Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 13 Tip Dari Om Daniel


__ADS_3

"Namanya Elisha kan? Ayo bawa aku kepadanya,"


Kiya terlihat sangat senang, ia segera memanggil anak buahnya.


"Yang aku tahu nama wanita itu Dona, bukan Elisha. Dia di bawa oleh mami Naya. Sebenarnya katanya sudah seminggu lalu dia datang, tapi baru kerja hari ini," jelas pelayan itu.


"Benarkah? Kamu tidak sedang berbohong bukan?" tanya Kiya serius.


"Aku tidak mengenal kalian berdua, jadi untuk apa aku berbohong? Kalau tidak percaya silahkan masuk saja ke ruangan itu,"


Pelayan itu merasa kesal karena di tuduh berbohong. Sudah di jawab baik-baik dirinya malah di fitnah. Ia berlalu meninggalkan Kiya yang juga terlihat kesal.


"Sepertinya dia tidak berbohong. Mungkin Elisha sudah keluar, ayo kita cari lagi,"


Kiya dan semua anak buahnya akhirnya meninggalkan klub malam tersebut.


☆☆☆


Daniel menatap wanita di sampingnya yang sedari tadi terlihat tidak nyaman dengan pakaiannya. Terkadang ia menarik roknya ke bawah, terkadang membenarkan pakaiannya. Bahkan kadang menutup dadanya dengan tangannya.


"Wanita aneh," guman Daniel sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Elisha sadar pria itu sedang menatapnya dari tadi. Ia lebih menutupi bagian-bagian sensitifnya karena canggung.


"Maaf ya Om, aku tidak biasa berpakaian terbuka seperti ini," ucapnya jujur.


"Hahaha... tidak apa-apa Dona, namanya juga baru. Kamu makan dan minum saja dulu, nanti kita karaoke lagi," balas Daniel.


"Boleh, Om?"


"Tentu saja,"


"Baiklah, terima kasih,"


Elisha yang memang sangat haus segera meminum jus pesanannya yang baru saja datang. Ia minum separuh gelas lalu melanjutkan makan kentang goreng dan steak yang lezat. Sudah lama ia tidak makan enak karena harus menghemat demi bisa mengirim lebih banyak uang kepada orang tuanya di desa.


"Hmm... ini enak sekali, Om tidak makan?" tanyanya dengan mulut masih penuh makanan.


"Tidak, tadi aku sudah makan. Kamu habiskan saja semuanya," jawab Daniel.


Tanpa di perintah untuk kedua kalinya, Elisha berhasil melahap semuanya. Bahkan saos di piringnya bersih tidak bersisa.


"Kamu lapar atau doyan?" kelakar Daniel.


Elisha hanya tersenyum, ia malu karena terlihat seperti tidak pernah makan enak.


"Sebenarnya apa alasan mu bekerja di sini? Kamu tidak seperti wanita-wanita yang berada di sini?" tanya Daniel.


Elisha diam membisu. Ingin bercerita, namun masih merasa takut. Karena masalahnya berkaitan dengan nyawanya, ia tidak bisa sembarangan menceritakannya.


"Sebenarnya aku..."


"Hei Daniel, ayo kita pergi. Ada masalah penting yang terjadi, nanti aku jelaskan," panggil seseorang.

__ADS_1


Ucapan Elisha terpotong oleh salah seorang pria yang datang bersama Daniel.


"Ok, sebentar," jawab Daniel.


"Maaf ya, sekarang aku tidak bisa mendengarkan cerita mu. Nomor ponsel mu berapa? Nanti kita lanjut di telepon,"


"Ponsel ku hilang saat naik bus ke kota ini," jawab Elisha.


"Baiklah, aku pasti akan kemari lagi. Aku tidak membawa banyak uang kes, ini untuk mu semua,"


Daniel mengambil semua uang di dalam dompetnya dan memberikannya kepada Elisha.


"Ini semua untuk ku, Om?" tanya Elisha tidak percaya.


"Iya, aku pergi dulu ya,"


Daniel meletakkan uang tersebut di tangannya karena dirinya masih terpaku antara bingung dan terkejut.


"Wah ada yang dapat tip banyak nih, coba hitung berapa,"


Mita menghampirinya setelah semua tamu pergi. Elisha menurut, ia menghitung uang yang ia dapat.


