
Malam ini Elisha tak bisa tidur, walau pun waktu sudah melewati tengah malam. Ia hanya bisa memandang temannya yang telah bermimpi indah. Ingin seperti itu, tapi hatinya terlalu gelisah. Ucapan Daniel tadi telah membuatnya cemas. Ia takut dirinya terlalu percaya diri dalam mengartikan kata-katanya.
Mengapa dia tak ingin aku pergi dari sini? Apakah itu berarti dia mencintai ku? Atau dia hanya merasa iba dengan takdir ku? Berbagai tanda tanya hadir dalam benaknya. Seharusnya tadi ia memperjelas maksud pria itu, agar tidak ambigu. Agar dia tak salah mengartikan sikapnya.
"Dona... Kok kamu belum tidur?" Mita terkejut melihat Elisha menatapnya ketika tidur.
"Hehehe... entahlah mengapa aku tiba-tiba insomnia. Dari tadi mata tidak bisa terpejam," jawab Elisha.
Mita melirik jam di dinding. Waktu telah menunjukkan pukul 01.30 dini hari.
"Astaga, ini sudah hampir pagi. Istirahatlah, besok lagi saja memikirkan om Danielnya," ledek Mita.
Elisha terkejut, dia tak menyangka sahabatnya mampu menebak isi hatinya. Padahal dirinya tak mengatakan apa pun kepadanya. Mita memang paling mengerti perasaannya.
"Dia menyuruh ku untuk tetap tinggal di tempat ini," ucap Elisha.
"Tuh kan benar, dia menyukai mu," sahut Mita.
"Tapi dia tidak berkata seperti itu, Mita," kelak Elisha.
"Kamu itu lugu atau memang tidak paham sih. Sepertinya dia bukan tipe pria yang suka menggombal, makanya tidak pandai merangkai kata. Tapi maknanya ya itu tadi," Mita gemas melihat kepolosan sahabatnya.
"Masa iya sih," Elisha masih belum yakin.
"Ya sudah kalau tidak percaya. Teruslah memikirkannya, aku mau tidur dulu ya," ejek Mita sebelum akhirnya kembali bermimpi.
☆☆☆
Di tempat lain.
Dion mengusap kasar wajahnya. Ia merutuki Daren yang sudah membuat semua menjadi rumit. Ini pilihan yang sangat sulit baginya. Di satu sisi adalah orang tua yang sangat menyayangi dan dia sayangi. Di sisi lain ada wanita yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta.
"Apa yang harus aku lakukan?" ia merasa sangat bingung.
Di saat ia masih tenggelam dengan kebimbangannya, ponselnya berdering. Kekasihnya menelepon. Segera ia mengangkatnya.
"Halo Sayang, kok belum tidur?" tanyanya.
"Belum ngantuk, masih belum terbiasa tidur lebih awal. sayang ku kok juga belum tidur?" tanya Mirna.
"Iya, ini sedang banyak pekerjaan. Kamu istirahatlah, jangan terlalu lelah. Pertunangan kita sudah dekat, jagalah kesehatan," Dion menyimpan sakit saat mengatakannya.
Ia tak ingin melukai hati wanitanya. Namun ia juga tak mungkin menyakiti hati kedua orang tuanya. Ia sudah berusaha menjelaskan jika Mirna tak seburuk profesinya. Ia hanya berada dalam ruang dan waktu yang salah, sehingga terlihat tidak baik. Dion sadar ia tidak bisa memaksakan keadaan. Namun ia akan mencari solusi yang terbaik. Solusi yang sebisa mungkin tak menyakiti siapa pun.
__ADS_1
"Baiklah, kamu juga segera istirahat ya. Jaga kesehatan juga," balas Mirna.
Begitulah cinta di antara mereka. Manis namun sekarang berubah menjadi rumit.
☆☆☆
Indah sudah menetapkan hati untuk berpisah dengan suaminya. Karena mereka hanya menikah secara agama, ini tidak akan terlalu sulit bagi mereka. Walau ikhlas menerima semuanya, hatinya masih terluka. Ia sudah menyiapkan mental untuk menghadapinya. Setelah selesai bersiap, ia segera berangkat menuju rumah suaminya untuk menyelesaikan semuanya.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum," dengan lembut ia memberi salam.
Kedua mertuanya tampak terkejut dengan kehadirannya. Namun detik kemudian wajah mereka berubah sumringah. Mereka senang dan berharap kedatangan menantunya membawa kabar baik bagi hubungan keduanya.
