Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 40 Hanya 30 Hari Lagi


__ADS_3

Tiga hari Kemudian.


"Jatuh cinta berjuta rasa, ada rindu bila tak jumpa..."


Pagi-pagi, Doni sudah bersenandung lagu cinta. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang tak terperi. Ia sisir rambutnya hingga klimis. Tak lupa ia semprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. Dandanannya sangat rapi bahkan mengalahkan dandanan necis para pejabat teras.


"Mas, aku lihat semakin hari kamu kok semakin bergaya sih," ucap Indah.


"Sudah ku bilang, semakin baik penampilan ku maka semakin banyak nasabah kelas kakap yang bisa aku dapatkan," balas Doni.


"Tapi sampai kapan kamu tidak memberi ku uang belanja, aku malu kepada orang tua mu jika selalu menumpang makan," protes Indah.


"Mereka itu orang tua ku, kamu tenang saja mereka tidak akan mengeluh,"


"Tapi Mas, kita sudah menumpang tinggal masa iya makan juga terus-terusan menumpang," ucap Indah lagi.


"Kamu ini berisik sekali sih. Namanya juga merintis, tentu saja butuh modal. Nanti juga tinggal memetik hasilnya," bentak Doni.


Netra Indah mulai mengembun, baru kali ini suaminya tega membentaknya. Biasanya ia selalu bersikap manis. Namun sejak bekerja di tempatnya sekarang perangainya mulai berubah. Ia tak dapat membuktikan rasa curiganya, karena suaminya selalu berangkat dan pulang kerja tepat waktu seperti biasanya.


"Jangan menangis, aku tidak suka melihat wanita cengeng," hardik Doni.


Pria itu pergi begitu saja setelah mengucap salam. Hati Indah begitu terluka. Ia tidak menyangka rasa cinta yang awalnya begitu memabukkan ternyata berubah memuakkan setelah mereka menikah. Padahal ia selalu berusaha menjadi istri yang baik. Entah mengapa suaminya sikapnya berubah sangat drastis.


"Apa aku coba bertanya kepada Wawan ya, mungkin dia tahu mengapa sifat mas Doni berubah," gumam Indah.


☆☆☆


"Hei... kenapa melamun begitu sih,"


Ucapan Mita berhasil mengagetkan Elisha yang sedang termenung.


"Aku sedang berpikir tentang hidup ku, Mita," Elisha memandang sahabatnya dengan serius.


"Kenapa? Apa kamu sudah jenuh menjadi pekerja malam?" tanya Mita.


"Aku yakin jika mempunyai pilihan lain, kamu juga akan merasa demikian,"


"Kamu benar, jika ada pilihan yang lebih baik aku juga pasti memilih berhenti," ucap Mita.


"Kita mencoba membuat usaha yuk, sepertinya peluangnya bagus di tempat ini," ajak Elisha.


"Usaha apa?"


"Apa saja, yang penting halal," Elisha terlihat antusias.


"Kita bisa pakai uang pemberian Santo sebagai modal. Aku rasa 100 juta lebih dari cukup untuk membuka usaha kecil-kecilan,"


"Bukankah uang itu untuk membuat usaha ibu mu dan tabungan untuk anak mu?" tanya Mita.

__ADS_1


"Memang. Dia memberi ku total 250 juta. Yang 130 juta sudah ku berikan kepada ibu, sisanya bisa untuk kita memulai usaha," jelas Elisha.


"Aku tidak keberatan, selama itu mengubah kita menjadi lebih baik. Berikan aku waktu 30 hari untuk bekerja dulu ya, aku harus membayar hutang ku yang belum lunas,"


Elisha terkejut, Mita tidak pernah bercerita jika ia memiliki hutang.


"Hutang apa, Mita? Aku pasti membantu mu, seperti kamu yang selalu membantu ku,"


Mita tak ingin menceritakan kisah sedihnya lebih dalam. Hidup Elisha juga tidak mudah, ia tak mau menambah lagi dengan masalahnya.


"Terima kasih, tapi aku masih bisa menyelesaikannya sendiri. Sembari kita mencari ide, aku akan tetap bekerja sebulan ke depan,"


"Baiklah, tidak masalah hanya 30 hari lagi ini. Aku akan menemani mu,"


Mita terharu atas kesetiaan sahabatnya itu. Ia memeluk Elisha dengan erat sembari mengucapkan terima kasih.


