Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×Season 2.19


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Setelah mengantar berkas pengajuan nikah, Leona dan Antariksa menuju sebuah butik. Mereka hendak membeli kebaya yang nanti akan dikenakan oleh Leona saat hari akad. Tidak ada resepsi, Leona menolak acara resepsi yang ditawarkan Antariksa. Dan memilih paket honeymoon yang sebelumnya sudah ditawarkan Antariksa juga kepadanya.


Keduanya masih memakai setelan kerja. Leona sengaja izin pulang cepat hari ini, karena berkas pernikahan harus segera diajukan agar rencana pernikahan akhir pekan mereka disetujui, terealisasi.


Beruntungnya, berkas sudah lengkap sehingga langsung disetujui, dan akad akan dilakukan sesuai hari yang dikehendaki Antariksa. Hati mereka lega untuk urusan yang satu itu.


Lantas bagaimana dengan restu?


Antariksa tidak mempermasalahkan hal itu karena orang tua dari pihak Leona telah memberikannya. Mereka akan tetap menikah meskipun mama dan papa Antariksa tidak memberikan restu tersebut.


“Mau kebaya warna apa, sayang?” tanya Antariksa sambil meraih surai Leona untuk ia usap lembut. Perhatiannya kali ini terfokus pada si wanita kesayangan karena si kecil tidak turut serta bersama mereka.


“Lihat nanti saja dulu cocoknya yang warna apa.”


Antariksa kembali menatap jalanan yang belum terlalu macet karena hari masih cerah dan cukup menyilaukan mata.


“Kamu sih cocok dengan warna apapun. Cantik natural tanpa dibuat-buat.” puji Anta yang dirasa ke na berlebihan, hingga membuat Leona melirik sengit, lantas menepuk paha sekal bakal suaminya itu hingga sang empu meringis kesakitan.


“Sakit lah, sayang.” cetus Antariksa sembari mengusap kulit pahanya yang panas seperti dibakar.


“Biar tau rasa.” ketus Leona tak panjang pikir. Sudah kepalang malu.


Dijawab begitu, Antariksa semakin usil. “Jangan mancing dah, Na. Kalau ada sesuatu yang berdiri, bagaimana?”


Semakin kesal, namun Leona tidak bisa menyembunyikan rona di wajahnya atas ucapan Antariksa. Otaknya pun turut berfikir yang tidak-tidak dan cenderung ... mesum. Ah, maafkan Leona jika harus seperti itu. Karena jujur, Antariksa hari ini sangat menggoda.


Bagaimana tidak? Kemeja biru langit yang pas badan, juga kontras dengan kulit putihnya itu digulung sebatas siku, celana bahan hitam, rambut yang masih rapi, jam tangan hitam mahal yang melilit pergelangan tangan dan wow, Leona ingat seberapa kuat tangan itu dulu saat mengangkat tubuhnya diatas ranjang untuk mencari posisi yang diinginkan ketika bercinta.


Astaga,


“Ya ditidurin lah.” celetuk Leona asal sambar kata.


“Caranya?” sahut Antariksa menggoda.


Asem memang si Antariksa ini, pikir Leona. Bikin napshu wanitanya chaos saja.


“Udah deh, jangan bahas begituan.” sahut Leona cepat dengan wajah merona semakin merah.


“Memangnya kenapa?” canda Antariksa semakin menjadi dengan kikikan geli. Ia tidak menduga jika ekspresi Leona akan selucu dan semenggemaskan itu. Macam anak perawan yang sedang digoda, ditanya kapan nikah.


“Gini deh simpelnya. Kalau kamu dalam keadaan begitu, apa yang kamu lakuin?!” jawab Leona dengan sebuah pertanyaan yang membuat Antariksa terdiam. Senyuman di wajahnya berubah datar karena gugup. Dia tertangkap basah jika menjawab dengan jujur, tapi ... tidak ada jawaban lain.


Untuk itu, Anta melepaskan satu telapak tangannya dari stir kemudi mobil. Ia menatap ragu dan malu-malu pada sosok Leona. Kemudian, membuat satu gerakan dimana telapak tangannya itu naik turun dengan posisi telapak tangan seperti menggenggam sesuatu. Wajahnya terlihat gahar dan mempesona dalam satu kali sorot.


