
Keesokan harinya.
Pagi sekali Doni telah bersiap-siap untuk bekerja. Setelah sarapan ia segera berpamitan kepada istri dan orang tuanya. Mereka senang, ternyata Doni menepati ucapannya. Mereka tak masalah dengan berapa pun penghasilan yang di dapatnya, yang penting dia sudah memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga.
Doni segera menuju sawah pak Jono, yang masih ada hubungan saudara dengan orang tuanya. Sebenarnya ia malas sekali bekerja di sawah yang notabene banyak mengeluarkan tenaga. Namun tidak ada pilihan lain, jarang ada kerja kantoran di tempat tinggalnya sekarang.
"Assalamualaikum, paman," sapanya.
"Waalaikum salam, eh Doni sudah datang. Ayo gabung sini," ajak pamannya.
Doni menghampiri paman serta beberapa orang pekerja yang sedang sarapan.
"Sudah sarapan belum? Kalau belum kita makan bersama saja,"
Pak Jono menggeser rantangnya ke arah Doni. Namun Doni menggesernya lagi ke tempat semula.
"Jangan repot Paman, tadi aku sudah sarapan," jawabnya.
"Oh ya sudah, kamu siap-siap saja dulu, sebentar lagi kita menyusul,"
Pak Jono terus melanjutkan sarapannya, sementara Doni mulai mencangkul lahan. Desa ini memang masih primitif dalam bidang pertanian. Semua pekerjaan masih di lakukan secara manual menggunakan tenaga manusia. Walau pun lebih lama dan memerlukan banyak tenaga, namun ini sangat membantu warga yang tidak memiliki pekerjaan.
Baru beberapa saat berlalu, tenaga Doni telah terkuras. Ia merasa begitu lelah. Padahal di atas kasur ia begitu bersemangat, giliran bekerja menjadi lemah.
"Kamu kok sudah berkeringat, Don. Pasti karena belum terbiasa,"
"Eh paman, iya nih rasanya capek sekali," Doni menyeka keringat yang membasahi tubuhnya.
Rasanya ingin sekali menyerah dan pulang ke rumah. Tapi ia merasa malu kepada orang-orang yang ada di sana. Ia pasti akan di anggap lemah dan tidak mampu bekerja. Padahal bagi orang di desanya, pekerjaan seperti itu sangatlah biasa.
"Kalau kamu lelah istirahat saja dulu, Don. Nanti lanjut lagi," ucap salah seorang pekerja.
"Iya Pak, sebentar lagi mau istirahat," balasnya.
Ia melanjutkan mencangkul untuk beberapa saat, kemudian berhenti untuk beristirahat. Dari kejauhan ia melihat seorang pria berpakaian rapi menuju ke arahnya.
__ADS_1
"Hei, kamu Doni kan? Masih ingat dengan ku tidak?" tanya pria itu.
Doni menyipitkan matanya, ia berusaha mengingat.
"Astaga... Kamu Wawan kan, teman sd ku dulu,"
Doni ingat sekali Wawan adalah teman sebangkunya saat di sekolah dasar dulu. Wawan dulunya sangat dekil dan nakal. Ia kerap kali di marahi guru dan di hukum karena kelakuannya. Namun yang di lihatnya sekarang sangat berbeda. Wawan terlihat terawat dan penampilannya seperti pekerja kantoran. Bersih dan rapi.
"Ternyata kamu ingat juga. Katanya kamu sudah menikah lagi ya, enaknya jadi pengantin baru," goda Wawan.
"Ah biasa saja. Memangnya kamu belum menikah?"
"Sudah jadi duda aku, hahaha..."
Wawan tidak berubah, ia tak pernah terlihat susah. Menjadi duda saja ia tetap bisa tertawa. Doni salut kepadanya.
"Kamu itu tidak berubah, dari dulu tak pernah aku melihat mu sedih. Bye the way kamu sekarang kerja apa, kok penampilannya keren sekali?" tanya Doni penasaran.
"Mau ikut kerja bersama ku, ayo? Dari pada kamu kerja jadi buruh tani begini," ajak Wawan.
"Nanti juga kamu tahu. Yang jelas hasilnya lumayan. Ayo cepat,"
Karena merasa tertarik, Doni segera berpamitan kepada pamannya. Pak Jono hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Doni.
