
Selamat membaca J J
Chapter 5
Alarm membangunkannya, ia sedikit menggeliat lalu bangun
membuka gordennya, membiarkan cahaya matahari menyentuh tubuhnya.
“selamat pagi tuan matahari, kenapa kau secerah ini? Aku
ingin kembali tidur tapi karena kau aku harus kekampus” ucapnya, tapi ia
tiba-tiba menepuk dahinya karena baru teringat kelas bisnis diliburkan dan
diganti dengan tugas. Ia kembali teringat fylian yang dilihatnya tadi malam,
dengan seorang pria yang menyeka beberapa luka diwajahnya dan beberapa suapan
eskrim fylian untuk pria tesebut.
“apa aku harus pura-pura nggak tau?” gumam eldira
ketika di meja makan eldira masih tidak bisa lepas dengan apa yang ia lihat tadi malam, eldira
menatap rotinya lekat-lekat tanpa ia makan. Ia membiarkan waktu berlalu dengan
duduk di meja makan dan bengong sendirian. Ada notifikasi di handphone-nya
ketika ia lihat ada sebuah pesan dari nomor baru.
Isi pesan tersebut:
“Eldira, maaf hari ini aku nggak bisa buat tugas soalnya
harus ngerjain tugas yang lain. Apa tugasnya bisa ditunda? –Fylian”
Ketika setelah membaca pesan tersebut ia langsung menelpon fylian
“halo eldira ada apa?” sahut di sebrang sana
“kita lanjutin aja kerja kelompoknya, kamu terusin tugasmu,
aku ngerjain tugas kelas bisnis kita. Gimana? Biar agak kecicil, nanti kalau
kamu udah selesai atau senggang bisa bantuin aku” pinta eldira. “setidaknya aku bisa menanyakan kenapa ia
bisa luka kan? Walaupun aku nggak bisa tanya siapa laki-laki yang bersamanya
tadi malam” batinnya.
”Boleh deh”
“yaudah di apartemenmu aja ya, kirimin alamatnya” kemudian
eldira memutuskan sambungan telponnya.
Disisi lain fylian tampak bingung, kenapa harus di apartemen
fylian. Yaaa, boleh aja sih, kan temen tapi ya kenapa nggak diluar aja?. Ah,
mungkin menghemat ongkos/ uang jajan kali ya, oke-oke masuk akal. Kemudian ia
mengirim alamatnya ke eldira. Fylian melihat sekeliling apartemennya
“sh*t, berantakan bangettttt!” ia langsung merapikannya dan
asal lempar kedalam kamarnya, karena ia pikir eldira nggak akan mungkin sampai
liat-liat kamarnya. Tidak lama setelah itu bel apartemennya berbunyi, ia segera
membuka pintu dan mempersilahkan eldira masuk. Eldira melihat sekeliling
“duduk el”
“ah iya makasih” eldira duduk dan tiba-tiba eldira terkekeh
sendiri
“el kenapa?” tanya fylian kaget
“ah.. enggak maaf maaf” jawab eldira
Eldira mengeluarkan laptopnya dan kemudian mulai mengerjakan
tugas kelas bisnisnya. Mereka menghabiskan waktu menghadap laptop
masing-masing. Beberapa kali eldira memperhatikan fylian di balik laptopnya.
__ADS_1
Melihat beberapa luka yang masih memerah diwajahnya. Yang diperhatikan pu
menyadari dan sedikit salah tingkah
“ke.. kenapa?” tanya fylian sedikit salting, eldira
menggeleng cepat dan kaget ternyata fylian tau dari tadi eldira
memperhatikannya.
Krucukkk.. eldira tambah malu dengan suara perut yang entah
kenapa terdengar pada waktu yang kurang tepat
“fyl.. kamar mandinya dimana?” ia bertanya sambil
menundukkan kepalanya menahan rasa malu. Fylian tersenyum dan menunjukkan kamar
mandinya, dan beranjak kedapur. Ia tak punya banyak bahan makanan di kulkasnya.
Ia hanya menyiapkan dua mie instan dengan beberapa bahan yang tersisa di
kulkasnya.
“Maaf el, hanya ada ini” katanya sambil membawa apa yang
telah dimasak tadi kehadapan eldira
“wah maaf ngerepotin” entah, mungkin hari ini hari sial
eldira, di dipermalukan berkali-kali dalam satu waktu. Ia kini merutuki dirinya
sendiri sebagai tamu yang nggak tau malu, membiarkan orang yang punya rumah
repot. Mereka menjauhi meja yang penuh dengan barang pendukung tugas mereka, fylian
mengambil meja belajar yang ada dikamar Kyza, lalu meletakkan mie keatas meja
tersebut.
“sini el” ajak fylian. Eldira kemudian mendekat, meminta
maaf kembali karena telah merepotkannya.
