Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 42 Pilih Aku Atau Dia?


__ADS_3

Mirna dan Mita tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Mereka menunggu kabar dari Daniel dan orang-orang dari tempat mereka bekerja. Keduanya berargumen jika Santo merupakan tersangka utama dalam kejadian semalam. Pria itu punya motif kuat untuk melakukan penculikan terhadap Elisha.


"Mita, apakah klub tidak punya data orang yang masuk ke sana? Kalau ada mungkin kita bisa mencari tahu Santo dari situ," ucap Mita.


"Tidak ada yang seperti itu, tapi bukankah kasus istrinya kemarin sempat viral. Ayo kita lihat di internet,"


Mereka langsung mengecek ponsel masing-masing, mencari berita yang di maksud. Setelah mendapatkan yang di cari mereka menghubungi nomor Daniel. Mereka menceritakan tentang kecurigaannya.


☆☆☆


Elisha menatap jengah ke arah pria itu. Ia sama sekali tidak menduga jika ini semua adalah perbuatannya. Ia merasa semua masalah telah selesai malam itu, ternyata ia salah. Ternyata Arman menyimpan dendam kesumat terhadapnya.


"Apa yang kamu inginkan dari ku?" tanya Elisha.


"Hahaha... memangnya apa yang pantas di dapatkan dari wanita j@lang seperti diri mu?" Arman tersenyum sinis.


"Wanita yang sok suci. Semua wanita di tempat tersebut adalah j@lang yang hanya menginginkan uang, cuih!"


Ia menatap Elisha dengan pandangan menghina. Hati Elisha terluka. Ia merasa tidak seperti yang Arman tuduhkan. Meski ia bekerja di tempat tersebut, ia tak pernah mau di raba-raba. Minum alkohol pun hanya sekali, itu juga karena di jebak salah seorang tamunya.


"Kamu salah, aku bukan wanita seperti itu. Walau pun aku bekerja di sana, aku tetap menjaga harga diri ku," bantah Elisha.


Lagi-lagi pria itu tertawa meremehkannya. Menghinanya terus-menerus tanpa henti. Menjatuhkan mentalnya yang berusaha ia jaga untuk tetap selalu kuat. Sekali pun perasaannya terluka, ia tak menangis. Karena yang menghinanya adalah orang yang tak lebih baik darinya.


"Terserah kamu mau menghina ku seperti apa, aku tidak peduli. Yang jelas, kamu itu lebih rendah dari ku karena masih menginginkan wanita rendahan seperti aku," ucap Elisha.


"Tutup mulut mu!"


Plakkk...


"Sekali lagi kamu berani menantang ku, akan ku bungkam mulut mu selamanya!" ancam Arman.


Elisha hanya tersenyum sinis.


"Mandikan wanita ini, dia bau sekali," titah Arman.


Elisha mencoba meronta saat anak buah Arman menyeretnya dari ruangan tersebut. Namun tenaganya yang lemah bukanlah tandingan mereka.


☆☆☆

__ADS_1


Setelah mendapat info dari Mita, Daniel segera bergerak menuju kediaman Santo bersama beberapa anak buahnya. Mereka mengamati pria itu selama beberapa jam. Namun tidak ada hal yang mencurigakan. Pria itu terlihat sedang bersedih untuk sesuatu hal yang Daniel tak tahu dengan pasti.


"Halo Mita, apakah kamu yakin pria itu yang menculik Dona?" tanya Daniel.


"Setahu ku hanya pria itu yang mempunyai motif, Om," jawab Mita.


"Aku sudah mengikutinya beberapa jam, namun tidak ada yang mencurigakan. Sepertinya ia sedang berkabung karena aku melihatnya masuk ke area pemakaman. Dia di sana berjam-jam," ucap Daniel.


"Aku juga ragu sih, karena Dona bilang dia memang pria yang baik," balas Mita.


"Baiklah, nanti aku kabari lagi,"


Panggilan berakhir. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada perkembangan, Daniel memutuskan pergi. Menurut instingnya, pria itu bukan pelakunya. Daniel menuju ke klub malam tempat Elisha bekerja selama ini.