"Doni... kemarilah, ini ada istri mu," panggil ibunya.
Sosok pria itu muncul dari balik kamar. Penampilannya sudah rapi, sepertinya ia telah bersiap untuk berangkat kerja. Wajahnya berubah masam, terlihat sangat tidak ramah. Padahal sebelumnya ia terlihat tidak bisa memilih. Namun sekarang, sepertinya ia telah menentukan pilihan. Dirinya lebih memilih wanita tersebut.
"Ada apa?" tanyanya, acuh.
"Aku datang ke sini untuk meminta ketegasan mu, Mas. Jika kamu memang memilih dia, tolong ceraikan aku," ucap Indah.
Walau pun masalah ini telah berlalu, namun tetap mampu membuatnya menangis. Hati wanita memang begitu lemah lembut.
"Doni, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah kehilangan akal?" Ayahnya memandangnya tajam.
"Seharusnya kamu itu sadar dan memperbaiki segalanya. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan agar tidak menyesal," imbuhnya.
"Dia yang meminta, jadi akan aku wujudkan," ucap Doni.
"Aku tidak akan pernah meminta jika saja kamu mau mempertahankan aku, Mas," sahut Indah.
"Aku mencintainya. Hari ini aku bebaskan kamu, aku talak kamu sesuai keinginan mu," ia mengatakannya tanpa rasa bersalah.
Cairan bening yang menggenang, kini tumpah ruah membanjiri pelupuk mata Indah. Mertuanya juga ikut menangis, mereka sangat menyesalkan keputusan terburu-buru oleh putranya itu. Pernikahan yang baru saja di mulai bahkan harus kandas di tengah jalan.
"Baik. Terima kasih. Aku minta maaf jika selama menjadi istri mu ada salah yang ku sengaja atau pun tidak. Aku ikhlas dan tidak akan menaruh dendam. Aku pamit,"
Indah bangkit dari duduknya. Setelah menyeka seluruh air mata yang mengalir, ia berpamitan kepada kedua mertuanya. Ibu Doni menangis, ia bisa merasakan kesakitan dan kesedihan yang mantan menantunya rasakan. Namun ia juga merasa tak berdaya, hanya mampu mendoakan untuk kebahagiaannya.
☆☆☆
Keesokan harinya.
__ADS_1
Bugh... bugh...
"Ini semua karena kamu!" serunya.
Bugh... bugh...
Beberapa pukulan mendarat mulus di beberapa bagian tubuh Daren. Ia tak membalas, hanya mencoba untuk melindungi dirinya.
"Sudah Mas, maafkan aku," pintanya.
"Semua gara-gara diri mu. Bukankah sudah aku katakan jangan katakan itu kepada siapa pun, mengapa kamu masih menceritakannya?" bentak Dion.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk mu, Mas," jawab Daren.
"Memangnya kamu Tuhan, yang tahu apa yang terbaik untuk ku. Kamu itu bukan siapa-siapa. Kamu bahkan tidak mengenalnya dengan baik," Dion berusaha menahan emosi.
Daren tertunduk. Ia tak menyangka jika semuanya menjadi seperti ini.
Bugh...
Sebuah bogem mentah melayang di dekat pelipisnya hingga membuatnya terhuyung.
"Sayang..." sebuah panggilan menghentikannya untuk memukul Daren lagi.
"Sayang, kok kamu di sini?"
Dion terkejut melihat kekasihnya ada di dekat kantornya, dan harus melihat itu semua.
"Iya, kebetulan tadi lewat jadi mampir. Kenapa kamu memukul Daren sampai seperti itu? Kasihan dia," Mirna menatap iba kepada Daren yang babak belur.
"Tidak apa-apa, hanya ada sedikit masalah. Ayo kita pergi," Dion menarik tangan kekasihnya untuk menjauh dari sana.
"Ini semua karena kamu..." ucap Daren.
Keduanya menghentikan langkah. Dion menatap tajam ke arah Daren sementara Mirna terlihat bingung.
"Karena aku? Kenapa kalian bertengkar karena aku?" tanya Mirna.
"Sudah jangan dengarkan dia, ayo kita pergi," ajaknya.
"Itu karena aku sudah tahu rahasia mu,"
Mirna menatap Daren masih belum paham.
__ADS_1