
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
Habis gelap terbitlah terang.
Mungkin itu peribahasa yang cocok untuk Antariksa yang telah berhasil meluluhkan hati sang wanita pujaan.
Seperti kata Kartini, hidup Anta seperti telah terlahir kembali. Ia mendapat kesempatan dari Leona untuk kembali membina rumah tangga berdua. Anta bahkan begitu bersemangat setelah mendapat anggukan dari Leona, Antariksa menerjang hujan menuju rumah sang mama.
Sebagai anak yang masih memiliki hormat akan orang tuanya, Antariksa ingin meminta izin kepada sang ibu, memohon restu agar semua berjalan dengan ridho yang kuasa. Dia tau, restu orang tua itu, sama dengan jalan yang menentukan sempurna atau tidaknya pernikahannya nanti. Sebab, ia pun tidak ingin kembali gagal untuk membina keluarga kecil yang bahagia bersama wanita yang ia sayang.
Setelah berhenti di area depan rumah sang papa, Antariksa bergegas turun dan tidak sabar untuk memberitahu papa dan mamanya tentang niat baik untuk meminang kembali Leona.
Sesampainya diruang tamu, Antariksa melihat sang mama sedang duduk relaks sembari membaca berita di surat kabar, ditemani secangkir teh yang terhirup aroma melati dengan jelas di hidung Anta.
“Ada perlu apa datang kesini, Ta?” sapa sang ibu, menurunkan bingkai kacamata yang bertengger di hidungnya, lantas meletakkannya diatas meja.
Anta berjalan mendekat, ia menatap lekat pada sang ibu yang kini meraih telinga cangkir, lalu menyesap teh melatihnya. “Mau bicara sebentar sama mama papa.”
“Papa mu sedang tidak dirumah. Sedang luar kota.” jawab sang mama tenang, tanpa menunjukkan gelagat menolak kehadiran Anta sedikitpun. “Memangnya, masalah apa yang ingin kamu bicarakan sama mama papa?”
Antariksa menegakkan punggung. Ia menyatukan jemari satu dengan yang lain, lantas menumpuknya diatas paha.
“Anta mau minta izin sama mama dan papa untuk ... menikah kembali dengan Leona.”
Tidak terkejut dengan wajah pucat atau mata terbelalak, sang mama justru tersenyum. Sebuah senyuman yang Antariksa paham sekali apa makna dibaliknya. Sebuah senyuman sinis yang menjadi jawaban tanpa perlu dikatakan atau diungkapkan secara lisan.
“Kamu tidak salah berkata seperti itu?” jawab mamanya tenang. “Apa kamu sudah memikirkan baik-baik, dampak dari pilihanmu itu, Ta?”
Antariksa diam menyimak. Biarkan dulu mamanya bicara, nanti jika sudah ada cela dan waktu yang tepat, Anta akan mengambil alih pembicaraan agar semua jelas.
__ADS_1
“Kamu tidak malu? Bagaimana kalau kolegamu tau, kamu balikan sama mantan istri kamu yang sudah di cap orang lain sebagai tukang selingkuh?” lanjut sang mama penuh percaya diri. “Kalau mama sih, mending nyari yang lain saja. Yang bisa buat reputasi sendiri tetap bagus dimata publik.”
Anta sedikit tersinggung dengan ucapan sang mama. “Anta tau konsekuensinya, Mam.” sahutnya pelan. “Anta tidak peduli dengan penilaian orang. Anta hanya butuh izin dan restu dari mama papa. Itu sudah cukup buat Antariksa.”
Senyuman sarkasme terbit di bibir sang mama, wanita yang sudah kepalang membenci Leona karena berita yang dulu sempat mencuat hingga membuatnya malu didepan para kolega dan rekan bisnisnya. Bahkan, dia pernah di cibir terang-terangan oleh teman satu sirkelnya saat datang ke acara arisan rutin sosialita yang ia ikuti.
“Mama sih, engga ya Ta. Mama udah terlanjur malu sama kelakuan mantan istri ka—”
“Sudah berapa kali Anta bilang, Leona itu nggak selingkuh, mam. Dia cuma di fitnah Amanda!” seru Antariksa tak terima. Nada suaranya sedikit naik. Ia tau fakta, dan tidak mungkin akan dia terus menutup mata.
“Di fitnah, tapi ada bukti. Itu bukan fitnah namanya, Ta.”
Anta menggelengkan kepala tidak percaya jika mamanya itu masi membutakan mata akan fakta yang ia sodorkan, membekukan hati atas kenyataan.
“Itu akal-akalan Amanda buat misahin Antariksa sama Leona, mam. Please, mama percaya sama Anta.”
“Tapi dulu kamu juga percaya sama dia, kan? Buktinya kamu ceraikan dia?!”
Anta terdiam. Ekspresi wajahnya berubah kaku. Ia akui, saat itu dirinya sangat bodoh karena menelan dan percaya mentah-mentah atas informasi yang diberikan Amanda tanpa mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya, dan memilih egois saat mendengar penjelasan dari bibir Leona.
“Ya. Anta bodoh saat itu karena Anta percaya begitu saja sama Amanda, karena dulu Anta dibutakan oleh cinta Anta ke Amanda.”
Semakin tidak percaya dengan ucapan sang mama, Antariksa akhirnya membeberkan fakta yang selama ini ia sembunyikan atas kesepakatannya bersama Leona dimasa lalu.