☆☆☆


Cuaca siang ini sangat cerah. Indah telah bersiap untuk bertemu teman suaminya. Ia tahu biasanya Wawan selalu makan siang di warung dekat rumah mertuanya. Ia segera bersiap-siap menuju warung tersebut.


"Mau kemana siang-siang begini, Nak?" tanya ibu mertuanya.


"Mau ketemu teman sebentar, Bu. Dekat kok dari sini," jawab Indah.


Setelah berpamitan, ia berjalan menyusuri pinggiran sawah. Rumah suaminya memang di apit oleh persawahan. Maklum, mereka memang bertempat tinggal di desa yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah bertani.


Indah makin mempercepat langkahnya kala melihat orang yang di carinya berada di warung tersebut.


"Permisi, Mas Wawan ya," sapa Indah.


"Iya, kamu istrinya Doni kan," tebaknya.


"Iya Mas, aku Indah," ia memperkenalkan diri.


"Apa ada perlu dengan ku, Indah?" tanya Wawan.


Sebenarnya Indah tidak ingin bercerita tentang kecurigaannya. Namun Wawan pasti tidak akan mau membantu jika dirinya tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Sebenarnya aku tidak ingin berburuk sangka. Tapi sikap mas Doni sudah benar-benar berubah. Aku mohon Mas Wawan bisa membantu ku," pinta Indah.


Wawan diam sejenak. Ia dilema harus memihak siapa. Doni adalah temannya, namun ia memang bersalah. Sedangkan Indah adalah wanita yang tidak berdosa. Jika ia membuka semuanya, ia kuatir rumah tangga temannya akan retak. Namun jika dirinya bungkam, itu tandanya ia sama bersalahnya dengan Doni.


"Begini saja, besok aku akan membawa mu melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Besok pas istirahat makan siang, akan aku jemput," ucap Wawan.


Walau pun penasaran, Indah tidak bertanya lebih lanjut. Ia setuju dengan pria itu dan segera pamit pulang.


☆☆☆


"Dona... Mita..." panggil Mirna.

__ADS_1


"Wah sepertinya ada yang sedang bahagia nih," ucap Mita.


Mirna tertawa dan memeluk kedua sahabatnya itu. Elisha dan Mita ikut senang walau belum tahu apa yang membuat temannya sebahagia itu.


"Lihat ini apa," Mita memperlihatkan jari tangannya.


"Cincin? Dari kekasih mu ya?" tebak Elisha.


"Ini bukan sekadar cincin biasa... Aku di lamar," jelas Mita.


"Benarkah? Kamu serius?"


Keduanya terkejut namun turut bahagia. Sepertinya kehidupan cinta Mirna lebih baik dari mereka.


"Selamat ya, Mirna. Kami turut bahagia untuk mu,"


Mita dan Elisha memeluk Mirna lagi.


"Terima kasih, aku harap kalian akan segera menyusul," balas Mirna.


Mirna menceritakan jika pertunangannya akan di adakan sebulan lagi. Lusa ia akan bertemu keluarga besar Dion. Mereka berharap semua akan berjalan lancar.


"Mita, Dona, ada yang mencari kalian," panggil Kiki.


"Siapa?"


"Om Daniel, si tuan baik hati,"


Keduanya tersenyum mendengar siapa yang mencari mereka.


"Kita pergi dulu ya, nanti kita bicara lagi," keduanya berpamitan kepada Mirna.


"Halo, Om..." sapa keduanya.


"Sudah lama tidak bertemu kalian, ayo temani aku karaoke,"


"Kalau Om tidak keberatan, bolehkah kita mengajak teman kita satu lagi. Teman Om kan ada banyak itu," pinta Mita.


"Boleh, ajak saja kesini,"


Mita bergegas mencari Mirna dan mengajaknya bergabung. Ternyata teman Daniel ada yang tertarik kepadanya. Jadi Mirna pun menemaninya.


"Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa orang tua mu, Dona," ucap Daniel.


"Terima kasih, Om. Sekarang aku sudah bisa menerimanya. Beliau tidak merasakan sakit lagi sekarang," balas Elisha.


Tak berapa lama berselang, hampir semua yang berada di ruangan tersebut tidak sadarkan diri. Sepertinya ada yang memberi mereka obat tidur. Hanya Elisha yang setengah sadar.


"Siapa kamu? Aku mau di bawa kemana?" tanyanya sebelum akhirnya benar-benar pingsan.

__ADS_1


__ADS_2