
Setelah menceritakan semua kejadian asal mula ia bisa masuk ke klub malam tersebut, Mita merasa sangat bersalah terhadap Elisha. Bisa-bisanya ia mengajak wanita baik-baik mencoba dunia malam yang akan menjadi candu bagi sebagian orang. Apalagi jika sudah merasakan manisnya uang yang di dapat secara instan.
"Aku minta maaf ya Dona, aku kira kamu anak buah mami Naya. Aku tidak mungkin mengajak mu bekerja jika tahu tujuan mu di sana saat itu," ucap Mita.
"Kamu tidak salah, Mita. Aku yang terlalu takut bercerita saat itu karena melihat mereka masih mengikuti ku," balas Elisha.
"Aku dukung kamu mencari pekerjaan baru, dunia malam tidak cocok untuk mu. Tapi sebaiknya kamu tidak perlu mencari kos dulu, kamu bisa tinggal di sini. Jika sudah punya pekerjaan tetap, tidak masalah jika kamu ingin pindah,"
Mita berusaha bijak, bagaimana pun dia tidak ingin menjerumuskan gadis polos itu.
"Terima kasih sekali Mita, kamu memang baik. Aku harus keluar untuk membeli ponsel bekas dan beberapa barang," ucap Elisha.
"Kamu tidak punya ponsel?"
"Punya, tapi hilang di bus saat menuju ke kota ini," jawab Elisha. Mita merasa iba, sepertinya masalah temannya itu sangat komplit.
"Lebih baik kamu beli yang baru, tidak perlu yang mahal yang penting sudah lengkap," saran Mita.
"Lihat nanti saja. Tapi..."
"Kenapa?"
"Uang ku hanya sisa recehan ini, apa tidak apa-apa menggunakan uang pemberian Om Daniel ya?"
Mita tertawa, bukan karena melihat uang Elisha yang tinggal beberapa ribu saja. Namun ketakutan Elisha menggunakan uang pemberian Om Daniel membuatnya geli. Apa kabar dengan dirinya yang selama beberapa tahun ini hidup dengan uang haram tersebut. Bukannya ia tidak tahu jika uang yang di dapatnya sebenarnya haram. Hanya saja tuntutan hidup membuatnya harus mengambil jalan pintas itu.
"Tidak apa-apa mungkin, yang penting kamu tidak mengulanginya. Akan ku temani keluar, aku akan mandi dulu," jawab Mita.
"Tidak perlu, aku akan jalan sendiri saja. Kamu istirahat saja, aku takut bertemu mereka lagi di jalan," tolak ya.
"Yakin mau pergi sendiri?" Mita takut membiarkan Elisha keluar sendiri.
"Iya, aku sudah terbiasa kok. Lagian nanti sekalian ingin jalan-jalan barangkali ada lowongan pekerjaan,"
Karena Elisha kukuh ingin berangkat sendiri, Mita pun akhirnya mengalah.
☆☆☆
Elisha menyusuri jalan, ia berhenti ketika melihat ada toko fotocopy. Ia mengcopy lebih banyak lagi berkas lamarannya. Tidak lupa ia juga mencetak foto dan hal yang di perlukan lainnya. Ia juga membeli ponsel baru dengan harga murah, yang penting bisa untuk menghubungi orang tuanya nanti. Setelah semua selesai, ia mulai berjalan menyusuri ruko-rulo di sana. Sedikit lelah di kakinya tak lagi ia pedulikan.
__ADS_1
"Bismillah, semoga ada banyak lowongan kerja," Elisha berdoa dengan tulus.
Ada beberapa lowongan kerja di sepanjang jalan yang ia lalui. Ada di toko bunga, laundry, rumah makan dan beberapa lainnya. Ia menaruh semua berkas lamarannya di tempat-tempat tersebut. Setelah merasa lelah ia beristirahat sebentar, sebelum akhirnya memutuskan kembali ke kosan Mita.
☆☆☆
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum,"
Walaupun sementara ia tinggal di kosan Mita, ia tetap mengetuk pintu ketika baru saja datang.
"Waalaikum salam,"
Mita membuka pintu kamarnya.
"Ya ampun, aku kira siapa. Ini kan juga tempat tinggal mu, untuk apa mengetuk pintu segala sih," ucap Mita merasa gemas.
