
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
“Masih bisa tertawa ya? Aku jamin sampai dirumah nanti, Lu nangis-nangis deh.”
Sebuah foto berhasil ditangkap dari kejauhan. Ponselnya yang mahal dan mahir dalam mengambil jepretan gambar itu akhirnya berfungsi dengan semestinya, menurut Amanda.
Dia tidak akan tinggal diam saat Antariksa memutuskan dirinya tiba-tiba hanya karena wanita yang datang tanpa diminta. Walaupun tau dan sadar ini salahnya, Amanda tetap tidak rela jika harus kehilangan Anta dengan cara seperti ini.
Malam itu, dia berniat membuat Antariksa menjadi miliknya, seutuhnya. Namun nahas, Antariksa justru melampiaskannya pada wanita lain yang saat itu tidak Manda ketahui siapa. Ia salah langkah karena tidak menduga jika Antariksa akan mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah obat itu dengan caranya sendiri. Padahal, Amanda sudah menunggu di mobil Antariksa, saat obat yang ia campurkan itu, telah bereaksi pada sang kekasih. Amanda berharap jika Antariksa akan melakukan pelepasan bersamanya, tapi nahas. Pria itu berpamitan ke kamar mandi dalam waktu yang lama, dan kembali dengan keadaan sudah baik-baik saja.
“Sialan! Seharusnya aku yang ada diposisi mu sekarang.” gumamnya, lalu mengarahkan lensa kamera ponselnya yang canggih itu ke arah Joan dan Leona yang sedang makan berdua sembari bercengkrama dan sesekali tertawa, lalu mengambil beberapa gambar lagi. “Oke, tertawa saja sekarang. Puas-puasin ketawanya.” kata Amanda dengan senyuman sarkas yang mengerikan.
Setelah Anta menelantarkan dirinya di jalan tadi, ia berjalan melewati area pejalan kaki dengan perasaan marah dan benci. Lalu secara tidak sengaja, dia melihat Leona keluar dari mobil, dan berjalan bersama seorang pria menuju kedai makan yang ramai pengunjung.
Langkahnya menerjang arah, isi kepalanya penuh rencana. Anta pasti akan kembali padanya jika melihat kebersamaan Leona dengan pria yang juga dia kenal itu. Amanda percaya diri seratus persen jika Anta akan percaya lagi dengan apa yang ia sampaikan nanti.
Amanda memutar lidahnya didalam mulut. Senyuman sinis terbesit di bibirnya.
“Leona, Antariksa itu buat aku, bukan buat kamu.”
***
Kembali segar, Antariksa bersiap untuk melanjutkan mengecek beberapa proposal yang dikirim oleh kliennya melalui e-mail. Satu jam yang lalu, kliennya itu memberitahu melalui telepon jika sudah melampirkan beberapa apply surat pengajuan kerja sama dengan perusahaan ekspedisi yang dimiliki Antariksa.
Dia juga harus meninjau ulang beberapa berkas yang hendak ia berikan persetujuan.
Anta mengambil iPad nya, kemudian duduk bersandar di kepala ranjang dengan kaki tertutup selimut. Ponsel ia letakkan di atas nakas agar mudah di jangkau, dan ... siapa tau nanti Leon membutuhkan bantuan.
Dengusan kecil Nafa Anta lolos dari hidung. Ia melirik ponselnya yang sedang tenang dan anteng pada posisi awal.
Ting.
Satu pesan masuk.
Tanpa melihat nama si pengirim, Anta langsung membaca isi pesan untuknya itu.
Manda: Kamu harus lihat ini
Ternyata pesan dari kekasih yang sudah menjadi mantan beberapa jam yang lalu.
Klung,
📷
Klung,
📷
Klung,
📷
Klung,
__ADS_1
📷
Empat pesan gambar yang dia terima dari Amanda, mampu membuat Anta penasaran dan menekan gambar buram itu agar terunduh.
Gambar pertama, mata Anta terbelalak karena terkejut.
Gambar kedua, Telapak tangannya mulai dingin sebab jantungnya berdetak sangat keras hingga nafasnya memburu, dan wajah yang sudah berubah datar.
Gambar ketiga, hatinya terasa sakit hingga rahangnya mengerat, bibir mengatup, dan emosi yang sudah semakin naik ke ubun-ubun.
Gambar ke empat, emosi sudah sepenuhnya menguasai jiwa dan raga Anta. Dia mengumpat keras dengan dada naik turun bersama emosi tak terkendali.