“Apa mama tau, Leona dulu hancur karena Anta, mam.” bisiknya sendu. Suaranya bahkan bergetar menahan tangis.
Sang mama mengerutkan kening. Alisnya ikut tertarik hampir menyatu pada pangkal hidung. “Apa maksud kamu?”
Antariksa tidak ingin lagi hanya Leona yang mendapat penilaian buruk dari mamanya. Setidaknya, setelah ini, dia akan menjadi teman Leona dalam hal dibenci sang mama. Ah, tentu saja tidak hanya mereka berdua. Amanda juga tentu akan mendapatkannya. Perempuan itu juga pantas menerima ganjaran yang setimpal atas fitnah yang di tebar.
“Delapan tahun lalu, Anta menikah buru-buru dengan Leona, karena Anta mengambil tanggung jawab setelah memperko-sa Leona.”
Tidak percaya begitu saja, mama Antariksa justru berdecih dan menatap tajam putranya sendiri.
“Mama tidak percaya? Mama boleh bertanya pada Amanda untuk hal ini. Dia dalang dari semuanya. Dia yang sudah membuat Leona ada dalam hidup Anta.”
__ADS_1
Menarik nafas berat, Anta kembali berkata, “Tapi, Anta bersyukur karena ternyata Tuhan mempertemukan Anta dengan perempuan sebaik Leona, meskipun jalan yang Anta tempuh, sangat memalukan. Bahkan sekarang, Tuhan telah memberikan malaikat kecil yang amat sangat cantik kepada Anta, Mam.”
“Dia bukan—”
“Dia anak Antariksa.” tegas Antariksa tidak mau mengalah. Ia harus memperjuangkan fakta jika Lunar adalah anaknya, darah dagingnya.
Saling tatap dengan sorot berbeda, Antariksa memilih untuk menatap sendu pada sang ibu. Berharap wanita yang telah melahirkannya itu, percaya padanya dan mengakui Lunar sebagai anaknya, bagian dan cucu dari keluarga Graham.
“Mama pasti akan percaya setelah melihatnya dengan mata kepala mama sendiri.”
Antariksa meraih ponselnya. Ia membuka galeri foto, dan menyodorkan didepan mamanya berada. Foto yang sedang Anta tunjukkan, adalah foto Lunar dan Leona yang sedang asyik bermain di taman, yang ia ambil secara diam-diam. Keduanya sangat cantik dengan senyuman tulus dan bahagia.
“Tolong lihat, seberapa mirip kami. Seberapa mirip wajah kami, mam.” kata Anta lemah lembut. “Jika mama masih tidak percaya, Anta bisa membawa gadis kecil itu ke hadapan mama. Dan mama bisa menilai sendiri, seberapa mirip sifat kami.”
Benar. Tidak ada yang salah. Apa yang dikatakan Antariksa tidak bohong sama sekali. Saat pertama kali melihat dan mengamati Lunar pun, Antariksa sendiri tidak percaya jika anak kecil itu mempunyai banyak kemiripan dengannya. Ia bahkan berfikir dengan lapang, jika Tuhan sedang menunjukkan kebenaran padanya. Kebenaran, jika Lunar adalah anak kandungnya.
Mendapati sang mama hanya melihat tanpa mau menyentuh ponselnya, Antariksa mengambil kembali ponsel tersebut dengan sedikit perasaan kecewa, lantas tersenyum masam. “Anta merasa bodoh karena membuang anak Anta sendiri selama bertahun-tahun, mam. Dan sekarang, Anta ingin menebus kesalahan Anta dengan membahagiakan dua orang yang seharusnya Anta bahagiakan sejak dulu.”
Setelah mengatakan itu, Antariksa berdiri dan memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Ia lantas membungkuk sebagai ungkapan pamit.
“Anta meminta maaf jika keputusan Anta untuk kembali pada Leona, membuat mama kecewa.” kata Antariksa memperjelas tujuan kedatangannya. “Tapi Anta juga punya hak untuk bahagia bersama pilihan Anta, dan mereka adalah dua orang yang membuat Anta seperti hidup kembali menjadi orang baru. Dan Lunar, adalah sosok yang membuat Anta bersyukur telah menjadi seorang ayah.”
Suasana begitu hening ditengah suara hujan yang teredam dari luar rumah.
“Untuk bicara dengan papa, Anta akan tetap bicara dan meminta izin seperti yang Anta lakukan ke mama.”
Entah mengapa, beban di hatinya terasa ringan. Tidak seperti beberapa tahun kebelakang, dan begitu menyiksanya. Sekarang Anta bisa tersenyum tulus, bisa bernafas lega karena sudah membuka fakta didepan mamanya. Fakta jika dirinyalah orang yang seharusnya disalahkan dan bertanggung jawab penuh untuk semua masalah yang terjadi.
“Sekali lagi, Anta minta maaf jika membuat mama kecewa. Tapi, Anta akan sangat berterima kasih dan bersyukur, jika mama bersedia datang untuk melihat juga menjadi saksi pernikahan Anta dan Leona.”
Senyuman tulus ia suguhkan untuk wanita yang ia sayangi itu. Lalu satu kalimat lain ikut terucap bersama setetes air mata yang jatuh membasahi pipinya. “Lunar juga pasti senang melihat neneknya ada disana.” []
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
__ADS_1
###
Bentar lagi tamat 💆🏻♀️