Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×21


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Anta ingat, suatu pagi dia dan Leona pernah berdebat tentang nama perempuan itu. Sehari setelah menikah, dimeja makan, mereka berbicara seperti ini,


“Apa kamu keturunan singa?”


“Apa?!!”


“Kenapa namamu Leon?”


“Astaga, haruskah aku jelaskan arti nama cantikku ini? Heh! Kamu kalau ngomong, jangan asal jeplak aja deh. Mending urusin tuh poni lempar kamu!”


“Oh wow, jadi sekarang kamu berubah jadi tukang body shaming?”


“Bodo amat ... ?!”


Menyerupai sebuah pertengkaran, tapi itu murni bercanda karena Antariksa memang tidak pandai menghibur orang dengan sebuah lelucon.


Senyuman tiba-tiba terbit di bibirnya membayangkan bagaimana pertama kali obrolan itu terjadi. Keadaan sudah berbeda sekarang, Leona menjadi pribadi yang sangat berbeda. Dia menjadi sosok yang dingin.


“Hah ... ” de-sah Anta saat punggungnya menyentuh sandaran kursi kerjanya. Pikirannya dipenuhi dengan bayangan wajah pucat Leona pagi tadi. Ia bahkan ingin mengetahui keadaan perempuan itu, tapi tidak ada keberanian untuk mengirim pesan atau menelepon terlebih dahulu.


Tak berangsur lama, ketukan pintu terdengar. Antariksa bangkit dari sandaran dan menunggu siapa yang muncul dari balik pintu.


“Ada berkas yang harus kamu tanda tangani.”


Itu adalah Amanda. Ya, Amanda. Kalian tidak salah baca. Antariksa tidak jadi memecat perempuan itu karena ... sebuah ancaman yang menurutnya cukup fatal.


Anta mengembuskan nafas jengah. Dia kehabisan akal untuk membuat Amanda meninggalkannya, akhirnya dia memutuskan untuk membiarkan perempuan itu berbuat sesuka hati.


“Eumm.” jawab Anta ringkas tanpa membuat topik pembicaraan. Amanda berjalan mendekat, lalu menyodorkan beberapa berkas di meja Anta.


Tak mau tinggal diam, Amanda pun membuka percakapan. Dia butuh perhatian Antariksa. “Mau tau sesuatu?”


Antariksa diam dan terus memeriksa berkas yang memang harus segera ia bubuhi tanda tangan. Acuh adalah jalan satu-satunya agar Amanda diam. Tapi, “Ini tentang istri kamu, Leona.”


Mendadak semua sistem tubuh Antariksa seakan berhenti ketika mendengar nama itu disebut.


“Apalagi sekarang?” tanya Antariksa, dingin. Ia tidak ingin memperumit kebencian dan menambah beban kecurigaannya kepada Leona. Dia masih terus berusaha abai pada apapun yang disodorkan Amanda padanya. Dan hari ini, sebenarnya bukanlah yang kedua atau ketiga kalinya Antariksa mendapatkan foto Leona bersama Joan, dari Amanda.


Satu bulan perang dingin bersama Leona, Antariksa selalu mendapatkan foto-foto dari Amanda yang entah, dari mana wanita itu mendapatkan semuanya.


“Kali ini, kamu pasti percaya padaku.” lanjutnya tidak putus asa. Amanda pun meletakkan ponsel miliknya di meja Anta dengan satu foto yang sudah diperlihatkan. “Ada tiga foto yang bisa kamu lihat dengan jelas.”


“Manda, tolong berhenti bersikap seperti ini—”


“Aku begini, karena aku masih sayang sama kamu, Ta?!” pekiknya yang justru membuat rahang antariksa mengeras.


“Perempuan itu hamil. Dan tadi sore, aku melihatnya bersama Joan lagi. Ta, please. Jangan bodoh.”


Amanda masih kekeuh dengan keinginannya untuk membuka kebohongan baru dan memanipulasi Anta, yang tentu saja akan membuatnya mendapatkan untung, kali ini.


“Kamu yang terlalu terobsesi padaku, Amanda. Tolong berhenti melakukan semua ini. Aku dan Leona tidak sedang dalam situasi yang baik. Jadi jangan menambah beban pikiranku—”


“Lihat saja dulu.”


Anta tidak bodoh. Bisa saja dia menyewa jasa detektif untuk menyelidiki kebenaran foto-foto yang disorongkan Amanda padanya. Tapi dia tidak ingin melakukan itu. Dia ingin mulai percaya kepada Leona dan tidak peduli pada apapun yang datang dari luar, kecuali dari Leona sendiri yang bicara.


Tapi belum terwujud keinginannya itu, kini Antariksa kembali di buat terbakar api amarah. Dari foto yang ia lihat di ponsel Amanda, gambar Leona bersama Joan yang baru saja keluar dari sebuah klinik dokter kandungan, berhasil membuat puncak kemarahannya berada di ubun-ubun. Pupil matanya bergetar, kabut emosi mulai membutakan mata hatinya.


