
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
“Bunda. Hari ini seru banget lho. Paman Antariksa juga keren.”
Keren apanya? Orang yang berhasil nyapit boneka tadi Leona kok?! Rasa iri mulai timbul dengan kekanakan di hati Leona saat putri kesayangannya memuji-muji sang mantan.
“Lun, yang berhasil capit boneka tadi itu bunda, bukan paman Anta,” sanggah Leona tak mau kalah, maunya di akui.
Lunar mengerutkan kening dengan bibir mengerucut lancip bak traffic cone berwarna oranye yang sering di pasang di jalan utama saat jam anak-anak sekolah berdatangan.
“Tapi paman Anta yang bayar semuanya. Itu keren lho bun.”
Jadi, semua karena Anta yang bayar? Jadi, pria itu keren di mata putrinya hanya karena keluar uang? Tidak masuk akal, tidak sinkron dengan logika.
“Bunda juga bisa kok bayar? Tapi orang itu yang tadi maksa bayar semuanya, jadinya bunda ngalah deh.”
“Ih, bunda iri deh.” celetuknya membuat Leona ternganga. Astaga dragon deh kejujuran Lunar ini.
Fix. Bocah ini adalah titisan Antariksa Graham yang sebenarnya. Suka berkata jujur tak kenal saring kata.
“Bunda nggak iri kok? Bunda cuma mau ngasih tau kalau boneka itu, bunda yang dapetin, bukan—”
“Iya. Tapi paman Anta yang bayar semuanya. Lunar juga diajak naik mobil bagus tadi? Kalau sama bunda—”
Kalimat Lunar terhenti begitu saja. Ia sadar jika dia sudah salah bicara dan membuat ibunya sedih dengan menjabarkan perbandingan yang tidak seharusnya dia lakukan.
“Iya deh. Bunda yang paling keren.” lanjut Lunar dengan raut wajah sedikit ditekuk tidak setuju untuk pengakuan yang tidak sesuai dengan isi hatinya itu.
“Benarkah?” tanya Leona antusias. Dia sudah seperti anak kecil yang meminta untuk diakui.
Kali ini, Lunar menatap sambil tersenyum kepada sang bunda. Tak lama kemudian dia berjalan mendekat dan memeluk Leona dengan kedua lengannya yang sedikit lengket karena berkeringat.
“Iya, bunda yang paling keren. Paman Antariksa nomor dua setelah bunda.”
Jawaban lugu dan lucu yang membuat hati Leona menghangat. Dibalasnya pelukan itu tak kalah penuh perhatian, lantas diusapnya rambut Lunar penuh kasih. “Terima kasih, sayang. Bunda senang Lunar memuji bunda.”
Bodo amat dengan rasa iri ingin diakui. Leona tidak peduli akan hal itu jika berhubungan dengan Antariksa. Pria itu tidak pantas di puji yang baik-baik, begitu pikir Leona.
Usapan lembut itu membawa Leona kembali ke masa silam.
Dia ingat saat ...
Tiga hari setelah malam perdebatan sengit hingga Leona berkemas pergi, Joan mengajaknya bicara empat mata saat jam makan siang.
“Kamu sedang ada masalah sama suami kamu?”
__ADS_1
Leona terkejut. Dari mana Joan tau?
Leona yang sempat terkejut, berusaha menutup ekspresi gugupnya dengan melahap menu makan siang yang ia bawa dari rumah. Sejak tau jika dirinya hamil, Leona jadi tidak naf-su makan di kantin dan memilih membawa bekal dari rumah, lalu menghabiskan makan siangnya diluar kantor. Tempat tujuan utamanya adalah taman kecil yang ada disamping gedung perkantoran tempatnya bekerja.
“Engga kok. Kami—”
“Kami ketemuan.”
Jantung Leona seolah jatuh dan terjun ke dasar lambung. Tatapannya membeku pada sepotong ayam goreng yang hari ini ia bumbui dengan kecap.
“Kami bicara banyak.”
Tak berfikir lebih banyak, Leona mengangkat wajahnya demi mendapati wajah Joan. Pria itu menatapnya sendu, dan dapat Leona lihat dengan jelas memar yang ada di rahang pria itu. Astaga Tuhan, kenapa sejak tadi ia tidak sadar jika ada sesuatu yang berbeda di wajah Joan?
