Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 26 Mirna Di Labrak


__ADS_3

Sepeninggal suaminya, hari-hari terasa cukup berat untuk bu Sariyati. Walau pun kiriman dari Elisha selama ini lancar, ia merasa sedikit kesepian. Ia harus mengurus segalanya sendiri. Untuk usianya yang sudah tidak lagi muda, itu sedikit menyulitkan.


Bagaimana pun mengurus anak kecil itu tidaklah mudah. Butuh kesabaran dan dedikasi tinggi. Apalagi walau pun Rojali selalu membantunya dalam hal apa pun, namun mulut tajamnya terkadang membuat perih di hati. Adiknya itu merasa tidak setuju ia harus mengurus anak Elisha. Karena menurutnya dirinya sudah tua dan lebih pantas untuk istirahat saja di rumah.


Elisha saat ini hidup tanpa suami walau mereka belum resmi bercerai. Lalu harus di kemanakan kedua anaknya jika tidak ikut dirinya, karena Elisha harus bekerja. Sering ketika malam menjelang, saat suara jangkrik dan katak saling bersahutan ia tak berhenti menangis. Ia gelar sajadah, berbagi dengan sang khalik lewat dzikir yang merdu.


"Nek, aku rindu mama," ucap Damar, putra sulung Elisha.


Ia sudah semakin besar, sebentar lagi akan segera masuk ke taman kanak-kanak. Damar memiliki hati yang lebih perasa dari pada adiknya. Pertemuannya dengan ibunya kala pulang kemarin, telah menyisakan kerinduan yang membekas di hatinya. Sering ia bertanya, mengapa Elisha meninggalkan mereka? Namun dengan bijak bu Sariyati menjawabnya dan membuat anak itu tenang.


"Sabar Sayang, nanti mama mu juga pulang. Sekarang ia masih sibuk kerja agar bisa menyekolahkan kalian, agar kalian bisa makan dengan baik dan beli mainan," jawabnya.


Mata tuanya berusaha menahan laju air mata yang mulai menggenangi kedua sudut matanya. Ia merasakan kesedihan yang teramat sangat.


"Iya Nek, aku akan jadi anak baik," ucap Damar.


Ia memeluk kedua cucunya dengan rasa sayang.


☆☆☆


"Wah, penampilan mu sangat berbeda," puji Elisha.


"Benar, aku kira siapa tadi. perfect!" seru Mita sembari mengacungkan dua jempolnya.


"Ah, aku jadi malu," Mirna senang penampilannya mendapat pujian.


"Siapa yang mendandani mu?"


"Aku tadi ke salon, Don. Nanti dia akan membooking ku lagi," jawab Mirna.


"Siapa?" tanya Mita.


"Pria yang aku ceritakan itu, dia tadi menghubungi ku. Makanya aku berpenampilan spesial,"


"Oh... jadi penasaran, siapa sih orangnya," ucap Elisha.


"Sebentar lagi dia datang, liat saja nanti," balas Mirna.


Mirna terlihat bahagia. Ia bahkan tidak mendengarkan beberapa orang yang mengkritik penampilannya. Pria itu telah membuatnya jatuh cinta. Om-om berduit yang mempesona hingga membuat Mirna lupa, jika kebanyakan pria seperti itu telah berkeluarga.

__ADS_1


"Don, lebih baik kamu nasehati Mirna. Kalau bisa di tempat ini, jangan pernah bermain perasaan dengan tamu. Takutnya nanti kena masalah," ucap Mita.


"Iya, nanti aku akan bicara kepadanya," balas Elisha.


Mereka lalu mulai bekerja. Karena penasaran dengan pria yang Mirna maksud, kedua temannya mengintipnya. Ternyata pria tersebut tidak berbeda dengan pria yang datang pada umumnya. Berusia sekitar 40 tahunan dengan wajah yang cukup tampan dan kharismatik. Pria itu terlihat sangat menyukai Mirna.


"Semoga saja dia bukan pria beristri," harap Mita.


"Memangnya kenapa?" tanya Elisha.


"Sepertinya mereka sedang di mabuk cinta. Dan artinya mereka akan melanjutkan hubungan di luar klub. Kalau sampai dia beristri, Mirna pasti di tuduh pelakor," jelas Mita.


