
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
“Bagaimana ini?” tanya Leon tiba-tiba saat mereka sudah duduk manis didalam mobil dan memasang seatbelt.
“Bagaimana apanya?” tanya Anta santai sambil membenarkan posisi duduk, lalu memutar kunci untuk menyalakan mesin mobil. Ia bahkan menyempatkan diri menurunkan kaca jendela mobil dan melambaikan tangan kepada papa-mamanya sebelum benar-benar meninggalkan kawasan elite yang ditempati oleh orangtua dan kakak perempuannya yang juga sudah menikah.
Leona melakukan hal yang sama. Ia melambaikan tangan kepada Prasetyo Graham dan Praya Wiranti Graham sebagai tanda perpisahan mereka sore ini.
Semalam menginap di rumah mertuanya, rasanya seperti seabad. Dia juga bingung harus melakukan apa karena disana sudah di kerjakan oleh asisten rumah tangga yang mempunyai tugas berbeda-beda. Alhasil, seharian penuh tadi, Leona hanya menemani mama mertuanya memasak, kemudian dilanjutkan dengan santai menikmati teh chamomile panas di taman belakang rumah, lalu setelah itu ia juga sempat berkebun sebentar dengan Praya.
“Mama tanya, kapan mereka punya cucu dari kita—”
“Ya udah. Nggak perlu ditunda. Kita bikin anak yang banyak.”
Eh? Dipikir anak kucing? Kenapa bibir Antariksa itu enteng sekali kalau ngomong. Berasa tidak ada beban hidup apapun.
Sebenarnya tidak masalah untuk Leona. Tapi bagaimana dengan Anta? Sejak awal, dia berkata jika tidak ingin mempunyai anak dari pernikahan mereka. Tapi, mengapa tiba-tiba berubah pikiran setelah mendengar jika mamanya menginginkan cucu?
Apa pria ini diam-diam adalah tipikal anak penurut? Atau ... dia hanya ingin berkamuflase agar pernikahan terpaksa yang kami jalani sekarang tidak di ketahui?
“Bukannya sejak awal kamu nggak pingin punya anak dariku?” tanya Leon menginterogasi. Ia ingin mencari kebenaran jika Anta sedang mempermainkan dan berusaha membuatnya malu.
Jeep Wrangler Rubicon itu mulai membaur bersama kendaraan lain di jalan utama. Anta tidak lagi mau bicara, suasana berubah hening sampai mereka tiba di rumah.
Leona yang semula memang belum mau mengakhiri pembicaraan, kembali memulai topik. Namun kini pembahasan yang ia usung, berbeda.
“Mama juga cerita kalau kamu dulu nggak suka makanan rumah.”
Anta tetap diam, dia melepas sepatu boots setinggi mata kaki yang ia gunakan, lalu meletakkannya di rak sepatu yang dekat dengan tempat menjemur pakaian. Ia juga menyempatkan diri melepas kaos polo hitam dan celana jeans selutut yang ia pakai, kemudian memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor. Lantas ia berjalan kembali masuk menuju ruang tengah dengan hanya memakai kaos dalam tanpa lengan dan celana boxer.
Tanpa risih sedikitpun, ia berjalan di area dapur, dimana Leon sedang menyiapkan bahan masakan untuk makan malam mereka. Tadi, Anta menolak makan malam bersama keluarganya dan memilih pulang agar bisa makan malam dengan makanan buatan Leona yang bisa ia request dengan menu berbeda sesuai keinginannya, setiap hari.
“Ini jadi bikin sayur apa? Di lemari pendingin nggak ada bahan buat bikin gudeg.”
__ADS_1
“Seadanya aja.” singkat Antariksa tanpa mau berdebat.
Leon yang semula tidak memperhatikan Antariksa sama sekali karena sibuk mengobrak-abrik isi kulkas, kini harus dibuat terbelalak sampai menelan ludah oleh suaminya sendiri. Dia harus bisa menahan godaan tubuh sang suami hingga salah tingkah.
“Kemana bajumu tadi? Kenapa berpakaian seperti itu di depanku?” protes Leon saat melihat betapa santainya Antariksa yang sekarang malah mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin.
“Memangnya apa lagi yang musti di tutupi? Lo kan udah lihat semuanya beberapa kali.” Jawab Anta dengan entengnya, sedangkan Leon semakin bingung dan malu hingga wajahnya merona.
“O-oke. Aku mau masak ayam goreng karena cuma itu yang ada di dalam kulkas. Minggir!” usir Leona pada Anta yang tidak mau menyingkir dari depan lemari pendingin, karena Leona hendak mengambil ayam dan beberapa bumbu yang akan ia gunakan untuk membuat sambal.
Anta bergeser sedikit menjauh dari tempatnya semula agar Leon bisa melakukan tujuannya. Ia memperhatikan secara detail bagaimana sang istri mengumpulkan beberapa bahan masakan yang disebut perempuan itu dalam gumaman pelan. Diam-diam, Anta tersenyum kecil di bibirnya.
“Selain itu, mama cerita apa lagi?”
Tumben bertanya? Biasanya juga cuek bebek.