“Sial!!” umpat Leona dalam hati saat menyadari ada ingatan yang begitu melekat saat bergumul bersama pria ini sia tas ranjang.


Menyadari apa yang diisyaratkan Antariksa itu, Leona membolakan mata bulat-bulat. Ia bahkan merasa telah diberi serangan panik dua kali lipat oleh Antariksa. Malunya nggak ketulungan. Tau Antariksa menjawab terang-terangan begitu, Leona tidak bertanya tadi. Benar-benar kacau.


“ANTA .... ” teriak Leona kian sebal dan malu memenuhi kabin mobil mentereng yang mereka berdua tumpangi saat melihat kejujuran Antariksa didepan matanya. Ia bahkan bertingkah labil dengan memukul-mukul lengan Antariksa hingga pria itu terbahak-bahak.


Terkadang, pasangan memang membutuhkan momen seperti ini agar hubungan tetap langgeng dan menyenangkan. Bercanda berdua, menghabiskan waktu bersama. Apalagi kejujuran antara satu sama lain, sangat dibutuhkan agar apapun yang mereka lakukan dapat saling terbuka dan memahami. Inilah kunci pernikahan yang sesungguhnya, tidak ada kebohongan dengan kata lain saling jujur, dan tentu saja saling mencintai.


Hal tersebut diataslah yang ingin di lakukan Antariksa setelah menikahi perempuan didepannya ini. Menjaga, berkata jujur tidak ada yang ditutupi, mencintai, dan membahagiakan dia sampai nanti, Tuhan memanggilnya.


***

__ADS_1


Hari ini, tetap pukul tiga sore, acara akad digelar di sebuah rumah ibadah. Akad dilaksanakan secara tertutup, hanya di hadiri oleh pihak keluarga Leona, serta asisten pribadi Antariksa sebagai wali dari pria itu.


Suasana begitu khidmat saat pengucapan sumpah pengambil Alihan tanggung jawab oleh Antariksa dari ayah Leona, untuk yang kedua kalinya. Ya, ini yang kedua dan tidak akan ada lagi yang ketiga. Leona satu-satunya, yang terakhir.


Akan tetapi, ada satu kejadian tidak terduga yang sempat menghentikan proses ijab yang hendak terjadi.


“Hentikan!”


Suara yang membuat Antariksa menoleh kasar dengan raut wajah terkejut bukan main.


Sang mama, yang beberapa hari lalu tidak memberikan restu untuknya menikah, datang bersama sang papa.


Berbeda dengan sang mama yang kekeuh menentang pernikahan yang diinginkan Antariksa bersama Leona, sang papa memberikan izin dan restu. Bahkan, papanya memberikan wejangan untuk menjaga cucu dan menantunya setelah pernikahan berlangsung nanti.


Tiba-tiba, rasa khawatir dan takut akan kemarahan yang mungkin akan di lontarkan sang mama didepan umum, Antariksa berdiri dengan raut tegang dan marah. Ia hendak berjalan mendekat, namun suara ketus sang ibu kembali menyapa perunggu semua presensi yang ada disana.


“Tidak perlu mendekat!” titahnya tajam kepada Antariksa yang sontak membuat langkah Anta terhenti. “Aku yang akan datang padamu.”


Jantung antariksa seakan terjun bebas ke dasar lambung. Kedua telapak tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.


Setelah sang mama berdiri dihadapannya, sebuah senyuman sarkas dia terima dari bibir wanita berwarna merekah itu, membuat keringat di kening Anta muncul tanpa diperintah.


“Ada apa mama datang kesini?” tanya Antariksa terlanjur berasumsi buruk atas kehadiran sang mama yang mungkin, akan membuat gaduh acara sakral ini.


“Memangnya, tidak boleh ya seorang ibu menghadiri pernikahan putranya?”


