Can I Love You?

Can I Love You?
Episode 5


__ADS_3

Selamat membaca J J


Chapter 5


Alarm membangunkannya, ia sedikit menggeliat lalu bangun


membuka gordennya, membiarkan cahaya matahari menyentuh tubuhnya.


“selamat pagi tuan matahari, kenapa kau secerah ini? Aku


ingin kembali tidur tapi karena kau aku harus kekampus” ucapnya, tapi ia


tiba-tiba menepuk dahinya karena baru teringat kelas bisnis diliburkan dan


diganti dengan tugas. Ia kembali teringat fylian yang dilihatnya tadi malam,


dengan seorang pria yang menyeka beberapa luka diwajahnya dan beberapa suapan


eskrim fylian untuk pria tesebut.


“apa aku harus pura-pura nggak tau?” gumam eldira


ketika di meja makan eldira  masih tidak bisa lepas dengan apa yang ia lihat tadi malam, eldira


menatap rotinya lekat-lekat tanpa ia makan. Ia membiarkan waktu berlalu dengan


duduk di meja makan dan bengong sendirian. Ada notifikasi di handphone-nya


ketika ia lihat ada sebuah pesan dari nomor baru.


Isi pesan tersebut:


“Eldira, maaf hari ini aku nggak bisa buat tugas soalnya


harus ngerjain tugas yang lain. Apa tugasnya bisa ditunda? –Fylian”


Ketika setelah membaca pesan tersebut ia langsung menelpon fylian


“halo eldira ada apa?” sahut di sebrang sana


“kita lanjutin aja kerja kelompoknya, kamu terusin tugasmu,


aku ngerjain tugas kelas bisnis kita. Gimana? Biar agak kecicil, nanti kalau


kamu udah selesai atau senggang bisa bantuin aku” pinta eldira. “setidaknya aku bisa menanyakan kenapa ia


bisa luka kan? Walaupun aku nggak bisa tanya siapa laki-laki yang bersamanya


tadi malam” batinnya.


”Boleh deh”


“yaudah di apartemenmu aja ya, kirimin alamatnya” kemudian


eldira memutuskan sambungan telponnya.


Disisi lain fylian tampak bingung, kenapa harus di apartemen


fylian. Yaaa, boleh aja sih, kan temen tapi ya kenapa nggak diluar aja?. Ah,


mungkin menghemat ongkos/ uang jajan kali ya, oke-oke masuk akal. Kemudian ia


mengirim alamatnya ke eldira. Fylian melihat sekeliling apartemennya


“sh*t, berantakan bangettttt!” ia langsung merapikannya dan


asal lempar kedalam kamarnya, karena ia pikir eldira nggak akan mungkin sampai


liat-liat kamarnya. Tidak lama setelah itu bel apartemennya berbunyi, ia segera


membuka pintu dan mempersilahkan eldira masuk. Eldira melihat sekeliling


“duduk el”


“ah iya makasih” eldira duduk dan tiba-tiba eldira terkekeh


sendiri


“el kenapa?” tanya fylian kaget


“ah.. enggak maaf maaf” jawab eldira


Eldira mengeluarkan laptopnya dan kemudian mulai mengerjakan


tugas kelas bisnisnya. Mereka menghabiskan waktu menghadap laptop


masing-masing. Beberapa kali eldira memperhatikan fylian di balik laptopnya.

__ADS_1


Melihat beberapa luka yang masih memerah diwajahnya. Yang diperhatikan pu


menyadari dan sedikit salah tingkah


“ke.. kenapa?” tanya fylian sedikit salting, eldira


menggeleng cepat dan kaget ternyata fylian tau dari tadi eldira


memperhatikannya.


Krucukkk.. eldira tambah malu dengan suara perut yang entah


kenapa terdengar pada waktu yang kurang tepat


“fyl.. kamar mandinya dimana?” ia bertanya sambil


menundukkan kepalanya menahan rasa malu. Fylian tersenyum dan menunjukkan kamar


mandinya, dan beranjak kedapur. Ia tak punya banyak bahan makanan di kulkasnya.


Ia hanya menyiapkan dua mie instan dengan beberapa bahan yang tersisa di


kulkasnya.


“Maaf el, hanya ada ini” katanya sambil membawa apa yang


telah dimasak tadi kehadapan eldira


“wah maaf ngerepotin” entah, mungkin hari ini hari sial


eldira, di dipermalukan berkali-kali dalam satu waktu. Ia kini merutuki dirinya


sendiri sebagai tamu yang nggak tau malu, membiarkan orang yang punya rumah


repot. Mereka menjauhi meja yang penuh dengan barang pendukung tugas mereka, fylian


mengambil meja belajar yang ada dikamar Kyza, lalu meletakkan mie keatas meja


tersebut.


“sini el” ajak fylian. Eldira kemudian mendekat, meminta


maaf kembali karena telah merepotkannya.


