
Keesokan hari.
Elisha bangun pagi seperti biasanya. Kali ini ia tidak memasak sendiri, kedua temannya turut membantunya membuat sarapan. Ya, Mirna juga menginap di tempat mereka. Sepanjang malam mereka bercerita tanpa henti. Sampai mata mereka tak kuat lagi untuk tetap terbuka.
"Hmmm... wangi sekali ya. Memang masakan mu tidak ada duanya," puji Mita.
"Pantas saja semakin hari kamu makin sehat saja, ada chef yang memasakkan mu setiap hari," seloroh Mirna.
"Dia memang jagonya, tapi aku tidak terima kamu mengatakan aku sehat. Kamu meledek ku ya,"
Mita segera menggelitiki Mirna, membuatnya tak berhenti tertawa menahan rasa geli.
"Sudah Mita, ampun. Hahaha..."
Elisha tersenyum melihat keakraban mereka. Hidup jauh di perantauan tanpa keluarga telah membuat mereka sangat menghargai artinya persahabatan.
"Sudah, ayo sarapan dulu. Kalau tidak nanti aku habiskan semuanya," ucap Elisha.
Ketiganya sarapan dengan lahap. Selesai sarapan Elisha menghubungi ibunya. Ia meminta maaf karena sempat tidak mengabari. Namun karena tidak ingin membuat ibunya kuatir, ia tak bercerita tentang penculikan yang menimpanya.
Selesai menghubungi ibunya, Elisha kembali mengobrol lagi dengan kedua sahabatnya. Ia mengatakan rencananya untuk berhenti menjalani profesi sebagai pekerja malam. Ia ingin kembali ke desanya, menetap dan membangun usaha di sana. Walau pun kedua temannya terlihat sedih, mereka mendukung keputusannya.
"Jika itu memang yang terbaik, aku dukung. Ya... walau aku pasti sangat merindukan mu," ucap Mita.
"Jika aku punya pilihan seperti mu, aku pasti akan berhenti juga," sahut Mirna.
Ketiganya terlihat bersedih. Bagaimana pun mereka telah lama hidup bersama. Banyak kenangan manis yang terjadi di antara mereka. Meski bukan berasal dari darah yang sama, namun kesamaan nasib membuat hubungan mereka layaknya keluarga. Karena hari ini Mita akan bertemu dengan keluarga kekasihnya, ia berpamitan untuk kembali ke kosnya.
☆☆☆
"Ayo kita pergi ke rumah Doni, aku tidak terima putri ku di sakiti. Dulu ia sampai mengemis saat ingin menikahinya, sekarang putri ku di sia-siakan begitu saja," ucap ayah Indah.
"Aku juga tidak terima, Pak. Tapi nanti malah terjadi keributan jika kita pergi dengan emosi seperti ini," balas istrinya.
"Orang tua mana yang bisa terima putrinya di sakiti, Bu. Itu sama artinya dia juga menyakiti kita," suaminya terlihat emosi.
Indah mendengar percakapan mereka. Namun dirinya tak punya tenaga untuk menyahuti. Hatinya terlalu sakit hingga membuatnya tak bisa tidur semalaman. Matanya bahkan bengkak dan kehitaman karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis. Ia hanya mendengarkan langkah kaki kedua orang tuanya saat keluar rumah, dari bilik kamarnya.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum..." dengan tak sabar ayah Indah mengetuk pintu rumah Doni.
__ADS_1
"Waalaikum salam... Eh orang tua Indah, silahkan masuk," ibu Doni mempersilahkan tamunya.
Kedua orang tua Indah masuk. Raut wajah ayah Indah tampak gusar, sementara istrinya lebih terlihat kuatir.
"Pak... ini ada orang tuanya Indah datang," panggil ibu Doni.
Ayah Doni keluar dan menyalami besannya. Walau pun tidak menolak jabatan tangannya, wajah ayah Indah tetap terlihat sedikit menyeramkan.
"Saya tidak mau berbasa-basi. Kita ke sini mau meminta pertanggungjawaban Doni dan orang tuanya terhadap Indah," tegas ayah Indah.
"Kita membesarkan Indah dengan penuh kasih sayang. Kita terima Doni walau pun statusnya belum resmi bercerai," imbuhnya.
"Kita bahkan masih terima saat anak kalian berhasil mencoreng wajah kita sebagai orang tua dan tetap menikahkan mereka dengan mahar sesanggup kalian," intonasinya mulai meninggi.
