Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×13


__ADS_3

...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Warning konten!!


²¹+




“Kamu nggak berhak bicara begitu tentang Amanda.”


“Lalu, apa dia berhak menuduhku demikian?”


Antariksa semakin geram karena Leona membalikkan fakta.


“Diam!!!”


“Aku nggak bakalan diam. Dia sudah fitnah aku Ta!” kesal Leona. Malam ini bukan lagi ada istilah air dan api, melainkan api dan gasolin. Semakin disulut, semakin meledak-ledak. “Ah, kamu sengaja ya seperti ini. Biar aku marah, terus kamu punya alasan kuat buat pisah sama aku?”


Bukannya memadamkan api, Leona semakin memperparah kobaran emosi dalam benak Antariksa.


“Atau ... bener yang dibilang Dinda. Kalian punya hubungan ya?” kata Leon dengan nada sinis bukan main, hingga berhasil membuat kepalan tangan Antariksa mengerat kuat hingga jarinya memutih.


“Punya hak apa Lo ngomong begitu ke gue, hah?!” tanya Anta begitu dingin. Aura pria itu berubah mencekam.


“Lucu sekali. Ta, aku ini istri kamu, sah secara hukum dan agama. Lalu, aku harus bersikap dari segi mana? Dari segi bodoh agar kamu bisa menindasku dengan dalih nggak ada cinta? Kamu salah besar. Kalau kamu memang nggak suka sama aku, kita udahan aja. Nggak perlu bikin drama kekanakan seperti ini.”


Astaga. Antariksa sampai kehabisan kata-kata. Akhirnya dia menarik kasar Leona dan membawanya masuk ke dalam kamar. Pintu ia kunci dan menyentak Leona hingga jatuh di atas ranjang, kemudian menindihnya dengan bobot tubuh penuh yang membuat Leona kesulitan bernafas.

__ADS_1


“Kamu bilang, kita sah dimata hukum dan agama bukan?”


“Mau apa kamu?” seru Leona mulai panik setelah melihat gelagat Anta.


Tiba-tiba, trauma yang memang masih membekas sempurna dalam ingatan Leona, membuat airmata perempuan itu tak terbendung. Manik matanya mulai berkabut. Rasa takut disentuh oleh Antariksa kembali menyapa raganya.


“Lepasin!”


Tidak peduli dengan penolakan Leona, Antariksa justru menarik kasar kemeja Leona hingga semua tautan depan terlepas dan memperlihatkan payu-dara padat dan putih milik wanita itu. Ia bahkan meremat kasar dan menye-sapnya kuat tanpa perasaan.


“Layani aku, sebagai suamimu!”


Tanpa melakukan foreplay lebih lama, Antariksa menarik turun secara paksa celana bahan yang dipakai oleh Leona hingga lolos dari kedua kaki perempuan tersebut. Ia lantas menekuk kedua kaki Leon dan melesakkan begitu saja kejan-tanannya kedalam liang seng-gama milik Leona.


Bibir indah itu merin-tih dan meringis kesakitan. Birai bawah digigitnya cukup keras guna menahan rasa sakit yang timbul akibat kejan-tanan berukuran long and big milik Antariksa melesak masuk secara paksa. Sumpah demi Tuhan, Leona ingin sekali menjerit dan memaki pria itu agar berhenti. Akan tetapi suara yang muncul dari bibirnya justru terdengar sendu dan menyedihkan dengan sebuah permohonan.


“Sekarang, jangan pernah lagi bicara buruk tentang Amanda didepanku. Mengerti?” tekan Antariksa penuh amarah bersamaan gerak tubuhnya yang tidak bisa ia kontrol.


Bagi Antariksa, menyentuh Leona adalah salah satu hal baru yang cukup menyenangkan karena tanpa di buat terang-sang pun, Leona berhasil membuat si jantan bangkit hanya dengan menghirup aroma lembut yang menguar dari tubuh istrinya itu.


Sesekali Leona mendesis bahkan menahan suara rin-tihan di tenggorokan. Lalu pada saat bersamaan, Antariksa membuat sentakan kuat hingga tubuh Leona berubah telungkup. Pinggang ramping itu ditarik mundur, dan Antariksa mulai menghujamkan dirinya lagi. Sangat dalam hingga Leona memejamkan matanya dengan satu bulir airmata sisa kekesalannya, jatuh. Posisi yang sering di sebut ***** ***** itu merupakan posisi favorit sang suami, yang juga disukai Leona secara diam-diam. Karena bagi Leona, merasakan hujaman dan mendengar suara geraman rendah Antariksa, menjadikan permainan ranjang mereka selalu berakhir memuaskan.


Tak terdengar lagi suara kemarahan Antariksa. Hanya suara de-sahan dan penyatuan lembab keduanya yang terdengar memenuhi ruangan pribadi mereka.


Hingga akhirnya, beberapa desakan dan suara geraman Antariksa, membuat Leona ikut meradang. Tubuhnya bergetar, hingga sebuah gelenyar yang membawa kenikmatan itu tercapai olehnya. Disusul Anta yang semakin mendesak kuat, Leona yakin pria itu sudah selesai dengan urusan bi-ra-hi.