Elisha baru paham maksud Mita. Pantas saja ia selalu berpesan jangan baper dengan tamu, takutnya nanti menimbulkan masalah. Karena konon katanya banyak dari wanita di sini akhirnya berhenti karena di laporkan oleh istri sah si pria itu.


"Ngeri juga ya, semoga saja aku tidak pernah mencintai suami orang," ucap Elisha.


"Semoga juga jodoh ku bukan suami orang," sahut Mita.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Orang tua Doni sangat bersyukur, keluarga Indah tidak menuntut mereka untuk merayakan pesta pernikahan secara besar-besaran. Mungkin mereka sadar jika keluarga Doni hanya orang biasa dengan penghasilan pas-pasan.


Selama seminggu kedepan kedua calon mempelai di larang bertemu. Walau begitu Doni tetap merasa senang. Keinginannya untuk memiliki Indah seutuhnya sebentar lagi akan terwujud. Hari-harinya tidak akan terasa hampa lagi. Segala kebutuhannya akan di layani oleh Indah. Itulah yang ada di dalam pikirannya.


Padahal dirinya hanya bekerja serabutan. Tidak tetap. Entah bagaimana dirinya nanti akan menghidupi istrinya jika penghasilannya saja tidak menentu. Namun tentu saja Doni tak pernah berpikir sejauh itu.


"Don, sebentar lagi kamu akan menikah. Kamu harus mencari pekerjaan tetap. Mau kamu beri makan apa Indah jika kamu masih saja bermalas-malasan seperti ini," ucap Ayahnya.


"Kita kan akan tinggal di sini, ya makannya ikut Ibu dan Bapak," balas Doni sekenanya.


Doni memang tidak berperasaan. Dia belum menikah saja orang tuanya sudah di beri beban hutang demi membayar mahar yang di minta keluarga Indah. Bisa-bisanya setelah menikah ia masih ingin menumpang hidup kepada orang tuanya.


Doni memang bukan laki-laki yang bertanggung jawab. Entah apa yang membuat Indah jatuh cinta padanya. Tidak ada kelebihan apa pun yang melekat di dalam dirinya selain bermulut manis.


"Kita tidak masalah kalian tinggal di rumah ini, tapi kamu juga harus mandiri. Kamu harus mengurus rumah tangga mu sendiri," ucap ayahnya.


"Bapak mu betul Don, kita juga masih harus membayar hutang untuk mahar mu. Tolong kamu mengerti," sahut ibunya.

__ADS_1


Doni tersenyum kecut namun tidak membantah. Menurutnya mereka tidak serius dengan ucapannya tadi.


☆☆☆


"Mas, sedang apa?"


"Aku sedang makan, Sayang ku sudah makan belum?"


"Belum, maunya makan berdua terus di suapin,"


Mirna sedang berteleponan dengan kekasih barunya. Ya, tamunya semalam telah menjadikan Mirna sebagai kekasihnya. Perhatian dan sikapnya yang manis mampu menaklukkan hati Mirna. Mereka bagai anak ABG yang sedang di mabuk cinta. Setiap waktu luang, selalu berteleponan.


"Ya sudah ya Mas, aku mau mandi dulu. Rasanya gerah," ucap Mirna.


"Mau aku mandiin tidak?"


"Ah, Mas bisa saja. Sampai ketemu nanti ya,"


Setelah panggilan berakhir, Mirna segera masuk ke kamar mandi.


Dorr... dorr... dorr...


"Keluar kamu wanita gatal!" seru seorang wanita.


Mirna terkejut pintu kamarnya di gedor sangat keras. Ia urung mandi dan memakai pakaiannya kembali, sementara pintunya terus saja di gedor dari luar.


"Siapa sih, berisik sekali," ucap Mirna.


Ia segera membuka pintu. Sudah ada dua orang wanita berpenampilan glamor di depan kamarnya.


"Maaf, ibu-ibu ini siapa ya?" tanya Mirna sopan.


"Tidak perlu basi basi lagi, ternyata kamu wanita yang sudah menggoda suami ku. Kamu cuma menang muda saja, pasti hanya ingin uang suami ku saja,"


Srettt...


Tanpa babibu lagi wanita itu menjambak rambut Mirna, tangan kanannya menampar pipinya. Mirna merintih kesakitan.


"Akh... tolong..." teriak Mirna.

__ADS_1


Semua penghuni kos yang mendengar berhamburan keluar dan berusaha melerai mereka.


__ADS_2