Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 11 Lari Lagi


__ADS_3

Elisha menyelinap perlahan, ia lari terbirit-birit pulang ke rumah Lavana.


"Bi, tolong sampaikan kepada Lavana jika aku pergi. Aku tidak ingin dia terlibat masalah," ucap Elisha sebelum pergi.


Cukup Mirna yang sudah ia libatkan dengan masalahnya, ia tidak ingin orang lain bernasib sama. Apalagi sampai sekarang dirinya juga belum tahu bagaimana kabar sahabatnya itu.


Elisha membeku, tatkala melihat Lavana sudah berada di halaman bersama bu Kiya. Ia lari ke belakang rumah, beruntung ada pintu belakang yang bisa ia gunakan untuk kabur.


"Silahkan duduk bu Kiya, saya ke belakang dulu," ucap Lavana.


"Ok, terima kasih," Kiya duduk di sofa.


Lavana segera mencari keberadaan pembantunya.


"Bi tolong buatkan tamu ku minum ya," titahnya.


"Baik Non,"


Bibi itu langsung membuatkan minum untuk tamu majikannya. Sementara Lavana yang sedang mencari keberadaan Elisha, tidak menemukannya di mana-mana.


"Bi, teman ku kemana ya? Apa dia tidak pulang ke rumah?" tanya Lavana.


Ia pun menceritakan kejadian tadi. Bibi pun memberi tahukan pesan yang di sampaikan Elisha tadi.


"Apa maksudnya ya? Kenapa dia pergi tiba-tiba dari salon tadi? Apa maksud pesan Elisha sebenarnya?"


Lavana di buat bingung dengan sikap Elisha. Namun tidak ada barangnya yang hilang sehingga membuatnya berpikir jika mungkin wanita itu sedang ada masalah.


"Silahkan di minum dan di makan kuenya, beginilah rumah saya," Lavana kembali menemui tamunya.


"Terima kasih. Kenapa tidak membeli rumah yang lebih megah, uang mu kan banyak?"


Kiya heran melihat rumah Lavana yang menurutnya sangat kecil.


"Saya kan hanya sendiri, rumah ini sudah lebih dari cukup," jawab Lavana.


"Oh iya, apakah temannya sudah ketemu?" tanya Kiya.


"Oh, dia sudah pulang ke rumah orang tuanya katanya,"


Entah kenapa Lavana merasa tidak perlu menceritakan tentang Elisha. Kiya datang untuk membicarakan tentang bisnis dengannya. Ia sama sekali tidak mengetahui jika Elisha tinggal bersamanya beberapa saat yang lalu.


Bisnis mereka memang banyak kesamaan sehingga Kiya tertarik untuk menjalin bisnis dengan Lavana. Mereka mulai membicarakan bisnis yang akan di rencanakan.


☆☆☆


Lagi-lagi Elisha harus melarikan diri dari tempat yang sudah membuatnya nyaman.


"Aku harus kemana lagi?" Elisha berjalan tak tentu arah. Ia berhenti ketika melewati sebuah masjid.

__ADS_1


"Lebih baik aku istirahat dulu di sini, bu Kiya tidak mungkin mencari hingga ke tempat ini," ucap Elisha.


Ia duduk bersandar di dalam masjid yang hanya ada beberapa orang yang juga terlihat sedang beristirahat dan shalat.


Elisha ternyata salah paham. Ia menyangka mantan bosnya datang ke rumah Lavana untuk mencarinya. Padahal dia kesana untuk tujuan bisnis. Kiya sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang ia cari ternyata sempat berada di dekatnya.


Karena merasa lelah, setelah shalat ia ketiduran dalam posisi duduk di teras masjid. Ia baru bangun saat suara adzan berkumandang. Setelah shalat, ia pergi ke warung untuk mengisi perutnya yang terasa lapar.


☆☆☆


"Pak, kenapa ya Elisha tidak bisa di hubungi? Kata Rojali nomor ponselnya selalu tidak aktif,"


Ibu Sariyati merasa sangat kuatir sekali, tidak biasanya putrinya bersikap seperti ini.


"Kita doakan saja ya Bu, semoga putri kita baik-baik saja," balas pak Darminto.


"Lebih baik kita coba telepon bu Siti saja, Pak. Siapa tahu dia tahu kabar Elisha,"


Pak Darminto setuju. Ia mulai menghubungi bu Siti dengan ponsel barunya. Setelah tersambung, ia memberikan ponsel tersebut kepada istrinya.


"Assalamualaikum, Bu,"


"Waalaikum salam, apa kabar Bu?"


