Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 19 Kesedihan Yang Mendalam


__ADS_3

"Aku kenapa? Sepertinya tadi aku bermimpi," guman Elisha.


Di pegangnya kepalanya yang terasa pusing dengan pandangan sedikit kabur.


"Syukurlah kamu sudah sadar, aku hampir membawa mu ke rumah sakit," Mita memeluk sahabatnya dengan erat.


"Bagaimana keadaan mu saat ini?" tanyanya.


"Kepala ku sedikit pusing," jawab Elisha.


Matanya menyipit, ia berusaha mengingat apa yang tadi terjadi.


"Sepertinya tadi aku bermimpi buruk tentang orang tua ku, aku harus segera menghubungi mereka," imbuh Elisha.


Mita menarik tangan sahabatnya, tepat saat ia akan mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas. Ia kembali memeluk Elisha dan mengelus punggung wanita itu.


"Sabar ya Don, semua sudah ketetapan Allah. Sebaiknya kamu pulang, aku akan menemani mu," ucap Mita.


Elisha berusaha menyimak kata-kata temannya, namun tetap belum mengerti. Apa yang terjadi tadi di anggapnya hanya mimpi buruk saja.


"Aku tidak mengerti maksud mu, kenapa aku harus pulang? Aku harus tetap bekerja untuk membayar hutang ku,"


Elisha menatap Mita dengan penuh tanda tanya.


"Apa kamu lupa dengan yang terjadi tadi?" tanya Mita.


"Kejadian apa?" tanya Elisha terlihat bingung.


"Tadi kamu bicara di telepon dengan ibu mu, ayahnya meninggal saat operasi. Apa kamu tidak ingat?"


Elisha tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka apa yang di sangkanya hanya sebuah mimpi buruk ternyata adalah kenyataan. Air matanya mulai mengalir menganak sungai. Perasaannya sangat hancur. Pengorbanannya terasa sia-sia belaka.


"Kenapa ini terjadi kepada diri ku, Mita? Kenapa? Hiks, hiks..."


Elisha terus menangis, pilu. Sementara Mita hanya bisa menghibur sahabatnya itu. Ia sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya kepada Elisha. Ia sangat mengerti kesedihan Elisha saat ini.


"Sabar, Dona. Mungkin ini adalah yang terbaik untuk beliau. Tuhan lebih sayang kepadanya. Sekarang beliau sudah tidak akan merasakan rasa sakit lagi," Mita mengelus rambut Elisha penuh kasih sayang.


"Sekarang kita doakan beliau, agar di lapangkan kuburnya. Lalu kita bersiap-siap berangkat ke kota mu. Aku akan membantu mu berkemas," imbuh Mita.

__ADS_1


Elisha menyeka air matanya. Walau ia merasa sangat terpukul, tapi yang di katakan sahabatnya adalah benar. Ayahnya tidak akan merasakan sakit lagi dan akan tenang hidup bersama penciptanya.


Ia lantas pergi ke kamar mandi untuk berwudhu'. Ia gelar sajadah yang sudah beberapa waktu sempat terlupakan. Ia lakukan kewajibannya sebagai seorang hamba. Berdzikir dalam linangan air mata.


☆☆☆


"Mi, aku dan Dona akan izin untuk beberapa hari. Ayah Dona meninggal saat operasi," Mita menelepon mami Naya untuk meminta izin.


"Astaga, aku turut berduka cita ya. Tolong sampaikan salam ku. Kalian hati-hati di jalan ya," ucap mami Naya.


Setelah selesai meminta izin, mereka berdua bersiap menuju terminal. Dalam perjalanan, Mita tak henti menyemangati Elisha. Ia bersyukur sekali memiliki sahabat sebaik Mita di sisinya. Berkat dirinya ia masih bisa setegar ini menghadapi semuanya.


Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya mereka sampai di depan rumah Elisha. Banyak sekali orang di rumahnya walaupun hari telah malam. Ada bapak-bapak yang sedang tahlilan, sedang di belakang para wanita sedang sibuk memasak.


Mereka masuk lewat pintu belakang, yang tembus ke dapur. Air matanya kembali mengalir, semua orang yang mengenalnya memeluknya dan menghiburnya. Mita yang melihat pemandangan itu tak dapat menahan tangisnya juga.


"Elisha..."


Suara khas ibunya yang sangat di kenalnya membuatnya menoleh.


"Ibu... Hiks, hiks..."


Keduanya saling berpelukan, menangis tanpa bisa di bendung lagi.