Antariksa diam tak bisa menjawab. Ucapan mamanya tidak salah. Ibu mana yang tidak boleh menghadiri pernikahan anak mereka? Berkonflik pun, tidak ada ceritanya seorang ibu tidak boleh datang.


“Baiklah. Sekarang, apa tujuan mama datang.” pertanyaan cerdas yang berhasil mengalihkan tatapan orang-orang dari Antariksa kepada sang mama.


Wanita berusia enam puluh lima tahun itu menatap memutari ruangan. Beberapa orang yang ia kenal ada disini, menjadi saksi pernikahan Antariksa dengan Leona.


“Memberi restu untuk anak dan menantu mama.”


Mata Antariksa terpaku pada sosok tua yang kini tersenyum padanya, lantas mengusap satu lengan tangannya yang terbalut jas putih. Detik selanjutnya, mata Antariksa berkabut, bibirnya bergetar menahan tawa dan tangis yang tiba-tiba saja campur aduk menjadi satu. Ia lantas tertunduk dengan senyuman kaku di bibirnya.


Antariksa menetapkan sendu mama dan papanya secara bergantian, lantas menyambar mama, memeluk wanita itu erat. “Terima kasih, Mam.” ucap Antariksa dengan suara bergetar menahan tangis haru yang entah mengapa mematik rasa bahagia di dadanya.


“Maafkan mama, ya?”


Antariksa mengusap punggung mamanya yang kini menangis. “Anta yang minta maaf ke mama sudah membuat mama sempat kecewa sama Anta.”


“Tidak, sayang. Pilihanmu sudah benar. Mama saja yang terlalu egois. Jadi, pesan mama untuk pernikahanmu bersama Leona kali ini, buat dia bahagia. Sayangi dia apa adanya dan jangan mengulangi kesalahan yang sama.”


Antariksa mengangguk. Ia melepas dan menjauhkan diri dari sang mama. Diusapnya wajah basah wanita yang melahirkannya itu dengan penuh kasih sayang.


Selanjutnya, mama Antariksa memutar tubuh untuk menghampiri Leona. Lantas membawa tubuh dalam balutan kebaya putih yang sangat indah itu kedalam pelukannya.


“Maafkan mama selama ini ya, sayang?”


Leona membalas pelukan itu dengan tangis yang mulai jatuh. “Leona juga minta maaf ke mama atas sikap Leona yang tidak pantas ke mama.”


Sebuah tepukan lembut mendarat dipunggung Leona. “Tolong rawat dengan baik putra mama, ya?”


Leona mengangguk. Ia akan melakukan itu tanpa disuruh sekalipun. “Tolong sayangi dia, dan maafkan kesalahannya terdahulu. Juga salah mama dan papa yang pernah jahat sama kamu.”


Leona hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Hingga akhirnya pelukan itu terlepas, dan tatapan keduanya beradu.


“Mana cucu mama? Mama ingin memeluknya juga.”


Leona menoleh ke arah ibunya berada. Disana, Lunar yang juga sangat cantik dengan gaun princess berwarna senada dengan kebaya sang ibu, juga sedang menatap wanita yang tentu saja tidak ia kenali itu.


“Lun, kemari sebentar.” panggil Leona dan di amini oleh Lunar tanpa banyak bicara. “Ini, nenek. Bundanya ayah.” ucap Leona memberitahu. Seharusnya sejak dulu hal menyenangkan ini terjadi. Tapi, semua sudah berlalu. Jadi biarkan saja menjadi kenangan buruk yang nantinya akan dibuang jauh-jauh agar tidak kembali membuat runyam.

__ADS_1


“Kemari sayang. Nenek mau peluk Lunar juga.”


Lunar menyanggupi permintaan tersebut, namun dengan gelagat ragu dan takut-takut.


“Tidak apa-apa, sayang. Ini nenek Lunar juga.”


Setelah itu, mama papa Antariksa juga meminta maaf kepada keluarga Leona yang membuat suasana menjadi haru akan tangis. Dan pada akhirnya, akad pun kembali di laksanakan.