Biasanya, Leona akan merasakan sesuatu yang hangat menyapa kulit punggungnya setelah Anta menarik diri. Tapi kali ini ...


Leona membuka matanya lebar-lebar. Ia sadar jika Antariksa tidak melepaskan hasil penyatuan itu di luar, melainkan di dalam rahim Leona. Lantas, dengan sisa tenaga yang ia miliki, Leona menarik diri dan membuat Anta terguling di sampingnya.


“Apa kamu gila?!” teriak Leona sambil berdiri menuruni ranjang tanpa sehelai benang.


“Kenapa? Kamu pikir dengan aku melepasnya didalam satu kali, kamu akan hamil?”

__ADS_1


Leona menatap tak percaya pada sorot mata remeh dari Antariksa kepadanya. Ia bahkan tak habis pikir mengapa Pria itu mengingkari statement dan komitmen yang dibuatnya sendiri?


“Itu bisa saja terjadi, Ta!” seru Leona masih bersikukuh dengan asumsinya. Ditambah lagi, cairan milik Antariksa yang tak kunjung meleleh keluar, membuat Leona semakin khawatir. “Ini masa subur—”


“Bullsh-it!!” tukasnya cepat, memotong suara Leon kemudian berdiri dengan keadaan yang tidak jauh berbeda dengan Leona, sama-sama telan-jang.


Setelah itu, apa yang terdengar dari bibir Anta, membuat Leona menyumpahi pria itu dengan sebuah kalimat yang membuatnya turut sedih. Ingin dengar apa yang dikatakan seorang Antariksa kepada istri yang telah dan baru saja selesai ia setu-buhi itu?


“Kalau sampai Lo hamil, berarti itu bukan anak gue karena gue, hanya sekali melepasnya.”


Sialan!!!


Leona menjerit dalam hati. Ia bahkan mengepal kuat sebagai penyaluran rasa marah yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia menatap penuh benci pada sosok tampan yang sempat membuatnya sedikit kagum dan ingin mendekatkan hati beberapa hari lalu. Ternyata, Antariksa memang seperti itu, dan selamanya tidak akan berubah apalagi menganggapnya ada.


“Ah, catat baik-baik hal ini. Lo harus inget kalau apa yang gue lakukan malam ini nggak akan buat Lo hamil. Jangan naif.”


Hanya karena seorang perempuan yang membawa berita palsu, Antariksa sampai rela menyumpahinya sekeji itu.


Leona menatap punggung lebar Antariksa hingga menghilang dibalik pintu kamar mandi. Setelah itu, tubuhnya lemah tak berdaya. Ia pun akhirnya terduduk diatas tepian ranjang dengan kondisi menyedihkan. Di campakkan seperti ini, ternyata jauh lebih menyakitkan daripada putus cinta dari orang yang dia sayang.


Antariksa membuatnya merasa seperti wanita mu-ra-han dan tidak berguna. Pria itu juga egois karena sudah mengatakan anak yang mungkin saja nanti akan ada di dalam rahimnya, bukan lah anaknya. Sedangkan, Leona hanya melakukan itu bersama Antariksa. Leona menyerahkan tubuhnya hanya untuk Antariksa, tidak dengan laki-laki lain. Joan sekalipun. Antariksa lah satu-satunya. Tiba-tiba,


“Bia*dab!!”


Kebencian itu muncul lagi ke permukaan setelah sempat padam. Leona tidak yakin dia akan bertahan lebih lama disini. Ia yakin jika Minggu ini, adalah masa subur yang tidak menutup kemungkinan, akan membuatnya mengandung anak dari Antariksa, yang tidak akan pernah pria itu akui.


Dada Leona terasa sesak dan berat. Amarah dan rasa kecewanya seolah tak mau dia ajak kompromi. Rasa sakit hatinya yang baru saja ia terima membuat airmata Leona mengering.


“Kamu juga harus tau sesuatu, Antariksa.” gumamnya berbisik pada diri sendiri. Sakit hati semakin menjadi. “Jika nanti memang aku hamil karena ulahmu malam ini, aku bersumpah tidak akan membiarkan dirimu melihat dan menyentuh anakku.” lanjut Leona dengan hati yang begitu sakit dan mungkin rapuh. Ia tersenyum getir, lantas kembali berkata, “Bahkan, aku tidak akan sudi memberitahunya nanti, jika dia hadir dari sosok manusia kejam yang tidak mengakui darah dagingnya sendiri, seperti dirimu.”


Kepalan tangan Leona semakin erat. Ia menatap kosong tembok kamar dan berakhir di tirai jendela yang tertutup.


“Kamu, tidak akan punya hak atas dia, jika nanti dia memang hadir dalam diriku. Aku ibu sekaligus ayahnya. Camkan itu!” []

__ADS_1


...To be continue...


...🌼🌺🌼...


__ADS_2