"Iya, Bu tidak apa-apa. Kakak..."


Elisha kembali menangis ketika melihat semua saudaranya juga ada di sana. Kemudian ia memeluk kedua buah hatinya yang sangat di rindukannya. Suasananya saat ini penuh dengan kesedihan dan air mata.


Ia baru tahu jika sebenarnya ayahnya memang telah merasakan sakit sejak lama. Namun karena dirinya tidak mau membuat keluarganya kuatir maka di rahasiakannya dari mereka semua. Namun akhir-akhir ini penyakitnya semakin parah sehingga ia tidak dapat menutupinya lagi. Ketika keluarga tahu, semua sudah sangat terlambat.


Mereka sekeluarga sangat menyesal karena kurang peka dengan kondisi pak Darminto selama ini. Namun semua sudah tidak ada gunanya lagi sekarang. Hanya doa yang paling bermanfaat untuk orang yang telah tiada. Itu yang akan selalu mereka kirim sekarang sebagai tanda kasih sayang mereka.


☆☆☆


Malam semakin larut. Orang-orang yang tahlil dan membantu sudah pulang. Tinggallah keluarga inti saja di rumah itu. Mereka bercerita sembari menunggu rasa kantuk datang menyerang. Elisha memperkenalkan sahabatnya kepada seluruh keluarganya.


Keluarga Elisha sangat hangat, ia senang berada di antara mereka. Ia merasa berada di lingkungan keluarganya sendiri.


"Jadi kalian kerja apa di sana?" tanya Dina, kakak Elisha.

__ADS_1


Keduanya saling pandang, mereka lupa bersepakat tentang masalah ini. Rasa kehilangan yang mendalam membuat mereka lupa untuk membicarakannya. Keduanya saling memberi kode dengan tatapan.


"Oh itu Kak, kita kerja di tempat spa yang juga ada kafenya," jawab Elisha akhirnya.


"Oh iya, di sana tempat seperti itu sangat ramai dan laku sekali. Semoga kalian betah di sana ya," balas kakaknya.


Karena merasa sangat lelah, mereka semua kemudian memutuskan untuk segera beristirahat.


☆☆☆


Tiga hari kemudian.


Pagi-pagi sekali Elisha nyekar ke makam ayahnya untuk terakhir kali, sebelum kembali ke kota D. Ia di temani Mita mengaji beberapa saat di sana.


"Kamu harus kuat Elisha, masih ada ibu dan anak-anak mu yang harus kamu perjuangkan," hibur Mita.


Mita sudah tahu jika Dona hanyalah nama samaran. Ia juga tak mau keluarga Elisha menaruh tanda tanya karena ia memanggil dengan nama tersebut. Jadi selama di rumahnya ia memanggilnya dengan namanya yang asli.


"Tenang saja Mita, aku sudah mulai bisa menerima kenyataan ini. Mungkin ini sudah yang terbaik dari Allah untuk keluarga ku," balas Elisha.


Setelah selesai berdoa mereka berjalan beriringan menuju rumah. Mereka segera siap-siap. Mita memberikan uang bela sungkawa dari mami Naya atas kematian ayah Elisha.


"Kenapa mami repot-repot Mita, dia sudah sangat membantu ku walaupun pada akhirnya Tuhan berkehendak lain," ucap Elisha.


"Tidak apa-apa Elisha, kamu terima saja," Mita memberikan uang dalam sebuah amplop.


Mereka segera bersiap lalu menemui bu Sariyati untuk berpamitan.


"Bu, Kak, aku minta maaf ya tidak bisa tinggal terlalu lama. Aku harus segera bekerja karena aku juga masih baru di tempat itu," ucap Elisha merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Nak. Ibu Tahu kamu harus bekerja demi melunasi hutang uang yang kamu kirim untuk bapak tempo hari," balas ibunya.


Elisha memberikan amplop pemberian mami Naya.


"Apa ini, Nak?" tanya ibunya.


"Ini dari bos ku, Bu. Ia ikut berbela sungkawa atas kematian bapak," jawab Elisha.


Bu Sariyati membukanya. Ia terkejut melihat jumlahnya yang cukup banyak.

__ADS_1


"Subhanallah, bos mu baik sekali ya. Semoga kalian betah kerja di sana, agar tidak pindah-pindah lagi," doa ibunya.


Ia dan Mita hanya bisa berpandangan. Seandainya saja ibunya tahu, akh...


__ADS_2