“Banyak, sih.” jawab Leona mencoba cosplay menjadi Anta dengan memberikan jawaban singkat.
“Banyak itu, apa aja?” tanya Anta semakin penasaran tentang obrolan seorang ibu dan menantu.
Leona beralih ke meja masak dengan membawa ayam, dua jenis cabai, dan dua buah tomat berukuran sedang. Ia lantas berjalan menuju pantry untuk mengambil beberapa bahan lain seperti bawang merah, bawang putih, garam, gula, dan merica. Karena tidak ada terasi, kali ini Leon meng-skip benda yang berbahan dasar udang tersebut. Tak lupa ia juga membawa cobek dan ulekan untuk menghaluskan bumbu. Nah, resep yang membuat masakan Leon selalu terasa lebih lezat adalah, alat masak yang digunakan masih menggunakan manual.
Anta masih berdiri di dapur dan memperhatikan bagaimana Leona mulai beraksi didapur.
“Mamamu juga bilang, kalau aku jauh lebih baik dari perempuan yang pernah menjadi kekasihmu sebelum menikah denganku.”
“Apa? Jadi, mama tidak suka dengan Amanda? Tapi mengapa mama bersikap baik seolah menerima dia?”
“Apa alasannya?”
Leona merasa jengah dengan Antariksa yang banyak bicara seperti ini. Tumben-tumbenan pria ini banyak omong?
Leona menyarangkan satu lengannya di pinggang. Ia sedikit mendongak menatap wajah Anta dengan penuh perhatian. “Karena aku pandai memasak. Karena aku bisa membuat kamu suka makan dirumah. Mama nggak percaya saat mendengar aku berkata bahwa kita makan malam dirumah sebelum sampai disana.”
Anta memperhatikan ekspresi serius Leona, kemudian tersenyum. “Lalu, endingnya dia minta cucu?”
Ingin sekali Leona meraih ulekan kayu yang tak jauh darinya, lantas memukul mulut Anta hingga pria itu diam. Tapi apa daya, dia tidak akan berani melakukan itu kepada Anta.
“Haaah ... ” sahut Leon menghela nafas besar karena malas memberikan jawaban. “Itu mustahil. Kita sudah sepakat untuk tidak memiliki itu. Jadi, bicaralah sendiri pada mamamu agar beliau tidak lagi menanyakan, kapan akan punya cucu darimu.”
__ADS_1
Ada sedikit goresan menyakitkan ketika mendengar Leona berkata sarkas seperti itu. Entah karena perempuan itu menyinggung tentang mamanya? Atau hal lainnya? Ah, entahlah.
“Baiklah. Jangan khawatir. Aku yang akan bicara dengan mama.”
***
Semangkuk kecil sambal ulek yang sudah di tumis, dan juga sepiring ayam goreng bumbu ukep buatan Leona terhidang diatas meja bersama nasi panas yang masih mengepulkan asap. Dua kehidupan didalam rumah itu kini sedang mengisi perut mereka tanpa bicara sepatah katapun, menikmati rasa pedas dan lezat ayam goreng yang sejak tadi sudah menggoda selera.
Menurut Anta, ini adalah ayam goreng terenak yang pernah ia makan selama hidupnya. Ayam goreng termahal yang pernah ia makan di restoran berbintang pun, kalah dengan ayam goreng buatan Leona. Ia kagum pada perempuan didepan matanya ini.
“Letakkan saja di bak cuci piring. Nanti aku yang cuci.” kata Leon saat melihat Antariksa selesai dengan urusan makan malamnya. Seperti beberapa hari yang ia lihat, Anta selalu menambah porsi nasi di piringnya, dan mengambil lagi untuk kedua kalinya alias, nambah.
“Biar aku aja yang nyuci piring. Kamu istirahat, sana!”
“Besok gue ada meeting pagi.”
Leona mengangguk. Itu artinya, dia besok harus bangun lebih pagi untuk mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan Antariksa untuk ke kantor.
“Oh ya. Aku mau minta izin ke kamu.”
Antariksa meletakkan lap makan di atas meja. “Eumm.”
“Hari sabtu, aku mau jenguk ibu sama bapak di kampung.”
Wajah yang semula datar-datar saja, sekarang terlihat terkejut. Memang sudah seharusnya dia memberikan izin karena Leona juga masih memiliki keluarga yang mungkin merindukan kepulangannya. Tapi masalahnya, Anta sudah memesan tiket bulan madu ke luar negeri atas saran dan paksaan dari papanya.
“Ibu telepon, katanya bapak lagi kurang sehat.”
Haruskah Anta bersikap egois dalam situasi seperti ini?
No, tidak. Tiket itu bisa ia batalkan dan bisa membelinya lain waktu.
“Aku bisa pulang sendiri kok kalau kamu sibuk.” kata Leona mencoba melakukan negoisasi karena menangkap ekspresi wajah Anta yang terlihat jauh dari kata setuju untuk diajak pulang ke kampung bersamanya. “Udah biasa pulang sendiri. Jadi nggak perlu ngerepotin ka—”
“Gue anter.”[]
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
__ADS_1