Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 16 Semua Demi Bapak


__ADS_3

"Kamu yakin, Dona?" tanya Mita.


Elisha terdiam dan menunduk. Terlihat sekali dari raut wajahnya jika ia ragu dan terpaksa. Menit kemudian maniknya kembali menatap lurus ke arah temannya.


"Daun jatuh pun sudah di takdirkan Tuhan, dan... mungkin memang inilah takdir ku saat ini," jawab Elisha dengan rasa sedih yang tertahan.


"Pikirkanlah dulu, Don. Karena sekali kamu kamu berkecimpung di dunia malam, akan sangat sulit untuk melepaskan diri,"


Sejujurnya, Mita tidak ingin gadis polos ini menjadi seperti dirinya. Namun dirinya juga tidak mampu membantu masalahnya sepenuhnya.


"Akan aku lakukan semua untuk Bapak, untuk keluarga ku. Mereka sangat berharga melebihi diri ku sendiri, Mita,"


Getaran suara dalam kalimat yang ia ucapkan, menunjukkan seberapa besar sakit yang tengah ia rasakan. Kalau kata orang bagai makan buah simalakama, apa pun keputusan yang ia buat sama-sama beresiko. Demi kesembuhan bapaknya, ia rela melakukannya.


"Lebih baik kamu sekarang makan lalu istirahat. Kamu tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan, daripada nanti menyesal,"


Mita mencoba memberi saran.


"Tidak Mita, keputusan ku sudah bulat. Aku sedang di buru waktu, Bapak butuh operasi secepatnya. Tolong bantu aku untuk bekerja lagi di tempat mu,"


Elisha memegang tangan sahabatnya, memohon dan mengiba. Ada rasa tidak tega di hati Mita, namun pertemannya dengan Elisha membuatnya tidak sanggup untuk menjerumuskan gadis itu ke lembah hitam yang dalam. Tapi sepertinya ia tak punya pilihan, selain setuju.


"Baiklah, aku akan mengatakannya kepada mami Naya. Dia mami paling baik di tempat ku. Sekarang kamu jangan bersedih lagi ya,"


Mita membantu menyeka sisa-sisa kesedihan di manik indah Elisha.


☆☆☆


Malam harinya.


"Mita, apa kira-kira mami Naya mau meminjamkan uang 20 juta pada ku ya? Karena sepertinya tidak mungkin aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Maksudnya biar aku mencicil kepadanya begitu?"


Elisha sangat berharap sekali bisa mendapatkan uang itu secepatnya, kalau tidak nyawa ayahnya yang menjadi taruhannya. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi apa-apa terhadap ayahnya.


"Kamu bisa pakai tabungan ku yang 5 juta. Sisanya 15 juta kita akan coba meminjamnya. Mami Naya memang baik, tapi takutnya ia tidak punya uang sebanyak itu karena dia juga punya keluarga yang harus ia hidup," jawab Mita.


Keduanya termenung, mencoba mencari solusi yang terbaik.


"Sebenarnya aku sudah mencoba menghubungi om Daniel untuk meminta bantuan, tapi sayang nomor ponselnya selalu tidak aktif," ucap Mita.

__ADS_1


"Om Daniel yang waktu itu? Memangnya kamu punya nomornya?" tanya Elisha.


Mita mengangguk. Pria itu memang merupakan tamu langganannya di situ, jadi wajar ia memiliki nomornya. Apalagi Daniel memang pria yang sangat baik. Kehadirannya di klub malam tersebut murni hanya mencari hiburan, ia suka karaoke di sana.


"Iya, tapi sepertinya dia sudah ganti nomor. Beberapa hari ponselnya tidak bisa di hubungi,"


Mita menghela napas sejenak.


"Aku akan coba meminjam kepada mami dan teman-teman yang lain. Kamu berdoa saja ya, semoga semuanya cukup," imbuh Mita.


"Terima kasih ya Mita, kamu memang teman yang baik,"


Elisha memeluk Mita, ia merasa terharu sekali dengan kebaikan temannya itu.


☆☆☆


Beberapa saat kemudian.


Mulai hari ini, Elisha resmi bekerja di klub malam. Dan ini bukan suatu kebetulan lagi untuknya. Kali ini ia bekerja penuh kesadaran. Mita sudah memberi tahu maminya tentang hal ini.