“maaf fyl ngerepotin, jadi tamu nggak tau diri deh, heheh”
“aku punya ke-anehan lo” eldira kembali berbicara membuat fylian
sedikit menoleh dan tertarik
“kalau setiap malem makan-nya telat atau ngemilnya
kemaleman, aku bakal ngerasa lebih laper daripada kalau nggak makan malem”
“serius?” jawab fylian
“iya, aneh nggak sih”
“nggak juga, aku juga punya sisi aneh. Aku selau berlindung
dibalik topeng,”
“topengnya sebesar apa?” canda eldira menanggapi perkataan fylian
“enggak gitu maksudnya” eldira terkekeh dan meletakkan
garpunya.
“setiap orang kadang hidup dibalik topeng kok, bahkan ada
yang memiliki beberapa topeng bukan karena mereka munafik, kadang keadaan yang
memaksa topeng itu harus muncul. Tinggal lihat manusianya sih, topeng itu
tujuannya baik atau buruk dan menjadikannya munafiq. Beda didepan beda
dibelakang” jelas eldira, fylian tertegun mendengar penjelasan eldira. Ada
beberapa orang yang ketika fylian mengatakan hal yang sama malah mengejek fylian
dengan kata munafiq, walaupun hanya sekedar guyonan tapi sedikit menggores hati
fylian.
“trus apa yang kamu sukai?” tanya eldira
“aku suka kegelapan, sampai kamarku ku cat hitam sebagian
__ADS_1
atasnya biar gelap” jawab fylian, eldira mengangguk-angguk. Mereka menghabiskan
mie yang ada dimangkuk tadi, berdua. Kemudian fylian membereskan dan membawanya
ke dapur untuk mencucinya.
Eldira keliling melihat-lihat beberapa kamera yang ada di
rak sebelah sebuah pintu, ia teringat ucapan fylian mengenai kamarnya.
“fylian, sebelah rak kamera ini kamarmu?” tanya eldira
“Iya” jawabnya
“aku boleh lihat?”
“tentu” eldira membuka pintunya dan menekan tombol lampunya,
kemudian terkekeh melihat barang-barang berserakan di lantai kamar fylian,
Fylian baru menyadari dan menyeret eldira keluar dari kamar
itu kemudian ia tutup. Barang yang tadinya berserakan diruang tamu telah ia
lempar ke kamarnya dan ia pikir eldira tidak akan membuka kamarnya, tapi dengan
ijinnya sendiri ia malah membuat malu dirinya sendiri. Eldira masih terkekeh
melihat aksi konyol fylian, dia menarik tangan fylian dan mengarahkan fylian
duduk di sofa panjang. Eldira mengambil beberapa salep dan plester ditasnya, ia
berhenti sejenak mengingat kejadian tadi malam yang tiba-tiba terpikirkan
kembali. Ia segera menyadarkan diri dan menghampiri fylian, duduk didekatnya
dan menghadap fylian. Mengoleskan beberapa salep diluka fylian
“ah..”
“tahan dikit fyl” pinta eldira
“aku akan membantumu bersih-bersih jika kamu bisa menahannya
sampai akhir, hihi” ejek eldira
“berhenti mengejek” eldira terkekeh lagi
“tindakan membersihkan debu dengan tisu basah itu juga
sangat kuno pak tua” ejek eldira lagi kemudian terkekeh
“hei....” fylian tertunduk malu dengan perkataan eldira,
mereka diam sejenak kemudian fylian kembali bersuara
“apa yang kau dapatkan dari memandangiku tadi nona?” balas fylian
sambil tersenyum mengejek, eldira memicing sinis sambil memonyongkan bibirnya
tanda tak suka
“jangan seperti itu perutmu nanti bernyanyi lagi” ejek fylian
lagi yang membuahkan pukulan dari eldira, mereka saling mengejek dan beberapa
kali eldira melayangkan pukulan ke fylian tapi ditahan oleh fylian. Mereka
bersendau gurau sampai akhirnya mereka berhenti dengan tawa mereka. Posisi
duduk mereka tak lagi berjarak, tangan fylian masih menahan tangan eldira yang
siap memukul fylian tadi. Setelah eldira tersadar ia berusaha menarik tangannya
dari fylian agar mengurangi suasana canggung ini, tapi fylian
menahannya. Mereka masih saling lempar pandang, beberapa detik berlalu posisi
mereka masih seperti itu. Fylian meletakkan tangan eldira yang masih ada di
genggamannya, pelan-pelan fylian mendekatkan wajahnya ke eldira, terfokus pada
bibir eldira yang sejak lama ingin mengalihkan fokusnya. Sampai nafas keduanya
terasa di pipi masing-masing, tak ada perlawanan dari eldira, ia menutup
matanya pelan, mengikuti alur fylian yang berhati-hati untuk menyentuhnya.
__ADS_1
Mereka membiarkan alur dan suasana membawa tindakan mereka.