“Astaga, kenapa wajah kamu, Jo?” pekik Leona terkejut bukan main.
“Aku—”
“Jawab jujur. Antariksa yang melakukan itu sama kamu?” tegas Leona menuntut jawaban tanpa perlu mengelak.
Dengan berat hati Joan menanggapi pertanyaan Leona. Kepalanya mengangguk ragu. Dia merasa bersalah setelahnya karena Leona terlihat begitu marah hingga menghentikan makan siangnya.
“Aku nggak apa-apa, Na. Aku justru ingin tanya sama kamu, kamu nggak kenapa-kenapa?”
Pertanyaan itu semakin membuat Leona ingin tau apa sebenarnya yang Joan dan Antariksa bicarakan saat mereka bertemu.
“Ngomong apa dia sama kamu, Jo?”
Joan tersenyum lembut. Ia tau betul Leona sedang merasa tidak nyaman dan panik. Ada sorot kecewa yang mendominasi di pupil mata wanita yang amat ia cintai itu.
Joan dapat menebak jika hubungan Leona bersama suaminya, memang sedang tidak baik-baik saja. Joan mengangguk lemah.
“Aku sudah memberikan penjelasan padanya, tapi dia menolak mendengar, lalu menghantam wajahku begitu saja. Sepertinya, dia cemburu setelah tau kita ketemu di klinik tempo hari.”
Benar dugaan Leona. Ada seseorang yang memang dengan sengaja memancing amarah Antariksa agar mereka berpisah.
“Na, apa kamu punya musuh? Aku curiga seseorang sedang berusaha membuat kacau rumah tangga kamu.” tebak Joan sedikit menelisik. Ia mendapati sorot penuh kebencian dimata Leona. “Apa ... dia punya kekasih?”
Seingat Leona, dia tidak pernah membenci atau membuat masalah kepada orang lain. Jadi, tidak mungkin dia memiliki seorang musuh. Atau mungkin ...
“Dia punya kekasih sebelum menikah denganku.” jawab Leona dengan nada suara dan sorot datar. Antariksa pernah berkata jujur jika pria itu masih menjalin hubungan dengan kekasihnya. Jawaban sudah ditemukan. Leona akan bicara lagi dengan Antariksa, nanti. Leona akan membuat pria itu menyesal seumur hidup, jika memang alasannya menuduhnya selingkuh, adalah dia. Wanita bernama Amanda.
“Jadi—”
“Ada satu rahasia yang tidak bisa aku ceritakan pada orang lain, Jo. Aku harap kamu ngerti saat aku cuma memberikan informasi sebatas ini. Aku tidak mau memperkeruh suasana.”
Joan mengerti betapa rumitnya masalah yang sedang di hadapi sahabatnya itu. Hubungan mereka yang dimulai tanpa cinta, sekarang berada diujung tanduk. Leona sedang hamil, dan Antariksa memiliki kekasih. Apalagi yang kurang? Pantas saja Leona terlihat begitu terpukul beberapa hari kebelakang. Joan tak bisa berbuat banyak karena Leona meminta agar dirinya tidak ikut campur terlalu dalam. Ini masalah pribadi Leona.
“Jika memang nanti keputusan akan berakhir dengan perpisahan, aku tidak apa-apa. Akan ku besarkan anak ini sendirian, sebisaku, semampuku, selama aku masih hidup.”
“Kamu nggak sendirian, Na. Kamu bisa minta pertolongan padaku jika memang kamu butuh.” sahut Joan sambil meraih telapak tangan Leona yang terasa bergetar. Tatapan mereka beradu, dan senyuman terbit di bibir Leona dengan rasa manis yang akan selalu sama di penglihatan Joan.
__ADS_1
“Makasih ya, Jo.”
Setelah itu, Leona mencoba mencari jalan tengah dengan mengajak Antariksa bertemu untuk bertemu untuk bicara empat mata. Tidak ingin berdamai namun ingin berakhir baik-baik, terlebih agar ia mendapatkan jawaban tentang siapa yang ada dibalik busuknya rencana itu. Tidak apa-apa meskipun Antariksa tidak kembali padanya, setidaknya dia tau orang yang ingin merusak nama baiknya.