☆☆☆
Pagi ini Elisha masih tertidur pulas. Semalaman ia tak bisa tidur karena memikirkan tawaran Santo. Ia belum menceritakannya kepada kedua sahabatnya itu. Mereka hanya tahu jika semalam Santo memberinya tip tiga juta rupiah.
Jujur tawaran dari Santo sangatlah menggiurkan. Uang 200 juta rupiah sangatlah besar untuknya. Namun berpura-pura menjadi orang lain itu tugas yang sulit. Apalagi ia sama sekali tidak mengenal Kinan. Akan susah baginya untuk bertingkah seperti dia. Ia sama sekali tidak tahu kebiasaannya. Ia takut melakukan kesalahan hingga membuat orang lain curiga dan merusak semua rencana Santo.
Terlepas dari itu semua, Kiya adalah ketakutan terbesarnya. Wanita itu ingin menghabisinya. Jika sampai Kiya tahu bahwa dirinya bukanlah Kinan melainkan Elisha, wanita itu pasti mencoba melenyapkannya lagi. Uang 200 juta sungguh tidak sepadan dengan nyawanya. Siapa yang akan menghidupi keluarganya jika sampai terjadi sesuatu kepadanya.
"Wah tumben sekali dia belum bangun, pasti dia sangat lelah,"
Mita melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Ia bergegas mencuci muka dan gosok gigi, lalu menggantikan tugas Elisha memasak sarapan. Walau pun ia tak sepandai sahabatnya dalam hal memasak, tapi ia sudah banyak belajar darinya.
__ADS_1
Bau harum masakan mengganggu indera penciuman Elisha. Ia menggeliat dan mulai membuka mata. Tampak Mita sedang menghidangkan makanan yang ia masak. Elisha melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.
"Astaga, sudah siang. Mengapa kamu tidak membangunkan aku, Mita,"
Ia segera membereskan kasur serta selimut yang di pakainya.
"Aku tidak tega membangunkan mu, sepertinya tidur mu nyenyak sekali," jawab Mita.
Elisha segera membersihkan muka dan gosok gigi. Kemudian kembali bergabung bersama Mita.
"Wah ternyata sekarang sudah pandai memasak ya," puji Elisha.
Mita tersenyum puas melihat masakannya. Tumis taoge di campur wortel dan udang kupas, telur dadar dan ayam goreng. Masakan yang serba mudah dan tidak butuh waktu lama. Mereka pun sarapan bersama.
"Hmm... rasanya mantap," puji Elisha.
"Dari tadi muji terus, jadi besar kepala ku ini," seloroh Mita.
Karena ia tak bisa memutuskan tawaran dari Santo sendiri, maka ia meminta pendapat Mita. Ia mulai menceritakan semuanya. Mita menanggapinya dengan serius.
"Bayarannya besar, tapi resikonya juga besar. Aku hanya takut kamu akan ketahuan oleh bos mu itu, nyawa mu menjadi taruhannya," ucap Mita.
Elisha semakin dilema, pikiran Mita juga sama dengannya. Tapi ia merasa sayang untuk melepaskan tawaran ini.
"Aku juga merasa begitu. Tapi ini hanya untuk satu minggu, Mita,"
"Aku tahu tawaran itu memang menggiurkan, tapi apakah kamu yakin tidak akan ada masalah? Lagi pula untuk apa pria itu menyuruh mu berpura-pura menjadi Kinan?"
Elisha juga mempunyai pertanyaan yang sama dengan Mita. Sebenarnya untuk apa Santo membayarnya untuk berpura-pura menjadi Kinan? Apakah ia curiga kepada seseorang? Atau dia punya alasan lain?
"Sebenarnya aku juga tak yakin. Aku juga tidak tahu apa alasannya meminta ku melakukannya," jawab Elisha.
"Aku takut ini hanya jebakannya agar bisa memiliki mu. Bukankah dia mengatakan sangat mencintai wanita bernama Kinan itu, dan kamu sangat mirip dengannya. Bisa jadi dia menganggap mu sebagai dia,"
Elisha diam. Ia baru sadar, ia sama sekali tidak berpikir ke arah sana. Tatapan Santo padanya memang terlihat penuh cinta.
__ADS_1