"Alhamdulilah baik, bagaimana dengan bu Siti sendiri?"


"Alhamdulilah, saya juga baik,"


"Elisha? Dia sudah sebulanan tidak ke sini, kami hanya berbicara lewat ponsel saja. Terakhir sekitar 10 harian yang lalu," jawab bu Siti.


"Oh begitu ya. Perasaan saya tidak enak soalnya, takut dia kenapa-kenapa,"


Bu Sariyati memang sangat kuatir. Apalagi setelah tahu jika bu Siti juga tidak tahu persis keadaan putrinya sekarang.


"Kita doakan saja Elisha baik-baik saja ya, Bu. Nanti saya telepon jika ada kabar," ucap bu Siti.


"Iya, Bu. Terima kasih sekali, maaf sudah merepotkan,"


Setelah sedikit berbasa-basi, panggilan di akhiri.


"Bu Siti juga tidak tahu kabar Elisha sekarang, Pak. Aku sangat kuatir sekali, apalagi dua hari ini Jasmine sangat rewel. Mungkin itu sebuah pertanda,"


Keduanya menghela napas panjang. Mereka tidak tahu harus menanyakan kabar putrinya kepada siapa lagi.


"Sudahlah Bu, jangan terlalu di pikirkan. Sebaiknya kita terus berdoa saja supaya anak kita di jauhkan dari segala macam mara bahaya," sahut pak Darminto.


"Amin,"


☆☆☆

__ADS_1


Sore telah berganti petang. Masjid mulai sepi, jamaah mulai pulang satu persatu. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30. Hanya menyisakan beberapa orang bapak-bapak yang sedang membaca alquran.


"Aku harus tidur di mana malam ini ya? Apa sebaiknya aku minta izin tidur di masjid untuk malam ini?"


Elisha merasa bingung. Ia tidak nyaman mendapati dirinya sebagai wanita satu-satunya yang berada di masjid saat ini.


"Besok aku harus bisa bekerja apapun. Sekarang lebih baik aku ke warung membeli makan, sembari menunggu mereka selesai mengaji," ucapnya.


Elisha membawa tas menyusuri jalanan. Ia berhenti di warung pinggir jalan.


"Bu, pesan mie gorengnya satu ya," ucap Elisha.


"Pakai telur tidak, Neng?" tanya pemilik warung.


"Tidak perlu Bu. Sama teh hangat satu ya, Bu,"


Pemilik warung yang sudah separuh baya itu segera membuatkan pesanannya. Menit kemudian segelas teh hangat menyusul semangkok mie goreng telah siap di atas meja.


"Alhamdulilah, kenyang," ucap Elisha setelah semua beralih ke dalam perutnya.


"Neng darimana, kok ibu tidak pernah lihat? Bukan orang sini ya?"


Wanita itu menyapanya dengan ramah.


"Iya Bu, saya baru datang dari kota B. Sedang mencari pekerjaan di kota ini," jawabnya.


"Oh pantas saja. Mau cari kerja di mana, Neng? Di sini yang banyak itu tempat hiburan malam, restoran sama salon dan spa,"


Mereka terlihat berbincang beberapa saat. Setelah di rasa sudah mulai malam, Elisha segera membayar dan berpamitan.


"Elisha!"


Baru beberapa langkah keluar dari warung, ia mendengar namanya di panggil. Betapa terkejutnya ia ketika menoleh, mantan bosnya sudah berada sekitar 30 meter di belakangnya.


Tanpa banyak pikir, ia berlari sekencang-kencangnya. Ia melihat bu Kiya masuk ke mobilnya dan terus mengejarnya. Untuk menghindar ia segera masuk ke daerah ruko-ruko. Ia menyelinap ke sebuah tempat yang ia tidak pernah lihat sebelumnya. Lampunya temaram, berwarna warni silih berganti dengan suara musik yang berhasil memekakkan telinganya.


"Tempat apa ini? Kok seperti ini ya?"


Elisha melihat beberapa wanita dengan pakaian minim sedang berlalu-lalang.


"Hei sedang apa kamu di sini? Apa kamu orang baru?" sapa seseorang.


Bertepatan dengan seseorang menyapanya, ia melihat mantan bosnya juga masuk ke tempat itu.


"I-iya, Mbak," jawabnya gugup.


"Ya sudah, cepat sana ganti pakaian," titah wanita itu.


"Ganti pakaian?" Elisha merasa bingung, ia merasa pakaiannya tidak ada masalah.

__ADS_1


"Kiki, kemari. Ajari wanita ini, dia anak baru," ucap wanita tadi memanggil salah satu wanita berpakaian minim.


__ADS_2