui trik agar mendapat tambahan uang. Ia mulai bekerja tidak sesuai dengan SOP perusahaan. Ia sembarangan mencari nasabah tanpa melihat sesuai atau tidak dengan kualifikasi perusahaannya. Yang penting ia bisa memotong uang pinjaman lebih dari administrasi biasanya. Walau hanya puluhan ribu jika di kalikan dalam sehari hasilnya cukup besar.
☆☆☆
[Hai Elisha... bisakah aku mengajak mu makan malam? Daniel.]
Sebuah pesan masuk ke ponselnya, dan berhasil membuat hatinya berdebar. Ia penasaran dari mana pria itu mengetahui nomor ponselnya, padahal ia tak pernah bertanya. Ia senyum-senyum sendiri membaca pesan tersebut.
[Boleh Om, jam berapa?]
Pesan balasan ia kirim tak lama kemudian.
"Kok senyum-senyum sendiri, pesan dari siapa?" tanya Mirna.
"Akh... ehm... itu, om Daniel mau mengajak makan malam," jawab Elisha gelagapan.
"Oh, pantas saja dia minta nomor mu. Sepertinya dia menyukai mu. Walau pun dia jauh lebih tua, tapi dia pria yang sangat baik," ucap Mita.
"Tidak mungkin dia menyukai ku. Walau pun ia sudah berumur, tapi dia masih tampan dan berduit. Dia bisa mendapatkan wanita berkali-kali lebih baik dari ku," Elisha tak mau besar kepala.
__ADS_1
"Cinta itu tidak mengenal waktu dan usia, Don. Kita tak bisa memilih kepada siapa hati kita akan tertaut. Siapa tahu dia adalah jodoh mu,"
Deg...
Perasaan Elisha semakin tak karuan. Benarkah ada pria yang akan tulus mencintainya? Menerima segala kekurangannya tanpa kata tapi? Ia masih merasa trauma dengan pernikahannya yang gagal. Apalagi ada dua orang anak yang turut ia pikirkan kebahagiaannya saat ini.
"Entahlah Mita, aku jalani saja seperti air mengalir," ia memandang jauh ke depan.
"Yang penting jangan menutup hati untuk orang yang ingin mendekati mu," pesan Mita.
"Aku sih sudah merasakan surga dunia, justru kamu yang belum. Jangan cari uang terus, carilah jodoh juga, hehe..." seloroh Elisha membuat Mita langsung kena mental.
"Cari sih sudah, tapi memang jodohnya belum datang, hahaha..."
Keduanya tertawa lebar, menertawakan nasib mereka sendiri.
☆☆☆
"Mas, aku ingin bicara dengan mu," ucap Daren serius.
Dion melirik Mirna, setelah wanitanya mengangguk ia pergi menjauh bersama Daren.
"Bukan itu Mas, perusahaan baik-baik saja. Ini tentang calon istri mu," wajah Daren tampak serius.
"Calon istri ku? Memangnya ada apa?" Dion penasaran.
"Aku takut Mas akan terkejut jika aku mengatakannya," Daren terlihat ragu.
"Katakan saja," paksa Dion.
"Sebaiknya Mas jauhi dia, masih banyak wanita di luaran yang lebih baik. Dia bukan gadis baik-baik, Mas," jelas Daren.
Mirna menatap keduanya dari kejauhan, perasaannya tidak nyaman. Mereka terlihat serius berbicara. Namun jarak menghalanginya untuk mencuri dengar obrolan mereka.
"Apa maksud mu?" rahang Dion mengeras, terlihat ia mulai emosi.
"Dia itu wanita malam, Mas. Setiap malam pekerjaannya menemani pria hidung belang minum-minum di klub, aku beberapa kali melihatnya," bisik Daren.
Dion menghela napas kasar. Ia tak menyangka sepupunya mengetahui hal ini.
__ADS_1
"Aku sudah tahu itu dan tetap mencintainya," ucap Dion tenang.
"Apa?" Daren terperangah sampai tak bisa berkata-kata.
"Kamu cukup tahu saja, jangan katakan hal itu kepada siapa pun," titah Dion.
"Apa Mas sudah gila, om dan tante pasti kecewa jika tahu ini semua," ucap Daren.
"Mereka tidak akan tahu, jika kamu tidak pernah bercerita!" tegas Dion sebelum meninggalkannya.
Dion menggandeng tangan kekasihnya untuk pergi. Mirna yang tak tahu apa-apa, berpamitan kepada Daren dengan tersenyum ke arahnya. Pria itu salah tingkah, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
'Aku tahu kamu wanita baik, walau pekerjaan mu tidak baik. Aku akan selalu memperjuangkan mu' batin Dion.
☆☆☆
"Don, tadi ada polisi yang mencari mu," ucap Wawan.
"Polisi mencari ku? Ada apa?" Doni terlihat bingung.
"Mereka tidak mengatakan apa-apa saat aku bertanya. Mungkin kamu punya masalah," jawab Wawan.
Ia memang tak tahu mengapa polisi mencari Doni. Mereka tidak menjelaskan apa pun. Saat tahu Doni berada di lapangan dan belum pulang, mereka pergi begitu saja.
"Aneh... aku merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. Dari tadi aku bekerja dengan benar," padahal ia merasa kuatir tindakan curangnya telah ketahuan.
"Ya sudah, aku pulang duluan,"
Wawan meninggalkan dirinya yang tinggal sendiri di kantor. Ia memang pulang terlambat karena sedang kejar setoran agar bisa membelikan tas idaman wanita pujaannya. Setelah mengerjakan laporan hari ini, ia bergegas pulang.
Dalam perjalanan tiada henti ia bersiul dan bernyanyi. Ia senang besok akan pergi dengan Nela ke mall. Hatinya berbunga-bunga. Namun senyumnya memudar ketika melihat mobil polisi berada tak jauh dari rumahnya. Di dalam rumahnya terlihat beberapa orang yang sedang berbicara. Ada orang berseragam polisi di sana.
Perasaannya mendadak gelisah, ia ingat cerita temannya tadi tentang polisi yang mencarinya. Dengan sedikit takut ia memberi salam dan masuk ke dalam rumah.
"Akhirnya kamu datang juga, Don. Mereka datang mencari mu," ucap ibunya dengan suara sedikit bergetar.
"Ada apa ya, Pak? Seingat saya, saya tidak membuat onar," tanya Doni.
"Keluarga Indah telah melaporkan saudara Doni atas tuduhan perselingkuhan, untuk lebih jelasnya silahkan ikut kami ke kantor,"
__ADS_1
Matanya membulat, ia tak percaya hal seperti itu bisa sampai di laporkan ke polisi.