
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
“Apa katamu?” sahut Anta dengan suara baritonnya yang rendah dan penuh intimidasi.
Leona menatap presensi sang suami dengan sorot amat sangat kecewa. “Ibuku melahirkanku susah payah, membesarkan dan merawat aku untuk dengan kasih sayang, mengajarkan aku attitude yang baik agar aku dihargai oleh orang lain. Bapak, menjagaku seperti hal nya menjaga sebuah berlian. Tapi mengapa harga diriku dengan mudahnya di jatuhkan oleh seorang laki-laki sepertimu?” kata Leona dengan airmata yang sudah jatuh berderai. Membicarakan kedua orangtuanya, sama saja membuat Leona merindukan mereka.
“Apa aku serendah itu hingga kamu sampai hati menyebutku mu-ra-han, Ta? Apa aku seburuk itu di matamu?” cecar Leona meminta jawaban.
Antariksa hanya diam membisu. Tidak ada kata-kata yang bisa ia keluarkan dari mulutnya. Semuanya berubah menyerangnya seperti boomerang. Ucapannya terlalu sulit untuk dimaafkan oleh perempuan seperti Leona. Perempuan yang dibesarkan penuh kasih sayang, perhatian, dan tentu tata krama yang dijunjung tinggi agar berwibawa Dimata orang lain.
“Aku tidak berharap permintaan maaf darimu jika kamu tidak mau melakukannya. Aku tau, kamu tidak akan pernah melakukannya kepada wanita seperti ku.” lanjut Leona dengan suara yang membuat hati siapapun yang mendengarnya ikut tersayat. “Aku hanya ingin, kamu percaya padaku, bukan orang lain.”
Suasana berubah senyap. Antariksa yang semula menggebu-gebu ingin menjatuhkan dan merendahkan Leona, mendadak bungkam. Suaranya tertahan di kerongkongan.
“Aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita. Aku sadar siapa diriku buat kamu. Untuk itu aku tetap memegang teguh komitmen yang sudah kita buat bersama, agar tidak melewati batas.”
Antariksa tidak sedikitpun menggeser pandangannya dari wajah ayu Leona. Wanitanya itu menangis, tapi dia tidak bisa melakukan apapun selain terpaku pada egonya sendiri karena terlalu malu.
“Maaf sudah menamparmu. Dan tolong, jangan ganggu aku. Aku ingin sendirian.” Leona membungkuk lima belas derajat dengan sopan, lalu pergi meninggalkan Antariksa yang menatap kosong penuh penyesalan hingga punggung sempit itu menghilang di balik pintu kamar, yang ternyata masih mereka gunakan sebagai tempat peraduan keduanya melepas penat.
Leona tidak masalah tidur berdua bersama Antariksa, dengan catatan tidak melakukan apapun. Hanya tidur berdua, itu saja.
“Apa yang kulakukan?” gumamnya merutuki dirinya sendiri yang sudah ceroboh menyebut Leona dengan sebutan kasar dan tidak pantas didengar.
Anta kembali menoleh ke sisi samping, dimana nasi kotak utuh itu tergeletak di lantai. Ia lantas berjalan dan memungutnya. Ia berjalan menuju meja makan, lantas membukanya perlahan. Senyuman Leona menjadi hal pertama yang ia bayangkan ketika melihat bungkusan makanan tersebut.
Lalu dengan gerakan pelan, Anta membuka kotak nasi tersebut, lantas memakannya.
“Maafkan aku, Na.”
***
Sebulan sejak kejadian malam itu, Leona bersikap dingin dan acuh kepada Anta. Sudah dua kali dia difitnah, dan hal itu membuat Leona sangat terganggu dan tak lagi ingin tau apapun yang antariksa lakukan. Kata mu-ra-han yang disebut antariksa berhasil membuatnya sakit hati dalam waktu yang sangat lama dan tak ada niatan untuk berdamai seperti yang sudah-sudah.