“Mereka baru saja keluar dari tempat itu.”


“Siapa yang memberimu foto-foto seperti ini?”

__ADS_1


“Itu tidaklah penting. Aku hanya ingin kamu membuka matamu, Ta. Kamu sudah dibodohi oleh Leona dengan kedok attitude penuh kesopanannya.”


Tak ambil pusing, Anta pun meninggalkan Amanda begitu saja. Dia keluar ruangan dengan amarah yang siap untuk meledak. Dia akan menemui Leona dan menanyakan kebenaran tentang foto yang diberikan Amanda padanya.


Sedangkan Amanda, ia tersenyum puas melihat kemarahan Antariksa yang belum pernah di tunjukkan sama sekali. Itu artinya, rencananya untuk mengacaukan rumah tangga pria tersebut, berhasil sejauh ini.


“Kita lihat, apa kalian masih akan tetap bertahan sampai diujung malam hari ini?”


***


Leona duduk menekuk kakinya diatas sofa. Dua buah testpack, dan satu foto hasil pemeriksaan USG yang ia letakkan dimeja itu tak berhenti ia tatap.


Tinggal menghitung jam, Antariksa pasti sudah sampai di rumah. Tapi Leona sama sekali belum menemukan kalimat yang tepat untuk memberitahukan kehamilannya kepada sang suami. Ketakutan muncul mendominasi karena ia tau, Anta tidak akan mau mengakui jika anak yang ada dalam kandungannya adalah anak mereka berdua. Antariksa Graham dan Leona Agustine.


Karena terlalu sibuk dengan isi kepalanya, Leona sampai tidak mengetahui dan menyadari jika Pintu rumah sempat di buka oleh seseorang. Hingga sorot mata penuh kejut itu menangkap presensi antariksa yang berdiri di depannya, lebih tepatnya, di seberang meja.


“A-anta?”


Pria itu tidak menjawab. Hanya menatap lurus pada benda yang ada diatas meja. Menyadari apa yang sedang dilihat oleh suaminya, Leona bergegas meringkas benda-benda itu.


Ini terlalu cepat. Leona belum menemukan jawaban dari sorot kemarahan yang saat ini di tunjukkan oleh raut wajah Antariksa.


“Kenapa?” tanya Antariksa tanpa ekspresi. Leona ketakutan dan berdiri sigap dengan kedua lengan memeluk perutnya sendiri. Ia takut jika Antariksa tiba-tiba menyerangnya, dan berusaha melenyapkan buah hatinya. “Kamu terlambat jika ingin menyembunyikan itu dariku, Leona.”


Suara Leona seakan tertahan di kerongkongan. Tenggorokannya terasa begitu kering hingga tanpa sadar, salivanya terteguk hingga nyaris membuatnya tersedak.


“Aku hamil.” seru Leona memberitahu. Bersembunyi pun pasti akan tertangkap.


“Lantas?” tanya Antariksa yang membuat wajah Leona berubah kaku. Tatap matanya berubah datar karena kekhawatiran yang ia takutkan, pasti akan terjadi.


Antariksa, pasti tidak akan menerima bayi mereka.


“Lantas yang seperti apa maksudmu? Ini anak kita.”


“Anak kita? Kamu yakin?”


Sedangkan Anta sendiri, mempercayai dari satu sisi. Dari sudut pandang yang pernah ia beritahukan dengan jelas kepada perempuan didepannya ini, jika sampai Leona hamil, anak itu bukanlah anaknya.


“Bahkan sebulan penuh aku tidak menyentuhmu, Leona.”


Kecurigaan Antariksa semakin bertambah kala kenyataan pahit tidak pernah menyentuh Leona selama hampir sebulan, menghantamnya. Dalam benaknya dia berkata, bagaimana Leona bisa hamil kalau selama itu mereka tidak melakukan hubungan in-tim suami istri?


Dugaan buruk mengapung tanpa alasan.


“Dia bukan anakku.”


Tanpa diminta, airmata Leona turun deras. Hatinya benar-benar hancur mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Antariksa bahwa pria itu tidak mengakuinya. Tidak mengakui jika bayi didalam kandungan Leona, adalah bayinya juga.


“Dia anakmu.” suara sendu Leona berbisik. Dadanya sesak, matanya tak berhenti meneteskan bukti pilu perasaannya yang hancur. “Dia anak kita—”


“Dia bukan anakku.”


“Kenapa kamu seperti ini, Ta?”


“Tanya pada dirimu sendiri. Sebanyak apa kalian melakukannya hingga bayi itu hadir!”


Air mata Leona jatuh semakin deras. Telapaknya mengusap kasar berkali-kali hingga pipinya terasa panas.


“Ini anak kita, Antariksa. Aku tidak pernah melakukan hubungan apapun dengan laki-laki lain selain kamu!”


Antariksa membuang tatapan matanya ke arah samping, dimana foto pernikahan mereka tergantung. Tawa sinis penuh sarkastik muncul dibibirnya.


“Kamu pikir aku bodoh?” katanya dengan suara bergetar. “Kamu pikir aku tidak tau semuanya?”