Orang tua Doni hanya bisa diam mendengarkan. Mereka memang sudah pasrah menerima segala kemarahan dari keluarga Indah. Mereka sadar memang anak mereka yang bersalah.
"Sekarang saat sudah sah menjadi miliknya, bukan berarti dia bisa menyakiti Indah semaunya. Kita tidak terima atas penghinaan ini, kita akan melaporkan hal ini ke pihak berwajib," ancam ayah Doni.
"Begini Besan... sebelumnya kami selaku orang tua Doni meminta maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini. Kami sudah berupaya untuk mencegah hal ini agar tidak terjadi, namun sepertinya semua tetap tak terkendali," ayah Doni menata ucapannya sedemikian rupa.
"Jujur kita sangat menyayangi Indah seperti putri kami sendiri. Kita juga merasa berat kehilangan dia. Tapi jika memang ini sudah menjadi keputusannya, kita bisa apa," ucapnya tulus.
Setelah merasa orang tua Doni memang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, ayah Indah melunak. Sikapnya menjadi lebih tenang. Namun dirinya tetap memutuskan akan membawa hal ini ke jalur hukum.
☆☆☆
Mirna mulai mematut dirinya di cermin. Penampilannya sangat anggun dan cantik hari ini. Ia tak ingin mengecewakan kekasihnya karena ini hari yang begitu penting bagi mereka. Jika hari ini berjalan lancar, maka hubungan mereka akan secepatnya menuju ke jenjang pernikahan.
"Halo Sayang, aku sudah hampir sampai di tempat mu," ucap Dion.
"Baiklah, aku akan segera keluar," balas Mirna.
Tak berapa lama, sebuah mobil mewah memasuki kos-kosan. Seorang pria tampan keluar dari mobil, membukakan pintu untuk sang kekasih.
"Terima kasih, Sayang," ucap Mirna.
Dion menanggapi dengan senyuman termanisnya.
"Sayang, aku ingin kamu berhenti bekerja di sana. Aku tidak rela tubuh mu di lihat pria hidung belang di sana," pinta Dion.
"Aku tahu pekerjaan ku memang memalukan," Mirna terlihat sedih dan malu.
__ADS_1
Dion menyadari kekasihnya sepertinya salah paham dengan maksudnya.
"Aku minta maaf jika menyinggung mu. Aku sudah menerima kamu apa adanya, aku hanya ingin yang terbaik untuk mu. Biar semua kebutuhan mu aku yang bertanggung jawab," Dion berkata dengan tulus.
"Aku mengerti, aku akan segera berhenti dari sana," balas Mirna.
Mobil terus melaju membelah jalanan kota, sebelum akhirnya berhenti di sebuah restoran mewah bernuansa eropa.
"Semua pasti senang dengan mu," ucap Dion.
"Semoga saja begitu," harap Mirna sedikit cemas.
Ternyata makan siang ini bukan hanya bersama orang tua kekasihnya, melainkan juga beberapa kerabat dekatnya. Mirna mulai menyalami mereka satu persatu. Semuanya bersikap baik terhadapnya.
"Kamu tidak salah pilih, dia memang gadis yang cantik dan sopan," puji ibunya Dion.
Mirna tersenyum, ia merasa sangat senang.
"Pasti keturunan kalian cantik dan tampan nanti," timpal yang lain.
Semua orang terlihat sangat gembira.
"Oh ya, kamu kerja apa sekarang?" tanya bibinya Dion.
"Ehm..."
"Dia punya usaha sendiri, memasarkannya secara online," sela Dion sembari memberi kode dengan sudut matanya.
"Iya Tante, aku berbisnis produk kecantikan," jawab Mirna.
"Wah hebat, masih muda tapi mau bekerja keras. Biasanya banyak yang akan memilih jalan pintas agar cepat dapat uang. Kamu memang tidak salah pilih, Dion," puji ayahnya.
Tiba-tiba seorang pria muda datang menuju meja mereka.
"Maaf, aku terlambat," ucap pria tadi.
Netra pria itu tertuju kepada Mita yang duduk di samping Dion.
"Oh iya, kenalkan ini sepupu ku Daren. Daren ini Mirna calon istri ku," ucap Dion.
'Dia seperti gadis di klub malam itu' batin Daren.
__ADS_1