Ditambah lagi kepalanya yang sering berdenyut pusing dan mual di pagi hari yang terjadi hampir setiap dia bangun tidur, membuat mood Leona semakin kacau saja dari hari ke hari.
Pagi hari, Leona tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, namun selalu menghindari kehadiran Antariksa. Dia selalu berangkat lebih pagi, dan pulang lebih awal kemudian memasak untuk makan malam. Dan jika terpaksa harus berada satu ruangan bersama Anta, Leona memilih bungkam.
Namun pagi ini, entah mengapa mual diperutnya makin menjadi. Pusing di kepalanya berdampak pada dirinya yang kini menjadi sedikit pemalas. Dia memutar sejenak tatapan matanya, Anta tidak ada di kamar. Pria itu bangun lebih awal seperti dua hari sebelumnya.
Leona mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Dinda untuk menanyakan sesuatu melalui pesan berbalas.
Din, obat pusing kamu apa? Udah hampir dua mingguan pala pusing nggak ilang-ilang.
__ADS_1
Pusing tiap hari?
Eumm.
Gila. Jangan minum obat dulu. Coba inget-inget terakhir kali kamu dapet.
Kalau kamu hamil kan berabe minum obat sembarangan?
Periksa ke dokter
Leona melebarkan bola matanya dengan jantung berdebar kencang. Hamil? Apa mungkin?
Ia pun bergegas membuka kalender di ponselnya dan ...
“Nggak mungkin.”
Jantungnya seperti dipaksa berhenti. Sudah lewat hampir tiga minggu tamu bulanannya tidak datang. Kenapa baru sadar sekarang? Bagaimana ini?
Mendapati kenyataan itu, ponsel Leon terjun bebas di lantai. Telapak tangannya membungkam bibir, air matanya pun tak ingin tertinggal untuk ikut membuat sang empu gelagapan. Bagaimana caranya memberitahu Anta jika memang dirinya hamil? Pria itu bahkan sudah memperingatkan sejak awal, jika Leona hamil, anak itu bukanlah anaknya. Padahal hanya dengan Anta, Leona melakukan hubungan badan.
Tiba-tiba mual itu datang. Buru-buru Leona mengusap air matanya, lalu turun dari ranjang, berlari ke kamar mandi karena mual itu semakin parah hingga dia merasa ingin muntah.
Pintu yang tidak dikunci, membuat Anta yang berada didalam sana cukup terkejut lantaran dia sedang tidak mengenakan apapun dan mengguyur tubuhnya dengan air shower.
Leona yang sudah berada didalam kamar mandi pun, langsung saja memuntahkan isi perutnya ke dalam westafel. Tubuhnya lemas setelah memuntahkan cairan pahit yang membuat perutnya sedikit kram. Sedangkan Anta, diam mematung memperhatikan sang istri yang sekarang sedang duduk berjongkok di bawah westafel.
“Kamu ngapain?” tanya Anta penasaran.
Setelah keluar dari kamar mandi, Anta tidak mendapati Leona didalam kamar. Akan tetapi, seragam kerjanya sudah tertata rapi diatas ranjang. Senyuman kecil terbit dibibir Anta. Hati kecilnya merasa miris pada dirinya sendiri, sebab tak bisa mengungkapkan perasaan yang tumbuh perlahan dalam benaknya.
Setelah memakai atribut kerja, Anta keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Leona ada disana, tapi duduk dengan wajah pucat dan muka bantal yang menggemaskan.
“Kalau sakit, off aja.” kata Anta. Hari ini dia tidak menuntut sarapan buatan Leona. Anta juga tau diri untuk urusan kesehatan.
Tidak ada jawaban dari Leona, Anta tetap berjalan memasuki area dapur. Dia mengambil dua butir telur dan beberapa toping untuk membuat omelette. Tadi sebelum mandi, dia sempat memasak nasi di penanak. Dan sekarang tugasnya bertambah, yakni membuat omelette untuk sarapan.
“Kasih tau leader tim kamu, biar nggak dianggap mangkir tanpa alasan.”