“SIAL!!? Sebenarnya apa maumu, Leona Agustine?!!” teriaknya lantang memenuhi kamar yang sedang sunyi. “Jadi, kamu berpura-pura baik di depanku? Tapi, diam-diam masih menjalin hubungan dengan pria itu?” lanjut Anta dengan tensi tinggi dan teriakan menggelegar. Rasa dikhianati timbul dalam benaknya.
Bukannya menyalahkan Manda yang masih ikut campur urusan rumah tangganya, Antariksa justru dibakar api curiga dan ... cemburu.
“Lihat apa yang akan kamu dapatkan saat sampai dirumah nanti.”
***
Leona tersenyum hangat, ia melambaikan tangan melepas kepergian Joan yang sudah bersedia mengantarnya pulang dan mentraktirnya dan juga Anta, makan malam.
Eumm, ya. Joan yang membayar makan malam hari ini. Katanya, tidak apa-apa karena memang seharusnya dia yang bayar.
Dengan langkah riang bersama high heels nya yang membungkus telapak indahnya, Leona melewati taman kecil depan rumah sambil menatap sekilas nasi dalam kotak yang ia bawa untuk makan malam Anta.
Sesampainya didepan pintu, Leona tersenyum. Anta sudah ada dirumah dan menyalakan lampu. Ia merogoh saku tas selempang yang menggantung di pundaknya untuk mengambil kunci cadangan rumah Antariksa yang ia bawa, lantas bergegas masuk setelah pintu berhasil terbuka.
Leona melepas sepatu dan meletakkan di rak sepatu, lantas menggantinya dengan sandal rumah yang tersedia. Tujuan pertamanya adalah kamar, Antariksa pasti ada disana. Akan tetapi, belum genap langkahnya melewati ruang tamu, Leona dikejutkan oleh teguran Anta yang menyergapnya dari ruang tengah.
“Baru sampai?” tanyanya singkat. Ia sedang menahan sesuatu yang sebenarnya sejak tadi sudah meledak-ledak.
Anta tersenyum miring. Bisa-bisanya Leona bertanya seperti itu padanya.
“Nunggu kamu pulang.”
Leona tersenyum dengan rona merah dikedua pipinya. Antariksa menunggunya, ini adalah pencapaian luar biasa karena selama ia tinggal bersama, Anta tidak pernah mau bersusah-susah menunggu.
“O-oh. Benarkah?” jawab Leona gugup setengah salah tingkah. “Ah, Apa kamu sudah makan malam? Maaf aku nggak bisa masakin kamu makan malam hari ini. Tapi sebagai gantinya, ini aku bawakan makan malam buat kamu.”
Antariksa menjatuhkan pandangan pada kotak dalam kantong plastik berwarna putih di tangan Leon.
“Kamu yang membelinya untukku?” tanya Anta, bangkit dari sofa ruang tengah dan berjalan mendekat ke arah Leona, lantas berdiri dengan manik mata menajam sempurna. Dari jarak sedekat ini, Leona baru bisa memeta seperti apa ekspresi sebenarnya seorang Antariksa saat ini.
Tiba-tiba nyali Leona mengkerut. Rona diwajahnya perlahan memudar, dan senyuman di bibirnya, menghilang.
“Bukan. Temanku yang bayar.”
“Teman? Siapa temanmu? Ada berapa banyak temanmu yang ku ketahui?”
Suasana hati Leona berubah tidak enak. Kalau sampai ia berbohong, ia tau konsekuensi yang akan diterimanya dari Anta.
“Joan. Kamu pasti mengenalnya.”
Antariksa tersenyum kagum karena Leona tidak membohonginya. Tapi satu sisi laki-lakinya tersakiti. Bagaimanapun juga, dia seorang suami, dan dia melihat istrinya bersama pria lain. Dengan catatan, ia tau dari Amanda.
Anta mengangguk. “Oh, mantan kekasihmu itu ya? Wah, ternyata kalian masih sedekat itu ya?”
Leona mengerutkan kening. Anta ini bicara apa sih? Kenapa nadanya seperti sedang mengejek, atau ... mengolok?
__ADS_1
“Kami memang memutuskan berteman.” sahut Leona tak gentar. Baginya, pantang ketakutan atau mundur, jika tidak bersalah.
Anta menjingkatkan sebelah alisnya dengan bibir dilengkungkan tanda takjub. Namun perlu digaris bawahi, takjub yang disebut disini, berbeda dengan makna dari takjub yang sesungguhnya. Dia sedang meremehkan seseorang.