"Dona, kamu bisa pilih baju yang ingin kamu pakai. Sementara ini kamu pinjam baju ku saja, jika semua masalah mu selesai nanti baru kamu bisa beli yang baru,"


"Aku pinjam ini saja ya, Mita," tunjuknya pada setelan rok tadi.


"Ya, itu pasti terlihat pas di tubuh mu," ucap Mita sembari tersenyum.


Karena hari masih belum terlalu malam, mereka memutuskan berdandan di kos saja. Mita membantu Elisha memoles dirinya.


"Bagaimana, aku mahir juga kan. Tidak kalah dengan Kiki yang waktu itu juga sempat membantu mu berdandan,"


Mita memuji hasil karyanya sendiri.


Elisha melihat pantulannya di cermin. Apa yang di ucapkan temannya memang benar, hasilnya terlihat memukau. Bahkan rasanya ia tak percaya jika wanita dalam cermin itu adalah dirinya. Ia terlihat bak artis yang sering bermunculan di tv.


"Kenapa kamu tidak pindah profesi sebagai MUA saja sih, kamu sangat berbakat," pujinya serius.


"Hahaha... kamu bisa saja. Ya nanti, jika kamu menikah lagi aku akan jadi MUA untuk pernikahan mu," balas Mita.


Keduanya pun tertawa. Entah itu serius atau hanya candaan, namun berhasil mengikis kesedihan yang tadi sempat tercipta.

__ADS_1


☆☆☆


"Jadi kamu yang namanya Dona?"


Wanita itu menatap Elisha sembari tersenyum. Ia melihatnya dari ujung kaki sampai rambut, seolah ingin menelanjangi dirinya.


"Dia ini Mami Naya, Don,"


Mita berhasil menjawab tanda tanya di hatinya.


"Iya Mi, aku Dona,"


Dengan malu-malu dan sedikit gugup ia menyalami wanita itu. Ternyata wanita itu sudah cukup tua, pasti usianya di atas 45 tahun. Walaupun tubuhnya masih terlihat bagus, namun kerutan-kerutan di wajahnya mulai terlihat.


"Ini kali pertama aku melihat mu secara langsung, sebelumnya Mita hanya mengirim foto mu. Ternyata kamu sangat cantik dan menarik, aku yakin akan ada banyak tamu yang akan menyukai mu," puji mami Naya.


"Terima kasih Mi, aku pasti akan bekerja keras. Aku sangat butuh uang,"


Elisha memutuskan jujur, apalagi Mita mengatakan jika mami Naya sangat baik.


"Iya aku tahu, aku sudah membawa uangnya. Nanti pulang kerja temui aku bersama Mita. Sekarang kalian mulailah bekerja," balas wanita itu.


"Serius, Mi?" Elisha merasa tidak percaya bisa mendapat pinjaman semudah ini.


"Iya, bekerjalah dengan baik," ucapnya sebelum meninggalkan mereka.


"Kamu benar Mita, mami Naya memang baik. Ayo kita bekerja,"


Keduanya berjalan ke dalam ruangan dan mulai bekerja. Mita mengajari Elisha bagaimana cara menggaet tamu dengan mudah. Ia juga memberi tips untuk mengetahui mana yang yang dompetnya tebal atau tidak. Elisha terlihat menyimak dengan baik ucapan temannya itu.


"Sudah sepi malah ada anak baru, pasti menurun pendapatan kita karena sudah di rampas dia," ucap salah seorang dari mereka sembari melirik Elisha.


Ternyata tidak semua wanita di sana menyukai kehadirannya. Ada juga yang menganggapnya sebagai kompetitor. Menjadi pekerja malam ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Bahkan di tempat haram seperti ini pun keberadaannya ada yang tidak menyukai.


"Mita, apa benar aku telah merampas rejeki mereka?" tanyanya sedih.


"Sudah, kamu jangan pernah mendengarkan mereka. Mereka hanya iri karena kamu cantik dan lebih muda," jawab Mita dengan suara keras.


"Hei Mita, apa kamu bilang barusan? Siapa yang iri dengan wanita seperti dia?"

__ADS_1


Wanita yang tadi berucap merasa berang. Ia bangkit sembari berteriak dan menunjuk mereka berdua. Wanita itu berkacak pinggang dengan mata melotot ke arah mereka.


__ADS_2