“maaf fyl ngerepotin, jadi tamu nggak tau diri deh, heheh”


“aku punya ke-anehan lo” eldira kembali berbicara membuat fylian


sedikit menoleh dan tertarik


“kalau setiap malem makan-nya telat atau ngemilnya


kemaleman, aku bakal ngerasa lebih laper daripada kalau nggak makan malem”


“serius?” jawab fylian


“iya, aneh nggak sih”


“nggak juga, aku juga punya sisi aneh. Aku selau berlindung


dibalik topeng,”


“topengnya sebesar apa?” canda eldira menanggapi perkataan fylian


“enggak gitu maksudnya” eldira terkekeh dan meletakkan


garpunya.


“setiap orang kadang hidup dibalik topeng kok, bahkan ada


yang memiliki beberapa topeng bukan karena mereka munafik, kadang keadaan yang


memaksa topeng itu harus muncul. Tinggal lihat manusianya sih, topeng itu


tujuannya baik atau buruk dan menjadikannya munafiq. Beda didepan beda


dibelakang” jelas eldira, fylian tertegun mendengar penjelasan eldira. Ada


beberapa orang yang ketika fylian mengatakan hal yang sama malah mengejek fylian


dengan kata munafiq, walaupun hanya sekedar guyonan tapi sedikit menggores hati


fylian.


“trus apa yang kamu sukai?” tanya eldira


“aku suka kegelapan, sampai kamarku ku cat hitam sebagian

__ADS_1


atasnya biar gelap” jawab fylian, eldira mengangguk-angguk. Mereka menghabiskan


mie yang ada dimangkuk tadi, berdua. Kemudian fylian membereskan dan membawanya


ke dapur untuk mencucinya.


Eldira keliling melihat-lihat beberapa kamera yang ada di


rak sebelah sebuah pintu, ia teringat ucapan fylian mengenai kamarnya.


“fylian, sebelah rak kamera ini kamarmu?” tanya eldira


“Iya” jawabnya


“aku boleh lihat?”


“tentu” eldira membuka pintunya dan menekan tombol lampunya,


kemudian terkekeh melihat barang-barang berserakan di lantai kamar fylian,


Fylian baru menyadari dan menyeret eldira keluar dari kamar


itu kemudian ia tutup. Barang yang tadinya berserakan diruang tamu telah ia


lempar ke kamarnya dan ia pikir eldira tidak akan membuka kamarnya, tapi dengan


ijinnya sendiri ia malah membuat malu dirinya sendiri. Eldira masih terkekeh


melihat aksi konyol fylian, dia menarik tangan fylian dan mengarahkan fylian


duduk di sofa panjang. Eldira mengambil beberapa salep dan plester ditasnya, ia


berhenti sejenak mengingat kejadian tadi malam yang tiba-tiba terpikirkan


kembali. Ia segera menyadarkan diri dan menghampiri fylian, duduk didekatnya


dan menghadap fylian. Mengoleskan beberapa salep diluka fylian


“ah..”


“tahan dikit fyl” pinta eldira


“aku akan membantumu bersih-bersih jika kamu bisa menahannya


sampai akhir, hihi” ejek eldira


“berhenti mengejek” eldira terkekeh lagi


“tindakan membersihkan debu dengan tisu basah itu juga


sangat kuno pak tua” ejek eldira lagi kemudian terkekeh


“hei....” fylian tertunduk malu dengan perkataan eldira,


mereka diam sejenak kemudian fylian kembali bersuara


“apa yang kau dapatkan dari memandangiku tadi nona?” balas fylian


sambil tersenyum mengejek, eldira memicing sinis sambil memonyongkan bibirnya


tanda tak suka


“jangan seperti itu perutmu nanti bernyanyi lagi” ejek fylian


lagi yang membuahkan pukulan dari eldira, mereka saling mengejek dan beberapa


kali eldira melayangkan pukulan ke fylian tapi ditahan oleh fylian. Mereka


bersendau gurau sampai akhirnya mereka berhenti dengan tawa mereka. Posisi


duduk mereka tak lagi berjarak, tangan fylian masih menahan tangan eldira yang


siap memukul fylian tadi. Setelah eldira tersadar ia berusaha menarik tangannya


dari fylian agar mengurangi suasana canggung ini, tapi fylian


menahannya. Mereka masih saling lempar pandang, beberapa detik berlalu posisi


mereka masih seperti itu. Fylian meletakkan tangan eldira yang masih ada di


genggamannya, pelan-pelan fylian mendekatkan wajahnya ke eldira, terfokus pada


bibir eldira yang sejak lama ingin mengalihkan fokusnya. Sampai nafas keduanya


terasa di pipi masing-masing, tak ada perlawanan dari eldira, ia menutup


matanya pelan, mengikuti alur fylian yang berhati-hati untuk menyentuhnya.

__ADS_1


Mereka membiarkan alur dan suasana membawa tindakan mereka.


__ADS_2