"Takutnya kamu sedang ganti baju atau ada tamu, kan tidak sopan jika aku langsung masuk," balas Elisha sembari nyengir.
"Aku kan sudah menyuruh mu tinggal di sini, jadi anggaplah rumah sendiri,"
Mereka duduk di atas kasur sembari nonton tv.
"Bagaimana tadi, sudah dapat pekerjaan?" tanya Mita.
Elisha menggeleng.
"Tapi aku sudah menyebar lamaran ke beberapa tempat, semoga saja ada yang nyantol," jawabnya.
"Hmm... sekarang mencari kerja sedikit susah, apalagi kalau pendidikannya bukan sarjana, akan cenderung di remehkan," sahut Mita.
Apa yang di ucapkan Mita memang benar, karena dirinya mengalaminya ketika di desanya. Bahkan saat awal di kota B dia juga merasakannya.
☆☆☆
Seminggu kemudian.
Elisha merasa resah. Sudah Seminggu berlalu namun tidak ada satu pun panggilan kerja untuknya. Terkadang seharian ia akan terus memegang ponselnya, saking takutnya melewatkan panggilan kerja yang nyatanya tak pernah ada.
__ADS_1
Ia mulai frustasi. Ia merasa tidak nyaman menumpang di kos Mita untuk waktu yang cukup lama. Walaupun di sana ia juga membantu membersihkan kamar dan memasak untuk Mita, tetap saja ia merasa tidak nyaman karena masih saja menganggur hingga saat ini.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku pulang kampung?"
Dilema mulai memenuhi ruang hatinya. Antara menyerah atau terus berjuang. Apalagi uang pemberian Daniel semakin menipis.
"Mita, menurut mu aku harus bagaimana? Aku butuh uang untuk mengirimi ibu dan anak ku di desa. Tapi sampai saat ini aku belum juga bekerja lagi,"
Ia meminta pendapat temannya. Ia berharap bisa mendapatkan solusi darinya.
"Dulu hidup ku juga sama seperti mu, sebelum akhirnya memutuskan menjadi pekerja malam," ia diam sejenak.
"Aku tidak seteguh diri mu yang hingga saat ini mampu menjaga diri. Karena kebutuhan ekonomi yang mendesak serta patah hati yang mendalam kepada kekasih ku dulu, aku akhirnya memilih jalan ini," imbuh Mita.
"Aku bukan orang baik, jadi tidak bisa memberi mu saran. Coba tanyakan pada hati kecil mu. Yang jelas aku berharap yang terbaik untuk mu," lanjutnya lagi.
Elisha terdiam. Ia bingung untuk bersikap. Dirinya memang bukan orang suci, tapi juga paham jika pekerjaan yang Mita jalani itu di larang dalam agamanya. Seandainya saja pekerjaan itu tidak di haramkan, sejak awal dia pasti sudah melakukannya.
"Kamu tidak keberatan memberi tumpangan untuk ku selama seminggu lagi? Jika tetap tidak dapat pekerjaan, aku akan memutuskan tindakan ku selanjutnya," ucap Elisha.
"Astaga Dona, kamu bisa tinggal sampai kapan pun di sini. Aku senang kamu ada di sini. Aku tidak kesepian dan yang paling penting aku semakin sehat karena memakan masakan mu yang lezat itu setiap hari, hehehe..."
Mita berkelakar membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.
☆☆☆
Malam harinya.
Disaat Mita sudah berangkat kerja, seperti malam-malam sebelumnya dirinya kembali bersedih. Sudah berhari-hari ia tidak mendengar suara orang tua dan anaknya. Entah bagaimana kabar mereka sekarang. Yang pasti orang tuanya pasti sangat kuatir dengan dirinya yang berhari-hari tidak ada kabar.
"Aku rindu kalian, hiks... hiks..."
Air matanya luruh bersama ketidak berdayaannya.
"Oh iya, ada nomor bu Siti di kertas waktu itu,"
Ia bergegas mencari tasnya, mencari nomor bu Siti yang sempat ibunya berikan kepadanya. Ia mengorek semua isi tas untuk mencarinya.
"Astaga, kemana kertas itu?"
__ADS_1