“Lalu, aku harus memakan nasi itu, begitu?”
Tatapan mata Leona ikut jatuh pada kantong putih berisi satu kotak nasi didalamnya. “Ya. Makanlah, jika memang kamu belum makan malam.”
“Kamu pikir aku mau?”
Leona kehabisan kata-kata. Antariksa tidak sedang mengajaknya berkompromi. Tapi pria ini sedang menyulut api.
“Makanlah, dari pada nanti kamu sakit.” pinta Leona lembut, lalu berbalik dan hendak menuju meja makan, menyiapkan minuman hangat sebagai pendamping makanan untuk Anta, sang suami.
Sesuatu yang tidak Leona duga terjadi. Anta menampik makanan tersebut hingga jatuh ke lantai. Dengan mata terbelalak penuh kejut, Leona menatap tajam ke arah Antariksa yang juga sedang menyorot raut wajahnya. Kemudian, Leona menatap nasi kotak yang teronggok di lantai.
Bukan masalah harga, tapi ini tentang menghargai, tentang perasaan yang seharusnya dijaga.
“Kamu seharusnya bilang sejak awal jika tidak menginginkan makanan itu, Ta.” kata Leona mulai menanggapi api yang sudah menyala. “Aku—”
“Banyak omong.”
“Apa bertingkah seperti ini, membuatmu merasa hebat?” tanya Leona sekali lagi mencerca. Ia tidak suka dengan sikap Anta yang sombong ini. “Tidak, Ta. Kamu nggak hebat. Kamu nggak keren.”
Merasa diinjak harga dirinya, Anta pun mulai menunjukkan emosi yang sejak tadi ia coba sembunyikan.
“Aku tidak akan sudi memakan makanan pemberian dari pria yang membawa istri orang tanpa izin—”
“Kenapa menuduhku seolah melakukan kejahatan seperti itu?”
“Coba berkaca. Siapa pria yang mengajakmu makan itu? Tanyakan padanya, apa dia sudah tidak lagi memiliki perasaan padamu? Jangan bodoh, Na. Dia masih menyukaimu, dan kamu juga menyukainya.”
Leona membuang wajah. Ia tidak habis pikir jika harus menanggapi hal seperti ini.
“Dari mana kamu tau kalau aku masih mencintainya, huh?!” tantang Leona yang langsung diultimatum oleh Antariksa dengan menyodorkan foto yang sudah disimpan di galeri telepon pria tersebut. Leona dapat melihat di gambar tersebut, jika ia sedang tersenyum dengan tatapan penuh perhatian untuk Joan, begitupun sebaliknya.
“Masih butuh yang lainnya?” tantang Antariksa dengan nada super tenang. “Coba lihat, secinta apa dua sejoli ini?”
Antariksa menunjukkan satu gambar yang membuat darah Leona mendadak mendidih. Dalam gambar tersebut, dia ingat jika tadi saat keluar dari kedai, Joan membantunya membuka pintu mobil untuknya. Tapi mengapa Angle dari foto tersebut berubah seolah Joan sedang memeluknya?
“Aku tidak melakukan itu—”
“Menyangkal bukan? Mu-ra-han!”
Satu tamparan lolos mengenai pipi antariksa. Hinaan sekeji itukah yang harus Leona dengar saat dirinya tidak melakukan kesalahan apapun. Gambar itu tidaklah benar, tapi Antariksa tidak memberikan kesempatan untuknya memberi penjelasan. Sial.
“Aku tidak menjual tubuhku untuk pria lain, Ta.” tutur Leona dengan nafas memburu dan kedua manik mulai berkabut. Sebutan itu sangat menyakiti harga diri Leona sebagai seorang wanita. “Kamu yang merebutnya secara paksa. Kamu juga yang membelinya dengan sebuah ikatan pernikahan. Dan kamu tau apa itu artinya, Ta?”
Antariksa tidak menduga Jika Leona akan seberani itu membalas semua ultimatum kebencian yang ia berikan. Dia hanya bisa diam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir indah perempuan yang setiap hari, berhasil membuatnya semakin jatuh hati dalam sekejap.
“Kamu pria bre-ngsek yang seharusnya, tidak pernah ada dalam hidupku! Catat itu!” []
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
###
Syudah vanas belum mesyin nya bundah ... *Kalau syudah, kuy lah gasss lanjut.
__ADS_1
Tapi besok* 😜