Hembusan nafas lega dan ucapan syukur menggema saat kata ‘Sah’ terucap dari para saksi. Leona menitihkan air mata, begitupun Antariksa. Lunar yang sejatinya memang putri keduanya pun, ikut merasakan euforia kebahagiaan dan haru yang tercipta. Ia memeluk dua orang yang kini akan menyayanginya. Ia begitu bahagia, karena kini telah memiliki ayah, sama seperti teman-teman lainnya.


“Nanti, kalau ayah dan bunda pergi, Lunar janji nggak nakal kok dirumah sama nenek.”


Gadis kecil itu menolak ikut dan lebih memilih untuk tetap sekolah diantar nenek. Ibu Leona tersenyum sambil mengusap surai sang putri.


“Nanti, main kerumah nenek juga boleh. Lunar bisa berenang sepuasnya disana.”


Mendengar kata berenang, Lunar melompat girang. “Asyik ... ”


Sedangkan Antariksa dan Leona saling tatap. Ada sedikit penyesalan yang tersisa di hati Antariksa, mengingat kebahagiaan Lunar yang baru dirasakan gadis kecil itu setelah delapan tahun berlalu.


“Bunda sama ayah janji ke Lunar, ya. Nanti pulangnya, bawa adik buat Lunar.”


Beberapa orang yang ada disana menahan tawa. Lunar sudah merona menahan malu, sedangkan Anta tertawa renyah atas pernyataan sang putri.


“Memangnya, Lunar mau adik berapa? Cewek atau cowok?”


Leona yang sudah kepalang malu, kini menepuk lengan Antariksa.


“Adik cowok. Dua.”


Ingin sekali Leona menepuk jidatnya keras-keras agar rasa malu dalam dirinya sedikit menghilang. Namun, perkataan Antariksa selanjutnya justru membuat semua yang ada disana tertawa.


“Ya. Nanti ayah bawakan. Lebih dari dua pun ayah rela.”


***


Akhirnya, semua sudah rampung. Antariksa dan Leona kini menuju bandara untuk terbang ke Bali. Ya, Bali. Mereka berdua memutuskan Bali sebagai tempat honeymoon dan menjadi saksi memadu kasih keduanya. Antariksa bahkan sudah menyewa sebuah resort mewah yang akan ia dan Leona tempati untuk beberapa hari kedepan.


Sesampainya di bandara, Leona dan Antariksa yang memang terlihat sangat serasi itu menjadi pusat perhatian.


Terutama para perempuan yang memperhatikan sosok tampan Antariksa.


Dengan bibir manyun dan wajah kesal, dia berjalan mendahului Antariksa menuju ruang tunggu.


“Sayang, kenapa?” tanya Antariksa yang tidak tau alasan wajah kesal Leona.


Namun, setelah beberapa saat meneliti sekitar, Antariksa tau jika istri cantiknya itu sedang cemburu.


Sebesit ide jail kembali muncul dalam otaknya. Ia mengambil duduk tepat disamping Leona, memeluknya dari samping, lantas mencium pipinya sekilas. “Tenang saja, sayang. Aku nggak tertarik sama mereka, kok. Aku justru tidak sabar ingin segera berduaan sama kamu.”


Leona menoleh. Ia tidak peduli lagi jika menjadi perhatian banyak orang atas perlakuan Antariksa.


“Nggak usah cemburu begitu dong.”


“Kamu itu gantengnya kebangetan. Lain kali pakai masker. Biar mereka nggak lihatin kamu sambil ngeces begitu.”


Astaga naga. Ingin sekali Antariksa mengecup dan menyesap bibir cemberut itu agar diam dan tidak lagi cemburu. Bagi Anta, hanya Leona lah yang ada dihatinya sekarang sampai selamanya.


“Iya deh, iya. Lain kali aku pakai masker. Atau, aku beli masker seka—”


“Nggak perlu.” Rajuk Leona yang semakin membuat Antariksa terkekeh. “Nanti jalannya sambil peluk pundak aku saja, biar mereka tau. Kalau kamu itu milikku!”


So sweet. Antariksa bersumpah tidak akan membiarkan Leona tertidur nyenyak malam ini.[]

__ADS_1


...To be continue...


...🌼🌺🌼...


__ADS_2