Leona menggelengkan kepalanya. Apalagi ini? Apa seseorang memfitnahnya lagi? Tapi, siapa? Antariksa tidak pernah menyebut nama orang yang—


“Amanda memberitahu semuanya. Aku punya bukti kuat kalau kamu masih berhubungan dengan pria itu! Lantas, apa kamu masih bisa menyebut anak itu anakku? Tidak Leona. Anak itu bukan anakku!”


“BO-DOH!!” teriak Leona kencang. Ia sudah lelah. Jika memang harus berakhir seperti ini, biarkan saja. Toh pernikahan mereka sejak awal juga tidak baik-baik saja?

__ADS_1


“KENAPA KAMU LEBIH PERCAYA PADA ORANG LAIN YANG HANYA MEMBERIMU FAKTA MELALUI SEBUAH MEDIA? KENAPA KAMU SEBO-DOH ITU, TA?”


Leona sudah kehabisan kata-kata untuk menahan semua amarahnya yang ia pendam selama ini. Hari ini, akan menjadi hari penentu. Apakah mereka masih bisa bersama? Atau berpisah selamanya.


“BAYI INI ANAKMU! BUKAN ANAK ORANG LAIN!!!”


“KALAU BEGITU, KITA LAKUKAN TES DNA UNTUK TAU, MILIK SIAPA BAYI ITU!”


Tes DNA? Astaga, serendah itukah derajatnya dimata Antariksa sampai anak yang notabene adalah darah dagingnya sendiri, sampai diminta untuk melakukan tes sebagai pembuktian.


Leona mundur dua langkah dengan kaki bergetar dan tubuh sedikit terhuyung. Ia takut bukan karena merasa bersalah, tapi dia takut, jika Antariksa benar-benar akan melepas dirinya dan juga ... Anaknya meskipun bukti konkret nantinya sudah ada.


“Kenapa?” cibir Antariksa puas saat melihat wajah pias Leona. “Kamu takut kebohonganmu terbongkar? Kamu takut jika memang anak itu benar bukan anakku? Astaga Leona ... Leona.”


Leona takut jika kenyataannya nanti, Antariksa tetap tidak mau mengakui anak yang ia kandung, adalah anak mereka berdua. Cuma itu. Dia tidak pernah takut dengan tuduhan Antariksa, karena dia memang tidak pernah melakukan kebohongan atau kecurangan apapun dalam pernikahan mereka.


Dengan berat dan sakit hati yang mendera Leona berkata, “Tidak. Aku tidak akan sudi melakukan tes itu.”


Antariksa tertawa kaku. “Kalau begitu, benar bukan? Anak itu bukan anakku, Leona. Anak itu adalah hasil dari hubungan gelap kalian—”


“Tutup mulutmu, dan dengarkan aku baik-baik Antariksa Graham.” seru Leona dengan nada yang begitu berat.


Antariksa diam memperhatikan dengan wajah tanpa iba sedikitpun. Ia masih meninggikan dagu sebagai image dirinya.


“Jika kamu tidak mau mengakuinya, maka anak ini adalah anakku. Bukan anak siapapun, tetapi anakku. Ingat itu.”


Antariksa mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia merasa dikhianati.


“Jika suatu hari nanti kamu datang mengiba untuk memintanya dariku, jangan harap aku akan memberikannya kepadamu.”


“Yeah, aku tidak akan meminta apa yang memang bukan milikku.”


Brengsek!!!


Leona mengumpat keras dalam hati. Sikap Anta membuatnya muak.


“Silahkan pergi dari sini. Untuk surat perceraian, biar aku yang mengurus. Kamu tidak perlu khawatir.”


Tubuh Leona lemas. Ia jatuh terduduk dilantai. Ia menepuk dadanya yang terasa begitu penuh dan sakit. Jadi beginilah akhirnya?


“Kamu akan menyesali keputusanmu ini, Ta.”


“Tidak. Tidak akan.”


“Kamu akan menangisi kebodohanmu sendiri suatu saat nanti jika tau kebenarannya.”


“Tidak masalah.” sombongnya tanpa sedikitpun simpati kepada Leona. Anta terlanjur sakit hati karena termakan hasutan Amanda yang membuatnya yakin, jika anak itu bukanlah anaknya.


Leona menatap dengan sorot kecewa yang teramat sangat. “Jangan pernah mencari atau berusaha tau tentang anakku jika nanti dia sudah lahir.”


“Ya. Aku tidak akan melakukannya.”


Leona semakin tersedu. Hati Antariksa masih sekeras baja. Dengan berat hati penuh luka, Leona berkata, “Aku bersumpah atas nama bayi ku, kamu akan menyesal sudah membuangnya, Antariksa Graham.” []


...To be continue...


...🌼🌺🌼...


###


Si dongo ini memang bikin 😠


Bagaimana?


Sudah kesal dengan Antariksa Graham? Atau justru sama si Amanda?


Nantikan kelanjutan ceritanya ya ... 😀


See you

__ADS_1


__ADS_2