“Berisik!” sahut Leon dengan cepat bak kilat. Ia tidak ingin diperhatikan oleh orang seperti Anta. Pria itu menakutkan untuk ukuran sifat orang normal. Terkadang, kata-kata yang tenang seperti yang baru saja di ucapkan itu, bisa berubah menjadi belati runcing yang bisa mengoyak kepercayaan diri.
“Cuma mau ngasih saran. Diterima syukur, nggak diterima ya—”
“Diem nggak?”
Mood Leona mendadak buruk. Mulanya sudah sedikit menghilang, tapi pusing di kepalanya membuatnya merasa malas hanya untuk sekedar berjalan.
Leona menatap punggung tegap dan lebar sang suami yang saat ini sibuk membuat sarapannya sendiri. Hati kecilnya tersentil, tapi dia tidak ingin peduli.
Selesainya membuat omelette, Anta membawanya ke meja makan. Awalnya baik-baik saja, tapi dua detik setelah asap omelette menyentuh indra pencium Leona, perempuan itu lari sekali lagi menuju kamar mandi karena merasa mual.
__ADS_1
Anta menyusul.
“Kamu kenapa? Masuk angin? Ke dokter sana kalau sakit.” serbu Antariksa mengingatkan. Dia tidak mau disalahkan jika nanti terjadi sesuatu kepada Leona.
Anta mengambil ponselnya yang sejak tadi ia letakkan di dalam saku celana bahan yang ia pakai. Lantas menghubungi seseorang.
“Mau ngapain?” tanya Leona juteknya minta ampun.
“Izin telat sama orang kantor.”
“Terus ngapain?”
“Nganterin kamu ke dokter.”
Sekali lagi Leona terkejut. Mungkin hanya dugaan, tapi bagaimana jika dirinya benar hamil dan Anta mengetahui itu. Tidak, belum saat nya dia tau. Leona ingin menyusun rencana terlebih dahulu sebagai antisipasi, jika sampai kejadian itu adalah sebuah kenyataan.
Jalan satu-satunya adalah,
“Kamu kerja aja. Aku bisa berangkat sendiri.”
Demi kemungkinan yang harus di jadikan rahasia untuk sementara waktu sampai Leona menemukan cara untuk mengatakannya kepada Anta, nanti.
***
Spesialis Obstetri dan Ginekologi (SpOG) atau yang lebih familiar di sebut spesialis kandungan, menjadi tujuan utama Leona pagi ini. Dia berhasil meyakinkan serta membuat Anta pergi kekantor dan melepasnya pergi seorang diri untuk memastikan jika garis dua yang ia dapati di testpack itu tidak keliru.
Setelah Anta berangkat tadi, Leona menyempatkan diri ke apotek dan membeli testpack untuk menjawab terkaan yang muncul di kepalanya. Dan benar, dua garis muncul sebagai hasil, yang memaksa Leona untuk datang ke spesialis kandungan untuk melakukan pemeriksaan lebih menyeluruh.
“Selamat nyonya. Anda hamil.”
Tidak ada yang bisa dikatakan Leona. Dadanya penuh, untuk bernafas saja rasanya seperti sulit sekali.
“Usianya sudah menginjak tiga Minggu, nyonya.”
Sepatutnya, Leona bahagia mendengar berita jika dirinya dan Antariksa akan memiliki bayi. Tapi, berita yang diberitahukan oleh dokter kandungan itu, seperti menjadi sebuah anugerah dan petaka secara bersamaan.
“Bagaimana cara mengatakan ini pada antariksa?” batinnya gundah.
Leona sibuk mencari cara untuk menjelaskan apa yang menjadi kenyataan jika memang telah tumbuh benih Antariksa didalam rahimnya, meskipun tanpa cinta.
Lalu, akankah pria itu masih sama dengan yang diucapkannya waktu itu? Apakah Antariksa ... tetap tidak akan mengakui bayi mereka?
Setetes airmata menjadi saksi, jika Leona sedang tidak baik-baik saja.[]
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
###
__ADS_1
Bagaimana selanjutnya?