"Semuanya 3 juta, Mbak," Elisha makin tidak percaya setelah menghitung semuanya.


"Om Daniel itu memang baik. By the way kamu panggil aku Mita saja, tidak perlu pakai embel-embel mbak dong," protes Mita.


"Ok, baiklah. Lalu uang ini harus aku setor kepada siapa?" Elisha yang masih bingung dengan dunia seperti ini semakin terlihat polos.


"Aku masih belum mengerti. Jadi ini semua untuk ku?"


Elisha sungguh tidak paham walau telah Mita jelaskan.


"Iya, nanti juga kamu akan mengerti,"


Elisha mengekor langkah Mita yang kembali ke ruangan tadi mereka make up. Ia lega ketika tidak melihat mantan bosnya di mana-mana.


"Aku sedikit tidak enak badan, jadi aku ingin pulang dulu. Kamu bisa lanjut dengan yang lain, tapi jika kamu lelah bisa pulang juga ke rumah mu," ucap Mita.


"Aku ingin pulang saja, tapi..."


Elisha tertunduk lesu, wajahnya terlihat sedih.


"Tapi kenapa?" tanya Mita.


"Aku belum punya tempat tinggal," jawab Elisha.


Mita menghela napas dalam. Ia tidak tega meninggalkan Elisha sendirian, apalagi ia terlihat sangat lugu. Sangat berbahaya untuk wanita sepertinya berkeliaran di luar saat tengah malam seperti ini.


"Kamu ikutlah dengan ku, malam ini kamu bisa beristirahat di kos ku," ajak Mita.


Wajah Elisha seketika berbinar. Walaupun Mita adalah pekerja malam, tapi ia tahu dia orang baik. Setidaknya itu penilaiannya selama beberapa jam mereka bersama.


☆☆☆

__ADS_1


Keesokan harinya.


Karena bekerja hingga larut malam, pagi ini mereka belum juga terbangun. Apalagi semalam mereka tidak bisa langsung tertidur.


"Hoam..." Elisha menggeliat, matanya melihat matahari yang bersinar dari celah gorden.


"Hmm... dia masih tidur,"


Melihat temannya masih tertidur, ia segera mandi.


"Mit, Mita..." Ia coba membangunkan Mita.


"Ada apa?" tanyanya dengan mata masih terpejam.


"Di kulkas mu ada bahan makanan, apa boleh aku masak untuk sarapan?" tanyanya lirih.


"Iya, pakai saja," Mita makin kencang memeluk gulingnya.


Elisha mulai memasak dengan bahan yang ada. Sebenarnya dia ingin membeli sayur dan lauk di pasar, namun ia masih asing dengan tempat ini. Jadi dia memasak apa adanya. Setelah beberapa lama sibuk, akhirnya masakannya matang juga.


"Mita, ayo bangun. Aku sudah memasakkan sarapan untuk mu,"


Dengan masih menahan kantuk, Mita terpaksa bangun.


"Kamu masak apa?" tanyanya.


"Itu... Ayo makan,"


Mita terkejut dengan makanan yang sudah tersaji di dekatnya. Ia terlihat menelan salivanya karena masakan Elisha terlihat sangat menggugah selera.


"Kamu yang masak semua ini?" tanya Mita tak percaya.


Elisha mengangguk.


"Semoga kamu suka ya,"


Elisha memasak capcay, mie goreng, omelet serta udang goreng tepung. Hanya bahan-bahan itu yang ada di dalam kulkas.


"Wah, rasanya enak sekali," puji Mita.


Elisha tersenyum. Ia geli melihat temannya yang bangun tidur langsung makan tanpa mencuci muka terlebih dahulu.


"Terima kasih, aku senang kalau kamu suka," balas Elisha.


"Sebentar lagi aku akan mencari kos di sekitar sini. Aku juga tidak akan bekerja di tempat itu lagi,"


Mita berhenti mengunyah. Dahinya mengeryit karena heran.


"Kenapa berhenti? Lalu kamu mau bekerja apa?"


"Sebenarnya aku tidak sengaja masuk ke tempat itu karena ada orang jahat yang sedang mengejar ku. Makanya aku sangat bingung saat kamu mengajak ku bekerja di sana. Tapi aku tidak ada pilihan karena orang itu terus mengikuti ku," jelas Elisha.


"Apa? Jadi kamu bukan orangnya mami Naya?"

__ADS_1


__ADS_2