Bukan Wanita Malam Biasa

Bukan Wanita Malam Biasa
BAB 17 Dapat Pinjaman


__ADS_3

"Stop! Berhentilah bertengkar, jika tidak akan aku adukan kepada mami!" ancam teman mereka yang lainnya.


"Dia dulu yang ngajak ribut," wanita tadi masih belum mau kalah.


"Enak saja, kamu dulu yang sudah mengganggu Dona. Jangan karena dia anak baru lalu kamu bisa bertindak semaunya ya," ucap Mita tak mau kalah.


"Aku bicara fakta. Di sini sedang sepi malah ada anak baru, pastilah yang lama hanya jadi cadangan,"


Wanita bernama Sheila itu terus saja menabuh genderang.


"Rejeki itu sudah ada yang mengatur, kalian tidak perlu ribut. Tipe tamu yang datang kan beda-beda, jadi tidak perlu takut kalah saing," sahut Kiki.


"Iya itu si Sheila memang yang memancing keributan," ucap Mita.


Suasana baru berubah kondusif setelah salah seorang mami turun tangan. Mereka akhirnya melanjutkan pekerjaan masing-masing.


☆☆☆


Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Para tamu dan ladies sudah banyak yang pulang. Mita dan Elisha berangsek menuju tempat mami Naya berada.


"Maaf ya Mi, kita agak lama. Biasalah si gunawan itu menahan kami terus," ucap Mita.


"Wah si pelit itu rupanya, sudah lama dia tidak datang. Masih seperti dulu atau sudah berubah orang itu?" tanya mami Naya.


"Sepertinya nunggu kiamat baru berubah Mi, hahaha..."


Ketiganya serempak tertawa. Mita yang paling keras tertawanya.


"Dona, ini uang yang kamu butuhkan. Mita sudah menceritakan semuanya,"


Setelah beberapa saat, mami memberikan uang 15 juta rupiah kepada Elisha. Seketika matanya berkaca-kaca menahan rasa haru. Ternyata orang yang tidak pernah di sangka-sangka yang justru bisa membantunya saat susah seperti ini.


"Terima kasih sekali ya Mi, aku janji akan bekerja dengan rajin," ucap Elisha sungguh-sungguh.


"Iya, aku percaya. Besok segera kamu berikan kepada orang tua mu agar bisa segera di lakukan operasi," balas mami Naya.


"Iya Mi. Tapi maaf, hari ini aku cuma dapat tip 100 ribu. Apa boleh aku cicil segitu dulu?"


Elisha merogoh tasnya dan memberikan uang 100 ribu pemberian tamunya tadi.


"Kamu simpan saja itu, kamu juga butuh untuk membeli kebutuhan mu. Apa tadi kamu bersama Gunawan?" tanyanya.

__ADS_1


Elisha mengangguk. Tadi ia memang bersama pria yang maminya maksud. Pria itu juga yang memberinya tip.


"Wah, itu suatu kemajuan. Dia pasti sangat menyukai mu karena biasanya dia tidak pernah mau mengeluarkan uang sepeserpun selain untuk membooking,"


"Iya Mi, tadi memang hanya Dona yang ia beri tip. Aku dan Santi hanya dapat ucapan terima kasih saja," seloroh Mita dengan wajah di buat sedih.


Kontan saja mami Naya dan Elisha tertawa melihat ekspresinya yang terlihat lucu.


"Itu tandanya Dona mempunyai good service, orang pelit seperti Gunawan saja sampai rela keluar uang lagi," pujinya.


"Iya Mi, betul itu," sahut Mita.


Elisha hanya tersipu malu. Karena menurutnya tadi ia tak sebagus itu. Ia hanya mencoba bersikap profesional saja. Bahkan saat pria itu mulai sedikit agresif, ia sedikit menjauh. Tidak seperti beberapa wanita yang justru merasa senang saat di raba, ia justru merasa risih dan malu sendiri.


☆☆☆


Udara pagi semakin menusuk kulit, namun Elisha belum juga bisa tidur. Hatinya terlalu senang karena telah berhasil memperoleh uang untuk biaya operasi ayahnya. Ia sangat tidak sabar untuk menghubungi ibunya. Ia ingin waktu cepat berlalu agar segera bisa mengirim uang tersebut.


"Dona, apa kamu tidak mengantuk? Kenapa belum juga tidur?" tanya Mita dengan mata setengah terbuka.