☆☆☆


Sepulang dari memergoki suaminya bersama wanita lain, Indah memilih mengurung dirinya di dalam kamar. Ia menangis tiada henti. Pernikahan yang baru berusia seumur jagung kini telah ternoda dengan pengkhianatan suaminya. Hatinya begitu sakit, ia tak tahu harus berbuat apa.


Haruskah ia memaafkan Doni dan melanjutkan rumah tangga mereka? Atau mengakhiri semua cukup sampai di sini saja? Ia dilema. Wanita mana yang sanggup jika di duakan. Wanita mana yang tahan melihat kemesraan suami yang ia cintai dengan wanita lain. Ia pun tidak bisa.


"Aku akan menyuruhnya memilih, jika ia memilih wanita itu, maka aku akan pergi," ucap Indah.


☆☆☆


"Sayang sekali jika aku membunuh mu, lebih baik aku jual kamu kepada pria yang mau membayar mahal,"


Arman menatap Elisha dari ujung kaki hingga rambut. Wanita yang telah bersih itu terlihat sangat menggoda. Walau pun tanpa polesan make up, ia terlihat menawan. Apalagi bodinya yang aduhai, pasti mampu membuat para pria menelan air liur.


"Jangan lakukan itu... lebih baik bunuh saja aku," pinta Elisha.


"Tadinya aku memang ingin menyiksa mu sampai mati, tapi aku berubah pikiran," ucap Arman.


"Aku akan membuat harga diri mu hancur sampai kamu sendiri tidak ingin hidup," imbuhnya.


"Kamu memang jahat!" maki Elisha.


Arman tertawa lebar melihat kemarahan dalam sorot matanya.


"Ini adalah akibatnya jika berani mempermalukan diri ku! Siap kan wanita ini, dandani dia karena aku akan menjualnya!"

__ADS_1


Arman meninggalkan ruangan setelah mengatakan hal tersebut. Elisha merasa sangat takut, ia tak mau kejadian itu benar-benar menimpanya. Tubuhnya semakin lemas tanpa tenaga.


☆☆☆


Deru motor Doni terdengar di pelataran rumah. Indah berusaha untuk tetap tenang walau hatinya bergejolak. Rasa kecewa dan sedih bercampur menjadi satu. Hatinya semakin kesal tatkala melihat raut kebahagiaan terpancar jelas dari suaminya yang baru pulang itu.


"Siapkan aku makan ya, aku mau mandi dulu," pinta Doni.


Tanpa menjawab, Indah melakukan apa yang di minta suaminya itu. Ini memang kewajibannya sebagai seorang istri. Selama mereka masih berada dalam ikatan suci pernikahan, maka dirinya wajib patuh.


"Kamu tidak ikut makan?" tanya Doni.


"Aku sudah kenyang. Setelah makan akh menunggu di kamar, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Indah.


"Kenapa tidak di sini saja, bicaralah..." Doni menatap istrinya dengan serius.


"Tidak, Mas. Aku akan menunggu di kamar,"


Indah berlalu meninggalkan suaminya yang penuh tanda tanya. Doni makan dengan cepat karena merasa penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan istrinya.


"Sayang, katanya ingin bicara?"


Doni mendekati istrinya yang sedang berbaring miring membelakanginya. Indah bangkit dari tidurnya, ia duduk di tepi kasur. Di tatapnya wajah suaminya lekat-lekat.


"Apa Mas Doni masih mencintai ku?" tanya Indah dengan suara bergetar.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu? Aku tidak mungkin menikahi mu jika tidak cinta," jawabnya.


Indah tersenyum penuh arti.


"Mana yang lebih Mas cinta, aku atau wanita itu?" tanya Indah lagi.


Doni masih belum mengerti arah pembicaraan istrinya.


"Apa maksud mu? Aku sungguh tidak mengerti," Doni mengernyitkan dahinya.


"Biar aku perjelas ya Mas. Kamu memilih aku atau wanita bernama Nela itu?"


Indah mulai terbawa perasaan. Ia tak bisa terus menjaga ketenangannya sementara hatinya terasa tercabik-cabik.

__ADS_1


__ADS_2