“Orang itu ... Amanda, kan?”
Pertanyaan Leona justru membuat Antariksa hampir naik pitam, namun urung karena dengan suara lemah lembut Leona kembali berkata,
“Aku tidak akan membenci dia ataupun menyalahkan dia atas semua ini, Ta. Aku menghargai usahanya karena dia mencintai kamu. Tapi, aku hanya ingin kejujuran kamu, sebelum kita benar-benar berpisah.”
Antariksa tidak menjawab kalimat Leona. Diam seribu bahasa menjadi pilihannya, namun tatapan lelah bercampur sedih mulai terbit pada sepasang binar yang biasanya terlihat tajam dan tegas.
“Aku akan pergi dari hidup kamu, dan aku janji nggak akan minta pertanggung jawaban apapun sama kamu. Tapi tolong—”
“Ya. Amanda. Sudah, puas kamu sekarang?!” jawab Antariksa dengan kemarahan memuncak liar biasa. Sumpah demi Tuhan, mendengar Leona berkata akan meninggalkannya, membuat rasa benci dalam hatinya semakin besar. Ya benci, karena dia tidak bisa memiliki wanita yang seharusnya tetap tinggal dan mempertahankan dirinya.
Leona tersenyum miris. Harus menyedihkan seperti inikah akhir kisah cintanya?
Mau bagaimana lagi, dia tidak bisa berbuat apapun sekarang. Keputusan sudah diambil. Mereka berpisah. Apakah Leona menangis? Tidak, airmata rasanya sudah tidak perlu ia kucurkan demi orang yang sejak awal memang tidak menginginkannya. Ia punya masa depan yang masih harus di kejar dan dijalani, bukan malah meratapi nasib dalam kesedihan. Meskipun, pasti akan sangat berat.
“Ah, oke. Thank's udah mau sebut nama dia. Dan sekarang aku semakin yakin, kalau berpisah memang pilihan yang terbaik buat kita.” Leona berdiri, meraih tas selempang dan menyampaikan talinya di pundak. “Jaga dirimu baik-baik, Ta. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu untuk tidak mengakui dia sebagai anakmu.” lanjutnya sembari membungkukkan sedikit badannya sebagai salam pamit. “Bye.”
Leona tersadar saat sebuah tepukan menyapa punggung tangannya yang menggantung di udara. Nafasnya tersengal dengan degupan yang mengerikan. Di tambah lampu ruang tamu yang belum di nyalakan di jam lima sore, Leona makin terkejut saat Lunar memergokinya melamun.
“Bunda kenapa? Marah sama Lunar?”
“Tidak. Kenapa harus marah? Kan Lunar ngga nakal?”
“Tapi bunda terlihat sedih. Apa Lunar yang membuat bunda sedih?”
Tidak mungkin Leona menceritakan beban hatinya kepada Lunar. Ia memilih tersenyum sembari memeluk gadis kecilnya. “Lunar mandi yuk, habis ini bunda ajak ke warung Bu Lastri.”
Lunar mengangguk hingga poninya memantul penuh semangat. Gadis kecil itu sudah berlari mendahului Leona menuju kamar mandi, akan tetapi Leona harus kembali berhenti melangkah saat ponselnya bergetar singkat tanda pesan.
Leona memeriksa terlebih dahulu yang ternyata, Antariksa lah yang mengiriminya pesan. Dengan ragu-ragu, Leona menyentuh balon pesan WhatsApp, dan membaca isi pesan yang ia terima dari sang Antariksa.
Tidak ada rasa marah yang terlalu menggebu. Mungkin efek terlalu lelah seharian bermain. Atau yang lainnya? Gara-gara isi pesan itu misalnya? Dimana pesan itu berbunyi,
✉️ Antariksa
Makasih udah luangin waktu buat aku, Na. Jika memang diberi kesempatan lagi untuk melakukan keseruan lainnya, aku ingin seperti ini lebih lama. Atau jika bisa, selamanya.
Terima kasih juga sudah menjaga Lunar, putriku, dengan sangat baik.
Aku ... mencintaimu. []
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
Ini adalah ungkapan perasaan Antariksa untuk Leona yang pertama kalinya. Jadi, balikan ngga nih?? xixixi ...
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya ya
See you ❣️❣️❣️