"Aku tidak bisa tidur, aku tidak sabar menunggu hari esok. Aku ingin segera memberi tahu ibu kalau aku sudah mendapatkan uang untuk pengobatan bapak,"


Matanya berbinar dan berapi-rapi, tidak ada sedikit pun rasa kantuk yang terlihat. Semua menghilang. Yang terpancar hanya rasa kebahagian yang tak terperi.


Ia bangkit menuju lemari pakaian, mengambil uang yang tadi sudah ia tarik dari atm lalu memberikannya kepada Elisha.


"Aku takut besok tidak bisa bangun. Kamu tidak apa-apa kan besok ke bank sendirian?"


Mita memberikan uang itu kepada Elisha.


"Tidak apa-apa, aku tahu kamu pasti lelah dan mengantuk. Terima kasih sekali ya atas bantuannya, aku akan segera mengembalikannya begitu ada uang,"


Elisha menerima uang itu dengan perasaan haru. Mereka berpelukan sebentar sebelum akhirnya tertidur. Rasa lelah dan kantuk akhirnya mampu menenggelamkan keduanya ke alam mimpi yang indah.


☆☆☆


Tulalit... tulalit... tulalit...


Bunyi alarm mengagetkan Elisha yang sedang terlelap tidur. Ia segera mematikannya agar tidak mengganggu Mita yang sedang tidur.


"Hoam... Sudah jam 8 pagi, aku harus segera mandi,"

__ADS_1


Ia letakkan ponselnya di nakas, lalu bergegas ke kamar mandi. Rasa kantuk dan guyuran air yang sangat dingin, membuatnya tidak ingin berlama-lama di kamar mandi. Yang penting bersih.


"Mita masih tidur. lebih baik aku kunci saja, dia kan punya kunci cadangan," gumam Elisha sebelum pergi.


Karena tidak ingin mengganggu istirahat temannya, ia pergi tanpa pamit. Elisha segera menuju bank terdekat. Karena jarak bank dengan tempat kosnya cukup dekat, tak berapa lama ia telah sampai.


"Wah, lumayan antri. Lebih baik aku telepon ibu dulu,"


Setelah mengambil nomor antrian, ia duduk agak jauh dari customer lainnya untuk menelepon ibunya.


Tut... tut...


Baru dua kali berdering, ibunya sudah mengangkat panggilannya.


"Assalamualaikum, Nak,"


Terdengar suara ibunya yang sedikit serak, sepertinya ia baru saja habis menangis.


"Waalaikumsalam salam, ibu kenapa suaranya begitu? Ibu habis menangis ya? Bapak tidak kenapa-kenapa kan, Bu?"


Elisha merasa sangat kuatir. Ia takut perjuangannya akan sia-sia.


"Bapak semakin parah, Nak. Ia harus segera di operasi jika ingin selamat. Jika tidak, hiks... hiks..."


Bu Sariyati tidak sanggup lagi. Tadinya ia tidak ingin membuat putrinya itu kuatir, namun ia merasa Elisha harus tahu keadaan ayahnya yang sebenarnya.


"Ibu yang sabar ya. Hari ini juga bapak akan operasi. Aku sedang antri di bank sekarang, uangnya akan segera aku transfer. Ibu harus kuat demi bapak," ucap Elisha.


"Tapi Lisha, operasi bapak biayanya sangat besar. Kata dokter bisa mencapai 20 juta rupiah, hiks... hiks..."


"Iya Bu, aku tahu. Aku akan transfer 21 juta. Semoga cukup untuk semuanya ya, Bu,"


Elisha menambah jumlah yang ia transfer, karena masih ada sisa pemberian Daniel tempo hari. Ibunya pasti lebih butuh uang itu daripada dirinya.


"Apa? 21 juta? Apa ibu tidak salah dengar, Lisha?"


Bu Sariyati sangat terkejut. Uang 21 juta rupiah bukan nominal yang sedikit. Dari mana putrinya mendapatkannya hanya dalam waktu sehari?


"Iya Bu, alhamdulillah aku sudah dapat uangnya. Ini sebentar lagi giliran ku. Jika sudah masuk, nanti aku telepon lagi ya," jawabnya.


"Tunggu Nak! Darimana kamu memperoleh uang sebanyak itu? Kamu tidak melakukan hal yang di larang agama kan?"

__ADS_1


Naluri seorang ibu memang sangat tajam. Kerongkongan Elisha tercekat, suaranya tiba-tiba menghilang. Ia bingung harus berbohong atau jujur kepada ibunya.


__ADS_2